
...97. Tak Lekang Oleh Waktu...
Kirei
Ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil memangku laptop. Beberapa hasil peliputan yang telah masuk ia koreksi lagi agar lebih sempurna sesuai dengan penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menyesuaikan naskah ke dalam bahasa jurnalistik sesuai alur.
Done!
Ia mengembuskan napas perlahan.
Sudah 6 hari sejak kepulangannya dari rumah sakit. Ia sudah bisa beraktivitas kembali. Meski masih dengan keterbatasan. Danang juga selalu pulang menjelang malam. Bahkan terkadang tengah malam harus berangkat kerja lagi, meninggalkannya.
Mama dan papa telah kembali ke Surabaya. Begitu juga bunda dijemput Ken tadi sore. Ini sudah jam 9 malam, namun suaminya belum kunjung pulang.
Teringat obrolan tadi pagi dengan bunda, soal keinginan Pak Tarman menemui mereka.
“Kira-kira apa, ya, Nda?” Tanyanya dalam gumaman.
“Kalo kamu udah sehat, pulih dan ada waktu sebaiknya temui, Rei. Kita gak tau umur.”
“Tapi,” sanggahnya.
“Kesampingkan prasangka buruk. Seseorang yang ingin bertemu kita pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.”
Begitu juga Mama Anita yang berpesan padanya, untuk meluangkan waktu menjenguk Om Tarman.
“Mama juga gak tau, kenapa beliau ingin sekali bertemu dengan kalian.”
“Tunggu kamu sembuh benar, Rei. Danang juga lagi sibuk.”
“Info dari Tante Ida, suaminya sudah sadar. Perlahan bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Tapi masih harus melakukan terapi berkelanjutan. Serangan stroke mengakibatkan jaringan satu sisi tubuhnya mati rasa.”
Ia menutup laptop lalu menyimpan di atas nakas. Beringsut merebahkan tubuhnya. Menarik selimut hingga ke dada. Berdoa lalu memejamkan mata.
Namun dalam tidurnya justru ia tengah merasa berkumpul dengan orang-orang yang disayanginya. Antara lain, baapu, neene, bunda, Ken, Danang dan ... ayah.
Ayah?
Ia menelan ludahnya kasar. Mendadak tenggorokannya tercekat. Ayah? Kenapa ayah ada di sini? Bukankah ....
Tanpa berkata ayah yang berdiri di samping bunda merentangkan kedua tangannya dengan senyum lebar dan merekah. Seakan-akan memanggil dirinya, ‘Rei ... kemarilah’. Pertanda bahwa ayah menyambut dirinya untuk menghambur ke pelukannya.
Apa ini nyata? Ayah kembali?
“Ayah,” ia terisak begitu hebat saking bahagianya. Bisa melihat ayah kembali. Berkumpul bersama mereka. Bahkan ia bisa memeluknya dalam wujud nyata.
“Rei, ka ... ngen ....” Ucapnya terbata diiringi sedu sedan dalam dekapan sang ayah.
Sudah sangat lama ia tak pernah merasakan kehadiran orang yang paling disayangi. Pelukan orang yang sangat dicintai. Bahkan aromanya sekalipun. Orang paling berharga dalam hidupnya. Ialah ayah ... sosok yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Sampai kapan pun. Tak tergantikan.
“Sayang ....”
Matanya mengerjap-ngerjap perlahan terbuka, ketika sebuah tangan mengusap pipinya.
“Kamu mimpi?” Danang membangunkannya.
Ia masih linglung. Mengumpulkan segenap kesadaran agar kembali pulang.
“Kamu mimpi buruk?” Tanya Danang.
Ia masih bergeming.
Danang merengkuhnya. “Tidurlah lagi, aku di sini.”
***
Danang
Penyelidikan kasus asuransi fiktif 3 mantan anggota DRPD ternyata menyeret beberapa nama di jajaran Pemda. Juga petinggi perusahaan asuransi. Dengan angka yang tidak bisa dibilang kecil. Sekitar 2,7 milyar dana itu dikorupsi.
Kini tinggal 2 tersangka yang akan dibawa ke meja hijau, lantaran 1 tersangka meninggal dunia akibat serangan jantung.
Pradipta dan timnya mengajukan SP3 untuk kliennya. Dengan alasan demi hukum.
Ia memijit pangkal hidungnya, lalu menggosok dahinya. Rumit.
Beberapa hari ia pulang malam. Dan saat dinas tengah malam terpaksa harus meninggalkan Kirei. Sidak bersama dengan tim Macan Candi. Untuk meminimalisir tindak kejahatan di wilayah otoritasnya.
Merasa bersalah? Pasti.
Kirei yang dalam masa pemulihan sangat membutuhkan kehadirannya. Tapi justru dirinya terkungkung dengan kesibukan yang seolah tak berujung.
Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Menghela napas perlahan. Matanya menangkap jam digital yang menunjukkan pukul 23.00 WIB.
Melajukan kecepatan mobil penuh. Sebab jalan yang lengang. Tiba di rumah suasana sepi. Lampu ruang tamu dan tengah sudah berganti temaram. Ia membuka pintu kamar perlahan. Hanya lampu tidur yang menyala. Menerangi istrinya yang terlelap dalam balutan selimut.
Ia lekas ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya yang seharian berinteraksi dengan sinar matahari dan polusi. Ia tidak mau membawa bibit penyakit dari luar ke rumah. Apa lagi kondisi Kirei sedang dalam tahap penyembuhan. Sedapat mungkin ia selalu mandi jika kembali dari aktivitasnya di luar ruangan.
Kini tubuhnya terasa lebih rileks. Segar. Ia merebahkan tubuhnya di sisi istrinya. Mengecup kepalanya, lalu berkata, “Have a nice dream. I love you.”
Ia mulai memejamkan mata. Namun baru memasuki fase NREM (Non-Rapid Eye Movement) atau tidur ayam ia dikejutkan oleh Kirei yang seperti menangis. Mengingau. Seketika matanya terbuka. Menatap Kirei dengan wajah yang gelisah, kening berkerut. Sepersekian detik bibirnya melengkung ke bawah. Dahinya mengerut lagi. Lalu terisak. Mimpi buruk sepertinya.
Ia membangunkan Kirei, mengusap pipinya. Meski terbangun, tatapan mata istrinya ganar. Ia merengkuhnya. Memberikan kenyamanan. Membujuknya untuk melanjutkan tidur kembali.
**
Kirei
Paginya ia tengah menyiapkan sarapan untuk Danang. Membuatkan kopi hitam dengan ramuan resep mama. Tadi ketika masuk kamar untuk memastikan laki-laki itu sudah bangun apa belum, ia mendengar Danang tengah mandi. Sebab terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
Namun sudah beberapa menit berlalu suaminya itu tak juga keluar kamar. Ia pun menyusul ke sana untuk memastikan kembali. Dengan membawa secangkir kopi.
Tiba ia mendorong pintu, laki-laki itu masih bergumul dalam selimut. Dengan mata terpejam dan meringkuk ke kanan.
__ADS_1
Ia mengernyit. Heran. Tidak biasanya. Apa lagi hari ini bukan tanggal merah.
Dengan cepat ia menyimpan cangkir ke atas meja, “Mas, kenapa?” Mendekati Danang yang masih bergeming. Melekatkan punggung tangan ke kening laki-laki itu.
“Mas Danang demam,” gumamnya. Laki-laki itu hanya membuka mata sebentar. Lalu berujar,
“Kayaknya aku sakit.” Mata laki-laki itu tertutup kembali.
“Bukan kayak lagi, tapi beneran sakit. Tunggu sini aku ambilin obat.”
Bergegas ia menuju meja makan. Membawa sarapan untuk suaminya. Tak lupa menenteng sebuah kotak obat.
“Harus makan dulu barang sesuap,” ucapnya ketika duduk di tepi ranjang bersisian dengan Danang.
“Mulutku pahit,”
“Makanya itu. Harus dipaksa.”
Ketika baru 4 suap, laki-laki itu menggeleng. “Udah. Sakit tenggorokkannya.”
Sampai dengan siang ia menemani Danang di kamar. Setelah menyuapi makan pagi tadi, membantunya minum obat pereda demam dan nyeri. Laki-laki itu tertidur kembali.
Sementara ia duduk di sebelahnya dengan memangku laptop. Bersandar di-headboard. Memeriksa kembali beberapa hasil peliputan dari para reporter yang baru masuk.
Suara ketukan pintu menyadarkan dirinya untuk melihat waktu, rupanya sudah melewati jam makan siang pikirnya.
“Mbak, makan siangnya mau diantar ke sini apa di meja makan?” Tanya Yumah yang berdiri di ambang pintu.
“Bawa sini aja, Yu.” Jawabnya. Seraya me-click tombol start dan memilih ‘shut down’. Dalam beberapa detik layar laptop gelap. Ia menutup dan menyimpan di atas nakas sebelahnya.
“Mas, makan dulu.” Tangannya menyentuh dahi laki-laki itu, sudah mendingan.
Yumah mengetuk pintu lalu masuk dengan membawa nampan. Berisi menu makan siang untuk mereka. Menyimpannya di atas meja.
“Makasih, Yu.”
Yumah mengangguk, lalu berlalu keluar. Tak lupa menutup pintu kembali.
Ia membangunkan Danang lagi, “Mas ... makan dulu yuk. Udah jam 1 lewat nih.”
Laki-laki itu hanya menyahut, “Hemm ....”
Ia mengusap kepala Danang. Menyugar rambutnya secara acak.
Justru Danang tampak semakin nyaman. Bak di buaian. Tak bergerak. Akhirnya ia yang mengalah, untuk segera bangkit dari kasur, namun Danang mencegahnya. Menahan pahanya dengan melingkarkan tangan di sana.
“Sebentar saja,” ujar laki-laki itu beringsut. Menjadikan pahanya untuk bantalan.
“Mas Danang harus makan, abis itu minum obat lagi.” Bujuknya.
Laki-laki itu mendesah. Keberatan.
Ia berdecak. “Nanti malam Rei ketemu dokter Yoiku, kalo Mas Danang masih sakit, aku bisa sendiri.” Pancingnya.
“Gak boleh!” Tandas Danang. Membenamkan kepalanya di antara pahanya.
Tengkuk lehernya ditarik oleh Danang secara mendadak. Ia terpaksa membungkuk dan laki-laki itu menyergap bibirnya begitu saja. Ia yang tak kuasa, ikut menikmati alur yang dicipta oleh laki-laki itu. Walau kepalanya pegal harus menunduk lama dan dalam.
Bukankah seminggu ini Danang sibuk? Kerinduan yang melesak akibat intens pertemuan yang minim. Ditambah ia dalam masa penyembuhan. Bertemu saat ia sudah dalam mimpi. Atau saat makan malam, kemudian laki-laki itu akan pergi kerja lagi dan kembali pulang saat fajar datang.
“Mas,” ucapnya ketika ia menghentikan pertautan bibirnya. Ia langsung menegakkan kepalanya dengan napas memburu.
“Obatnya cuma itu.”
“Dan aku udah sembuh. Nanti malam kita ketemu dokter.” Pungkas Danang tersenyum menyeringai. Penuh kepuasan seakan lupa dengan sakit yang melandanya beberapa saat lalu.
***
Danang
Menurut dokter, bekas sayatan laparoskopi telah sembuh dan kering. Pun dengan hasil USG. Namun pemantauan kista ovarium tetap harus dilakukan secara berkala guna melihat kemungkinan tumbuhnya kista baru. Sebab masih ada kemungkinan untuk tumbuh lagi. Semua tergantung dari pola hidup yang dijalani.
Kini mereka menuju Sae Care. Kafe-resto yang berlatar belakang hamparan hijau dan gagahnya gunung yang menjulang.
“Apa gak sebaiknya kita pulang aja, Mas?” Kirei ragu, masih mengkhawatirkan dirinya.
Ia mengusap kepala Kirei, “Aku pengen ngajak keluar. Seminggu ini ninggalin kamu terus.”
“Rei juga seminggu gak bisa kemana-mana, kok. Di rumah banyak orang. Jadi gak jemu.”
Mobil telah terparkir sempurna. Mereka turun melewati sisi pendopo utama. Dan masuk ke areal gazebo. Rupanya di sana sepasang suami istri telah menanti mereka.
“Om ... Tante,” sapa mereka hampir bersamaan pada pasangan paruh baya yang tengah duduk bersisian.
“Tak kiro gak teko? (Kukira gak datang)”
Ia menatap sekilas istrinya, yang juga tengah melempar senyum padanya. Mereka duduk bersebelahan di seberang, setelah bersalaman.
“Aku katek budal ning Singapura. Koen melo gak? (Aku mau berangkat ke Singapura. Kamu ikut gak?)”
“Kirei masih masa penyembuhan, Om.” Sahutnya.
“Iya, sebaiknya sehat dulu.” Wanita ayu nan anggun itu menyahuti.
“Gonjang ganjing ning dhuwur, katek ono mutasi jabatan 50 Pati dan Pamen. Siap-siap ae, Nang,”
Ia mengangguk. Sudah lumrah baginya menghadapi situasi seperti itu. Bahkan sudah lebih dari 6 kali ia harus berpindah tempat. Meski sekarang rasanya begitu berat. Artinya ....
“Ommu ini juga harus siap-siap. Melepas jabatan.”
“Berharap penggantinya lebih muda. Lebih semangat dan energik. Membawa visi dan misi Bareskrim lebih mumpuni.” Pungkas Om Ito.
__ADS_1
Pertemuan mereka di akhiri dengan makan malam bersama. Om Ito menuju hotel beserta istrinya. Sementara ia dan Kirei langsung bergegas pulang.
“Kenapa gak ngasih tahu kalo mau ketemuan sama Om Ito?” Kirei protes.
Ia terkekeh, memutar setir kemudi ke kiri meninggalkan area Sae Care.
“Yang dibilang Om Ito, bener, Mas?” Tanya Kirei, setelah mobil yang ditumpangi bergabung dengan kendaraan lainnya. Jalanan ramai agak tersendat. Rutinitas malam minggu di suasana kelabu. Sebab awan gelap terlihat menggantung di langit. Menutupi rembulan yang menapakkan sinarnya tak sempurna. Tapi tak menyurutkan beberapa orang untuk menikmati malming dengan pasangan.
Ia menoleh sekilas ke arah Kirei yang menatapnya, “Belum tentu.”
“Oo ... jadi aku harus siap-siap dari sekarang,” tukas Kirei melempar pandangan ke kaca samping, “siap dimadu ....”
Dahinya mengerut.
“Siap ditinggal,”
Dahinya semakin mengerut-ngerut.
“Siap—”
Ia lekas memotong, “Kata siapa? Aku gak akan pernah nikah lagi.”
“Hanya kamu seorang,”
“Kirei Fitriya Tsabita.” Tandasnya. Seraya menghentikan mobil di bahu jalan. Hanya ingin meyakinkan ucapannya.
Ia menggapai tangan Kirei, seketika istrinya itu menatapnya, “You have my words (kamu pegang janjiku).”
Kirei tergelak.
Ia semakin tak paham. Mengerutkan kembali dahinya.
“Maksud aku, siap dimadu dengan dia.” Kirei mendongakkan dagunya ke arah seragamnya yang menggantung di hand grip belakang.
Ia menipiskan bibirnya, lalu mencubit hidung istrinya.
“Aduh ....” Adu Kirei. Detik berikutnya Istrinya tergelak-gelak. Puas dapat mengerjainya.
Tapi itu tak berapa lama. Sebab ia membungkam mulut yang tengah menertawainya. Tangannya dengan terlatih melepas sabuk pengamannya. Pun dengan seatbelt istrinya.
Menarik pinggang Kirei agar lebih mendekat. Sementara tangan satunya mengusap punggung yang mengenakan blouse berwarna merah bata. Dengan cekatan tangannya kembali menyelusup di balik blouse tersebut.
Mendorong punggung Kirei agar lebih lekat. Bahkan ia bisa merasakan degupan jantung istrinya.
Kening dan hidung mereka saling melekat ketika keduanya mengurai. Napas memburu menerpa hangat di wajah keduanya.
“Coba ketawa lagi?” Tantangnya. Dengan masih bernapas terengah-engah. Mengusap bibir Kirei yang basah.
“Kalo berani,” senyumnya dikulum penuh intimidasi. Sudah memiringkan kepalanya untuk menyergapnya kembali.
Tapi sejurus kemudian,
Tok ... tok ... tok
-
-
📷 : Koleksipribadi.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1