Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
66. Adventure: With You


__ADS_3

...66. Adventure: With You...


Wajah Kirei bersemu merah ketika ia mengingat apa yang telah mereka lakukan beberapa saat lalu. Laki-laki itu masih tertidur di sampingnya. Dengkuran halus terdengar samar.


Tubuh mereka masih bergelung dalam selimut. Ia menatap Danang dengan sorot binar bahagia. Meski dalam hati masih ada sejumput rasa yang bercokol.


“I wish you were here,”


Kalimat yang muncul kembali saat ia didekap erat setelah isak tangisnya bak air bah mereda tadi malam. Lalu Danang membawanya keluar dari kafe.


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Sekelebat bait lagu masih terdengar saat mereka melewati bagian indoor kafe. Lalu keluar meninggalkan kafe yang lumayan ramai malam itu. Tidak seperti malam-malam sebelumnya.


Tangan mereka masih saling menggenggam. Ia berjalan sedikit di belakang Danang. Berusaha menyamakan langkah kaki laki-laki di sampingnya.


Entah dari mana laki-laki itu tahu posisi kamarnya. Membuka begitu saja pintu kamarnya yang memang tadi sengaja tidak dikuncinya. Sebab ia pikir akan sebentar menemui orang yang telah menolongnya.


Tanpa berkata, laki-laki itu menyergap bibirnya dengan rakus. Merengkuhnya lebih erat.


Ia tak pernah menyangka. Laki-laki ini akan hadir di tengah perjalanannya. Ia pikir kecil kemungkinannya bertemu lagi. Sebab pergi ke Semarang bukan salah satu bagian rencananya. Bahkan ia sudah mempersiapkan segala risiko yang akan diterimanya.


Tapi, ternyata mereka bertemu lebih cepat dari yang diperkirakannya.


Sorot semburat kemerahan menembus kaca jendela. Ia bergerak perlahan. Memunguti pakaiannya. Lalu bergegas masuk kamar mandi.


“Mas ....” Ia membangunkan laki-laki itu. Mengusap bahu, lalu mengusap lembut pipinya.


Tangannya yang dingin seusai mandi, hanya mampu membuat Danang menggeliat dengan mata terpejam.


“Sudah pagi,” ia berjongkok agar sejajar dengan Danang yang berbaring.


Perlahan mata Danang membuka. Senyum terbit dari bibirnya.


“Good morning,” ucap Danang dengan suara parau khas orang bangun tidur. Meraih tangannya lalu mengecupnya.


Ia pun membalas memberikan seutas senyum. Lalu bangkit berdiri. “Bentar lagi kita sampai di Bima.” Seraya mengeratkan tali handuk kimononya.


“Mas Danang mandi, aku siapin bajunya,” sambungnya. Kebiasaan menyiapkan baju laki-laki itu masih diingatnya.


Tunggu, “Tas Mas Danang di mana?” Tanyanya.


Matanya menelisik ke seluruh penjuru kamar yang tak begitu luas. Tapi tidak ada tas laki-laki itu di sana.


Ia menoleh pada Danang yang sudah dalam posisi duduk di tepi ranjang. Menutupi bagian tubuh bawahnya dengan selimut asal.


Laki-laki itu menarik lengannya, lalu membawanya duduk dalam pangkuan. Tanpa kata, menghidu dalam lehernya. Seraya merengkuh pinggangnya.


“Masss ....” Rengeknya. Meski begitu tangannya bergelayut pada pundak laki-laki itu.


“Sebentar saja,” selak Danang. Sambil terus menciumi tengkuk lehernya hingga ke tulang selangka.


Ia berusaha mengatupkan bibirnya, agar ******* tidak lolos dari mulutnya. Tapi, perlakuan Danang tak sadar membuatnya melenguh.


“Sebelum sampai Bima, kita buat Bima-Bima yang lain.” Danang tersenyum menyeringai.


“Apa?” Meski ia tahu maksud laki-laki itu. Apa iya, dirinya harus mandi dua kali di pagi ini?


Tanpa aba-aba Danang menarik tali handuk kimono itu dengan sekali entakkan.


Pagi itu mereka memulai kegiatan dengan berpeluh kembali seperti tadi malam.


Ia cemberut, ketika menyadari leher dan bagian tubuh atasnya penuh tanda kepemilikan.


“Aku gak ikut ke restoran,” putusnya, makan pagi terpaksa di kamar. Pun, juga rencana makan siang bahkan makan malam mungkin. Bagaimana ia harus bertemu orang-orang dengan kondisi macam begini. Pasti malu bukan main.


Justru laki-laki itu terkekeh, bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. “Bukan kamu yang malu. Harusnya mereka mengira aku yang mengonsumsi susu kuda liar.”


“Hah?!” Ia terbengong. Maksudnya?


**


Sore harinya mereka duduk di kursi malas outdoor kafe. Dengan berbagai rekayasa dan sedikit dipaksa, akhirnya ia mau juga keluar kamar setelah hampir seharian mengurung diri.


Tapi dengan seharian bersama, mereka seolah melebur bentang selama berjauhan. Mengungkap rindu yang terpendam. Saling terbuka dan tercipta suasana romantis tentunya.


Mereka bercerita di atas kasur sambil duduk bersandar pada kepala ranjang.


“Jadi yang aku lihat pas di lift pagi-pagi itu Mas Danang?” Tebaknya.


Laki-laki itu tersenyum.


“Terus, yang masuk kamarku diam-diam menyamar jadi guling juga Mas Danang?” Terkanya lagi.


Danang kembali mengangguk. Lalu tersenyum tanpa rasa bersalah.


Namun justru ia mendesis, “Gak banget!” Cebiknya kesal. Ia merasa dibodohi.

__ADS_1


“Lalu yang menolong aku waktu di buritan juga Mas Danang? Eh tunggu, Kak Ken sama Maega juga tahu kalau Mas Danang yang bawa aku ke klinik?” Cercanya. Lagi, ia merasa terkecoh.


“Jangan ... jangan, Kak Ken yang ....?”


Senyum lebar menghias bibir laki-laki itu.


“Pada tega banget sih!” Semburnya kesal.


“Kenapa harus pakai cara-cara kayak gini?”


Danang mencubit hidungnya, “Tadinya mau cari momen yang tepat. Tapi, ternyata justru alergimu kambuh.”


“Tapi gak gitu juga, Mas. Aku kayak orang gila tau, berhalusinasi kalau-kalau Mas Danang ke sini. Tapi rasanya gak mungkin juga, kan, kalau dipikir-pikir.”


“Tapi nyatanya aku ke sini, kan?”


Danang menggapai kedua tangannya, lalu menciumnya. “Aku ke sini karena kamu. Buat  kamu. Juga untuk melebur rinduku.”


Ia menelengkan kepala menatap laki-laki itu. Bibirnya melengkung ke atas.


“Mas Danang gak marah sama aku? Gak benci sama aku?” Matanya berkaca-kaca. Perasaan haru, hangat, dicintai bahkan dipedulikan bercampur dengan rasa bersalahnya.


Danang menggeleng.


“Aku tahu, kamu lagi emosi waktu itu.”


“Dan aku hanya bisa memberimu waktu untuk menyembuhkan luka. Tapi tidak akan pernah melepaskanmu.” Tandas Danang.


“Maaf ....” ucapnya parau. Air matanya menetes. Dengan cepat ia menyusutnya dengan punggung tangan.


Danang merentangkan kedua tangannya, seketika ia menghambur dalam pelukannya.


Laki-laki itu mengecup kepalanya beberapa kali, “Aku sanggup menunggu gadis kecilku bertahun-tahun. Jadi ini belum seberapa.” Ujarnya terkekeh.


Ia mencubit pinggang Danang. Laki-laki itu malah semakin tergelak.


Dengan terpaksa pada akhirnya makan pagi dan siang meminta pelayan restoran untuk mengantarkannya ke kamar.


Sampai-sampai Ken dan Maega mencarinya. Tapi ia beralasan sedang tidak enak badan. Dan beruntungnya mereka mengerti. Meski dalam hati merutuki diri sendiri, mereka pasti berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.


Menjelang sore Danang memberikan sebuah pashmina padanya.


“Pakai ini,” Danang mengalungkan pada lehernya. Lalu tersenyum puas.


“Mas Danang dapat dari mana?” Ia merapikan lilitan pashmina pada lehernya.


“Kebetulan ada yang jualan di bawah tadi.”


Dan berkat pashmina tersebut, ia bisa duduk menikmati senja bersama laki-laki itu.


Ia menoleh pada laki-laki itu.


“Mas ... aku,” ia melempar pandangannya ke lautan lepas.


“Aku ... mau minta maaf sama Mama dan Papa,” raut mukanya penuh penyesalan. Lalu menatap lagi pada Danang.


Mata mereka bertumbuk sejenak. Laki-laki itu tersenyum. Lalu merengkuhnya.


“Mereka, pasti memaafkanmu. Mama-Papa mengerti kondisimu saat itu.” Danang berusaha memberinya ketenangan.


“Tapi, aku ....”


“Mama sama Papa menunggu kamu datang ke rumah. Mereka siap menceritakan masa lalu Papa sama Ayah.”


“Aku sudah tahu, Mas.” Timpalnya.


Danang mengurai dekapannya. Lalu mengernyit.


“Sebagian aku tahu cerita itu dari baapu dan neene.”


Senyum terbit di bibir laki-laki itu, “Syukurlah.”


Jari jemari mereka saling bertaut, “Maaf,” cicitnya.


“Maaf, aku ....” Sungguh ia tidak bisa berkata-kata lagi. Bagaimanapun ia yang memulai semua ini.


“Sudah berlalu. Tidak usah diingat-ingat lagi. Sekarang waktunya kita memikirkan kebahagiaan kita. Sudah banyak kesedihan yang kita jalani,” Danang merangkum pinggangnya lalu mengajaknya berjalan ke ujung geladak.


Ia menyandarkan kepalanya pada dada laki-laki itu. Mereka menatap senja yang begitu indah. Yang sebentar lagi hilang berganti gelapnya malam.


**


Kapal bersandar di Pelabuhan Ampenan-Nusa Tenggara Barat pukul 2 dini hari. Lalu melanjutkan perjalanannya ke Pelabuhan Benoa-Bali sebagai akhir tujuan sebelum kembali ke Gorontalo.


Sementara sepasang suami istri itu masih terlelap saling berpelukan.


Menjelang pagi suara alarm ponselnya berdering nyaring. Ia meraih ponsel yang tersimpan di atas meja samping ranjangnya.


Sengaja ia menyetel alarm jam 5 pagi, sebab 2 jam ke depan kapal akan berlabuh di Benoa.


Seluruh barang bawaannya telah siap semuanya. Tinggal membangunkan laki-laki yang masih pulas dalam tidurnya.


Lalu kakinya melangkah ke luar kamar. Memastikan Ken juga telah siap.

__ADS_1


Ah, yaa selama ada Mas Danang di sampingnya, kakaknya itu lebih banyak menemani Maega. Entah sampai di mana hubungan mereka. Tapi setidaknya ada peluang untuk mereka lebih dekat.


Ia mengetuk pintu kamar Ken beberapa kali, sampai pintu itu terbuka dan sosok Ken menyembul dari baliknya.


“Siap-siap, sebentar lagi sampai Benoa.” Ucapnya. Melihat Ken masih dengan tampang bangun tidur, rambut acak-acakan.


Ia menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar Ken. Lalu menggelengkan kepala. Sebab semua perlengkapan Ken masih berantakan. Belum ada satu pun masuk dalam koper.


“Kakak mau ke Gorontalo lagi?” Sindirnya. Ken hanya melengos lalu masuk dalam kamar mandi.


Dengan bersungut-sungut sambil menggerutu tak jelas ia membereskan semua perlengkapan kakaknya. Setelah selesai barulah ia bergegas keluar kamar. Sekarang giliran ia membangunkan Danang.


Namun ternyata laki-laki itu telah bangun dan duduk di tepi ranjang.


“Mas Danang udah bangun?” Katanya saat ia masuk dalam kamar. Lalu mendorong pintu agar menutup kembali.


“Kamu udah mandi?” Tanya Danang padanya.


Ia menggeleng.


“Mandi bareng, yuuk!”


Ia menggelengkan kepalanya, bukan ide yang bagus pikirnya. Sebab pasti akan berlanjut dengan kegiatan yang bukan sekedar mandi. Pun, kamar mandi di sana sempit hanya tersedia shower, toilet duduk dan wastafel. Lagi pula sekarang bukan waktu yang tepat.


Danang berdecih, “Ngeres! Pasti pikiranmu ke mana-mana!” Tebak laki-laki itu.


Ia mengernyit. Memang benar bukan?


“Don’t worry, aku cuma pengen mandi bareng aja. Tidak lebih ....”


Mendengar Danang berkata begitu, apa salahnya diiyakan. “Oke,” ucapnya dalam hati.


“Tapi kalo bisa lebih, lebih bagus lagi ...,” sambungnya sambil tersenyum licik.


Ia yang sudah digiring masuk kamar mandi menjengit, lalu mencubit pinggang Danang. Meski mengaduh, laki-laki itu masih menyisakan kekehan. Dan ia semakin sebal dibuatnya. Sebab acara mandi bersama molor hingga 30 menit lamanya.


Ia mengeringkan rambut dengan hairdryer sambil berkaca di depan cermin.


“Aku udah pesankan tiket ke Surabaya,” tukas Danang yang duduk di sofa dengan tangan yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Terdengar suara suling kapal berbunyi sekali, pertanda kapal akan bersandar di pelabuhan. Ia bersyukur perjalanan petualangannya bersama KF STAR  berjalan lancar. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan terakhir. Benoa-Bali.


Ia, Danang dan Ken berpamitan pada Kapten Lukita beserta beberapa kru kapal yang tengah berdiri menyambutnya di depan pintu lift.


“Terima kasih, Kapten. Petualangan yang sangat menyenangkan,” ucapnya sambil menjabat tangan Kapten Lukita.


“Sama-sama, Mbak. Semoga suatu saat kita bisa berpetualang kembali. Terima kasih telah mempercayakan KF STAR pada kami.” Tukas Kapten Lukita. Nakhoda  itu tahu, bahwa ia dan Ken adalah pemilik saham terbesar di KNS. Sehingga memperlakukan dirinya dan Ken selayaknya.


Lalu ia berpamitan dengan sebagian kru yang melepas kepergiannya.


Tapi pandangannya mengedar ke seluruh penjuru di ruangan tengah lantai 2 ketika tidak menjumpai Maega.


“Kak,”


“Maega ....” Ujarnya menatap Ken menuntut jawaban.


Ken berlalu begitu saja tanpa menjawabnya memasuki lift yang siap membawa mereka ke lantai 1.


Sebelum melewati ramp door, terlihat Maega tersenyum ke arah mereka. Membawa satu tas ransel di punggungnya.


“Maega,” sergahnya setelah mendekati dokter muda tersebut.


“Aku punya waktu satu minggu liburan. Sebelum kapal kembali ke Gorontalo,” ucap Maega sambil tersenyum.


“Kamu mau ke mana?” tanyanya antusias.


“Liburan di Bali ... jadi wisatawan donk.”


“Ken akan menemainya,” bisik Danang di telinganya.


Lalu ia melirik Ken memberikan sinyal intimidasi ribuan pertanyaan. Manggut-manggut. Merasa sesuatu telah disembunyikan oleh Ken dan Maega. Padahal ialah yang berkontribusi mendekatkan mereka.


“I see,” gumamnya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2