
...105. It’s Not Easy To Be Me (3)...
Kirei
Semua rencananya berjalan lancar. Ia telah mendelegasikan semua pekerjaan pada Oka selama satu pekan. Sebab selama satu minggu pula waktu yang diberikan Pak Rahmat untuknya.
“Hati-hati, Rei.” Pesan Oka, “all the best to you.” Imbuhnya.
“All the best to you too.” Balasnya, “awas jangan diembat mahasiswi magang gue!” Serunya memperingati Oka dengan nada ancaman.
Oka berdecak. Lalu tergelak setelahnya.
“Semoga misimu berhasil!” Oka menyemangatinya.
Kiriman hampers itu jelas menyebar seantero gedung TVS. Bagaimana bisa? Ia mengedikkan bahunya. Berbagai tajuk berita menggatikan siaran entertain yang semestinya.
'Korlip news dapat hadiah dari pengusaha GL'.
'Pengusaha real estate memberikan gratifikasi pada korlip news sebagai tukar guling program.'
'Korlip news mendapat teror dari seorang pengusaha.'
Dan masih banyak lagi headline gossip mengalahkan akun lambe-lambean yang nyinyir tiada akhir.
Ia tidak bisa mencegahnya. Tidak bisa menutup mulut mereka satu per satu. Yang bisa ia lakukan ialah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. It’s so simple.
“Aamiin ....” Jawabnya dalam hati. Seraya melambaikan tangan pada Oka.
Ia keluar ruangan korlip langsung menuju lobi. Di sana Danang telah menunggunya. Dan sayangnya, Danang tidak bisa ikut serta. Sebab banyak perkerjaannya yang tidak bisa ditinggalkannya. Tapi laki-laki itu berjanji akan menyusul kemudian.
Tiba di Gorontalo, ia disambut baapu dan nenek dengan suka cita. Tak lupa juga Asti, Bi Una dan penjaga keamanan yang gembira atas kedatangannya. Mereka bagai oase di saat seperti ini baginya.
“Maaf, Rei ngedadak ke sini. Pengen ketemu Baapu sama Neene.” Kilahnya beralasan saat mereka duduk di ruang keluarga.
Ia menghubungi baapu melalui telepon sehari sebelumnya. Dan sore ini dirinya sudah di rumah baapu. Serasa seperti mimpi.
Namun, “Baapu bisa membaca kekhawatiranmu, Rei.” Tembak baapu tepat sasaran.
Ia meringis. Kilah apalagi yang akan disuguhkan batinnya.
“Sekarang kita makan dulu,” Neene menyela.
“Binte biluhuta ... datang.” Asti muncul dengan nampan berisi 3 mangkok binte biluhuta.
Heem ... baunya wangi dan menggugah selera. Ia langsung menyambar binte biluhuta yang baru saja disajikan di atas meja oleh Asti.
“As, ayo makan sekalian.” Tawarnya mengajak Asti yang hendak pergi.
“Tio ma yilonga, (dia sudah makan)” sergah neene.
“Tadi di dapur sama Una dan yang lainnya.”
“Odu’olo (terima kasih) ... saya sudah makan, Mbak. Ini sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Mbak Rei.” Sahut Asti lalu meninggalkan ruang keluarga. Menghilang ke arah dapur.
Sementara baapu begitu menikmati makanannya. Sambil sesekali melihat percakapannya dengan neene.
“Maaf, waktu baapu sakit. Rei terlambat tahu.” Ia memberengut. “Lagian, kenapa harus dirahasiakan segala? Memangnya, Rei siapa gitu sampai gak boleh tahu kondisi Baapu.”
Baapu terkekeh. Meletakkan mangkok yang telah kosong.
“Baapu takut, kamu langsung terbang kemari.”
Neene sekarang giliran terkekeh.
Ia mendesis, “Roman-romannya persekongkolan yang disembunyikan. Di antara 2 manusia.”
Pasangan senja itu tergelak.
Waktu bergulir cepat.
Setelah makan malam, baapu mengajaknya untuk ke ruang kerjanya.
“Duduklah, Rei.” Pinta baapu. Yang melihatnya masih berdiri tegak di tengah-tengah ruangan yang lumayan luas. Berisi rak buku yang berjejer rapi hingga hampir menyentuh plafon. Lalu sebuah lemari kaca yang berisi berbagai miniatur kapal. Ratusan mungkin? Percis kapal sungguhan. Terbuat dari plat baja. Sekecil itu? Ia berdecak kagum.
Lalu lemari kaca sebelahnya berisi foto-foto baapu dengan ... mungkin rekan kerja, sahabat atau para kolega. Entahlah, yang jelas tampak senyuman terukir baapu di setiap foto itu. Bagian paling atas berisi foto-foto keluarga. Terjajar rapi berurutan. Hingga foto dirinyapun berada di sana. Berdiri di tengah-tengah antara baapu dan neene. Dadanya berdesir.
Di sudut lemari terdapat guci-guci besar menjulang. Tingginya hampir mendekati tinggi lemari. Serta corak dan warnanya antik. Mungkin termasuk guci kuno atau peninggalan jaman dahulu.
Dulu, ia sempat masuk ke ruangan ini dua kali. Namun hanya sekedar memanggil baapu dan mengantarkan minuman. Tidak lama. Jadi tidak sempat memperhatikan dengan detail seperti saat ini.
Ia melangkah mendekati baapu yang telah duduk di sofa berbahan kulit. Berwarna cokelat tua mengilat, bergaya klasik ala Eropa.
Perlahan ia mengenyakkan tubuhnya di sana. Bersebelahan dengan baapu.
Baapu tampak menghela napas. Desahannya sangat kentara.
“Kenapa Baapu tidak meloloskan GL?” ucap baapu menyandarkan kepalanya.
Ia terkesiap, ternyata baapu sudah mengetahui hal ini sebelum ia bercerita.
“GL adalah anak usaha dari Torrid Group. Dan perlu kamu ketahui Torrid punya 3 anak usaha yang berkecimpung di industri konstruksi dan properti bernama Garuda Land,”
“Lalu anak usaha lain di industri primer bernama Torrid Palm yang usahanya bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Terletak di Pulau Sumatera.”
“Anak usaha ketiga dan terakhir ....”
Jeda beberapa saat. Baapu terdiam mengatupkan bibirnya.
Ia merasakan keheningan yang mendalam. Suasana yang berubah tiba-tiba. Menghampa.
“Baapu,” panggilnya lirih menatap baapu sejenak. Netra yang telah dipenuhi keriput di kelopaknya itu berkaca.
Namun sejurus kemudian laki-laki berusia senja ini mengucapkan, “... PT. SGC. Star Gold and Copper.” Baapu menelan ludahnya, “Industri ekstraktif pertambangan emas di timur Pulau Jawa.”
“Di mana ... ayah kamu menjadi korban di sana.” Baapu menghela napas perlahan.
Tetiba lidahnya begitu kelu. Tenggorokannya tercekat. Dadanya berdesir hebat memenuhi seluruh rongga. Matanya merasakan aliran panas yang mencuat.
“Torrid pemegang saham terbesar SGC waktu itu.”
“Sampai sekarang baapu belum bisa membuktikannya.” Baapu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Licin seperti belut. Licik seperti ular.”
“Dan sekarang anaknya mengiba untuk bekerja sama dengan KM.” Baapu tersenyum mengejek, lalu menggeram. “Jangan harap!”
Keesokan paginya ia dan baapu menuju kantor KM. Tiba di sana Tilamuta dan Jebe telah menunggunya.
__ADS_1
Saling menyapa dan berjabat tangan. Mempersilakan dirinya dan baapu untuk duduk di sofa ruangan Direktur.
Baru saja Jebe berkata, “Baapu,”
Terdengar suara,
BRAKKK!!
Baapu menggebrak meja dengan satu tangannya. Rahangnya mengetat.
Ia menjengit kaget.
Pun dengan Paman Tilamuta dan Jebe sendiri. Mereka langsung menunduk.
Napas Baapu memburu.
Ia yang duduk di sebelah baapu, refleks mengusap lengan baapu satunya. Memberikan dan menyalurkan ketenangan.
“Apa yang ingin kalian ucapkan?!”
“Huangango!! (banyak cakap)” Baapu menggeram. Mengepalkan tangan satunya yang masih bersangga di atas meja. Tampak gemetar.
“Kamu mau menghancurkan KM, Jebe?!”
“HULODU!! (Bodoh)” Maki baapu kesal. Baapu mendesis, “Lakukanlah! Tapi sebelum kamu melakukan itu, siap-siaplah angkat kaki dari sini.”
Ia berkali-kali menelan ludahnya. Suasana begitu tegang. Baapu benar-benar berang.
“Jangan mentang-mentang bos GL teman ngana sekolah, lantas ngana bisa seenaknya memimpin perusahaan?”
"Bagaimana jika, Baapu sudah tidak ada? Kalian mau jadikan apa perusahaan ini?!"
“Ngana tidak tahu perjuangan Baapu bagaimana agar KM bisa terus tegak, berdiri dan bertahan hingga akhirnya bisa berkembang.”
“Ngana, Baapu sekolahkan di luar biar bisa meneruskan perusahaan ini. Tapi kenapa jadi seperti ini?!”
"Hah!!"
Baapu menunduk sejenak. Lalu menegakkan dagu kembali.
“Perlu kalian tahu? Demas meninggal setelah meliput rekam jejak SGC perusahaan Torrid!” Tandas baapu lugas dan tegas.
Jebe dan Tilamuta yang sedari tadi menunduk, menengadah. Menatap baapu tak percaya.
“Dambea!!” Panggil baapu.
Paman Dambea yang menunggu di luar ruangan masuk membawa sebuah map. Mengangsurkannya pada baapu.
“Pelajarilah!” Seru baapu melempar map ke atas meja, kemudian bangkit dari duduk. Dan berlalu dari sana.
Paman Tilamuta dan Jebe masih mamaku dalam duduknya.
Ia ikut berdiri menjajari baapu lalu mengekorinya.
“Baapu,” ucapnya lirih ketika keheningan tercipta sekian lama. Mereka masih dalam perjalanan pulang.
“Rei,” Baapu merengkuhnya.
Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa. Kenangan mengenai ayahnya kembali terkuak. Air bening itu sedari tadi bergumul memenuhi kelopak matanya. Sesekali meluncur tanpa kuasanya.
Sesak.
Hari berikutnya Danang memberitahukan akan datang menyusul esok hari. Sore ini ia, baapu dan neene sedang bersantai di teras belakang. Sambil memberi makan ikan-ikan kesayangan baapu.
“Itu,” Baapu menunjuk ikan yang berenang pelan namun pasti. Ada tanda bulat merah di kepalanya.
“Seperti bendera Jepang,” sahutnya.
Baapu mengangguk, “Jenis tancho,” ikan yang ditunjuk baapu berdiam diri di bawah jembatan buatan. Bergerombol bersama yang lainnya.
“Kalo yang mahal yang mana?” tanyanya sambil memperhatikan satu persatu. Ada sekitar 10 ekor di sana. Dengan warna mencolok cerah dan lincah.
“Jenis kumpay slayer. Itu ...." Baapu menunjuk ikan yang mempunyai sirip panjang di bagian ekor, punggung dan dada. Sangat indah seperti kupu-kupu. Berwarna perpaduan antara putih, hitam dan keemasan.
“Kalo yang paling mahal?”
Baapu melemparkan segenggam makanan ikan.
Pyuurrrrrr ....
Langsung disambar. Disusul suara kecipak dan riak-riak air akibat pergerakan ikan yang saling berebut makanan. Lalu terdengar,
Cuap ... cuap ... cuap
Mulut ikan koi yang megap-megap saling mendecap-decap.
“Baapu tidak pernah beli. Jadi tidak tahu yang paling mahal yang mana.” Kemudian terkekeh.
Ia mencebik.
Neene ikut tertawa renyah.
Menjelang siang, ia dan Laira pergi ke bandara untuk menjemput Danang. Meski hujan mengguyur dengan derasnya. Tapi ia bersyukur, pesawat bisa mendarat tanpa hambatan.
“Sorry ... nunggu lama, ya?” Danang mengusap kepalanya.
Ia berhenti sejenak. Mengernyit. Danang spontan menggandeng tangannya.
Sementara Laira menunggu di dalam mobil.
“Kemarin ke Surabaya dulu, jadi ....”
Ia menoleh ke arah laki-laki itu seraya melangkahkan kakinya.
“Pesawatnya beda jadwal, mundur jadinya.”
“Kok ke Surabaya? Mas Danang ada keperluan di sana?”
Mereka memasuki kabin mobil. Laira melajukan kendaraan perlahan. Setelah sesaat lalu menyapa dan berjabat tangan dengan Danang.
“Gimana kabar, Bro?” tanya Danang yang duduk di depan pada Laira.
“Baik. Kamu sendiri gimana? Kayaknya sibuk banget, ya?” Balas Laira.
Hujan kembali mengguyur begitu derasnya. Setelah tadi sempat berhenti sebentar.
“Biasalah ... tugas negara yang gak ada matinya,” Danang tergelak.
__ADS_1
“Cih, abdi negara juga manusia,” disambut kekehan dari Laira.
Dan mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Sementara ia diabaikan di bangku belakang.
Huft.
***
Danang
Seusai menyantap makan malam mereka duduk bergabung di ruangan keluarga.
Kirei baru saja duduk, setelah membawakan kopi hitam untuknya. Dan teh madu untuk baapu dan neene. Tak lupa kue karawo yang terlukis dengan apik dan unik dalam toples kaca bening
Ia mengukir senyum menatap Kirei. Yang duduk di sampingnya.
Sedangkan baapu dan neene juga duduk bersisian di sofa 3 seater. Rasanya malam inilah ia harus berbicara.
***
Kirei
“Baapu, neene ....” Ucap Danang, lalu menoleh kepadanya. Sudut bibir laki-laki itu tertarik ke atas.
Baapu dan neene menatap mereka.
“Saya mendapat amanat,” tutur Danang.
“Dua hari yang lalu ... Pak Tarman Fauzi meninggal dunia,”
“Innalillahi wainnailaihi roji’un ....” Baapu, neene dan dirinya berucap hampir bersamaan. Lalu mereka menatap laki-laki itu.
“Bukannya udah sehat, Mas?” tanyanya mengernyit.
“Aku jadi gak enak, Om Tarman pengen ketemu kita, tapi ternyata ....” Benar juga kata bunda. Umur tidak ada yang tahu.
Danang merangkul bahunya.
“Sakitnya sudah lama. Dan kemarin sempat anfal. Kena serangan jantung berulang.” Tandas Danang.
“Makanya kemarin Ke Surabaya dulu. Jenazahnya langsung dibawa dari Singapura ke Surabaya. Dan sorenya langsung dimakamkan.” Terang laki-laki itu.
Ia bisa membayangkan kesedihan Tante Ida—istri Om Tarman. Dan juga papa. Om Tarman adalah sosok sahabat rasa saudara bagi papa. Lalu anak-anak dan keluarga besar Om Tarman pasti sangat kehilangan.
Wajahnya berubah sendu. Begitu pula baapu dan neene terlihat gurat keprihatinan.
“Papa gimana, Mas?”
Danang mengusap bahunya dengan lengan satunya yang masih merangkulnya.
“Papa kehilangan. Tapi sudah mengikhlaskan.”
“Pasti Mas Danang cape, ajak istirahat, Rei.” Ucap neene menyela.
Pasti. Seluruh korps Bhayangkara kehilangan. Mantan orang nomor 1 di tubuh Polri di eranya. Terkenal lugas. Tegas. Disiplin. Dan Bersih. Siapa sih yang tak kenal Jendral Tarman Fauzi?
Karismatik. Kesan pertama berjumpa dengannya.
Lalu,
Tegas. Terlihat pembawaannya. Mirip dengan papa, dan laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Dan,
Baik. Memang orangnya luwes, jadi mampu bergabung di mana saja. Termasuk kehadirannya sewaktu acara syukuran pernikahan di rumah mama. Ramah dan mengayomi.
“Belum, Ne. Sebentar lagi.” Danang tersenyum. “Ada hal yang harus saya sampaikan di sini.”
Mereka bertiga mengalihkan pandangan ke Danang. Yang mengeluarkan benda dari saku celananya.
-
-
📷 : Travellingyuks.com
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1