
...81. A Clap Of Thunder...
Kirei
Ia melangkahkan kaki menuju pintu keberangkatan. Setelah menyerahkan boarding pass.
Melambaikan tangan pada Danang yang mengantarkannya hingga bandara.
Tadi malam sempat bersitegang dengan laki-laki itu tentang keputusan yang akan diambilnya. Walau ia sendiri sebenarnya ragu.
“I told you not to worry, (sudahku bilang jangan khawatir)”
“Aku tidak ingin memenjarakan kamu hanya untuk mengurusi aku.”
“Sekarang jalani apa yang ada di depan kamu. Soal keinginan Mama itu bisa kita pikirkan nanti.”
Dan tadi pagi tetap sama, laki-laki itu berpesan. “I’m right behind you (aku ada di belakangmu).”
Pesawat yang membawanya telah mengangkasa. Meski cuaca kurang bersahabat. Gumpalan kelam menggantung di langit. A clap of thunder. Sepagi ini?
Dari balik jendela yang terbuka ia bisa melihat kilat menyambar. Gemuruh menggelegar setelahnya. Disusul lagi kilat di sudut lain. Begitu seterusnya.
Sejurus kemudian suara dari pilot terdengar.
“Para penumpang yang terhormat, tanda kenakan sabuk pengaman telah menyala. Cuaca saat ini dilaporkan kurang baik. Harap kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman.”
Ia menghela napas. Dalam hati terus merapal doa. Dan sahut-sahutan para penumpang lain yang mulai berisik dan terusik. Namun yang pasti mereka dalam perasaan yang sama. Kekalutan dan kepasrahan.
Ia merasakan goyangan. Suara geradak geruduk. Pesawat mengalami turbulensi. Sebab menembus awan tebal. Kejadian menegangkan itu lumayan berlangsung lama. Dan membuat seluruh penumpang tegang.
Tapi pesawat kembali mengudara dengan stabil. Setelah berhasil melewati awan yang gelap. Hingga burung besi itu mendarat sempurna di Jakarta.
“Kirei!” Seru seseorang yang memanggilnya.
Ia pun menoleh ke belakang. Lalu berdecak kemudian.
“Eh, elo?”
“Sombong bener!” Ketus Gita.
“Buru-buru. Disuruh Mas Anton langsung ke Bogor.” Ia menyergah sambil terus melangkah. Menggeret kopernya.
Diikuti Gita di sampingnya, “Bareng kita. Di mana lo berada disitu juga ada gue!”
Gita menggeret kopernya yang berwarna pink. Senada dengan sneakers yang dipakainya.
Ia terkekeh. Gita tidak ikut roadshow ke Sumatera beberapa waktu lalu. Sebab dipercaya menjadi makeup artist seorang pejabat Menteri yang tengah ngunduh mantu.
“Gue 2 hari di Semarang. Denger kabar dari Mas Anton, lo juga balik. Suami lo kecelakaan. How come?”
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari taksi online yang telah dipesannya. Setelah keluar pintu kedatangan.
“Tuh ... tuh. Itu bukan pesanan lo? Coba tanya.” Usul Gita yang melihat seorang laki-laki mengangkat kertas putih bertuliskan, ‘KIREI’
Mereka bergegas masuk mobil. Ketika taksi yang dipesan sesuai.
“Sudah baikan, kok.” Sahutnya.
“Gue pikir, polisi itu tahan banting. Ternyata polisi juga manusia.” Gita mencibir lalu, “tapi gue salut. Suami lo hebat ya, keren pake banget! Kayak Babang Tom Cruise yang lagi beraksi menjadi anggota IMF. Wuiiihhh ....” Lidahnya berdecak kagum.
Ia tersenyum samar. Tangannya mengusap layar ponsel. Lalu membaca beberapa pesan dari Anton.
Mas Anton : Udah sampai mana?
Kirei : Baru keluar bandara.
Mas Anton : Usahakan jam 1 siang sampai Bogor. Lokasi aku share nanti.
Kirei : Mudah-mudahan, Mas. Lancar sampai tujuan.
“Kok lo tahu?” Tanyanya kemudian setelah membalas pesan terakhir dari Anton. Ia menyimpan ponsel ke dalam tas.
“Mas Anton. Siapa lagi?! Produser yang begitu perhatian dengan anak buah.” Gita terkekeh.
Ia pun tersenyum. Mas Anton memang the best pikirnya. Atasan yang peduli, apresiatif, loyal dan bertanggung jawab.
Sewaktu ia bingung. Hendak nekat pulang bagaimana caranya biar bisa segera terbang ke Jogja. Mendengar Danang yang mengalami kecelakaan. Anton tetap sabar. Memantau terus kondisi pesawat. Hingga akhirnya ia dan kru lainnya bisa bertolak ke Jakarta.
Lalu menemaninya hingga ke terminal keberangkatan menuju Jogja. Padahal beda terminal. Bukan hanya hal-hal penting saja. Melainkan juga hal temeh seperti ulang tahunnya kemarin.
Pun perlakuan itu sama rata untuk semua krunya.
Mobil yang ditumpanginya terus melaju. Melewati jalan tol bebas hambatan. Tapi tiba di Bundaran Semanggi hujan deras mengguyur. Laju kecepatan mobil otomatis diperlambat.
“Duh ....” Gita mulai gelisah.
“Lo, kenapa?”
“Ini yang gue takutin. Kayak tadi naik pesawat.”
Ia mengerutkan dahi. Apa hubungannya?
“Bulan yang aneh. Harusnya masuk kemarau. Tapi kayak musim pengujan. Sudah terbalik-balik kayak sinetron aja. Apa salah satu tanda?” Gita terus bercerocos. Lalu bergidik.
__ADS_1
“Macet, Mbak.” Sergah pak sopir.
Memang benar. Di depan terlihat mobil bergerak perlahan. Lalu ....
“Nah,” timpal Gita, “feeling-ku gak enak.”
Lalu lintas macet total.
"Ada kecelakaan kayaknya, Mbak." Ucap pak sopir.
**
Danang
Setelah mengantarkan istrinya ke bandara. Ia tak lantas ke kantor. Tapi menuju salah satu Polsek yang dinaunginya. Berkoordinasi di sana beberapa saat.
Kemudian mobilnya melaju menuju tujuan berikutnya. Yaitu Mapolda.
Rapat bersama seluruh Kapolres. Direktur dan Pejabat utama.
Kurang lebih hampir tiga jam rapat itu baru berakhir. Ia meminta pada sopirnya untuk mengantarkannya pulang.
Mama dan papa telah menunggunya di meja makan. Setelah melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu samping pintu. Ia mencuci tangannya. Lalu menggeret kursi makan dan duduk di sana.
“Dapat salam dari Pak Agus,” tukasnya setelah ia menyerahkan piring pada tangan mama yang terulur.
“Mau ini ....” Mama menunjuk ayam goreng. “Atau ikan?” tanya mama.
“Ikan aja, Ma.” Sahutnya.
Lalu mama menambahkan nasi dan sayurnya. Mengangsurkan piring yang telah berisi lengkap itu padanya. Barulah mama melayani papa.
“Salam kembali,” Papa menyahut. “Ma, aku mau botok.” Pinta papa.
Mama mengambilkan botok yang dibungkus dengan daun pisang pada piring kecil. Kemudian meletakkan di dekat papa.
“Gimana Kirei? Sudah sampai di Jakarta?” Tanya mama. Sambil mengisi piringnya sendiri.
“Sudah. Lagi ke Bogor. Ada talkshow di sana.”
Papa dan dirinya telah menyelesaikan makan terlebih dahulu.
“Sore aku mau ke rumah Agus.” Sergah papa.
“Justru tadi Pak Agus mau nemui Papa.”
“Oya, gak sibuk dia?” Tukas papa.
“Kalo beliau ngomong gitu, berarti gak.”
Papa dan Om Agus selain berteman. Mereka juga tengah menjalani bisnis bersama.
“Tiga tahun lagi dia pensiun. Paling bentar lagi pindah.”
Papa menyandarkan punggungnya ke belakang. Lalu memasukkan potongan buah ke mulutnya.
“Gimana kabar Om Tarman?” Tanyanya.
“Masih di ICU.” Jawab papa.
“Sebelum masuk ICU, dia ada pesan buat kamu sama Kirei,”
Keningnya mengerut. “Soal ....”
Papa menghela napas.
“Om Tarman ingin mengatakan langsung pada kalian.”
“Mudah-mudahan ... masih ada waktu untuk ketemu kalian.”
“Pa,” selanya.
Tetiba guntur menggelegar tanpa hujan mengantar. Meski sejak pagi tadi mendung menghiasi langit. Sempat hujan gerimis lalu berhenti.
**
Kirei
Anton : Posisi di mana?
Kirei : Jagorawi.
“Gawat nih, Rei!” Seru Gita.
Sedari tadi Gita sudah tak terhitung mendecakan lidah.
Bahkan ia menjengit kaget ketika suara gemuruh dan kilat menyambar. Ditambah Gita yang memekik.
“Git ....” Geramnya tertahan.
“Nyebut,”
__ADS_1
“Iya ... ya ... but ... but ...but ....” Gita mengelus dadanya.
Ia menggeleng, “Astaghfirullah ....” Mengembuskan napas perlahan, “sebut Allah, Git!” semburnya kesal.
“Eh ... iya ... ya. Gue keder kalo udah panik. Rasanya gue mau tobat. Tapi besoknya balik lagi.” Gita meringis kemudian menggigit bibir bawahnya.
Ia memutar bola matanya jengah.
“Rei, gimana nih?” Gita sudah tak nyaman dengan duduknya. Berulang kali tegak, lalu menyandar. Miring ke jendela. Sedetik kemudian menghempaskan lagi punggungnya ke sandaran.
Kilat dan guntur masih mengedar di langit. Dengan hujan yang begitu deras.
“Sabar, Git.” Tukasnya.
**
Mama
“Kontrak Kirei tinggal berapa lama lagi, Nang?” Tanya
mama ketika mereka sudah duduk di ruangan tengah.
Hujan telah turun dengan begitu derasnya.
“Mungkin dua mingguan lagi, Ma.”
“Kirei gimana? Ada rencana sambung kontrak. Atau—”
“Biar dia nyelesaikan kontraknya dulu, Ma.”
“Setelah itu baru akan kami bicarakan lagi,” sanggah Danang.
“Kalian lebih baik tinggal bersama, kamu bisa ngawasi dia. Begitu juga Kirei bisa mendampingi kamu.”
“Wes itu urusan Danang, Ma.” Papa menyergah, “mesti Danang wes mikiri soal iku (pasti Danang sudah memikirkan soal itu).” Tukas papa.
“Iya, Pa. Aku cuma pengen mereka bersama.”
“Mama tenang aja.” Tandas Danang.
“Pie kuliah mastermu? Lancar?” Tanya papa.
Danang tersenyum masam. Memang di semester 2 banyak hal yang membuat kuliahnya tersendat. Ia pun mengakui itu.
“Sayang, lebih baik diteruskan.” Pungkas papa.
**
Kirei
Setelah terjebak macet, hujan dan kilat guntur serta drama dari Gita Sujiwa, ia bisa bernapas lega. Tiba di kota Bogor pukul 12.40 WIB. Kemudian ia mengirimkan kabar pada Anton.
Kirei : Kita sudah sampai Mas.
-
-
Catatan :
A clap of thunder adalah suara gemuruh yang biasanya muncul sesaat setelah kilat (bolt of lightning). Atau hanya kilat saja tanpa gemuruh.
Foto diambil tengah terjebak hujan di Tol Jagorawi.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
Maaf sebelumnya up naskah tersendat untuk kedepannya. Author lagi ada urusan di dunia nyata 🙏, dunia halu terpinggirkan sementara.
__ADS_1