Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
77. It's Gonna Be Okay


__ADS_3

...77. It’s Gonna Be Okay...


Rendra


Apesnya keesokan paginya ia ditugaskan lagi untuk membuatkan kejutan ulang tahun istri atasannya.


Wasalam!


Ia menepuk jidatnya terlalu keras. Sehingga kepalanya terasa sakit.


“Gagal maning ....!” gumamnya.


Padahal hari minggu ini ia mau menemui sang pujaan hati. Untuk menyatakan isi hatinya kedua kali. Setelah hari kemarin gagal pada kesempatan perdana. Sebab ia sudah memendam lama perasaan yang membuatnya tak nyaman. Tidak nyaman tidur karena kepikiran. Tidak enak makan dan tentu tidak enak hati sebab belum mendapat jawaban pasti.


Beberapa kali bertemu dalam pertemuan tanpa sengaja ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Ya, ia sedang jatuh cinta!


Ponselnya menggelepar di atas meja. Sontak membuatnya terlonjak kaget. Ia sengaja menyetel mode getar saja.


Komandan Calling ....


Ia menelan ludahnya, “Apa lagi titah hari ini? Gak tahu apa ini tanggal merah. Libur nasional. Bahkan internasional.” Gerutunya, “gak bisa sedikit saja lihat orang senang,” ia berdecak kesal.


Rupanya panggilan pertama terputus. Semoga tidak ada panggilan lagi harapnya. Namun baru beranjak dari tepian ranjang, ponselnya kembali menggelepar.


Komandan Calling ....


Ia mengusap wajahnya. Ragu. Pasti ada hal penting perintah yang harus dilaksanakan. Atasannya itu pasti akan terus meneror meneleponnya sampai ia menerima panggilan itu.


“Pagi, Pak.” Ia memakai gaya formal.


“Ini di luar pekerjaan, Ren. Tidak usah seformal itu.”


“Kerjamu kemarin bagus. Istriku sampai


menyanjungmu.”


“Terima kasih ....”


“Sekali lagi, tolong kamu pagi ini ....”


Ia tidak begitu konsentrasi mendengarkan pembicaraan atasannya. Sebab dipastikan nge-date yang sudah direncanakan dengan matang harus dibenam lagi dalam-dalam.


**


Kirei


Ia begitu terkejut ketika kakinya sampai di anak tangga terakhir, indra pendengarannya menangkap seseorang tengah berbincang di dapur.


Suara yang begitu melekat dan sangat dirindukannya.


“Bunda ....”


Ia langsung mendekap bunda dari belakang yang tengah mencuci tangan di wastafel dapur.


Bergelayut manja, wajahnya disurukkan ke punggung wanita yang telah melahirkannya itu. Menciumi punggung bunda dengan kerinduan yang mendalam.


“Kok gak ngabari mau kesini? Jam berapa Bunda dateng?”


“Rei belum sempat jenguk Bunda. Padahal kangen banget.” Semenjak kedatangannya dari Gorontalo ia belum sempat menemui bunda.


Bunda memutar keran hingga air yang mengalir langsung terhenti. Mengeringkan tangannya yang basah dengan lap kering di samping wastafel.


“Manja! Udah tua juga!” Sembur Ken yang datang dan langsung duduk di meja makan yang memang menyatu dengan dapur.


Ia bersungut-sungut, ikut duduk di seberang Ken.


“Pada datang jam berapa sih? Kok gak ngasih kabar?”


“Satu jam yang lalu,” sahut Ken, seraya melahap kue cara bikang.


Bunda ikut bergabung duduk di sebelahnya. “Kata Mas Danang, mau syukuran rumah ini hari ini.”


“Oya?” Ia tidak tahu menahu soal rencana itu.


Kemarin setelah mendapat banyak kejutan dari suaminya. Mereka benar-benar menghabiskan malam hanya berdua. Perlu digaris bawahi dan dicetak tebal 'hanya berdua'. Di balkon kamar menikmati makan malam ala candle light dinner. Meskipun cuma sphagetti bolognese dan salad buah. Lalu berlanjut menghabiskan malam panjang di kamar.


“Rei,” Bunda meletakkan secangkir teh madu yang masih mengepul asapnya di meja.


Ah, ia sampai melupakan kotak mahal yang harganya mencapai 7 digit itu. Tak tersentuh sama sekali. Saking ... tiba-tiba ia merasa malu tersipu, jika mengingatnya.


“Malah ngelamun!” Tandas Ken.


Ia meringis ketika bayangan tadi malam justru melintas. Pura-pura menggeser cangkir yang berisi teh madu lebih dekat.


Pagi sekali suaminya pergi. Bahkan sebelum matahari keluar dari peraduannya. Katanya buronan pembobol mesin ATM tertangkap. Lalu harus melakukan sidak gabungan dengan Dinas Karantina Pertanian di pelabuhan. Sebab akhir-akhir ini ditemukan binatang langka dan dilindungi dikirim secara ilegal dari Pulau Kalimantan.


“Bagaimana kerjaan lancar?” Tanya bunda.


Ia mencomot kue cara bikang yang berwarna-warni, merekah sempurna dan rasanya pas di lidah.


“Alhamdulillah, Nda lancar.” Jawabnya sambil mengunyah kue.


“Makasih Bunda udah datang.”


“Tadinya rencana hari ini mau ngajak Mas Danang ke Solo. Tapi malah Bunda udah datang duluan,”

__ADS_1


“Sama saja. Lagian kamu besok pagi ke Jakarta, kan?” Sahut bunda.


Ia mengangguk.


Di sela-sela perbincangan mereka, Ken sibuk mengarahkan orang-orang yang sedang memasang televisi di ruang tengah. Lalu Yumah dan Darmo ikut sibuk membereskan ruangan untuk acara tasyakuran sebentar lagi. Menggelar karpet di ruangan tengah. Entah kapan Yumah dan Darmo juga datang ke rumah ini. Sepertinya semua seolah menjadi kejutan berikutnya.


Padahal, sesuai kesepakatan tadi malam. Mereka harus mengomunikasikan segala hal yang menyangkut hubungan mereka. Tidak boleh lagi diam. Atau menyembunyikan hal kecil yang akhirnya akan menjadi besar.


Ia menghela napas.


Satu tahun usia pernikahannya yang artinya bertepatan dengan ulang tahunnya. How time flies (begitu cepat waktu berlalu).


Acara tasyakuran berjalan lancar. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang. Yang pasti anak-anak singgah yang tak lain anak-anak karateka tidak pernah ketinggalan.


Setelah acara inti dan doa selesai. Semua saling bercengkerama. Mengobrol dan sesekali terdengar riuh tawa. Kelompok genre laki-laki berkumpul di ruang tamu dan teras depan. Sementara kaum hawa di ruangan tengah.


Bunda terlihat menimang dan membuai anak kembar yang sangat menggemaskan. Baby Aryandra dan Aryasetya. Bayi usia 6 bulan itu bergerak aktif. Kakinya menendang-nendang ke udara. Tangannya berusaha menggapai jemari bunda yang bermain di atasnya. Bayi kembar itu tergelak-gelak. Lalu terkekeh dan tersenyum menggemaskan.


“Woooho ... pinternya cucu, Oma ini ... ya. Cepet besar ... jadi anak sholeh ... ganteng ... baik budi, sehat terus, ya.” Bunda mengajak kedua bayi berbicara. Dan seolah mereka mengerti, mendengarkan bunda lalu terkekeh setelahnya.


“Uluh ... uluh .... uluh, sehat ... sehat ya nang ganteng.” Bunda menggelitiki kedua kaki Aryandra sambil membuainya.


“Ha akak ... akak ... akakk ... he ... he ....” Bayi itu tertawa hingga terpingkal-pingkal.


Ia tersenyum melihat interaksi itu.


“Gemes!” Geramnya. Ia menggeser duduknya ke dekat bunda. Ikut menggelitiki mereka bergantian.


“Eem ... ba! Ciluk ... ba! Ba ... ba ... ba!” Ia ikut terkekeh ketika membuai kedua bayi itu.


“Sudah periksa ulang, Rei?” Tanya bunda kemudian.


Ia menggeleng lemah, “Belum, Nda.”


“Sebaiknya periksa ke dokter. Gak ada salahnya. Orang yang pernah keguguran apalagi sempat kuretase memang perlu waktu mempersiapkan lagi untuk hamil.”


Ia terdiam. Hampir lima bulan peristiwa itu berlalu. Ia pasrah. Meski ia tahu suaminya sangat menginginkan dirinya segera hamil kembali.


Ia menghela napas.


“Iya, Nda. Nanti Rei periksa ke dokter.”


**


Danang


Hati dan tubuhnya mulai gelisah tak tenang. Bahkan hampir setiap 5 menit ia selalu melirik jam di lengan kirinya.


Harapannya kian pupus ketika ia ditunjuk untuk menemani beliau meninjau kampus Akpol di kawasan Candi Baru.


Ia menghela napas. Sudah dipastikan kunjungan akan lama. Dan ia harus merelakan Kirei tanpa dirinya.


Sementara ia tiba di rumah sakit sudah pukul 17.55 WIB. Lewat 55 menit. Sudah sangat terlambat.


“Mas ... kalau seandainya Kirei ke dokter ... menurut Mas Danang gimana?” Tanya Kirei seusai acara tasyakuran rumah, ulang tahun pernikahan dan bertepatan juga dengan ulang tahun istrinya. Semua tamu telah pergi terkecuali bunda dan Ken. Para sahabatnya juga telah pamit. Mereka tengah berada di kamar. Ia tengah berganti pakaian santai.


“Kamu sakit?” Tanyanya. Ia telah mengganti pakaiannya. Lalu mendekati Kirei yang masih berdiri di samping ranjang. Pakaian yang dikenakan sewaktu acara saja belum digantinya.


Kirei menggeleng.


“Aku hanya ingin memastikan, kalo aku ... aku bisa memberikan Mas Danang seorang anak.”


Ia terkesiap mendengar penuturan Kirei. Apakah ia terlalu memaksa keinginannya itu pada istrinya? Hingga sepertinya menjadikan beban untuknya.


Ia menggenggam tangan Kirei.


“Sayang ... kalo kamu belum siap, gak apa. Masih ada waktu.”


“Jangan dijadikan beban ... nanti malah bikin kamu stres.”


“Rei tahu,” Kirei menunduk. “Mas Danang sangat menginginkannya, kan?” Lalu menatap dirinya dengan harap. Bahkan penyesalan. Merasa telah menyia-nyiakan kesempatan dulu yang pernah diberikan.


Ia merengkuh Kirei, “Baiklah ... tapi ingat apa pun hasil dari dokter kita terima. Kita pasti bisa memilikinya suatu saat.”


Melalui Kasih istri sahabatnya, Kirei mendapat rekomendasi dokter kandungan terbaik di kotanya.


Namun ia harus berdecak kesal, saat siang menjelang sore hari mendapat perintah dari atasannya bahwa Wakapolri akan datang ke Mapolda dalam satu jam ke depan. Ia dan beberapa pejabat utama harus standby dan menyambut kedatangan beliau. Rasanya satu kata yang sesuai untuknya untuk mengiba. Poor me!


Mau tidak mau. Siap tidak siap. Ia meninggalkan Kirei di hari big day mereka. Bahkan ia tidak berharap banyak bisa menemani istrinya menemui dokter.


“Tapi akan aku usahakan,” begitu kalimat terakhirnya sebelum berpamitan dengan istrinya, bunda dan Ken.


Ia berhenti tepat di depan pintu ruangan bertuliskan ‘dr. Yoiku Pranata SpOG(K)FER’.


“Maaf, Pak.” Seorang perawat menanyai dirinya yang masih berdiri di depan pintu tersebut. Ragu. Dan napasnya masih setengah memburu.


“Bapak sudah ada janji temu? Mohon antri di sana,” perawat perempuan berpakaian seragam merah jambu itu menunjuk kursi tunggu. Di sana banyak ibu-ibu hamil yang didampingi suaminya. Dan sepertinya ia menjadi pusat perhatian mereka. Sebab mata mereka mengarah kepadanya.


“Em ... saya. Saya suami dari Kirei Fitriya. Em ... tadi sudah buat janji. Saya ....” Mendadak ia seperti orang bodoh. Gagap dan harus bagaimana?


“Oh ... tunggu sebentar.” Perawat itu terlihat masuk ke ruangan dokter.


Ia masih berdiri di sana.


Tak berapa lama, perawat itu pun kembali.

__ADS_1


“Pasien atas nama Ibu Kirei sudah 10 menit yang lalu keluar, Pak.”


“Sudah selesai diperiksa,” imbuh perawat tersebut.


Ia tersenyum samar, “Baiklah ... terima kasih, Sus.” Sahutnya bergegas meninggalkan ruangan itu. Semua mata tertuju padanya. Ia mengerutkan dahinya. Ketika menyadari bahwa ia masih berpakaian seragam lengkap.


Kakinya terus melangkah sambil matanya mengedar ke segala arah. Mencari keberadaan istrinya. Sepuluh menit yang lalu baru keluar dari ruangan dokter. Itu artinya keberadaannya belumlah terlalu jauh. Masih di sekitaran sini.


Ia berusaha menghubungi ponsel Kirei. Aktif, namun beberapa panggilannya tak diangkat. Ia menelepon Ken. Bunda dan Ken adalah orang yang mengantar Kirei. Pasti mereka sedang bertiga sekarang pikirnya.


“Ken,” ucapnya begitu nada sambung itu diangkat.


“Di mana?” Tanyanya.


“Masih otewe,”


Ia mengernyit.


“Otewe ke mana?”


“Salatiga,”


“Lho ... Kirei?”


“Si Rei tadi sendirian nemuin dokter. Kami justru diusir. Suruh balik duluan, dia takut kita kemalaman.”


Lalu?


Kirei.


Ia memejamkan mata sejenak. Menghela napas dalam.


Menemukan sosok Kirei tidaklah sulit. Dalam beberapa detik. Hanya saja, bagaimana keadaannya sekarang?


Kakinya terus melangkah mengikuti petunjuk GPS di ponselnya. Hingga ia menemukan sosok  Kirei yang sedang duduk di bangku taman. Pandangannya lurus ke depan. Ia masih terpaku di belakangnya.


Tak lama ia melihat pergerakan tangan Kirei seperti menyusut air mata.


Oh no!


Apa yang terjadi?


Ia lekas menghampiri Kirei. Memeluknya dari belakang. Mengecup puncak kepalanya.


“It’s gonna be okay (semua akan baik-baik saja),”


Kirei menoleh padanya, “Lho, Mas udah datang?”


Ia tersenyum, lalu memutari bangku taman dan duduk di sebelah istrinya.


“Sorry, tadi—”


“Gak apa,” potong Kirei, “harusnya aku yang minta maaf ... soal ... tidak bisa ... memberikan ....”


-


-


Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya. Ada vote di hari Senin, juga gift 🤗...bisa dilempar ke sini ...🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2