Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
55. Bertemu Kembali


__ADS_3

...55. Bertemu Kembali...


Demo warga yang tinggal di seputaran PT. Star Gold and Copper (PT. SGC) nekat berjalan kaki dari tempat tinggalnya hingga ke Kantor Gubernur. Butuh 3 hari hingga tiba di sana. Tak cuma warga setempat. Tapi sejumlah LSM dan mahasiswa se-Jawa Timur ikut bergabung menyuarakan ketidakadilan tersebut.


Mereka membawa spanduk. Menuntut PT. SGC dicabut hak ijinnya. Warga mendapat haknya kembali dan mengganti kerugian bagi warga ter dampak.


Bahkan ada warga yang berani menjahit mulut mereka. Sebagai bukti bahwa hak suara mereka telah dikebiri. Berhari-hari mereka melakukan demo di depan Kantor Gubernur. Namun sepertinya belum ada solusi untuk para aksi massa.


Momen ini tak luput dari pengamatan seorang wartawan senior. Demas Prasetyo. Bahkan ia mengikuti investigasi dari awal kasus ini.


Satu persatu peserta aksi mogok tumbang. Tubuh mereka lemas dan pucat pasi. Akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit.


Demas berlarian ketika melihat mobil sedan Crown Royal Saloon hitam berpelat  L-1. Sosok laki-laki yang tak asing baginya. Tapi sayang ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Sebab mobil itu langsung masuk ke dalam perkantoran Gubernur dan pintu gerbang langsung tertutup. Penjagaan pun diperketat.


Tapi ia tak hilang akal.


Menunggu mobil tersebut untuk melintas keluar lagi. Atau paling tidak sosok yang dikenalnya itu meninggalkan lokasi.


“Pak, bisa info nomor telepon Jatim-1?” Pintanya pada atasannya di kantor. Melalui sambungan telepon.


“Oke, aku kirimkan.” Sahutnya dari seberang.


Tak berapa lama ponsel berlayar monokrom itu menampilkan pesan sebuah nomor ponsel. Dengan cepat jemarinya menekan tuts tombol telepon.


Nada sambung pertama tidak diangkat. Lalu nada sambung kedua juga begitu. Tapi di nada sambung ketiga terdengar suara,


“Halo ....” Sahut dari seberang.


“Ya, halo ... saya Demas dari Koran Retro. Bisa bicara dengan Bapak Gubernur? Atau bisa bertemu dengan beliau?” Ia tahu yang menerima teleponnya ini pasti ajudannya.


“Maaf ... beliau sedang sibuk.”


“Saya mohon. Saya perlu konfirmasi sebentar saja.” Sergahnya cepat agar teleponnya tidak diputus.


Tak ada suara dari seberang.


Lengang sejenak.


“Saya Demas Prasetyo ... pasti bel ....”


“Besok jam 19.30 di kediaman pribadi beliau.”


Tut ... tut ... tut


**


Pukul 19.15 WIB Demas sudah tiba di kediaman pribadi Imam. Menunjukkan tanda pengenal sebagai wartawan pada security. Meninggalkan tanda pengenal KTP di pos jaga. 


Menunggu sekitar 10 menit di pos jaga. Sampai akhirnya ia dipersilakan masuk dengan tetap didampingi oleh seorang ajudan berpakaian seragam dinas.


“Silakan duduk ....” Ucap ajudan tersebut. Ia dibawa ke sebuah gazebo samping rumah. Duduk di bangku kursi jati berukir burung Garuda. Dengan meja bulat besar.


“Demas ....” Panggil seseorang dari belakangnya. Ia menoleh. Tak salah lagi.


Ia lekas berdiri, “Ka Imam?” Sergahnya.


Mereka saling berjabat tangan. Menanyakan kabar. Lalu duduk saling berhadap-hadapan. Berbatas meja bulat di tengah.


“Kita bertemu kembali. Selamat ... Ka Imam sekarang menjadi orang nomor 1 di Jatim,” tukasnya.


“Terima kasih,” balas Imam.


“Belum 100 hari, pasti banyak kesibukan harus merealisasikan janji-janji kampanye.” Lanjutnya seperti mengingatkan.


Imam berdecak, “Kamu cocok jadi timsesku.” Kelakarnya.


“Bukan timses. Tapi aku salah satu pemilih yang kemarin memilih dan mendukungmu.”


“Terima kasih ....” Balas Imam lagi.


“Tapi jangan lupa Ka, penyelesaian PT. SGC juga salah satu misi kampanye waktu itu.” Lagi dan lagi ia mengingatkan hal tersebut.


Imam menghela napasnya. Pernyataan Demas memang benar adanya.


“Bukan berarti ditekan sana sini, membuat nyali ciut dan mengerut.”


“Janji adalah hutang. Dan hutang harus dibayar lunas. Kecuali ....”


Imam menatapnya penuh.


“..., rakyat Jatim mengikhlaskan hutang tersebut.”  Tandasnya lugas.


“Jangan coba-coba menutup mata dan telinga. Mereka butuh kejelasan dan keberpihakan.”


“Tanyakan hati Ka Imam. Hati tidak mungkin berbohong. Dan berkilah ....”


Dalam pertemuan itu Demas lebih banyak mendominasi perbincangan. Ia laki-laki pemberani yang menyuarakan suara rakyat. Ia laki-laki dengan sejuta cara untuk menjadi penyambung lidah masyarakat.


Berkali-kali Imam menelan ludahnya. Mendengar Demas bertutur tegas dan lugas. Menyudutkannya. Seperti ingin mengulitinya saat diwawancarai.


“Bulan ini akan aku selesaikan. Aku juga tidak bisa gegabah. Kamu tahu sendiri, kan?” Imam berkilah. Namun menjadi jurus terakhir andalannya.


**


Nyatanya perusahaan tambang emas dan tembaga itu tetap beroperasi. Setelah satu bulan yang dijanjikan. Ia tak menyangka keputusan pemerintah tetap memberikan ijin untuk PT. Star Gold and Copper.

__ADS_1


Masyarakat kecewa apalagi mereka diberikan ganti rugi yang tidak sebanding oleh perusahaan.


“Nda, mungkin semingguan ini Abang tinggal di sana. Warga sekitar perusahaan itu akan berdemo lagi.” Pamitnya pada Nani sang istri. Saat merebahkan tubuh di sebelahnya.


“Jaga anak-anak ....” Sambungnya. Lalu mengecup kening dan pipi Nani. Mereka tidur saling berhadapan.


“Abang yakin meneruskan investigasi ini?” Wanita itu memandanginya dengan mendongak. Kekhawatiran jelas tak bisa dienyahkan.


“Mereka kaum lemah. Butuh pendampingan di saat orang-orang yang harusnya bertugas untuk itu malah sebaliknya. Siapa lagi yang akan menyuarakan mereka?” Ia menghela napas berat.


“Tapi, Bang ....” Wanita itu tahu bagaimana risiko pekerjaan suaminya. Bahkan semenjak meliput dan mengawal kasus itu, kehidupannya terasa terintimidasi. Seperti halnya orang-orang yang tak dikenal mondar-mandir di depan rumah. Mereka seolah mengawasi dari jauh. Meski suaminya itu tak pernah bercerita dan ia pun tidak bertanya. Tapi ia bisa merasakan atmosfer itu.


“Yang penting kalian aman,” Ia berkilah. Meski nyatanya beberapa kali dirinya mendapat teror.


“Jaga Kirei dan Ken. Mereka harta kita yang paling berharga ... Abang baik-baik saja. Jangan khawatir.” Tandasnya meyakinkan. Lalu mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Ingin rasanya ia mendekap keluarganya lama-lama. Tak ingin berpisah. Tak ingin hari begitu cepat berlalu. Ia ingin seperti ini terus dan selamanya.


Namun, pekerjaan telah menantinya. Selain sebagai seorang wartawan senior yang telah berkecimpung belasan tahun. Ia juga tercatat sebagai dosen. Usaha yang pernah dirintis saat dulu menjadi mahasiswa kini berubah menyesuaikan zaman.


Masih bersama kedua sahabatnya, ia mendirikan jasa cleaning service dan laundry. Yang mereka beri nama GoBabu. Sejauh ini memiliki 4 cabang.


**


Pagi itu dengan berat hati ia berpamitan dengan anak dan istrinya. Bahkan ia harus merayu anak kesayangannya untuk melepas kepergiannya. Sebab sedari tadi Kirei cemberut dan merajuk tak ingin ditinggal.


“Cuma 1 minggu.” Rayunya sambil mengangkat jari kelingkingnya tanda berjanji. “Setelah itu kita liburan,” anak-anak sudah menyelesaikan ujian kenaikan kelas. Sebentar lagi libur panjang pikirnya.


Mendengar kata liburan, anak gadisnya langsung berbinar senang. Wajahnya seketika berubah dan memasang senyum di sana.


“Benar?” Kirei meyakinkan perkataannya dengan menelengkan kepalanya.


Ia mengangguk yakin.


Lalu anak gadis itu menautkan jari kelingkingnya.


Tanpa aba-aba ia mengangkat Kirei tinggi-tinggi ke udara.


“Yeeaay ....” Teriak girang anak gadis itu.


Sementara sang istri dan anak laki-lakinya hanya melihat mereka dengan geleng-geleng kepala.


Sebelum menuju lokasi perusahaan yang berada di ujung timur pulau Jawa. Ia mampir ke kantor Retro cabang Surabaya. Sementara kantor pusatnya berada di Jakarta.


Mengambil beberapa peralatan liputan. Lalu berpamitan dengan atasan dan rekan-rekannya yang kebetulan berpapasan.


“Kamu hati-hati ....” Kata-kata pesan sarat makna dari atasannya, “risiko besar untuk kita tetap mempertahankan headline berita,” Pak Sangkot tahu betul sebagai Wapimred (Wakil pimpinan redaksi) Retro. Mereka juga terimbas dengan teror. Tapi mereka juga tak surut takut. Sebab ada undang-undang pers yang melindungi sejak reformasi. Dan selama pemberitaan berimbang sesuai fakta.


Demas mengangguk.


Tiba di lokasi perusahaan, ia singgah dulu di rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan ini disewanya. Meletakkan koper kecil berisi pakaian ganti. Lalu bergegas pergi ke lokasi liputan.


Kondisi semakin ricuh, manakala aparat keamanan semakin terdesak.


“Bagaimana situasi di sana?” Tanya Pak Sangkot melalu jaringan telepon seluler.


“Sepertinya berakhir bentrok.”


“Kamu harus hati-hati. Jaga diri ....”


“Laporan hari ini langsung naik cetak, info terbaru Kapolda turun.”


“Baik, Pak.”


Terlihat Kapolda memberikan arahan melalui speaker toa saat peserta aksi mulai memanas.


“Dimohon peserta aksi dapat menahan diri ... kontrol emosi ....”


“Berdemolah sesuai undang-undang ... jangan anarkis ... jangan jadi provokator.”


“Pihak pemda Jatim sedang bertemu dengan perusahaan dan perwakilan dari kalian ... jadi tolong kendalikan diri ....”


Sebagian peserta masih berusaha meringsek masuk ke dalam perusahaan yang dipagari kawat berduri tersebut.


Sebagian meneriaki, “Huuuuuuu ... janji ... janji teruuuss ... kami bukan rakyat bodoh!”


“KAMI MENUNTUT KEADILAN!!” Teriak koordinator aksi massa melalui toa.


“Betulll ...!" Sahut peserta aksi.


“CABUT HAK IZIN TAMBANG!!”


“Cabuuutt ...!”


Ia bergegas menuju hotel berdasarkan info di mana pertemuan antara pihak pemerintah, perwakilan warga dan perusahaan bertemu secara tertutup.


Tapi saat hendak memasuki lobi ia dihadang beberapa orang berpostur tegap dan kekar berpakaian semi formal.


“Saya wartawan ....” Tunjuknya pada kartu identitas yang menggantung di lehernya tersembunyi di saku depan kemeja.


“Tetap tidak boleh, Pak!” Seru salah satu dari kelima orang tersebut.


Ia berdecak, tetap berusaha mencari celah “Oke, saya mau tunggu di kursi itu ....” Ia menunjuk sofa yang berada di ruang tunggu lobi.


Namun, dua dari lima orang itu mengikutinya hingga duduk.

__ADS_1


Sekilas ia melihat sosok yang dikenalnya bersama 2 ajudannya tengah berjalan memasuki lobi.


Ia segera menghampiri, “Ka Bagas!” Serunya.


Pria berpakaian seragam cokelat itu menoleh dan menghentikan langkahnya.


“Kita bertemu kembali ....”  Imbuhnya dengan menerbitkan senyum kecil.


Bagas terlihat sedikit terkejut, “Demas.”


“Ya ... akhirnya setelah sekian tahun kita bertemu kembali.”


“Apa kabar?” Ia mengulurkan tangan kanannya.


Bagas menyambut uluran tangannya, “Baik ... sebaiknya kita ke resto.” Ajak Bagas. Sebab di lobi mereka menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di sana. Pun, Bagas ingin lebih berbicara leluasa dengannya.


Ia mengikuti Bagas. Setibanya di resto hotel mereka memilih ruang VIP. Sementara dua ajudannya menunggu di luar.


“Selamat ... Kaka telah menduduki Kapolda.” Ucapnya sebagai kalimat pembuka saat mereka sudah duduk saling berhadapan.


Sebagai wartawan tentu tahu perkembangan siapa saja yang menduduki jabatan penting di negeri ini.


“Kamu jadi wartawan? Jadi penyambung lidah masyarakat seperti keinginanmu.” Bagas bertanya dengan menatapnya.


“Ya ....”


“Tapi sayangnya, orang-orang penting di negeri ini menutup mata dan telinga.” Sindirnya sarkas.


Bagas tertawa sumbang, “Mereka bukan menutup mata dan telinga. Tapi, bekerja sesuai prosedur dan aturan. Tidak bisa gegabah.” Sanggah Bagas tak mau kalah.


“Yang jelas tidak berani. Ragu-ragu mengambil keputusan. Bahkan harus berbulan-bulan. Menunggu korban berjatuhan ....” Ucapnya sengit namun masih memperlihatkan senyum.


“Kamu tidak tahu mereka di posisi sulit,” sanggah Bagas. Maksud mereka adalah orang-orang yang duduk di pemerintahan.


“Sulit karena mereka lebih takut kehilangan jabatan dari pada bertambahnya korban.” Sahutnya.


“Dem ... birokrasi kita seperti itu. Tidak mungkin kita bertindak sendiri.”


Demas menghela napas. Ia membuang pandangannya ke kaca yang langsung tembus ke luar taman.


“Sori ... kali ini aku tidak setuju. Dan aku berbeda pandangan. Jika kalian bekerja lambat dan tetap mempertahankan perusahaan penuh manipulasi itu. Aku yang akan maju memperjuangkan suara mereka.” Kalimatnya terdengar tegas dan mengancam. Ia tahu Bagas maupun Imam tidak bisa diharapkan.


“Risikonya besar, Dem ... kamu harus memikirkan itu!” Tandas Bagas.


“Dan seorang pejabat yang harusnya melindungi rakyat...justru menjadi tempat bersembunyi tikus-tikus berdasi?”


“Kamu salah kira!” Sembur Bagas terpicu emosi.


“Ya ... itu kenyataan. Perusahaan itu jelas-jelas memanipulasi surat izin. Menganggap semua bisa dibeli. Tapi sayangnya, rakyat tidak bisa dibeli, Komandan!"


Perdebatan mereka kian sengit. Saling mempertahankan pemikiran masing-masing yang bertolak belakang.


Bahkan dengan jelas Demas ber-declare, “Aku akan mengangkat suara mereka hingga aku lelah. Dan sayangnya aku tidak akan lelah terkecuali mereka memaksa nyawaku lepas dari ragaku.” Ia menggeram, lalu bangkit dan segera pergi meninggalkan Bagas yang masih terpaku.


Pertemuan dua sahabat yang harusnya mengurai rindu justru diwarnai pertikaian dua kubu yang berseberangan sebab kepentingan.


“Kamu masih sama ... peduli dengan orang-orang yang kurang beruntung. Semoga peruntungan selalu menyertaimu ....” Gumam Bagas dalam doa seraya menatap bayangan Demas yang semakin menghilang.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2