
...92. (UN)WELL...
Danang
Ia menyempatkan datang ke rumah sakit menjenguk nenek tersangka kasus pencurian motor, sebelum ke kantor.
“Pasien bernama Sumi. Di diagnosa infeksi lambung dan gejala emfisema.” Kata Rendra yang membukakan pintu ruang rawat nenek tersebut.
“Anaknya yang menjadi TKW di Arab Saudi tiap bulan belum tentu mengirimi uang.”
“Nominal kiriman juga bervariasi, dari tiga ratus ribu sampai satu juta.”
“Nenek ini kerja serabutan. Jadi kuli panggul di Pasar Johar. Buruh cuci gosok baju dan terkadang bersih-bersih di rumah tetangganya.” Pungkas Rendra.
Ia berdiri bersedekap menatap nenek itu yang tengah terlelap.
“Urus semuanya Ren, sampai sembuh.”
“Baik, Pak.”
Mereka meninggalkan kamar nenek Sumi. Tanpa sengaja berpapasan dengan dokter Yoiku. Ia menghentikan langkah sebentar, berjabat tangan, “Gimana kabarnya, Dok?” Tanyanya.
Dokter Yoiku tersenyum ramah, “Kabar baik, Pak.” Menyambut tangannya. Kemudian bergantian dengan Rendra.
“Ada—”
“Jenguk salah satu pasien,” potong Rendra tak kalah ramahnya.
Dokter Yoiku manggut-manggut.
“Baiklah kalo begitu, kami duluan, Dok.” Pamitnya.
“Mari ... mari, silakan.” Balas Yoiku tersenyum.
“Cih, senengnya ketemu sama camer!” Ledeknya ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.
Rendra terkekeh, memutar setir kemudi ke kiri keluar dari area rumah sakit.
“Jadi gimana? Rapat di Polda nanti jam 10?”
“Tidak ada perubahan jadwal, Mas.”
Ia berdecak. Kesempatan pergi ke Jakarta sirna. Lalu berucap, “Sore?” Harapnya.
“Sama, Mas. Penerimaan penghargaan predikat pembangunan zona integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK) di Hotel Asia oleh Kemenpan RB langsung. Tidak ada perubahan.”
“Malam, sidak bersama Tim Macan Candi.” Terang Rendra sebelum ia menanyakan jadwal malamnya.
**
Kirei
Mas Danang calling ....
“Morning!” Sapa Mas Danang saat ia sudah siap berangkat ke kantor.
“Morning, Mas ... aku udah lebih baik.” Tukasnya, memberikan kabar kondisinya. Setelah tadi malam ia begitu baper dan gabut. Semalam video call dengan suaminya itu entah sampai jam berapa. Hingga ia tertidur laki-laki itu menemaninya lewat dunia maya.
“I support you all the way (aku dukung kamu sepenuhnya),”
“Makasih ... Mas Danang juga. Hati-hati, jangan lupa jaga kesehatan.”
Sambungan telepon terputus saat ia sudah tiba di lobi apartemen. Ojek online telah menunggunya.
Sesampainya di kantor, ia bergegas menuju ruangannya. Namun kemudian urung, langkah kakinya justru menuju toilet. Sebab ia sudah hafal tempat mana saja orang-orang berkerumun membahas hal-hal unfaedah di pagi hari.
“Berita itu bener gak sih?” sayup-sayup ia mendengar pembicaraan orang dalam toilet.
“Bener-bener gak bener. Kayaknya gak mungkin sih. Tapi foto-foto yang tersebar di group chat kayaknya betulan deh. Kasihan ya, istri Mas Anton.”
“Gak mungkin ah!” Sanggah yang lain.
“Host itu udah bersuami juga. Mana mungkin,” timpal yang lain.
“Ya mungkin saja. Sekarang jaman sudah edan. Yang gak mungkin jadi mungkin. Yang gak ada jadi diada-adain.”
Ia mendorong pintu masuk begitu saja. Dan semua orang yang berada dalam toilet langsung mengatupkan bibirnya. Kicep berjamaah.
Ia membuka keran wastafel. Membasahi tangan, menuang sabun dalam telapak lalu saling menggosok kedua telapak tangan dengan jari yang saling terkait. Menggosok punggung tangan, ibu jari, dengan jemari satunya. Seolah dengan pergerakan slow motion. Sengaja memperlama sekitar 30 detik atau kira-kira menyanyikan lagu selamat ulang tahun dua kali.
Benar-benar sesuai prosedur mencuci tangan. Oh my gosh! Kenapa ia sekarang jadi kepo-an? Pekiknya dalam hati.
Semua orang yang berada dalam toilet mulai bergerak perlahan meninggalkan toilet satu persatu dalam keterdiaman. Ia mengulum senyum kemenangan.
Hari ini ia melakukan pengambilan shooting terakhir. Sebelum kontraknya benar-benar berakhir. Ia langsung menuju studio untuk melakukan briefing yang akan dilakukan 10 menit lagi.
“Rei,” sapa Gita yang baru datang. Menghampirinya.
“Sudah ketemu?”
Ia menggeleng.
“Aku ada clue,” tukas Gita sambil berbisik di telinganya.
Ia mengernyit. Lalu, “Thanks, Git.”
Gita mengancungkan jempolnya, berlalu pergi meninggalkannya.
Briefing berjalan sekitar 45 menit. Seluruh kru produksi membubarkan diri. Begitu pun juga dirinya.
“Nih,” Nana mengangsurkan biografi bintang tamu kepadanya yang sedang duduk di bangku penonton.
“Kok baru sekarang?” Ia mengerutkan kening.
Nana mengedikkan bahunya sambil berlalu tak acuh.
Beruntung ia sudah mencari tahu sosok bintang tamu yang akan mengisi acaranya. Jadi, tidak akan terjebak oleh situasi yang tidak memihaknya.
Saat commercial break lima menit ia pamit ke belakang. Gita menyodorkan sesuatu padanya. Ia menyunggingkan senyum, lalu kembali ke panggung.
__ADS_1
Syuting berjalan lancar.
Semua kru standing applause. Ketika akhir acara ditutup dengan kata ‘bungkus’ oleh sang sutradara. Sempurna.
Pun dengan dirinya. Lega. Kontrak kerja selama 3 bulan ia jalani dengan baik dan sesuai. Kecuali roadshow ke Palembang. Karena musibah kebakaran karhutla merupakan kejadian di luar kuasa. Bukan kesalahan.
Ia mendekati Anton yang tengah berbincang dengan sutradara.
“Sorry, Mas. Aku bisa bicara sebentar.” Ucapnya menyela mereka yang tengah mengobrol.
Anton menoleh padanya, “Bentar, Rei.” Balasnya.
“Okay. Gitu aja! Abis ini kita langsung ke ruangan produksi.” Ucapnya pada sang sutradara.
“Aku cuma mau ngasih ini,” ia mengangsurkan sebuah amplop cokelat pada Anton. Setelah produser itu selesai bicara dengan sutradara.
“Maaf Mas, baru sekarang ngasih jawabannya,”
“Terima kasih,” tanpa menunggu sahutan dari Anton. Ia lekas menjauh dari pria itu.
Menuju ruang ganti, “Lo mau ikut gak?” ucapnya ketika tiba di sana melihat Gita tengah menantinya.
Gita bangkit, “Gue gak bisa ketinggalan hot news,” sahut Gita mengangsurkan pakaian ganti kepadanya.
Setelah berganti pakaian mereka menuju ruangan di samping produksi.
Mengetuk pintu dua kali, memutar tuas daun pintu dan mendorongnya.
“Sorry, ganggu lo.” Ucapnya, begitu mereka telah masuk ke dalam.
“Gue cuma mau ngasih ini,” ia menyodorkan amplop ke meja wanita itu yang duduk di kursi kerjanya. Wanita itu mendongak ke arahnya. Menatap dengan pandangan tak suka.
“Terima kasih.” Ia tersenyum tipis, “telah memberitahu sosok perempuan di depan gue ini sebenarnya seperti apa.”
Gita masih setia berdiri di sampingnya. Ikut memancarkan aura pengintimidasian.
“Lo gak perlu memohon Mas Anton untuk tidak melanjutkan kontrak gue,”
“Gak perlu membuat fitnah murahan,”
“Gak perlu mengancam berhenti menjadi asisten produksi,”
“Do ... whatever ... you want!! (Lakukan semaumu)”
“Dengan cara-cara licik dan picik!”
“Disgusting! (menjijikkan)”
Ia lekas meninggalkan ruangan Nana diekori Gita yang setia menemaninya.
Sementara Nana menggeram kesal, tangannya mengepal kertas kuat hingga mengusut.
“Aarrrrgghhhh ....!” Nana melempar gulungan kertas di tangannya ke arah pintu yang telah tertutup kembali. Menyusul kertas lain yang beterbangan ke segala penjuru karena menjadi sasaran amukan sang asisten produksi. Air mukanya penuh cuatan kebencian dan kemarahan.
Sekembalinya ke ruangan, ia menghempaskan pantatnya kasar.
“Thanks, Git.” Tukasnya.
“Gue udah lega.”
“Gue salut sama lo. Wanita kayak Nana perlu dihempaskan dari dunia nyata. Jijik juga gue! Julid banget!” Balas Gita geram.
Ia bangkit, membereskan barang-barangnya. “Sorry gue mau ketemuan sama Maega. Lo mau ikut?”
Gita menatapnya, “Kepengen, tapi bentar lagi mau makeup-in artis pendatang baru di studio 6.”
“Salam aja. See you ....” Imbuh Gita dibarengi ikut berdiri.
***
Anton
Pria itu belum sempat membuka amplop dari Kirei. Karena harus segera ke ruangan produksi.
“Kayaknya ini harus di drop,” ucapnya melihat hasil syuting baru saja.
“Over 5 menit.” Matanya tanpa kedip menatap 3 layar sekaligus. Dari sisi kamera 1, 2 dan 3.
“Yang ini aja,” ia menunjuk kamera 2.
“Oke.” Sahut program director (PD).
Ia menepuk bahu sang PD, “Gue tinggal.” Lalu berteriak dalam ruangan produksi, “semangat-semangat! The last program, but not the end.”
Karyawan yang berada dalam ruangan produksi berteriak membalasnya,” Go! Go! Semangat!”
Ia meninggalkan ruangan produksi dengan menenteng amplop cokelat. Mendorong pintu ruangannya, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Menghela napas lega. Akhirnya setelah tiga bulan ia bisa menuntaskan pekerjaannya. Membuktikan kemampuannya.
Ia baru teringat amplop pemberian Kirei. Dengan wajah semringah. Dan harapan yang membumbung tinggi ia merogoh isi amplop tersebut. Namun, seketika gurat wajahnya berubah kaku dan tegang. Menatap foto-foto dan 2 lembar surat yang berada di genggamannya.
**
Kirei
Ia berjanji temu dengan Maega di sebuah kafe berlokasi di Gedung Kerta Niaga, kawasan Kota Tua.
Tiba di sana ia memilih meja dengan 4 kursi. Masih sedikit pengunjung. Sehingga ia bebas menentukan tempat.
Interior tempatnya terlihat vintage sekaligus industrial. Gedungnya merupakan hasil revitalisasi Gedung Kerta Niaga, bangunan tua bergaya Eropa yang ada di kawasan Kota Tua. Beberapa alat eletronik jadul seperti TV dan radio tua kian menjadi hiasan yang menarik. Pun dengan menu yang disajikan tradisional.
Ia memilih minuman bareskrim. Mendadak ia mengulas senyum sendiri, lucu dan mengingatkan seseorang yang jauh di sana. Padahal bareskim singkatan dari beras kencur dan es krim versi avoccato. Lalu memesan camilan singkong bumbu kuning.
Ia melambaikan tangan ketika melihat Maega muncul dari balik pintu kaca. Melempar senyum dan berdiri menyambutnya.
“Apa kabar?” Tanyanya setelah mereka saling berpelukan.
“Baik, kamu gimana Rei?” Tanya Maega. Mereka duduk berseberangan.
__ADS_1
“Baik. Sangat baik.” Sahutnya.
“Sorry, ganggu kamu, Rei. Padahal kamu sibuk.”
Ia mendesis, “Gak gitu kali. Sore ini sama besok sudah free. Siap jadi guide.”
“Gimana? Denger-denger mau ambil spesialis di Jakarta?” Sambungnya.
“Baru mau daftar.” Sahut Maega. “Pastinya setelah kontrak kerja sama dengan KNS selesai.”
Ia tergelak, “KNS pasti kehilangan dokter hebat sepertimu.”
“Belum apa-apa.” Maega mengelak.
“Suka merendah tanda kebalikannya,”
Maega berdecak, “Apa pun keputusan pemilik saham aku ikutin.”
Mereka tertawa.
“Sori ... sori,” Ken langsung menggeret kursi ke belakang dan mengenyakkan dirinya di sana. “bisa gabung cuma sebentar. Malam masuk lagi.”
Ia menyergah, “Gak ada yang nanya, Kak!”
Ken melengos, “Cuma memberitahu!”
Ia terkekeh, “Abis ini kita mau jalan di seputaran sini. Kamu nginep tempatku aja Mae?”
“Mau sih, tapi maaf ... kalo malam ini kayaknya gak bisa.”
Ia sedikit kecewa, “Yaudah deh kapan-kapan lagi aja kita agendakan. Kak!” Serunya pada Ken yang sibuk dengan ponselnya.
“Hah?!” Sahut Ken.
“Nyebelin! Orang tuh pengen ngobrol karena lama gak ketemu. Ini, masih aja sibuk dengan hape. Nyebelin banget.” Tandasnya sebal.
Sore itu mereka berjalan-jalan di seputaran Kota Tua. Mengabadikan momen di sana dengan berswafoto.
“Gimana kabar Mas Danang?” Tanya Maega. Saat mereka duduk di bangku Taman Fatahillah.
Ia melukis senyum, “Mas Danang baik.”
Keesokan harinya saat matahari sudah condong ke barat, ia menyambut kedatangan seseorang di lobi apartemen. Menghambur dalam pelukan orang itu ketika jarak mereka tinggal satu meter lagi.
“Makasih, sudah datang.” Ucapnya.
Lalu pada malam harinya ia menemui Anton dan istrinya di Arborea Cafe. Setelah beberapa kali Anton mengajaknya bertemu. Guna menyelesaikan permasalahan yang sama sekali tidak diketahui sang produser itu.
“Rei, masalah ini harus clear,” ujar Anton melalui sambungan telepon malam hari ketika ia baru pulang dari menemui Maega.
“Hubungan kita baik. Jangan karena orang-orang yang tidak profesional menjadikan hubungan kita rusak. Aku sudah melaporkan Nana ke bagian HRD. Dan minggu depan sudah keluar keputusan.”
“Please ... istriku merasa bersalah sama kamu. Dia ingin—”
“Aku sudah memaafkannya, Mas.”
“Aku juga paham di posisinya.”
“Tapi dia ingin bertemu denganmu, ingin minta maaf langsung sama kamu.”
“Aku ....”
“Besok malam di Arborea Cafe jam 7.” Sahutnya.
Dan tepat jam 7 malam ia duduk berempat di kafe tersebut. Sambutan istri Anton begitu ramah. Juga jelas tersirat penyesalan di wajahnya.
“Sorry, Rei ... aku termakan hasutan. Aku emosi kurang kendali diri.” Ucap istri Anton.
“Aku minta maaf, aku menyesal.” Lanjutnya.
Ia mengangguk dan mengulas senyum.
“Dan mengenai surat itu. Bisakah kamu pertimbangkan, Rei?” Pinta Anton.
Ia menoleh ke sampingnya, kemudian menatap Anton. Lalu berkata, “Maaf, Mas.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏.
__ADS_1