
...83. Best Ever Had...
Kirei
Ia tiba di Jakarta saat sandyakala melukiskan cahayanya. Keriuhan dan padatnya kendaraan beserta orang-orang di jalanan menjadi pelengkap mengiringi mobilnya yang berjalan lambat.
“Duluan, ya, Git.” Ucapnya ketika mobil telah berhenti tepat di depan lobi. Ia yang duduk di bangku kedua keluar dari mobil dan melambaikan tangan.
“See you ... tomorrow!” Balas Gita.
“Mas, thanks ....” Imbuhnya pada Anton yang duduk di balik kemudi setelah membuka kaca jendela lebar. Ia berdiri di sebelah kanan mobil.
“Sama-sama, Rei. Selamat beristirahat.”
Mobil Anton perlahan meninggalkan gedung apartemennya. Bergabung dengan kendaraan di jalan raya yang tampak padat merayap.
Setelah membersihkan diri dengan masih mengenakan handuk kimono dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Berjalan ke balkon. Membuka pintu kaca lebar. Hamparan gedung tinggi menjulang dihiasi lampu kerlap kerlip langsung menyergap matanya.
Ia menghela napas.
“Ganjar,” gumamnya.
Kemarin sore ia bertemu dengan Ganjar di Bogor. Tanpa diduga.
“Kirei,”
Ia mendongak saat namanya dipanggil.
Sontak ia berdiri ketika laki-laki di dekatnya itu adalah Ganjar temannya.
“Apa kabar?” Ganjar mengulurkan tangannya.
“Baik, aku baik.”
“Boleh ... duduk,” Ganjar menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Kebetulan meja kafe yang ditempatinya terdiri dari 4 kursi.
“Boleh ... boleh. Silakan.” Ia ikut duduk kembali.
“Aku gak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Kebetulan juga aku lagi ketemuan sama klien di Bogor.”
“A long time ... kita gak ketemu. Sejak kita wisuda kayaknya,”
“Yang aku dengar dari Jidan kamu jadi jurnalis di media televisi,”
“Congrats! I knew you could do it. (Selamat! Aku tahu kamu bisa mendapatkannya)”
Ia masih mendengarkan Ganjar berbicara. Lalu mengulas senyum tipis, “Makasih, Gan.”
“Aku juga baru tahu kamu bawain program di TV. Anyway, aku lihat acara kamu selama di Indonesia.”
Ia tersenyum canggung, “Oya?”
“Ya, baru sebulanan semenjak aku di sini.”
Ia melihat Gita yang menatap Ganjar, “Sorry ... kenalin. Ini Gita temanku.”
Mereka saling berjabat tangan.
“Jadi ceritanya habis syuting nih?” Ganjar mengajaknya mengobrol lagi. Sekilas menatap Gita lalu beralih padanya.
Ia mengangguk.
“Aku ganggu, gak?”
Ia menggeleng dan tersenyum samar.
“Kata Jidan beberapa waktu lalu kamu ngampus. Roadshow di sana?”
“Iya, ketemu Jidan sama Fika.”
Ganjar menghela napas. “Kangen juga sama anak-anak.” Gumamnya.
“Boleh ... minta nomor handphone kamu?” pinta Ganjar seraya mengeluarkan ponselnya dari tas.
Jeda sesaat.
Lalu ia mengangguk, dan mengucapkan nomor ponselnya. Diikuti Ganjar yang mengetik menyimpan di memori ponselnya.
Ia melempar pandang ke arah kru yang telah selesai memberesi perlengkapan, “Sorry, Gan. Kayaknya temen-temen kru sudah selesai,”
“Aku pamit bareng mereka.” Ia menatap sekilas Gita yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.
“Ooh ... oke! Gak apa. Lagian sudah mau malam. Kapan-kapan bisa—”
Ia dan Gita bangkit dari kursi.
“Ya ... kapan-kapan kita sambung lagi.” Ia menyahut.
Suara ponselnya berbunyi nyaring membuatnya kembali masuk ke dalam kamar.
Mas Danang calling ....
“Mas ....” Sahutnya seraya duduk di tepi ranjang.
“How is your day going so far? (bagaimana harimu?)”
“Good. Mas Danang lagi apa?”
Mas Danang mengubah panggilan menjadi video call.
Ia bisa melihat laki-laki itu tengah duduk di kursi kerjanya.
“Masih di kantor.” Sahut Danang.
“Belum pulang?”
“Masih ada kerjaan sedikit lagi,”
Jeda sejenak. Ia menatap laki-laki itu lekat.
“Baru mandi?”
Ia mengangguk. Lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
“Mas ....”
“Hemm ....” Danang yang tadinya melihat layar komputernya beralih melihatnya. Mata mereka saling bersitatap melalui layar.
“Rei,” panggil Danang. Sebab ia terdiam.
“Are you okay?”
Ia masih menatap layar di hadapannya. Tak berkedip sedetik pun.
“My dear ....”
Ia mengangguk.
“Kapan lagi jadwal ketemu dokter?”
“Dua minggu lagi.” Sahutnya.
“Miss you ....”
Suara dari seberang tergelak, “Really?” Danang mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
“Jahat iih ... dikangenin gak percaya!” Semburnya, “ngeselin ....” Imbuhnya menggerutu.
Laki-laki itu tergelak kembali.
“Istirahatlah ... have a sweet dream!”
**
Kirei
Pagi ini ia beraktivitas seperti biasa. Sebelum menuju kantor, sebuah pesan masuk dalam ponselnya.
Mas Danang : Morning! Hopefully this day will make you feel better (Pagi! Mudah-mudahan pagi ini membuatmu merasa lebih baik).
Mas Danang : Love you ....
Bibirnya mengembang sempurna.
Kirei : All the best to my husband. Love you too.
Tiba di kantor, ia langsung menuju ruangannya. Membaca script. Mengorek biografi bintang tamu. Dan melihat hasil recording yang siap tayang. Lalu latihan, latihan dan latihan.
“Gimana?” Tanya Anton saat mereka di ruangan produksi.
“Bagus, Mas. Puas.” Ia mengacungi jempol.
“Berkat lo juga. Karena lo yang pegang kendali.”
Ia menerbitkan senyum. “Tim kita yang hebat, Mas.”
“Oya, gimana dengan tawaranku kemarin?” Tanya Anton. Saat makan malam di Bogor, Anton menawarkan kontrak kerja sama baru. Tentunya dengan program baru juga.
Ia bergeming.
“You’re the best host we’re ever had, Rei (kamu host terbaik yang pernah kami miliki, Rei).”
Ia masih terdiam. Meski sudut bibirnya tertarik ke atas.
**
Ganjar
Pertemuannya dengan Kirei membuka peluang untuknya menjalin kembali tali kedekatan mereka dulu yang sempat putus. Entah mengapa ia waktu itu jadi pecundang. Berani menyatakan isi hati. Tapi pergi begitu saja tanpa jejak. Shit!
Masuknya ia dalam daftar pekerja yang diterima oleh perusahaan otomotif terbesar di Jepang menjadi salah satu alasan dibaliknya. Pun, ia dalam kenaifan. Mengetahui seseorang mengaku pacarnya. Dan ia begitu saja percaya? Dang!
Tapi dalam hati ia berjanji akan selalu menyimpan nama itu. Kepulangannya ke Indonesia menjadi awal titik balik ia kembali menyemai perasaan yang dulu sempat muncul. Bahkan terus bertumbuh seiring bergulirnya waktu.
Kirei, perempuan cerdas dengan segala pesona yang dipunya. Menjadi sosok yang spesial dalam kehidupannya. Bahkan pernah menjadi orang yang begitu berharga untuknya. Sebagai teman sekaligus sebagai sosok yang telah terpatri di relung hati.
Best ever had.
Matanya terus menatap ke layar laptop di depannya. Namun hati dan pikirannya entah ke mana.
Ia mengembuskan napas. Lalu mengirimkan pesan pada seseorang.
Sudut bibirnya terangkat ketika pesan tersebut langsung dibaca.
“Pak, ditunggu di Arborea Cafe 20 menit lagi.” Ucap sekretaris vice president.
Ia pun mengangguk. Letak kantornya dengan kafe itu tidaklah jauh. Ia hanya perlu berjalan kaki 10 menit. Sebab waktu sore hari dipastikan jalanan macet bertepatan bubar jam kantor.
Tiba di kafe ia memilih tempat duduk paling pojok. Menunggu klien 10 menit lagi sesuai janji temu.
**
Kirei
Ia merapikan berkas lalu memasukkan ke dalam tasnya. Jam kantor telah usai. Sebagian karyawan juga telah pulang. Ia memesan ojeg online. Namun di saat bersamaan sebuah pesan masuk.
Ia menggigit bibir bawahnya. Lama ia termangu. Tak berselang lama pesan kedua masuk.
+628139281xxxx : It’s okay, kalau kamu sibuk. Bisa diatur lagi. Have a nice day ....
“Mbak, udah sampai.” Tukas abang ojek. Yang melihatnya belum turun dari jok motor. Padahal tujuannya sudah sampai.
“Mbak,” ulang abang ojek.
“Eh ... iya, Bang. Sorry.” Ia lekas turun. Tak lupa menyerahkan helm berwarna hijau pada abang ojek tersebut.
Ia urung untuk melangkah masuk ke lobi apartemennya. Justru memutar langkahnya menyeberangi jalan. Lalu masuk ke dalam sebuah bangunan bertuliskan ‘Arborea Cafe’. Segelas kopi mungkin bisa membuatnya segar kembali.
Begitu masuk mendorong pintu kaca bertuliskan ‘open’ alunan musik langsung berdengung memenuhi indra pendengarannya.
So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
Ia memilih kursi tinggi dengan meja mini bar dekat jendela. Lalu memesan minuman latte macchiato.
Nothing's quite the same now
I just say your name now
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't want me back
You're just the best I ever had
Sementara di sudut kafe Ganjar mengernyit ketika netranya menangkap sosok perempuan yang begitu diharapkannya. Lucky twice, pekiknya dalam hati.
So you stole my world
Now I'm just a phony
Remembering the girl
Leaves me down and lonely
Send it in a letter
Make yourself feel better
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't need me back
You're just the best I ever had
“Ya ....” Sahut Ganjar dalam telepon.
“Pak Ganjar, pihak klien change an appointment 15 menit yang lalu.” Suara sekretaris VP.
“Bapak masih di sana?”
“Ya ....”
“Akan ada reschedule.”
__ADS_1
“Oke.”
Dan batinnya berucap blessed.
And it may take some time
To patch me up inside
But I can't take it
So I run away and hide
And I may find in time that
You were always right
You're always right
“Hei ....” Sapa Ganjar dari belakang. Sebab gadis itu duduk membelakanginya.
Ia menggeser posisinya lalu menoleh tepat saat Ganjar sudah berdiri di sebelahnya.
Tersenyum kaku. Merasa tak enak sebab belum membalas pesan Ganjar. Namun justru orangnya telah berdiri di sebelahnya. Ketahuan bukan?
So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
“Boleh gabung?” Tukas Ganjar.
Ia mengangguk.
“Janjian sama klien. Tapi gak jadi datang.” Ganjar duduk di kursi sebelahnya.
“Sorry, Gan ... pesan kamu,” tak mungkin ia berkilah. Toh, report pesan sudah dibaca. Artinya memang ia tidak membalasnya. Read only.
“No worries ... abaikan.” Ganjar menyahut.
What was it you wanted
Could it be I'm haunted
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't want me back
You're just the best I ever had
-Vertical Horizon-Best I Ever Had-
Obrolan mereka tidak lama. Tepat kumandang azan magrib. Ia pamit terlebih dahulu. Ganjar memaksa mengantarkan dirinya ke apartemen. Meski ia sudah berusaha menolaknya.
Selama percakapan tadi, ia juga lebih banyak mendengar. Bahkan mereka malah melakukan video call bersama Jidan, Fika dan Basar.
Layar persegi panjang itu menampilkan 4 partisipan. Ia dan Ganjar, Jidan, Fika serta Basar.
“Eh, lo sama Kirei?” Sahut Jidan ketika video call mereka tersambung.
“Woii ... beduaan reuni gak ngajak-ngajak!” Seru Fika.
Ia hanya menyunggingkan senyum.
“Gak sengaja ....” Kata Ganjar.
“Tapi sampai 2 kali,” celetuk Jidan, “itu namanya direstui.”
Wajah Ganjar terlihat merona di layar.
“Woiiiiii ... gila nih orang! Pagi-pagi gangguin aja!” Sembur Basar. Tampak di layar Basar masih dalam posisi tiduran di kasur. Jelas perbedaan waktu 12 jam, di Amerika sekarang masih jam 5 pagi.
Namun detik berikutnya, Basar mengernyit. “Wait! Kalian kapan jadian? Kok bisa duaan? Waahh ... That’s news to me (ini berita baru buatku). Anak Komed sama Komstra. Bisa jadi terjun bebas dapat nilai C.” Cercanya lalu mencibir.
“Gak sengaja. Ketemu di sini,” kilahnya, “By the way gimana di Amrik? Enak gak?” Ia segera mengalihkan topik. Sebab Basar selalu punya cara jitu untuk menguliti targetnya.
Basar sudah bersandar di headboard ranjang. “Sama aja. Cuma lebih enak di sini. Lo mau? Ada lowongan nih.”
“Gue mau ... gue mau,” sahut Fika.
“Brisik lo. Udah ngasdos di situ juga!” Ketus Basar.
Tergabung dalam group video calling. Membuatnya tak sadar melewatkan pergantian waktu sore ke malam. Hingga gaung suara dari masjid membuatnya pamit.
“Udahan ya, kapan-kapan di sambung lagi.” Ucapnya.
“Oke ... oke! Kita perlu agendakan ngumpul nih. Fik, lo catat. Cari waktu bos-bos ini senggang.” Jidan menyergah.
“Ck, gaya lo, Dan!” Decak Ganjar.
“Bye-bye, love you all, guys!” Basar mencibir.
“Eh ... Sar, ingat kalo diundang lo harus dateng! For no reasons!” Seru Jidan.
Basar tertawa sambil menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
“Serius, BASAR!” Tandasnya menimpali.
“Siiyaaaap! I mean it.” Sahut Basar menyembul dari balik selimut mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V, tapi masih dengan kekehan.
“Bye ... see you, guys ....” Mereka menutup obrolan itu.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
Author masih tersendat untuk kirim naskah. Mohon maaf ... 🙏
__ADS_1