
...103. Si Petualang Sejati...
Kirei
Pagi ini mereka sarapan bersama. Suasana sudah kembali seperti semula. Hanya saja Danang lebih protektif.
Laki-laki itu berpesan untuk selalu mengaktifkan ponselnya. Jangan menerima apa pun kiriman dari orang yang tidak jelas. Dan jaga diri tetap waspada.
Danang akan menyediakan sopir untuknya. Jika ia tidak bisa mengantar jemput.
Kenapa kesannya horor?
Padahal ia merasa tidak punya musuh. Tidak pernah menyakiti orang. Juga tidak pernah mengusik kehidupan ....
Tunggu!
Mengusik?
“Sayang, makan siang aku jemput.” Ucap Danang setelah menghabiskan sarapannya.
“Mas Danang gak sibuk?”
“Hari ini gak.”
Ia mengangguk.
Pun, hari-hari setelahnya juga begitu. Meskipun cerita buket bunga sudah tak lagi terdengar. Tapi laki-laki itu masih siaga satu.
Sabtu sore ia dan Danang beserta tim Dasa sang ketua offroad club telah sampai di Curug Sikarim-Wonosobo. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lebih.
Sebenarnya jalur offroad mulai menegangkan di mulai dari gapura PLTA, sebab belokan dan tanjakan cukup tajam di sepanjang perjalanan. Bahkan ia harus berpegangan di hand grip, berkali-kali tegang dan meringis membayangkannya. Bagaimana seandainya jatuh ke dalam jurang yang kedalamannya ... ah, dulu saat laki-laki itu jatuh ke jurang mobilnya saja ringsek. Sampai sekarang masih di bengkel.
Lalu ... ia menggelengkan kepalanya.
Sementara Danang, terkekeh dan masih santai. Benar-benar si ‘petualang sejati’ itu, ya! Batinnya menggeram.
Ketegangan sedikit berkurang saat melihat bukit-bukit indah di depan mata. Namun, sayangnya tertutupi kabut. Pesawahan yang berjajar rapi. Hamparan hijau nan subur. Juga perkebunan wasabi.
Mereka memarkir mobil-mobil berjenis 4WD itu berjajar rapi. Mobil dengan sistem penggerak yang menyalurkan keluaran tenaga mesin ke seluruh roda, yang diciptakan untuk memiliki kemampuan melewati medan berat. Ada sekitar 20 mobil. Termasuk mobilnya Danang yang kali ini berbeda sendiri.
Kenapa?
Laki-laki itu menggunakan Land Cruiser yang dibelinya belum terlalu lama.
“Kok pake ini, Mas?” Tanyanya ketika mereka hendak berangkat tadi. Ia tahu mobil offroad suaminya bukan hanya jeep yang masuk jurang lalu. Tapi masih ada satu lagi yang setiap ditanya katanya di garasi teman. Dan ia pernah melihatnya sekali sewaktu dibawa Aksa. Bisa dibilang mobil kakek buyutnya yang ia tumpangi sekarang. Hardtop, mobil legenda para offroader pada jamannya dan sampai saat ini. Bahkan ia selalu mengidentikkan dengan mobil preman. Sebab selalu dipakai syuting film-film untuk preman bayaran.
“Jalurnya green land offroad, jadi aman.” Jawab Danang santai.
Green land offroad mereka pilih karena Danang yang memintanya. Sebab laki-laki itu membawa dirinya bersama. Bahkan sebagian peserta juga membawa keluarga. Jadi akhirnya tim memilih jalur offroad yang paling ringan. Jalan sudah terbuka, hambatan tidak ekstrim. Cocok untuk pemula offroader.
Belum juga sampai di tujuan, suara gemuruh air sudah sangat terasa di gendang telinga. Aliran air deras yang jatuh menghantam berbatuan dan genangan air di bawahnya. Seolah menjadi orkestra alam tersendiri.
Ia mengambil beberapa objek. Bahkan meminta laki-laki itu untuk berdiri tepat di dekat guyuran air. Danang menurut kali ini. Padahal laki-laki itu paling susah difoto. Dan sedikit sekali mengabadikan dirinya dalam bentuk jepretan kamera. Entah kenapa?
Ckrek.
Ia mengancungkan jempol. Tanda bahwa hasilnya bagus.
“Kamu tahu, kita sedang di desa paling tertinggi di Pulau Jawa?” Tanya Danang menghampirinya.
Ia menggeleng, menoleh sekilas laki-laki itu sembari mengerutkan dahinya.
“Desa Sembungan yang kita pijak sekarang ini berada di ketinggian 2.306 di atas permukaan laut. Jadi selayaknya kamu juga harus difoto biar jadi kenangan.” Tutur Danang mengulurkan tangannya untuk meminta kamera yang dipegangnya.
Ia menyodorkan kamera tersebut. Berpose berdiri merentangkan kedua tangan.
Ckrek.
“Ketinggian air terjun Sikarim 90 meter,”
Ckrek.
Danang mengambil fotonya saat ... ia sedang tidak siap. Ceritanya candid.
Ia mencelupkan kakinya yang bertelanjang alas kaki ke air yang dinginnya melebihi air di lemari es-nya.
“Sshhh ....” Gumamnya merasakan dingin yang langsung menjalari tubuhnya. Nyess ... brrrr.
Ckrek.
“Mas Danang kok tahu, kalo kita lagi di desa paling tertinggi di Jawa?” Tanyanya. Kini ia duduk di batu sambil tangannya bermain-main air.
Ckrek.
Danang berdecak, “Itu kan basic. Masa gak tau?” Cibir laki-laki itu seperti mengejek.
Ia mencebik, “Coba sekarang kalo air terjun paling tertinggi di Pulau Jawa apa?” ia ingin menguji Danang. Apakah laki-laki itu juga tahu? Awas ya, kalau tidak bisa jawab. Si petualang sejati akan langsung ia lengserkan keprabon. Kikiknya dalam hati.
“Air terjun Madakaripura di Probolinggo. Aku pernah ke sana.”
Ia belum puas.
“Kalo sungai terpanjang di Indonesia?”
“Sungai Kapuas.” Jawab Danang mantap.
“Kalo sungai terpanjang di dunia?”
“Nil.”
Ia menimpali, “Bukannya Amazon?”
“Amazon kedua. Silisih dikit.”
Masih belum puas.
__ADS_1
“Kalo gunung tertinggi di Indonesia?” Sebab kalau gunung tertinggi di dunia semua orang pasti tahu, akan mudah menebak pikirnya.
“Puncak Jaya 4.884 mdpl.” Hah, hafal seukurannya juga?
“Kalau Semeru?” Lokasi yang ingin juga didatanginya suatu hari nanti.
“Gunung tertinggi di Jawa. Tingginya 3.676 mdpl.”
“Bromo?” Destinasi yang masuk daftar kunjungannya. Sebab dulu ayah pernah ingin mengajaknya tamasya ke sana, tapi ....
“2.329 mdpl.” Sahut Danang cepat.
“Kalo—”
“Kenapa gak nanya gunung paling istimewa di dunia?” Danang menyergah. Merasa di atas angin. Semua pertanyaannya terjawab.
Betul juga pikirnya. Berapa gunung sih yang pernah didaki laki-laki ini? Kok semua pertanyaannya terjawab.
“Emangnya ada? Trus gunung apa?”
Laki-laki itu mengulum senyum, mengambil fotonya diam-diam. Yang sedang membasuh kakinya dengan tangan.
Ckrek.
“Jawabannya sekarang apa nanti malam?”
“Hah!” Ia mendongak, “kenapa harus nanti malam? Bilang aja gak tau!” Cibirnya.
Danang tergelak, “Gunung paling istimewa di dunia menurutku ....” Laki-laki itu sengaja menjeda dan menatapnya lama tapi ke satu titik. Dan ia baru sadar ketika suaminya itu mengerlingkan mata.
“Dasar!!” Ia mencipratkan air ke laki-laki itu. Sebanyak-banyaknya. Ia bahkan tak peduli lagi dengan orang lain yang melihatnya. Childish mungkin pikir orang. Masa bodoh. Ia mengejar laki-laki itu yang mencoba melarikan diri.
**
Danang
Ia melakukan meeting point bersama Dasa sebagai ketua dengan anggota lainnya. Untuk memutuskan rute mana yang akan dipilih besok pagi. Dan keputusan bulat memilih jalur beda dari biasanya. Namun masih tetap aman membawa keluarga. Pukul 23.00 WIB ia kembali ke kamarnya.
“Belum tidur?” Tanyanya ketika menutup kembali pintu kamar dan menguncinya. Kirei menyambutnya dengan senyuman.
“Dingin banget, Mas.” Jawab Kirei yang bergelung dalam selimut tebal. Bisa dibilang hanya kepala dan rambutnya saja yang terlihat.
“Sekarang tidur.” Ucapnya, ikut merebahkan tubuh di sebelah istrinya. Menyelimutkan kain tambahan ke tubuh Kirei. Rombongan offroad memutuskan menginap di homestay kawasan Bukit Sikunir. Sebab besok pagi sebelum fajar mereka akan melihat golden sunrise di sana.
“Hiii ... dingin.” Kirei menggosok-gosokkan telapak tangannya di dalam selimut. Tubuhnya telah terbungkus rapat. Tapi hawa dingin begitu menusuk. Rasanya masih saja bisa menembus kulitnya.
Ia mengeratkan pelukannya. “Masih dingin?” Tanyanya.
Kirei mengangguk.
Terlintas ide di benaknya. “Orang yang kedinginan. Hypotermia. Harus dihangatin. Biar tidak tambah parah.”
“Pertama, pakai selimut dan jaket berlapis,” Kirei sudah menggunakan jaket dan selimut tebal, double lagi.
“The last. Hanya ada satu-satunya jalan keluar ...,” imbuhnya menyeringai.
Kirei menaikkan 1 alisnya.
“Hah?! Apa?” Istrinya tergeragap ketika ia ikut menyelusup ke dalam selimut. Memberikan kehangatan dengan jalannya. Bukankah ini termasuk dalam petualangan juga? Sudut bibirnya melengkung ke atas. Meskipun Kirei menggeram dengan idenya.
Benar saja, keputusannya kali ini tepat. Sesuai hasil penelitian bahwa kontak kulit ke kulit bisa membantu menaikkan suhu tubuh. Terbukti. Meski hawa dingin melingkupi. Ia bisa melihat Kirei berpeluh seusai kehangatan yang mereka ciptakan sesaat lalu. Ralat! Kehangatan yang ia ciptakan. Hehe .... Selimut pun ter campakkan. Menyusul gerutuan istrinya yang bilang, “Gerah.” Saat ia akan menyelimuti kembali Kirei. Get there!
Ia, si petualang sejati bukan?
**
Kirei
Sebelum fajar mereka sudah bergerak menuju bukit. Melakukan tracking ke bukit yang cukup melelahkan. Tapi, rasa lelah itu langsung terbayar tunai seketika saat melihat pemandangan yang menakjubkan di hadapan mata. Sang surya dengan gagahnya muncul dari peraduan.
Golden sunrise.
Ia mempersiapkan kamera untuk membidik objek yang ditunggu-tunggu.
“WOW! Bagus banget ....” Ucapnya kagum. Setelah berhasil mengambil beberapa foto.
“Phenomenal (menakjubkan).” Gumamnya berdecak tak percaya. Ia bisa berada di sini. Dengan segala penciptaan Tuhan yang begitu ... tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata melalui bibir bahkan diukir dengan aksara. Hanya keterdiaman menjeda dan rasa syukur berkali lipat terucap di sanubarinya.
Mereka duduk di sebuah batang kayu besar. Ia menyandarkan kepala di bahu Danang. Sambil memandangi matahari yang bergerak naik perlahan.
Danang merengkuh lalu mengecup kepalanya, “Kamu suka?”
“Banget. Menikmati sunset dan sunrise, dusk and dawn, salah satu favoritku.”
“Makasih, Mas Danang sudah ngajak aku ke sini.” Lanjutnya.
“Habis ini kita sarapan dulu, baru lanjutin petualangan.”
Ia mengangguk.
Sarapan pagi setelah kembali menuruni bukit. Di sana ia dan rombongan menyantap mi ongklok, sajian mi rebus khas daerah Wonosobo.
Rendra dan Anita menghampiri, ikut bergabung.
“Pagi-pagi udah nge-mi. Buat ganti kalori tadi trecking.” Celetuk Anita. Duduk di sebelahnya.
Ia tersenyum, “Mumpung di sini, Mbak. Kapan lagi bisa makan mi ongklok,” kilahnya.
Danang berdehem, melirik Rendra.
Rendra malu-malu.
Pasangan new couple itu entah kapan mulai dekat. Buktinya mereka sekarang jalan berdua. Sampai Aksa harus kalah taruhan. Kalau Rendra bisa membawa Anita, maka Aksa mengalah tidak ikut serta. Tapi sebaliknya jika Anita menolak. Maka Rendra yang harus mundur.
__ADS_1
Aneh.
Setelah dari Bukit Sikunir mereka melanjutkan perjalanan ke puncak Dieng. Dataran tinggi yang terkenal dengan tempat wisata yang memanjakan mata. Ada kawasan Candi Arjuna, kompleks Candi Gatotkaca, dan kawah Sikidang.
Tentu masih banyak lagi tempat-tempat menarik. Tapi keterbatasan waktu membuat mereka harus mengakhiri perjalanan mengasyikkan itu saat matahari mulai meninggalkan singgasananya.
**
Rendra
Sementara new couple memilih jalan sendiri saat menikmati indahnya lukisan alam. Kalau bisa tanpa orang lain. Just the two of us (hanya kami berdua). Pintanya dalam hati.
Ya, I’m dating her (aku pacaran dengannya—Anita)
What?
Pacar?
Setelah kesepakatan berdua untuk lebih dekat. Menjalani hubungan lebih dari sekedar teman. Hanya saja mereka belum memublikasikan di hadapan orang lain. Termasuk kepada atasannya.
“Ya ....” Sambil mengangguk, “... kita jalani aja dulu,” begitu ucapan Anita saat ia mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Serius. Ia meminta hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Dan Anita setuju.
Jawaban itu saja sudah membubungkan hatinya. Meski tanpa embel-embel I love you too, atau aku juga sayang kamu.
“Aku mau,” jawaban kedua saat ia mengajak Anita pergi offroad ke dataran tinggi Dieng.
Jawaban yang semakin membuatnya menang telak. Sebab Aksa harus menerima konsekuensi dari taruhannya. Tidak ikut serta offroad kali ini. Pun menegaskan bahwa dirinya adalah pemenangnya. Yessss!! Pekiknya dalam hati.
“Sepertinya perjuanganmu berat.” Ejek atasannya waktu itu. Ia masih ingat. Sempat mematahkan semangatnya.
Tapi, kini ia bisa membuktikan. Perjuangan yang memang berat sudah dilaluinya. Dan ia mendapatkannya.
“Cantik,” ucapnya ketika ia memandangi foto Anita bersamanya di depan Candi Arjuna. Saling berpegangan tangan. Padahal banyak foto candid yang ia dapatkan dari gadis itu. Tapi ini yang paling membuatnya bungah bahagia.
**
Kirei
Senin pagi menyapa dengan kesibukannya. Setelah editorial meeting. Ia harus mengikuti meeting redaksi. Lalu selesai saat makan siang.
“Mau makan di mana?” Tanya Danang ketika mereka baru saja meninggalkan lobi.
“Jangan jauh-jauh, Mas deket sini aja.”
Akhirnya mereka memilih restoran dekat kantor TVS.
“Tadi pagi, Paman Tilamuta menelpon.” Ungkapnya setelah mereka menyelesaikan makanannya.
Danang menegak air minumnya.
“Mempertanyakan sahamku, mau dilepas atau gak?”
Jeda sejenak. Ia menghela napas.
“Saham yang mana?” Kernyit Danang.
“Kurenai Metal.”
Danang semakin mengernyit.
Saat kakinya melangkah menjajaki lantai lobi. Dan baru saja mobil Danang menghilang dari pandangan. Ia di panggil Gladis dari balik meja resepsionisnya.
“Mbak Rei.”
Ia menghampiri konter resepsionis tersebut.
“Buket untuk Mbak Rai datang lagi,”
“Kira-kira 10 menit yang lalu.”
Ia menatap buket bunga lily putih. Kenapa selalu warna putih?
Termaktub dalam kartu ucapan,
‘Good afternoon’
-GL-
Ia mengerutkan dahi.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1