Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
110. Si Protective VS Si Twins


__ADS_3

...110. Si Protective VS Si Twins...


Kirei


Memasuki kehamilan trimester kedua ia merasakan bisa mengendalikan suasana hatinya. Nafsu makannya berangsur normal. Sejalan dengan itu ia juga mengalami kenaikan bobot tubuh. Cukup signifikan.


Bagaimana tidak?


Ia membawa si twins ke mana-mana. Yang semakin berkembang pesat. Otomatis ia juga memerlukan asupan makanan lebih. Demi mengganti makanan yang dijadikan sumber pertumbuhan mereka. Alhasil, sebentar-sebentar ia merasakan cepat lapar. Dan sebentar-sebentar ia harus memamah.


Pun, omelan Danang setiap hari. Mulai menjadi alunan melodi ditelinganya. Alunan maskulin berat yang terdengar justru seolah membuainya. Dimulai bangun tidur hingga terlelap di malam hari.


“Sayang, minum dulu susunya dan jangan lupa vitaminnya.” Laki-laki itu sebisa mungkin membuatkan susu hamil untuknya. Lalu meletakkan vitamin di sampingnya. Paket lengkap yang tak boleh ketinggalan.


“Bawa bekal!” Kalimat yang selalu terucap.


“Kalo cape istirahat, jangan maksain.” Pesan singkat yang masuk di ponselnya. Di saat tiba di kantor, pas break kerja, istirahat siang dan saat sore menjelang bubaran kantor.


“Yumah, bekal potongan buah sama snack-nya udah?” pertanyaan yang selalu mengingatkan Yumah tiap pagi.


“Mbok Sumi, makan siang jangan lupa disiapin. Nanti Pak Mus yang jemput.” Danang selalu mengusahakan makanan untuknya diproses di rumah. Agar terjaga nutrisi dan kebersihannya.


Selanjutnya.


“Sayang, jangan pake celana yang itu, kayaknya terlalu ketat.” Padahal ia pakai celana khusus bumil. Memang tampak ketat dengan perut yang sudah menonjol dari ukuran kehamilan pada umumnya.


Kemudian di suatu sore laki-laki itu datang dengan tangan yang penuh paper bag, “Mulai sekarang, pake yang gini-gini aja,” Danang membelikan banyak pakaian untuknya. Hampir semuanya bermodel dress terusan. Dari yang panjangnya di bawah lutut. Sebetis. Sampai mata kaki. Alasannya, katanya agar tidak menyakiti si twins di dalam. Hah? Masuk akal gak sih?


Laki-laki itu juga sering mengajak bicara si twins. Malah menjadi agenda wajib. Setiap pagi bangun tidur atau sebelum berangkat kerja. Dan sebelum tidur atau saat Danang pulang kerja. Katanya, ia ingin membangun kedekatan emosional dengan anak-anaknya semenjak dalam kandungan. Sebab Danang merasa tak punya waktu banyak seperti dirinya.


Dan memang benar, sering mengajak bicara bayi dalam rahim besar manfaatnya. Yang pasti merangsang pendengaran si twins, mereka akan merasakan lebih nyaman, mendekatkan bonding di antara mereka. Buktinya saat si twins melakukan demo dengan gerakan tiba-tiba yang menyentak dan membuatnya nyeri, dengan mengajak bicara dan mengusapnya perlahan si twins terdiam dan menurut.


Mereka juga percaya bahwa sering mengajak bicara bayi baik dengan sentuhan maupun stimulus mendengarkan musik sejak dalam kandungan bisa memupuk kecerdasan bayi. Ini sejalan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa pakar.


**


Danang


Suasana di rumah sudah mulai ramai. Hari ini bertepatan dengan acara tasyakuran empat bulan kehamilan istrinya. Kata mama namanya mapati. Sementara bunda bilang walimatul haml. Semuanya sama saja. Intinya mengucap rasa syukur atas kehamilan Kirei di usia 4 bulan. Dan mendoakan untuk kebaikannya. Di mana dalam kepercayaannya bahwa dalam usia tersebut malaikat meniupkan ruh pada janin, lalu menuliskan 4 hal perkaranya mengenai ajal, rezeki, amal dan bahagia atau celakanya (HR Bukhori-Muslim).


Jadi, inilah waktu yang tepat pikirnya.


Mama-papa, bunda, Ken, Aksa, keluarga dari Gorontalo, keluarga dari Surabaya, para sahabat, rekan kerja dan kolega. Bahkan sahabat papa yang berdomisili di Semarang berdatangan. Semua riuh memenuhi setiap sudut rumah bahkan tenda berwarna putih-biru yang sengaja didirikan untuk menampung para tamu penuh.


Tak lupa juga ia mengundang anak-anak karateka asuhannya. Anak-anak yatim-piatu dari yayasan yang tak jauh dari rumahnya.


Papa memberikan kata sambutan. Setelah itu sayup-sayup lantunan dari ayat suci memenuhi ruangan tengah melalui suara mikrofon yang tersambung dari teras depan. Dengan dipimpin oleh seorang ulama dan diikuti anak-anak dari yayasan yatim-piatu serta rumah singgah, mulailah terdengar suara sahut menyahut.


“Wa wassainal-insana biwalidaih, hamalat-hu ummuhu wahnan 'ala wahniw wa fisaluhu fi 'amaini anisykur lii wa liwalidaiik, ilayyal-masiir. (Al-lukman:14)”


‘Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.’


Disusul pembacaan surah Yusuf (1-16), surah Maryam (1-15), surah Ar Rahman (1-78) kemudian ditutup dengan surah Alfatihah dan shalawat nabi.


Selama puji-pujian shalawat nabi, ia tertunduk dalam. Kelopak matanya telah terpenuhi oleh segumpal cairan bening. Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes. Ia buru-buru menyusut dengan jari telunjuknya.


Kemudian matanya tertuju pada istrinya. Yang sedari tadi duduk bersimpuh tepat satu lurusan berhadapan dengannya. Diapit mama dan bunda. Lalu di sebelah bunda ada neene, Bibi Kabila, dan para sahabat Kirei. Mereka memang duduk terpisah sebab saf laki-laki dan perempuan dibedakan.


Terlihat istrinya itu juga tengah tertunduk dalam. Beberapa kali terlihat menyeka pipi. Dan menyusut hidung dengan selembar tisu. Mama tampak mengusap-usap punggungnya.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah bersedia menjadi ibu untuk anak-anakku. Semoga anak kita menjadi anak yang shaleh-shalehah. Menghormati dan menyayangimu lebih. Karena perjuanganmu sungguh luar biasa. I love you.” Ucapnya dalam hati.


Acara berjalan dengan khidmat dan lancar. Para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan kediamannya.


**


Anisa


Setelah menemani Kirei di dalam, ia pun pamit keluar ke teras depan mencari angin. Sementara Kirei berkumpul dengan keluarganya.


Dari sini ia bisa melihat Oka yang berdiri tengah berbicara dengan beberapa orang di bawah tenda. Sementara Pak Rahmat, Mas Budi serta rekan-rekan dari TVS lainnya telah pamit terlebih dahulu. Pun, sebagian besar tamu juga telah pulang.


Oka dan beberapa laki-laki itu tampak tertawa. Sepertinya pembicaraan yang lucu, mungkin. Atau obrolan sejenis stand up comedy yang bikin ketawa ngakak. Entahlah. Tapi ia urung mendekat. Sebab takut dikira dirinya disarang jejaka. Wanita cantik di tengah para bidadara. Hahaha ... ia terkikik geli sendiri.


“Mbak Anisa,” panggil Yumah.


Ia menoleh ke belakang. Tak jadi duduk di teras.


“Ini ada bingkisan,” Yumah menyerahkan sebuah bingkisan souvenir berbalut goodie bag berwarna merah dan sebuah boks dari besek. Ia menerimanya.


“Saya tinggal, ya, Mbak.” Pamit Yumah yang sepertinya terburu-buru hendak pergi.


“Eh ... tunggu ... tunggu, Yu. Yumah mau ke mana?” tahannya. Daripada ia sendirian, sepertinya mengikuti kegiatan Yumah lebih mengasyikkan dan membuatnya tidak jemu.


“Saya mau nglanjutin bagi-bagi bingkisan, Mbak. Soalnya masih sisa banyak. Kata Ibu, mendingan sisanya dibagiin aja. Di simpang depan ada becak dan ojeg mangkal. Suruh bagiin ke sana katanya.” Terang Yumah seraya menuju teras belakang.


Ia mengekori Yumah, “Boleh bantu, gak?”


“Lho ... ya boleh-boleh aja to, Mbak. Ndak ada yang nglarang.”


Di teras belakang ada Mbok Sumi yang sedang memasukkan makanan ke dalam besek.


“Aku bantu apa, Mbok?” tanyanya ikut duduk bersila di atas karpet.


“Masukin 3 kupat sumpelnya, sambal krecek, sayur gori, kerupuk udang sama baceman ke dalam besek.” Mbok Sumi memasukkan semua makanan yang dibilang tadi ke dalam besek. Khusus sambal krecek dan sayur gori telah diwadahi boks plastik. Agar tidak tumpah.


Ia mengikuti Mbok Sumi.


“Teruuus, yang jajanan juga dimasukin. Ada wajik, bubur abang-putih, arem-arem sama kleponnya.” Lanjut Mbok Sumi.


“Kalo udah, tutup besek e, Mbak. Jangan lupa!” Imbuh Mbok Sumi, yang memperhatikannya menata isi besek. Tapi, lupa menutupnya.


“Ups! Hehe ... lupa, Mbok.” Seringainya.

__ADS_1


Lalu ia melihat Yumah yang asyik memasukkan barang-barang ke dalam goodie bag.


“Sini aku bantu, Yu.” Tawarnya. Bergeser sedikit mendekat Yumah.


“Kalo ini tinggal ... blus ... blus masukin, Mbak. Gampang.” Yumah terkekeh. Semua printilan isi goodie bag memang telah terbungkus sendiri-sendiri jadi tinggal dimasukkan saja.


“Ya, blus ... blus juga tetep dimasukin, to!” tukasnya, “opo wae sing dimasukin? (apa saja yang dimasukkan?)” sambungnya.


Tapi matanya tersihir dengan mug porselin terlukiskan bayi kembar. Laki-laki dan perempuan. Di bawah lukisan tersebut tertulis nama ‘Danang&Kirei’.


Ia menjeremba mug tersebut, “Lucu,” gumamnya. Lalu meletakkannya kembali.


“Kalo semua souvenir ini dari mamanya Pak Danang. Langsung dikirim dari Surabaya,” terang Yumah.


“Eyang Surabaya sama omanya Solo, seneng banget. Langsung dapat cucu pertama, 2 sekaligus. Wedok-lanang maneh, sepasang.” Mbok Sumi menimpali.


“Semua-semua digambarin baby kembar, ya?”


Yumah tampak mengangguk, “Gelas mug, handuk, skiper, sama tumber,” Yumah menunjukkan satu persatu isi goodie bag. Semua disablon bayi kembar. Kecuali handuk yang dibordir. “Sibu memang sayang banget sama cucunya.”


Ia dan Mbok Sumi terbahak-bahak.


“Nopo to? Kok malah podo gemuyu. (kok malah pada ketawa)” Yumah menggerutu.


“Slipper, Yu.” Ia menyergah.


“Sok-sokan enggresan kowe, Yu. Ngomong ae selop omah, ngono lho ... malah gampang.” Mbok Sumi memprotes.


“Hahaha ....” Tawanya benar-benar meledak. Tak bisa ditahan lagi.


“Hayo, menurut Mbok Sumi, tumber apa tumbler?” tanyanya.


“Kalo aku ya botol minuman, gampang, Mbak. Tumber ... tumber ... ilatku angel wes. (lidahku sudah susah)” Balas Mbok Sumi.


Mereka akhirnya terkekeh bersama. Menertawai hal ringan tapi bisa mengocok perutnya.


**


Kirei


Ia sedang disuapi Danang duduk di sofa. Setelah mengeluh kakinya pegal dan perutnya kencang. Sementara anggota keluarga lainnya tengah duduk santai di bawah beralaskan karpet. Saling bercengkerama. Benar-benar suasana yang suatu saat kelak akan dirindukannya.


“Rei, Bunda langsung pamit, ya malam ini. Ken besok pagi-pagi ada meeting katanya.” Bunda  mendudukkan dirinya di sebelah kirinya.


“Yah, Bunda, kan bisa nginep. Kak Ken biar pulang sendiri. Masa gak berani?” ucapnya sambil mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


“Enak aja!” Ken menyerobot, duduk di sebelah bunda. Tepat di pinggiran sofa. “Kamu udah banyak yang nemani. Masih kurang?!”


Ia memberengut, “Syirik aja, sih!” cebiknya.


“Sshh ... kalian tuh. Udah pada gede tapi kayak anak kecil.” Bunda menyela, “malu!” serunya.


Sementara Danang hanya geleng-geleng kepala.


Danang terkekeh, disusul bunda.


“Yeee! Bukan urusan Kakak.”


“Udah ... udah.”


Ia sebenarnya tak rela bunda pulang malam ini. Tapi betul juga, malam ini masih ada mama-papa di rumah. Sementara baapu-neene dan yang lainnya menginap di hotel.


Ia beranjak ketika bunda bangkit dari duduknya, “Bunda hati-hati,” ucapnya. Mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Lalu melepasnya hingga di ambang pintu ditemani Danang.


Kemudian di susul baapu-neene, Bibi Kabila, Paman Tilamuta dan Jebe juga berpamitan untuk ke hotel.


Rumah seketika sepi. Tinggal mama dan papa. Yang sedang duduk menonton televisi.


“Istirahat, Rei. Jangan kecapean.” Tukas mama saat ia duduk di sofa satunya yang berseberangan dengan mertuanya itu.


“Bentar lagi, Ma.” Sahutnya. Sambil mengusap perutnya yang terasa penuh. Seharian ia banyak makan. Meski dengan porsi sedikit demi sedikit tapi sepertinya lambungnya tak mampu menampung lagi.


“Kenapa?” Danang yang duduk di sisinya mengerutkan dahi saat melihatnya meringis.


“Ada yang nendang, Mas ... duh ... duh!” Keluhnya.


Danang dengan sigap mengusap perutnya, “Jagoan Ayah ... kangen sama Ayah, ya?” Hampir seharian ia tak melakukan kontak dengan mereka.


“Diusap-usap, Nang. Biasanya langsung diem kalo kayak gitu.” Sela mama.


“Udah aktif, ya?” Papa menyergah bertanya.


“Yaudah lah, Pa. Masa gak ingat? Cucu belum lahir, kok Eyangnya udah pikun.” Tandas mama melirik papa.


Ia dan Danang saling berpandangan.


“Ya lupa lah. Udah puluhan tahun lho! Danang aja udah 33 tahun,” Papa tak terima dibilang pikun.


“Issh ... jadi yang Papa ingat apa?” protes mama tak mau kalah.


“Yang jelas buatnya yang selalu ingat.” Kekeh papa.


Dan selorohan papa membuat mereka terkekeh. Terkecuali mama yang refleks melotot mengintimidasi papa.


**


Danang


“Sayang, sini.” Ia menepuk-nepuk lengan kirinya.


Kirei baru selesai membersihkan wajah, memakai skin care yang tentunya aman untuk bumil. Entah mengapa, selama kehamilan istrinya mengeluh kulitnya menjadi sensitif. Cepat jerawatan. Kirei lantas perlahan mendekat ikut merebahkan tubuhnya di sebelahnya.


“Mas, tapi aku berat,” istrinya berkilah. Meski  tak urung lengannya jadi bantalan juga. Kirei berbaring miring menghadapnya.

__ADS_1


Danang tergelak, “Belum seberapa. Lima kali beratmu sekarang aku masih bisa mengangkat.” Sesumbarnya.


Kirei menipiskan bibirnya, “Mulai deh!”


“Minggu besok, aku sidang tesis.” Datang, ya?”


Istrinya itu mendongak, menatapnya. Tangan kanannya memainkan kerah kaosnya.


“Pasti. Rei, usahain.”


“Harus!” tangan kanannya membelai rambut wanita yang tengah mengandung anak-anaknya itu.


“Iya ... iya.”


“Kalo gak ada kalian, aku gak semangat.” Tangan kanannya kemudian mengusap perut istrinya.


“Kapan, ya bisa ngerasain ujian tesis?” gumam Kirei.


“Kapan pun. Tapi ... setelah anak-anak kita lahir dan siap ditinggal.”


“Keburu lupa gak, ya ilmunya?” Kirei menjeda sesaat, “dulu pengen banget setelah lulus kuliah kerja. Setelah kerja pengen nglajutin kuliah lagi,”


Hening cukup lama.


Ia tahu. Kirei pernah dalam dilema. Terjebak akan pilihan-pilihan sulit. Setelah hubungan mereka membaik pasca-perginya Kirei ke Gorontalo. Istrinya itu mendapat tawaran beasiswa Erasmus Mundus Journalism joint Master Degree di Uni Eropa.


Tapi Kirei memilih stay menemaninya.


“Rei, mau nemenin Mas Danang. Eropa terlalu jauh.”


“No worries, kita masih bisa video call, teleponan, chat, atau bisa pulang 6 bulan sekali.”


Kirei menggeleng, “Too far and too long,”


Dan akhirnya Kirei memilih Jakarta untuk menapaki jenjang kariernya. Ya, meski mereka tetap berjauhan. Tapi setiap bulan atau seminggu sekali mereka bisa bertemu. Bahkan kontrak itu cuma 3 bulan.


“Setelah anak-anak berumur 6 bulan. Kamu bisa lanjutin. Ambil di sini biar bisa sekalian ngawasin mereka. Gimana?


Tangan Kirei kini meraba lehernya, mengusap rahangnya. “Sekarang nomor satu anak-anak sama Mas Danang. Kuliah bisa nanti-nanti aja.”


“Kamu yakin, Sayang?”


Kirei mengangguk.


Ia menatap istrinya dengan takjub.


“Cantik. Istri aku semakin cantik.” Menyelipkan beberapa sulur rambut istrinya ke belakang telinganya.


“Jangan gombal malam-malam!”


“Suer, gak bohong! Kata orang-orang wanita yang sedang hamil itu cantik dan ....”


Jeda.


Mata mereka saling menatap lama. Saling mendamba.


“... seksi,” ia tersenyum miring. Harapannya malam ini si twins mampu diajak bekerja sama. Bahkan kalau bisa anteng dan mendukung selama mereka beraksi. Ia hanya ingin berdua saja tanpa gangguan. It’s show time! Declare-nya dalam hati.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2