
...39. Jangan Ada Udang Di Balik Wajan ...!...
Kirei berdecak sebal saat Danang ternyata mengerjainya. Katanya mau ketemu teman tapi ternyata justru mengajaknya bermalam di vila.
Ia juga dikerjain hampir semalaman. Sebab laki-laki itu membuatnya lelah tak berdaya. Dan kini ia merasakan kesakitan pada area pribadinya.
Akan tetapi ....
Di hadapannya kini laki-laki itu tertidur. Dengan mata terpejam dan suara dengkuran halus. Begitu nyenyak sepertinya. Atau karena kelelahan yang melanda?
Tangannya terulur untuk menyentuh wajahnya. Rahang yang kokoh dan tegas. Hidung mancung. Kulit bersih. Meski sering diterpa matahari dan lingkungan yang keras sebab beban pekerjaan yang tak biasa, akan tetapi kulit wajahnya begitu bersih. Terawat. Perpaduan yang sempurna di matanya.
Ya, laki-laki yang memenangkan hatinya. Ialah Danang Barata Jaya.
Bibirnya seketika melengkung ke atas membentuk senyuman bila mengingat kejadian tadi malam.
Bagaimana tidak, laki-laki itu mengungkungnya. Lalu berakhir mencumbunya.
Awalnya terburu-buru dan kasar. Tapi lama kelamaan Danang melakukannya penuh kelembutan dan hati-hati.
“Will you be all mine?” tanya Danang.
Ia masih terdiam.
“I’ve fallen for you ... since the park, (aku telah jatuh hati padamu ... semenjak di taman)”
Ia menangkup wajah laki-laki itu. Menatapnya lekat-lekat. Lalu mengangguk perlahan.
Laki-laki itu tersenyum. Lalu mengecup kening, mata, pipi dan berakhir pada bibirnya. Tak hanya mengecup. Ciuman itu kini semakin dalam dan menuntut. Ia juga berusaha untuk mengimbanginya.
Tanpa sadar kedua tangannya telah bergelung pada leher laki-laki itu. Pun, Danang membantu memegang pinggangnya saat kakinya berusaha berjinjit demi memperdalam ciuman mereka.
Decapan dan ******* tak terelak lagi. Seolah menjadi backsound atas kegiatan mereka. Keduanya saling melempar senyum, saat mereka melepaskan ciuman. Saling melekatkan kening dan hidung. Berbagi udara bersama.
Kini panah cinta telah melingkupi keduanya. Membawa mereka mereguk indahnya asmara.
“Masss!” pekiknya saat tubuhnya melayang. Sebab dibopong laki-laki itu menuju kamar.
Tubuhnya direbahkan perlahan di atas tempat tidur. Dengan kedua bibir yang masih saling bertaut. Saling mencecap. Tangan laki-laki itu menyelinap di balik kemeja yang ia kenakan. Secepat kilat kancing kemejanya terlepas begitu saja. Seolah-olah sudah lihai dibidangnya. Padahal semua atas gerak naluri.
Ia meremang. Ketika laki-laki itu merasai setiap lekuk tubuhnya. Ada rasa gelenyar yang menggelitik di perutnya. Membawanya seolah terbang ke awang-awang bersama ribuan kupu-kupu nan indah.
Ia bahkan tidak tahu kapan laki-laki itu sudah dalam urian. Mengungkungnya dengan posesif dan impulsif. Kirei mencengkeram sprei kuat hingga tampak urat dan buku-buku jarinya yang memutih. Tubuhnya tegang. Ia mencari pegangan untuknya bertahan. Matanya terpejam. Ada rasa ketakutan tersendiri yang menyelimutinya. Meski laki-laki yang tengah menghujani cinta itu melakukan dengan lembut dan perlahan.
“Masss ... aku takut,” kalimat itu terucap lirih. Namun masih terdengar oleh laki-laki itu. Yang tengah berada di bawah sana. Entah apa yang dilakukannya. Yang pasti ia terbuai dan terbang ke angkasa.
Danang meraih kedua tangannya kemudian mengalungkan pada lehernya. “Aku akan melakukannya dengan pelan," bisiknya parau.
Ia pasrah. Menyerahkan semuanya pada laki-laki yang kini terpatri di hati. Ia memekik ketika laki-laki itu mencoba menerobos pertahanan berharga yang dimilikinya. Tangannya mencengkeram kuat bahu Danang. Bahkan meninggalkan bekas cakaran di sana. Meneteskan air mata demi menahan rasa sakit dan perih sekaligus.
Laki-laki itu semakin mempercepat gerakannya. Teratur dan terstruktur. Tanpa gaya yang aneh dan nyleneh. Sebab ia tak ingin membuat gadisnya yang tak gadis lagi itu semakin kesakitan. Ia ingin membuat istrinya merasa nyaman. Meski rasanya mustahil. Dengan gerakan cepat dan mengentak akhirnya keduanya terbang ke nirwana. Merasakan surga dunia.
Danang merebahkan tubuhnya di atas gadis itu. Dengan kedua sikut dan lutut yang menjadi tumpuannya. Tubuh mereka penuh dengan peluh. “I love you,” ucap Danang dengan napas yang masih terengah-engah. Lalu mencium keningnya lama. Mengusap titik-titik peluh di dahi. Kemudian menghempaskan tubuhnya di sebelahnya.
Ia bergerak dan menarik selimut. Mencoba bangkit dan duduk.
Namun sejurus kemudian memekik lagi, “Aawww ...!”
Danang yang memejamkan matanya seketika membuka, “Mau ke mana?” tanyanya saat mendapatinya yang sudah dalam posisi duduk sambil meringis menahan sakit.
“Aku mau ke kamar mandi, Mas,” decitnya.
Tanpa aba-aba. Laki-laki yang masih polos itu membopongnya kembali menuju kamar mandi.
“Mas, aku bisa sendiri,” cegahnya. Ia masih merasa malu atas kondisi tubuh mereka. Untuk pertama kalinya. Belum terbiasa.
“Aku akan bantu membersihkanmu.” Danang menyergah.
Benar saja, setelah keduanya membersihkan diri. Laki-laki itu juga membantunya mengenakan piyama tidur. Lalu membopongnya lagi, merebahkan di atas tempat tidur.
Bibir laki-laki itu melengkung ke atas saat mendapati bercak darah pada sprei putih. I got it!
***
“Masih sakit?” ucap Danang dengan mata masih terpejam.
Merasakan sentuhan tangan pada wajahnya.
Ternyata Kirei telah terbangun lebih dulu.
Gadis itu tersenyum. Ia bisa melihat dengan memicingkan mata cepat lalu berpura-pura terpejam kembali.
“Gara-gara, Mas Danang!” seru Kirei.
__ADS_1
Ia tergelak dengan mata masih terpejam.
Justru ia merengkuh Kirei. Dibawanya dalam dekapannya. Mereka saling berpelukan.
“Mau gak sakit?” kini matanya sudah membuka sempurna.
Gadis itu mendongak, “Apa?”
“Kita harus melakukannya sesering mungkin,” bisiknya dengan mengulum senyum.
Mata Kirei terbelalak, “Kayaknya akal-akalan kamu deh, Mas!” semburnya.
Lagi, ia tergelak.
“Iishhh ... ngeseliiin!” desis Kirei seraya mencebik.
Pagi itu terpaksa mereka meminta sarapan dari resto untuk diantar ke vila. Sebab ia tak tega melihat Kirei yang masih merasakan sakit pada pangkal pahanya.
Mereka duduk di sofa. “Mas Danang tahu dari mana ada vila di sini?” tanya Kirei dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
Ada omelete, bubur ayam, roti bakar dan nasi goreng.
Ia memilih buryam. Sementara Kirei menghabiskan omelete, roti bakar dan setengah porsi nasi goreng.
Ia mengukir senyum. “Makan yang banyak. Biar mengembalikan energimu,” dengan mengusap kepalanya.
Kirei juga membalas senyumnya.
Siang harinya ia mengajak Kirei berjalan melihat wisata alam Griyo skyway. Setelah sarapan tadi mereka sempat beristirahat kembali.
“Kita pake mobil saja,” cegahnya saat Kirei berjalan mendekati motor ATV yang telah terparkir di depan vila.
“Tapi, aku pengin naik ini, Mas.” Rengek gadis itu seraya menunjuk motor ATV dengan raut penuh pengharapan.
“Jalannya gak kayak aspal,” sergahnya, “masih sakit, kan?” tekannya untuk mengingatkan kondisi istrinya.
Meski tampak kecewa, akhirnya Kirei lebih mengikuti sarannya.
Mengelilingi skyway dengan kaca terbuka. Udara segar tanpa polusi langsung merasuk ke dalam paru-paru mereka. Meski hari terik. Tapi, tidak di skyway. Rimbunnya hutan pinus menghalangi sinar matahari. Pun, udara di skyway juga dingin. Pasalnya terletak di kaki Gunung Merbabu.
“Seger banget yaa, Mas," ujar Kirei. Mata gadis itu terpejam, menghirup udara di sekitar dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.
“Kalo kamu suka, tiap weekend kita bisa ke sini,” sahut Danang menantang.
Kirei menoleh padanya, membulatkan pupil matanya.
Seketika ia tertawa lepas, “Ha ha ha ....”
Kirei menepiskan bibirnya. Pasti suaminya itu paham maksudnya.
Mobil berhenti di area wedding forest. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. “Aku dulu sempat punya keinginan menikah di sini,” ia mengajak Kirei duduk di salah satu bangku kayu yang ditata apik mengelilingi panggung di tengah-tengah.
“Terus ...,” sahut Kirei antusias.
“Dengan gadis kecil yang aku temui di taman.” Jari jemari mereka masih saling bertaut. Duduk saling berhadapan. Saling menatap penuh cinta. Mata berbinar, raut bahagia jelas terpanjar di wajah keduanya.
“Keinginan pertama tidak terkabulkan ....” Ia terkekeh bila mengingat bagaimana ia dan Kirei harus menikah. “Tapi—” jedanya sesaat. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berselimut kain beludru berwarna merah. Membukanya perlahan. Sepasang cincin bermata berlian di dalamnya. Berkilauan sebab bias dari cahaya matahari yang menyusup melalui kisi-kisi rimbunnya hutan pinus.
Tanpa bertekuk lutut ala-ala drama, ia mengambil cincin yang bermata berlian itu. Meraih tangan kanan gadis kecil yang sudah menjadi istrinya kini.
“Aku bersyukur dan bahagia bisa menikahimu ... Kirei Fitriya Tsabita." Lalu memasukkan cincin tadi pada jari manisnya.
Kirei terharu sekaligus bahagia, “Thanks a million ....” Matanya berkaca-kaca.
Ia mencium kening istrinya.
Sementara Kirei meraih cincin polos terbuat dari palladium itu untuk dimasukkan ke jari manisnya.
“I love you ....” Kirei membalas mengecup pipi laki-laki itu sekilas.
Direngkuhnya gadis itu, dihujani ciuman di seluruh wajahnya. Lalu berakhir pada bibir yang sudah menjadi candunya. Mencecapnya penuh kelembutan. Lalu memperdalam demi merasai nikmat yang tak pernah ia alami sebelumnya. Dan seolah semua tercurah hanya untuk gadis itu seorang.
“Sebelum pulang, kita makan dulu,” ucapnya ketika mereka saling melepas ciuman. Melekatkan kening keduanya dengan deru napas satu-satu. Yang menerpa hangat wajah mereka.
Kirei mengangguk dan menerbitkan senyuman.
“Selamat datang, Mas Danang,” sambut pegawai skyway saat mereka memasuki area resto yang berada di atas pohon.
Mereka tersenyum membalas sambutan pegawai itu.
“Mas Danang dikenal sama mereka?” tanya Kirei padanya. Mereka melangkah mengikuti pegawai yang menunjukkan tempat dengan view yang paling bagus.
“Silakan ...," ucap pegawai itu.
“Makasih, Gam,” balas Danang.
__ADS_1
Pegawai pria itu lekas pamit dan meninggalkan pasangan yang sedang berbahagia itu.
“Wait ... aku jadi penasaran,” mata Kirei penuh selidik menatapnya. Alisnya terangkat sebelah. Sejak tadi malam penyambutan dirinya begitu spesial. Bahkan nuansa kamar seperti telah dirancang. Untuk malam pertama. Pun, saat keluar mobil. Ada pegawai yang sengaja menyambutnya. Padahal tamu-tamu yang lain penyambutannya biasa saja. Begitu pula saat ini di resto.
“Apa hubungan Mas Danang dengan tempat ini?” tembaknya tanpa basa-basi.
Danang terkekeh, “Aku udah beberapa kali ke sini.” Jurusnya berkilah. Tapi justru membuat Kirei semakin ingin bertanya lagi.
“Sama siapa?”
“Ngapain?”
“Pake nginep juga?”
Danang tergelak dan menggelengkan kepalanya, lalu mencubit hidung istrinya. “Aku mau ke toilet dulu,” tandasnya sebelum menjawab pertanyaan Kirei, ia sudah beralu meninggalkan gadis itu.
Kirei menghela napas. Dengan rasa penasaran tinggi ia memanggil seraya melambaikan tangan pada pegawai yang menyambutnya tadi. Bertanya, “Dengan, Mas ....”
“Saya, Gambir,” sahut pria itu.
“Saya, Kirei. Panggil saja, Rei. Emm ... boleh saya tanya sesuatu, Mas?”
Hampir sepuluh menit mereka bercakap. Gambir undur diri setelah melihat Danang menuju ke arah mereka.
“Makasih, ya, Mas Gambir," ucap Kirei.
“Sama-sama, Mbak. Mari," balas pria itu sopan dan ramah. Lalu bergegas pergi.
“Sekarang, aku tahu jawabannya,” tandas Kirei saat ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah istrinya.
Dahi Danang berkerut, “Tahu apa?” tanyanya.
Pelayan resto datang membawa pesanan makanan. Menyajikan di atas meja.
“Silakan, Mas, Mbak ...," ujar pelayan wanita yang melayaninya sebelum meninggalkan mereka.
“Terima kasih,” sahut mereka.
“Mas Danang, salah satu investor tempat wisata ini,” tukas Kirei tanpa menoleh padanya.
Ia berdecak, “Pasti nanya-nanya tadi” tebaknya yakin.
“Hem ....”
“Jadi masih berlaku tawaran tadi, Mas?” tangkas Kirei.
Ia menatap Kirei, lalu mengernyit. "Apa?"
Kirei tersenyum jahil, “Tiap weekend kita ke sini.”
-
-
__ADS_1