Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
88. Berhenti Berharap Kuterima Kesalahanku


__ADS_3

...88. Berhenti Berharap Kuterima Kesalahanku...


Kirei


Mereka berdiri pada barisan ke tiga setelah pasangan pengantin. Tepat di belakang pasangan Kasih dan Arik. Berjalan dari pintu utama ballroom menuju panggung melewati karpet merah yang terbentang panjang. Tentunya seraya menggandeng groomsmen. Yang tak lain dan tak bukan adalah Danang suaminya.


Lalu di belakangnya pasangan Willian dan Anita. Di belakangnya lagi menyusul pasangan Rangga beserta istrinya.


“Cantik!” Berulang kali Danang berucap seperti itu sejak melihatnya keluar kamar pengantin.


Ia menoleh pada Danang. Mengulas senyum, menampilkan sepasang lesung pipi yang tercetak di sana.


Sorot kamera beserta lampu mengikuti jalan iring-iringan pengantin yang perlahan namun pasti. Ia selalu menebar senyum ke semua orang.


“Sore kita ke tempat Pak Banuaji,” tukas Danang.


Ia mengangguk. Sambil terus tersenyum membalas tatapan orang-orang ke mereka.


“Jangan banyak tersenyum!” Seru Danang.


“Harusnya tadi dandanya jangan berlebihan kayak gini.” Imbuh Danang yang seketika membuatnya langsung membulatkan manik matanya. Laki-laki itu tak rela, ia berpenampilan seperti ini. Padahal kalau diamati, ia sudah terbiasa di make up oleh MUA profesional. Meski ia selalu memilih flawless di setiap penampilan show-nya. Memang sedikit berbeda dengan hari ini. Sedikit mencolok.


“Mas ....!” Geramnya tertahan. Detik berikutnya ia tersenyum menampilkan deretan giginya. Sebab mereka pun menjadi pusat perhatian para tamu.


“Pokoknya jangan jauh-jauh dari aku.” Danang memperingatinya. Seraya mengeratkan genggaman tangannya. Laki-laki itu tak peduli dengan keadaan sekitar. Pun dengan pasangan di belakangnya yang berdecak berkali-kali.


“Pamer!!” Gerutu Willi yang mendengar semua percakapan Danang. Ia iri pasangan bridesmaid-groomsmen saling mesra bergandengan tangan. Sementara dirinya? Harus gigit jari.


Danang tergelak. Namun hanya sekian detik. Sebab mereka telah tiba di depan panggung.


Sepasang pengantin telah berdiri di panggung yang megah. Ia masih menggandeng suaminya berjalan menuju meja VIP.


Danang menggeret kursi untuknya. “Makasih, Mas.” Balasnya. Lalu suaminya duduk di sebelahnya.


Bertepatan dengan William dan Anita yang juga tiba dan menghampiri meja mereka. Disusul Kasih dan Arik yang menggendong kedua buah hatinya. Pun Rangga beserta istrinya yang telah duduk sebelum kedatangan mereka.


“Sini Mbak, yang ....” Ia mengamati lekat salah satu bayi kembar identik agar tidak salah, “Aryasetya," imbuhnya.


Kasih mengangsurkan baby Aryasetya padanya. Ia sigap memangku.


“Lucu ya, Mas.” Ia memainkan jemari baby menggemaskan itu dengan telunjuknya yang dipegang erat.


Danang tersenyum padanya, “Kita bisa buat 10 seperti ini.”


“Masssss!!” Cicitnya.


Wiliam yang duduk di sebelah Danang berdecak.


“Jangankan 10. Satu aja belum, Ndan!” Willi menyahuti seraya mencibir.


“Lagi diprogram.” Tukas Danang tak mau kalah.


“Emang bisa gak punya keturunan kembar melahirkan anak kembar?” Tanyanya. Ikut penasaran. Meski Anita duduk di sebelah Willi, tapi dokter gigi itu sedari tadi memperhatikannya.


“Bisa,” sahut Anita.


“Gimana caranya?” Danang menyergah cepat.


“Tapi peluangnya kecil. Satu banding delapan puluh.”


“Kalau melalui metode bayi tabung atau IVF, peluangnya bisa 1 banding 5.”


Baby Aryasetya telah diambil baby sitter.


“Kamu kemaren disarankan papa pake obat penyubur?” Tanya Anita.


Ia mengangguk.


“Nah, obat penyubur bisa juga merangsang ovarium untuk mendukung  lebih dari satu folikel ovarium setiap bulannya menuju kematangan. Hasilnya, lebih dari satu telur akan dilepaskan.”


Danang tersenyum semringah.


“Konsumsi suplemen asam folat juga bisa.”


“Selain itu?” Danang lebih antusias. Terang saja, konsul perdana laki-laki itu tak bisa menemaninya.


“Hamil di atas 30-an. Sebab saat ovulasi tubuh cenderung melepaskan lebih dari satu sel telur.”


Danang langsung menyergah, “Cara ini kayaknya gak termasuk. Kelamaan.” Laki-laki itu menoleh ke arahnya.


“Dari segi makanan juga harus mendukung. Konsumsi makanan seperti produk susu, makanan yang kaya dengan zinc, mengandung sumber progesteron dan fitoestrogen, dan makanan yang kaya zat besi dan asam folat.” Tutur Anita.


“Dan masih banyak juga tips-tips lain. Kemarin pasti sudah dijelasin juga sama papa, kan?” Pungkas Anita.


“Benar, Sayang?!” Danang memastikan. Mengusap punggung tangannya yang berada di atas meja.


Ia mengangguk.


Sementara William berdecih. Karena duduk di antara mereka. Sehingga jelas mendengar semuanya. Membahas anak. Obat subur. Asam folat. Program IMF eh, apa tadi? Seperti mau pinjam hutang saja ke luar negeri pikirnya. Telinganya tetiba gatal dan panas.


“Suatu saat, lo pasti akan ngalami kaya gini!” Tukas Danang. “Makanya cepetan nikah!” Tandasnya.


William langsung menoleh ke arah Anita, “Otewe ya, Babe.”


Anita melototi William.


“Saingan lo dateng,” bisik Danang ketika Rendra mendekatinya.


“Pagi, Mas ... eh ada Mbak Anita.” Sapa Rendra canggung. Penuh basa basi.


William sudah mulai memasang kuda-kuda.


“Jadi nyumbang lagu, Mas?” Tanya Rendra.


“Jadi.” Sahut Danang.


“Oke.” Rendra hendak berlalu, namun menoleh pada Anita, “ibu dokter cantik!” Sambil mengerlingkan mata.


William terlihat mengetatkan rahangnya.


Sementara Danang terkekeh melihat situasi di hadapannya. Ia segera memperingati suaminya. “Mas ....”


“Iya ... iya. Pemandangan yang jarang-jarang nih.” Kilah Danang masih terkekeh.


Ia hendak beranjak dari kursi, “Sayang mau ke mana?”


“Aku pengen rujak cingur, Mas.”


“Oke tunggu sini, aku ambilin.”


Sementara pasangan Kasih-Arik tengah asyik mengobrol dengan pasangan Rangga dan istrinya.


**


Danang


Ia berjalan menuju deretan buffet makanan yang tersedia di ujung ruangan. Mencari keberadaan rujak cingur permintaan istrinya.


Namun tanpa sengaja bahunya menyenggol seseorang, “Sorry ....” ucapnya cepat.


“It’s okay ....”


Merasa saling familier dengan suara itu, keduanya saling melempar pandang.

__ADS_1


“Ganjar.”


“Danang.”


Ucapnya bersamaan.


“Kamu di sini juga, apa urusan bisnis sudah selesai?” Tanyanya.


Tangan Ganjar mengudara, “Mewakili perusahaan.”


“Oo,”


“Kamu?” Ganjar bertanya padanya.


“Pernikahan sahabat,”


Keduanya saling mengukir senyum tipis.


“Oke, aku duluan. Istriku pengen rujak cingur.” Tukas Danang sembari menepuk lengan atas Ganjar. Kemudian berlalu pergi.


Ia mengangsurkan rujak cingur pada istrinya.


“Yang banyak makannya.” Ucapnya sambil condong ke arah telinga Kirei.


**


Kirei


Acara terus bergulir. Ia masih duduk di kursi meja VIP. Di hadapannya banyak makanan. Danang dan yang lainnya tengah menyapa rekan bisnis di meja yang lain. Sementara ia, Anita, Kasih dan istri Rangga mengobrol tanpa jeda.


“Oya ... Mbak, aku ke toilet dulu, ya.” Ucapnya. Bangkit dari kursi.


Tiba ditoilet rupanya perlu mengantre. Ia berada di urutan ketiga.


Ia kembali masuk ballroom. Namun kakinya melangkah menuju buffet minuman. Ia mengambil es gempol yang tidak pernah dijumpainya ketika berada di Jakarta. Minuman favorit baginya saat masih bekerja di TVS dulu.


Suara wedding singer masih mengalun lembut dengan lagu-lagu romantis.


I can show you the world


Shining, shimmering splendid


Tell me, princess, now when did


You last let your heart decide?


I can open your eyes


Take you wonder by wonder


Over, sideways and under


On a magic carpet ride


A whole new world


A new fantastic point of view


No one to tell us, "no"


Or where to go


Or say we're only dreaming


A whole new world


A dazzling place I never knew


But when I'm way up here


That now I'm in a whole new world with you


(Now I'm in a whole new world with you)


“Rei,” sapa seseorang dari sampingnya. Ia pun langsung menoleh.


“Ganjar, di sini juga?” Tanyanya sedikit terkejut. Ia pikir Ganjar ada kepentingan bisnis saja.


Ganjar mengangguk, “Sorry ... apa aku ganggu?”


Jeda sesaat.


“Lebih baik kita cari tempat,” usulnya. Tidak memungkinkan berbicara di depan buffet minuman dengan berdiri dan lalu lalang orang.


“Boleh.”


Unbelievable sights


Indescribable feeling


Soaring, tumbling, freewheeling


Through an endless diamond sky


A whole new world


(Don't you dare close your eyes)


A hundred thousand things to see


(Hold your breath, it gets better)


I'm like a shooting star


I've come so far


I can't go back to where I used to be


A whole new world


With new horizons to pursue


I'll chase them anywhere


There's time to spare


Let me share this whole new world with you


-A whole new world-Brad Kane&Lea Salonga-


Mereka telah duduk di kursi meja bulat. Dekat area buffet minuman.


“Kamu ....” Ganjar membuka percakapan. “Undangan juga?”


Ia mengangguk, “Nikahan temen.”


“Aku juga. Mewakili perusahaan.” Sahut Ganjar.


Ia manggut-manggut dan, “Oh,”


“Sorry ... maksudnya ... tadi malam, soal ... dia—”


Sudut bibirnya terangkat sedikit, “Dia suamiku, Gan.”

__ADS_1


Jeda sesaat.


Canggung.


“Mas Danang suamiku. Maaf tidak sempat mengenalkan ke kamu tadi malam.”


***


Ganjar


Mimpinya di puncak Himalaya seketika terjun bebas ke lembah yang dalam, terjal nan curam. Mendengar pengakuan Kirei baru saja. Bagai tersambar petir.


Suami.


Danang, suaminya?


“Oke, aku duluan. Istriku pengen rujakcingur."


Mereka ... suami istri? Ia menangkup wajahnya. Oh ...bodohnya!


Padahal malam ini harusnya ia mengatakan perasaannya untuk yang kedua kali. Harusnya malam ini ia meminta jawaban atas ungkapan perasaan sewaktu di ruang Komako beberapa tahun lalu. Harusnya malam ini menjadi malam pengharapan baginya. Harusnya malam ini ia merasakan kelegaan dalam dada. Tapi justru sebaliknya dadanya dijejal batu tak kasat mata.


Tapi,


Ah ... andai saja dulu ia tidak pengecut. Andai saja ia tidak menghilang begitu saja dan muncul setelah sekian purnama. Andai saja ia lebih dulu mencari keberadaannya ... andai saja ia mau memperjuangkan cintanya. Andai ia tidak gegabah. Andai ia tidak egois. Andai ... andai ... dan andai ....


Oh ... sial!


Ia mengusap wajahnya.


Padahal ia memilih kembali ke Indonesia demi merajut kembali cinta lamanya yang belum sempurna. Memilih Indonesia untuk mengejar apa yang telah ditinggalkannya. Memilih Indonesia karena hatinya ternyata tetap untuk dia. Memilih Indonesia karena seseorang. Ya ... the reason is you!


Kini, harapannya telah sirna. Seiring kepergian Kirei yang digandeng Danang menuju panggung. Berfoto bersama. Sungguh. Sangat amat menyakitkan!


“Maaf, Gan ... aku harus pergi.”


“Terima kasih ... sukses buat kamu.” Sepenggal kalimat terakhir Kirei sebelum meninggalkannya. Membuatnya memaku seketika.


Ia mengembuskan napasnya kasar. Memejamkan mata sejenak. Lalu bangkit dari kursi.


***


Danang


Bersama teman-temannya ia telah berdiri di panggung wedding band memegang gitar. Aksa drum, Arik bass dan Rendra vokal.


Mereka menjajal alat musik sejenak. Sementara Kirei duduk melihatnya. Memberikan standing applause. Mengukir senyum terbaiknya.


I'm not a perfect person,


As many things I wish I didn't do


But I continue learning,


I never meant to do those things to you


And so I have to say before I go, that I just want  you to know


 


I've found a reason for me,


To change who I used to be


A reason to start over new,


And the reason is you


 


I'm sorry that I hurt you,


It's something I must live with everyday


And all the pain I put you trough,


I wish that I could take it all away


And be the one who catches all you tears,


That's why I need you to hear


 


I've found a reason for me,


To change who I used to be


A reason to start over new,


And the reason is you


And the reason is you


And the reason is you


And the reason is you


-The Reason-Hoobastank-


-


-


Catatan :


IVF : In Vitro Fertilization (program kehamilan dengan metode pembuahan sel telur oleh spe*ma di luar tubuh yaitu di laboratorium. Atau juga disebut bayi tabung)


Keterangan tentang peluang hamil kembar secara alami dicuplik dari laman hellosehat.com. IDNtimes. Alodokter. Tentunya masih banyak tips lain. Tapi tidak semua dicantumkan.


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... support readers sangat berarti untuk karya ini 🙏


Love you all 💕


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2