Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
85. Sooner or Later It's Over


__ADS_3

...85. Sooner or Later It’s Over...


Kirei


Mas Danang calling ....


Anisa menatapnya. Sebab ia masih menggenggam ponsel itu tanpa segera  menggeser ikon terima panggilan.


“Siapa?” Tanya Anisa ikut penasaran.


“Ya ... Mas,” sahutnya.


“Lagi di mana? Sudah pulang?”


“Lagi di mall. Sama Anisa.”


“Mas Danang udah pulang?”


“Hemm ... ada Aksa di rumah.”


“Oya, Rei jalan pulang sama Anisa. Nanti dilanjut lagi, yaa ....”


Sambungan telepon terputus. Bertepatan dengan mobil Ganjar yang berhenti tepat di depan mereka.


Namun mereka masih berdiri memaku. Hingga Ganjar melongok lewat kaca jendela samping yang dibukanya secara otomatis.


“Hayoo!” Seru Ganjar.


Mereka saling tatap. Lalu masuk ke dalam mobil.


Ia duduk di depan sementara Anisa di bangku kedua.


Bertiga masih dalam diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga Ganjar bertanya, “Anisa turun di mana?”


“Ee ... di apartemen aku. Dia nginep di tempatku.” Sahutnya cepat sebelum Anisa menjawab. Ia merasa kurang nyaman! Seandainya Anisa turun terlebih dahulu. Lalu ia akan berdua saja dengan Ganjar? Tidak! Menurutnya ini cara terbaik yang ia putuskan. Ia tidak ingin membuat suasana lebih pelik. Meski ia harus mengorbankan Anisa yang resah di belakang. “So sorry, Nis.” Ucapnya dalam hati.


Sepanjang perjalanan Ganjar lebih banyak yang berbicara.


“Panas, ya?” Ganjar menaikkan satu level pendingin udaranya.


Ia menggeleng pelan.


“Kalian sudah makan?”


“Sudah.” Sahutnya.


“Tadi aku ketemu klien di sana,” Ganjar berdecak, “kita ketemu lagi. Kalo jodoh gak ke mana, ya?” Ganjar geleng-geleng kepala seperti heran dan tak percaya. Apakah itu tandanya ....


“Oya, gimana kabar Ken?”


Ia menoleh sekilas pada Ganjar, “Baik.”


Lagi,  Ganjar berdecak. “Waktu itu Ken nungguin kamu. Tanya-tanya keberadaanmu.”


“Aku pikir siapa. Anak Ekonomi nyasar ke Fisipol. Ngaku pacar kamu lagi!” Tukas Ganjar.


“Gak cuma sekali dua kali ... tapi sering banget.”


“Orang-orang taunya kalian pacaran.”


Ia bergeming. Kaku. Namun masih mendengar cerita Ganjar.


Ganjar berdecak entah keberapa kali, “Termasuk aku yang ketipu.” Lalu terkekeh.


“Waktu itu—” jeda sejenak, “sorry, ya ....” Ganjar melirik Anisa lewat kaca spion dalam.


Ia mengangkat sudut bibirnya tipis.


Nyenyat.


Mobil yang mereka tumpangi sempurna berhenti di apartemennya. Ia berucap, “Thanks, Gan ... harusnya kamu gak usah repot antar kami.”


“No. Sama sekali gak repot kok.” Balas Ganjar cepat.


“Kami duluan,” ia dan Anisa turun dari mobil.


Ganjar membuka kaca jendelanya, “Bye ... Rei. See you around ....” melambaikan tangan, kemudian melajukan mobil dan meninggalkan mereka yang masih berdiri.


Ia mengembuskan napas.


“Gila lo, ya! Gue jadi tumbal!” Sungut Anisa.


Ia melipat bibirnya, “Sori betul, Nis.” Mereka melangkahkan kaki masuk lobi.


“Laki tadi kayaknya suka, lo deh.” Terka Anisa.


Ia mengangkat bahunya. Tak acuh.


**


Danang


Setelah kepulangan Banuaji. Ia menghubungi Kirei. Namun istrinya itu sedang berada di mall  bersama Anisa.


Ponsel yang ia simpan di atas meja bergetar. Saat ia tengah fokus menonton pertandingan sepak bola dengan Aksa. Tubuhnya condong untuk melihat siapa yang meneleponnya.


My wife calling ....


“Sorry, Sa.” Ia beranjak dari duduk seraya menyambar ponselnya.


Ia menjauh dari ruangan tengah lalu masuk ke dalam kamar. Mengubah panggilan telepon menjadi video call.


“Sudah pulang?” Tanyanya ketika tampilan layar menunjukkan aktivitas Kirei baru tiba di unit apartemen. Ia duduk di sofa.


“Ada Anisa,” sahut Kirei. Lalu kamera diarahkan ke  Anisa yang sedang duduk di kursi melepas tas.


“Hallo, Mas ....” Anisa menyapa dan melambaikan tangannya.


Ia membalas tersenyum.


“Minggu depan bisa pulang?” Tanyanya. Layar di sana menampilkan Kirei menuang air dari dispenser ke dalam gelas, lalu meneguknya.


“Diusahakan,”


“Sepuluh hari lagi.” Jawab Kirei. Mengalihkan kamera depan. Sehingga tampak jelas wajahnya.


“Dipa nikah hari minggu. Barengan Pak Banuaji mengakikahkan anaknya.”


Ia menatap istrinya lekat, “Miss you ....”


“Miss you too,”


**


Kirei


Pagi sekali ia mengantar Anisa hingga depan lobi. Masih dengan menggerutu yang tak jelas Anisa masuk ke dalam taksi.


“Lo bilang gue udah bersuami gitu!” celetuk Anisa tadi malam. Yang masih kesal, padahal mereka sudah mau menjemput mimpi.


Ia berdecih, “Pede!” Semburnya. “gue gak bisa ngomong kayak gitu, Nis. Cepat atau lambat pasti dia juga akan tahu.”


“Terserah lo! Tapi jangan sampai ada Aldi kedua. Gagal move on ... larinya ke yang gak-gak.” Anisa menyalak.


“Haaaa ... chhiiiimmm!”


“Waduh. Nyebar virus ....” Anisa refleks menutup wajahnya dengan tangannya.


Ia tergelak. “Jadi gimana? Nyatakan cinta pake apa?” Todongnya membalas.

__ADS_1


“Tau ... ah!” Anisa membenamkan mukanya ke bantal.


“Hahaha ....” Ia menertawai Anisa yang melengos.


Setelah mengantar Anisa ia kembali ke unitnya.


Ting.


Ganjar : Morning! Ready to start the day.


Lalu,


Ting.


Dan,


Ting.


Ia tak lagi membuka 2 pesan dari Ganjar yang masuk hampir bersamaan.


Ting.


Masuk voice note dari Mas Danang.


“Good morning my dear. Have a nice day. Love you ....”


Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara rekaman itu. Tak sabar membalas pesan. Ia menelepon Danang.


“Hei ... udah bangun?” Sahut Danang dari seberang.


“Habis ngantar Nisa ke bawah. Haaa chimmm ....” ia mengucek-ngucek hidungnya yang gatal akibat bersin.


“Kamu sakit?”


“Kayaknya mau flu, Mas. Kemarin sempat kena gerimis pas naik ojek.”


“Ojek?!”


“Kenapa naik ojek? Kan bisa naik taksi. Apalagi cuaca lagi gak bersahabat.” Suara Danang terdengar khawatir.


“Gak pa-pa, Mas. Don’t worry ... haaa ... chimm ....”


“Tuuh, kan!”


“Rei,”


Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Kepalanya agak pening.


“Gak apa, Mas. Nanti aku minum obat.” Suaranya berubah sedikit sengau. Mungkin imun dalam tubuhnya juga sedang drop. Sejak kepulangan dari Bogor, beberapa kali dihadang gerimis saat naik ojek. Ditambah pekerjaan yang lumayan melelahkan.


Di hari kedua kondisinya semakin memburuk. Selain flu, batuk ia juga demam.


Pesan dari Ganjar tak pernah dibukanya. Bahkan temannya itu meninggalkan riwayat menghubunginya,


Panggilan suara tak terjawab 4


Pesan tak terbaca 6


“Mas, hari ini aku bener-bener gak bisa masuk kerja. Aku ijin.” Begitu ucapnya saat menelepon Anton.


“Gak pa-pa, Rei. Semoga cepat sembuh.”


Danang di video call juga sangat mengkhawatirkannya saat melihatnya bergelung dalam selimut.


“Sayang, udah ke dokter?”


“Udah, Mas.” Dokter praktek yang berada di lantai 1 apartemennya itu mengatakan bahwa ia hanya butuh istirahat total. Mengonsumsi obat dan makan secara teratur serta bergizi.


“Mas Danang mau ke mana?” Tanyanya saat laki-laki itu mengenakan kaos santai. Duduk dibangku mobil yang sedang melaju.


“Dari tempatnya Dipa. Baru saja pulang.”


Ia mengangguk. Menatap laki-laki itu dengan tatapan sayu.


“Istirahatlah ....”


Malam kian merangkak. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik mengubah posisi tidurnya. Hidungnya mampet. Batuk dan flu membuat tidurnya tak nyenyak. Ia merasakan tangan dingin menyentuh dahinya. Perlahan ia membuka matanya,


“Mas Danang,”


**


Danang


Pukul 8 malam ia diantar Aksa ke bandara. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan tentunya. Lalu mampir ke acara Dipa sebentar.


Tiba di apartemen Kirei pukul 10 malam. Ia membuka passcode. Terlihat Kirei tengah tertidur. Di sebelahnya kotak tisu. Di bawah ranjang tampak tong pembuangan sampah dipenuhi dengan tisu. Bekas tisu sebagian berserakan di lantai. Ia menggeleng lalu memunguti sampah tisu tersebut,  memasukkan ke dalam tong sampah. Mencuci tangan di wastafel. Melepas jaketnya.


Meraba dahi Kirei dengan punggung tangannya. Demamnya sudah lumayan turun.


Kirei mengerjap. Terbangun dari tidurnya.


“Mas Danang,”


Ia duduk di tepi ranjang sebelah Kirei.


“Aku membangunkanmu. Istirahatlah lagi.”


“Kapan datang?”


“Kenapa gak ngasih tau kalo mau datang?” Kirei bergeser dan bersandar di headboard.


Ia menyelipkan helai surai Kirei yang acak ke belakang telinganya.


“Aku khawatir. Kamu sakit di sini gak ada yang ngurus.”


“Aku udah gak pa-pa. Haaa ... chiiimm!” Kirei dengan cepat menutup hidungnya dengan tisu.


“Mas Danang jangan deket-deket. Nanti ketularan.”


Ia terkekeh. Lalu bangkit menuju mini bar.


“Sudah minum obat?” tanyanya. Menuang air hangat ke dalam gelas. Lalu menyodorkan untuk Kirei.


Istrinya itu mengangguk. Ia bisa melihat plastik kemasan obat di atas meja.


“Harus banyak minum.” Ia menyimpan gelas di atas meja bersebelahan dengan obat.


**


Kirei


Kedatangan Danang mendadak dan tanpa sepengetahuannya membuatnya bungah. Bahkan menjadi mood booster-nya.


Ia memandangi laki-laki yang tengah tidur memeluknya. Pulas. Lalu mengulas senyum.


“Makasih, Mas ....” Gumamnya.


Menyibak selimut secara perlahan. Ia bangkit dari tidurnya. Pagi ini ia merasa lebih baik.


Ia menyiapkan sarapan untuk mereka. Membuatkan kopi hitam untuk Danang. Ia menoleh ke ranjang ketika laki-laki itu menggeliat dan terbangun.


“Mas Danang udah bangun?” ia menata roti panggang di atas piring.


“Bau kopi bikin terbangun.” Sahut Danang sambil menguap.


“Jam berapa pesawatnya?” Tanyanya. Ia duduk di sebelah laki-laki itu.


“Jam 9.”

__ADS_1


“Rei, jam 10 masuk. Udah bilang sama Mas Anton.” Balasnya.


Danang menangkup wajahnya, “Udah sembuh bener?”


Ia mengangguk.


“Kalo belum jangan maksain.”


Ia menggeleng. “Aku udah enakan. Makasih Mas Danang udah datang.”


Danang berdecak, “Sini,” katanya dengan melebarkan tangannya.


Ia pun menghambur ke pelukannya. Menghidu aroma yang dirindukannya dalam-dalam.


Laki-laki itu mencium puncak kepalanya. “Atau mau ikut pulang sekalian?”


Ia mendongak, “Masih dua hari lagi. Kemarin aku udah izin. Gak enak izin terus. Lagian ngejar produksi. Sebelum kontrak habis.” Jelasnya.


“As you wish ... tapi jangan sampai sakit lagi.”


“Bikin aku khawatir.”


Ia mengangguk. Menyurukkan kepalanya ke dada laki-laki itu.


Danang merengkuhnya erat.


Suara getar ponselnya sejak tadi meronta-ronta. Tapi tak diindahkannya. Bahkan selama ia sakit ponsel itu seperti teronggok begitu saja bak barang tak berguna.


Lalu bergantian suara bel pintu.


Mereka mengurai pelukan.


Saling menatap seakan bertanya ‘siapa’. Namun ia mengedikkan bahunya.


Sejurus kemudian getaran ponsel dan suara bel pintu saling bergantian berdengung memenuhi indra pendengaran mereka.


Danang lekas beranjak. Membuka pintu. Lalu kembali dengan membawa beberapa kantung keresek berwarna putih bertuliskan nama-nama sebuah tempat makan. Ia meletakkan di meja mini bar.


Setelah memberikan tips pada penjaga keamanan yang mengantarkan makan tersebut. Danang menutup pintu kembali.


“Kamu pesan makanan?” Tanya Danang.


“Perasaan gak ada,” ia tampak berpikir. Siapa gerangan yang mengirimi makanan pagi begini. Ia tak pernah memberikan alamat apartemennya ke sembarang orang. Kecuali ....


Ia mengernyitkan dahi.


Mencari ponsel dalam tumpukkan naskah di atas meja. Jelas notifikasi banyak yang masuk sedari kemarin.


Ada 100 pesan dari 6 chat :


Anisa (2 pesan)


Ganjar (7 pesan)


Group Komed_Fussy (67 pesan)


Group TVS_Jur (21 pesan)


My brother (2 pesan)


Mas Anton (1 pesan)


Panggilan tak terjawab 7 (Ganjar)


Ia menghela napas. Justru membuka pesan dari Ken dan Anton.


My brother : Rei, gimana kabarmu?


My brother : Maega mau ke Jakarta. Kamu sampai kapan di sana?


Mas Anton : Kalau hari ini masih sakit. Gak usah dipaksa. Lebih baik istirahat.


“Dari siapa?” Tanya Danang bertepatan keluar dari kamar mandi.


Ia menoleh, “Temen,” sahutnya. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


“Aku mandi dulu, Mas. Habis itu kita sarapan bareng.” Pesannya sebelum masuk kamar mandi.


**


Ganjar


Pagi ini ia kembali mengirimi pesan dan telepon pada Kirei namun tak ada balasan. Pun pesan pertama hanya dibaca tanpa dibalas.


Galau.


Mencemaskannya.


Ia mengirimkan sarapan pagi ke apartemen Kirei. Berharap wanita itu menerimanya. Meski ia merasa Kirei menjaga bentang di antara mereka.


Memilih beberapa makanan lewat aplikasi online. Lalu menyelesaikan transaksi. It’s done!


-


-


Hari Senin 🤗 ... Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2