Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
54. Talola'i u Boheli


__ADS_3

...54. Talola’i u Boheli...


Dua bulan sejak Demas meninggalkan Gorontalo, surat pertama datang.


Surabaya, 2 September 198x


Teruntuk, Ka Bagas.


Bagaimana kabarnya, Ka? Kabar saya baik. Maaf baru memberikan kabar. Surat Kaka sudah tersampaikan. Saya bertemu dengan Ibu Kaka langsung. Juga bertemu dengan Ka Imam dan Ka Ito. Keluarga Kaka baik dan ramah.


Pulang dari rumah Kaka, saya dibekali banyak sekali makanan. Ibu Kaka sangat baik.


Selama 1 tahun ini, saya tinggal di asrama mahasiswa. Lumayan biar bisa ngirit juga. Meskipun mama selalu mengirim uang. Secara diam-diam tanpa sepengetahuan tiyamo.


Akhir-akhir ini saya sibuk sekali, Ka. Maka dari itu baru sekarang sempat mengirim surat. Saya titip surat juga untuk mama. Minta tolong sampaikan ke mama. Karena sampai saat ini tiyamo masih marah.


Saya senang tinggal di sini. Punya banyak teman.


Mudah-mudahan saya bisa secepatnya mencari pekerjaan sampingan. Agar tidak selalu merepotkan mama.


Oya, saya masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Jurusan Ilmu Komunikasi. Semoga suatu saat saya bisa menjadi penyambung lidah orang-orang yang lemah dan kurang beruntung.


Minta doanya.


Salam,


Demas.


 


Ia tersenyum bangga membaca surat pertama yang dikirimkan Demas.


“Aku pasti doain kamu,” gumamnya.


Lalu surat kedua datang setelah 3 bulan kemudian.


Surabaya, 20 Desember 198x


Teruntuk, Ka Bagas.


Bagaimana kabarnya Ka? Semoga sehat selalu. Kabar aku baik dan sehat.


Oya, bulan ini aku sudah mendapat pekerjaan sampingan. Jadi operator rental komputer sekaligus penunggu wartel. Jam kerjanya setelah selesai kuliah. Sif sore-malam. Upahnya lumayan bisa untuk makan sebulan. Sekaligus bisa mengerjakan tugas secara gratis. Hehe ....


Terima kasih untuk doanya.


Sudah tidak sabar bertemu Ka Bagas tahun depan. Aku pasti tunggu Kaka di Surabaya.


Titip surat untuk mama.


Salam,


Demas.


Surat kedua isinya lebih pendek. Dan gaya penulisan Demas sudah sedikit berubah. Yang biasa memakai kata ‘saya’ menjadi ‘aku’. Wajar mungkin imbas dari lingkungannya sekarang.


Mereka berjanji bertemu di tahun depan tepatnya pada saat hari raya Iduladha.


**


Pertemuan pertama setelah hampir satu tahun tidak bertemu. Pemuda yang ditolongnya itu banyak perubahan.


Terlihat semakin dewasa dan tampan.


Mereka saling berpelukan melepas rindu.


“Gimana kabarmu?” Tanyanya saat mereka mengurai pelukan. Ia menepuk lengan Demas.


“Aku baik, Ka.” Demas mendaratkan tubuhnya di kursi teras. “Kaka sendiri gimana?” Imbuhnya.


Ia mengedikkan bahunya, “Ya beginilah ... kamu bisa lihat.” Ucapnya, lalu ikut duduk di kursi sebelahnya, “tapi, aku kehilangan kamu yang sering main ke asrama.”


Mereka terkekeh.


“Bagaimana keadaan mama?” Tanya Demas. Selama ini pemuda itu hanya berani mengirim surat. Tidak pernah menelepon. Ia tahu tiyamo bakal melarang mama untuk menerima telepon jika ketahuan. Pun semua orang pasti dilarangnya untuk mengangkat telepon darinya.


“Terakhir berjumpa dengan Ibu Idrus, beliau sehat. Cuma terlihat sedih jika mengingat kamu.”


Wajah Demas mendadak berubah sendu.


“Kamu betah tinggal di sini?” Ia mengubah topik agar Demas kembali ceria.

__ADS_1


Dan benar saja, ia terlihat bersemangat kembali. “Tentu ....” Jawabnya yakin.


Mereka mengobrol apa saja hingga tak terasa, Demas harus segera pulang. Sebab ia harus bekerja sif malam.


“Datanglah besok lagi, kalau ada waktu.” Pesannya pada Demas.


Demas mengangguk. Lalu berpamitan dengan orang tuanya.


Tapi nyatanya kesibukan Demas membuat pemuda itu tidak bisa menemui dirinya. Demas beralasan jadwal kuliah dan praktikum yang padat. Lalu pada sore hingga malam ia harus bekerja jaga wartel sekaligus warung rental komputer.


Hingga tiba ia harus pulang kembali ke Gorontalo, barulah Demas mendatanginya. Itu pun hanya sebentar. Maklum di waktu pagi jadwalnya padat kuliah.


Demas menitipkan surat untuk mamanya beserta foto dirinya memakai jaket almamater berlambang Garuda Mukti berwarna biru tua. Terlihat gagah dan membanggakan.


**


Hampir dua tahun tidak ada kabar dari Demas. Pun ia juga belum sempat pulang ke Surabaya lagi. Surat terakhir dari Demas hanya mengabarkan bahwa dirinya sudah tidak tinggal di asrama. Melainkan di sebuah kontrakan ruko kecil.


Pemuda itu merintis usaha jasa rental komputer, terjemahan Bahasa Inggris dan foto kopi. Bekerja sama dengan 2 temannya yang lain. Dan sejauh yang diceritakan usahanya itu berkembang pesat.


Ia turut berbangga. Rasanya pemuda itu punya sejuta keberanian dan tekad yang patut diacungi jempol.


Di surat terakhir, Demas juga menceritakan. Bahwa dirinya aktif di kegiatan kampus dan terpilih menjadi ketua BEM. Sehingga pemuda itu semakin sibuk.


Dan itulah surat terakhir dari Demas. Tidak ada lagi kabar mengenai dirinya. Karena ia juga harus berpindah tugas ke Makassar.


Namun saat pernikahannya di Surabaya. Pemuda itu datang meluangkan waktu di sela-sela internship-nya.


“Selamat Ka Bagas, semoga bahagia sampai maut memisahkan ....” Begitu ucapnya. Mereka berjabat tangan lama. Kemudian tak berselang lama Demas pamit sebab harus kembali ke kantor kedutaan Jepang.


Rasanya hari itu ingin sekali memberondong beribu pertanyaan padanya. Sekaligus melepas rindu. Tapi apa daya, ia terikat dengan waktu. Lagi pula Demas juga tidak mungkin meninggalkan tugasnya di kantor kedutaan.


Satu minggu setelah menikah, ia dan istrinya Anita Jaya kembali ke Makasar. Ia meninggalkan alamat barunya pada Demas. Tapi dua tahun berlalu pemuda itu juga tak ada kabarnya.


Hingga suatu hari Imam sang kakak mengabari bahwa temannya yang bernama Demas Prasetyo datang ke rumah memberikan sebuah undangan pernikahannya.


Sedikit terkejut. Tapi akhirnya ia bisa tersenyum. Pemuda itu akhirnya bisa melabuhkan cintanya pada seorang gadis Jawa. Padahal selama ini ia tak pernah mendengar Demas dekat dengan seorang gadis. Atau kah memang pemuda itu yang tak ingin berbagi cerita? Lantas, apakah orang tua Demas mengetahui hal ini?


Ia sengaja meminta ijin cuti pada atasannya untuk pulang ke Surabaya dengan alasan ada urusan keluarga. Memboyong istri dan anaknya yang baru berumur 1 tahunan itu ikut dengannya.


Bahkan tak dinyana ia dipercaya Demas menjadi saksi di pernikahannya. Memintanya untuk menjadi perwakilan dari pihak mempelai laki-laki karena tak ada satu pun keluarga Demas yang datang.


Pernikahan yang mengharu biru. Sebab tanpa restu tiyamo, pernikahan itu tetap berjalan lancar dan khidmat walau secara sederhana. Bahkan Demas diusir dari rumah kala hendak meminta restu orang tuanya saat itu. Diancam tidak akan mendapat warisan dan fasilitas lainnya. Serta dikeluarkan dari marga Kamaru.


Ia menepuk bahu laki-laki yang telah berubah status secara de jure sebagai suami dari Nani Prasetyo.


“Selamat ....” Ia menerbitkan senyum pada kedua mempelai.  Lalu menjabat tangan Demas erat. Menepuknya dengan tangan kiri beberapa kali.


“Semoga sakinah, mawadah dan warrahmah. Sampai maut memisahkan,” doa tulus teriring untuk Demas dan Nani.


Kemudian 2 sahabat itu saling berpelukan. Ia mengusap punggung pemuda itu. Memberi kekuatan bahwa semua akan tetap berjalan lancar dan sesuai keinginannya.


“Makasih, Ka. Doa yang terbaik untuk keluarga Ka Bagas dan Ta Anita.” Balas Demas.


Itulah pertemuan yang ia sendiri tidak tahu kapan lagi akan terulang. Demas mengatakan akan melanjutkan studi pasca sarjana di Jepang. Mendapat beasiswa di sana. Serta memboyong istrinya.


Pun Demas telah di kontrak menjadi koresponden sebuah surat kabar media nasional selama di Jepang. Usaha jasa rental komputer, foto kopi dan terjemahan bahasa asing juga telah maju pesat. Bahkan menambah pangsa pasar dengan membuka warnet dan rental PS. Ditambah lagi membuka beberapa cabang di beberapa kampus sekitar Surabaya.


**


Beberapa tahun telah berlalu. Ia ditugaskan kembali ke Pulau Jawa. Mendapat mandat menjadi Kapolda Jawa Timur.


Menangani kasus pelik tak berujung di kabupaten paling timur Pulau Jawa sebagai tantangan perdananya. Kasus yang pada awalnya ditangani Polres setempat. Pada akhirnya dilimpahkan ke Polda karena melibatkan banyak pihak dan tergolong kasus yang berat.


Sebuah perusahaan tambang emas dan tembaga yang bernama PT. Star Gold and Copper yang baru berdiri 2 tahun. Diduga menyalahi beberapa peraturan di antaranya; penentuan ijin usaha yang menyalahi aturan sebab warga sekitar tidak merasa diajak untuk berdiskusi; mengancam 1500 kepala keluarga yang tinggal di sekitar perusahaan tersebut terkena gusur akibat dimasukkan ke dalam konsesi begitu saja; lalu kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan yang merusak lingkungan bahkan warga mengeluh air dan tanah mereka tercemar limbah dari kegiatan tersebut.


Ketegangan semakin menjadi saat ratusan warga berdemo di depan perusahaan. Terjadi bentrok antara pihak perusahaan dan warga. Puluhan warga mengalami luka-luka. Dan 1 korban maninggal dunia.


Konflik tersebut masih berjalan terus hingga saat ini. Padahal sudah hampir 3 bulan. Pertemuan antara perusahaan dan perwakilan warga serta pihak pemerintah belum menemukan titik temu. Bahkan semakin memanas.


Borok perusahaan ditelanjangi di sebuah media koran nasional. Disertai data-data akurat menurut redaksi media tersebut.


Dan ia sebagai pemimpin di lingkup Polda Jatim ikut bertanggung jawab. Mengawal dan memastikan semua masih terkendali.


“Lapor Komandan. Sore ini jam 4, ada agenda pertemuan dengan Bapak Gubernur dan Kapolri di Kantor Gubernur.” Ucap Didit ajudannya.


Ia mengangguk. Sang ajudan keluar dari ruang kerjanya.


Lalu ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Matanya memejam. Satu-satunya kasus yang membuatnya pusing. Di pihak pemerintah sang kakak Imam Luwi Jaya yang baru menjabat sebagai Gubernur juga harus dihadapkan masalah ini.


Sementara senior sekaligus sahabatnya Tarman Fauzi yang saat ini menjabat sebagai  Kapolri diduga terdesak oleh beberapa kepentingan.

__ADS_1


Kepalanya berdenyut. Beberapa kali ia memijit pelipisnya. Ia sendiri beberapa kali didatangi orang-orang yang mengaku sebagai suruhan pejabat tinggi pemerintahan.


Belum lagi perwakilan perusahaan yang selalu meminta bertemu dengannya. Dengan dalih ingin menyelesaikan permasalahan. Tapi anehnya mereka hanya ingin pertemuan tertutup dan tanpa pihak lain.


Ia mengembuskan napasnya berat.


“Dit, carikan saya obat pusing!” Titahnya pada sang ajudan melalui interkom kantor.


Menegak obat pusing mungkin salah satu cara meredam kepalanya yang hampir pecah. Lalu memerintahkan Didit untuk menolak semua tamu yang ingin bertemu dengannya hingga sore. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya  sejenak.


**


“Bagaimana bisa?” Sanggahnya pada sang kakak Imam. Ini jelas seperti rekayasa. Sore itu ia datang ke Kantor Gubernur sesuai undangan.


“Menurut data-data dari perusahaan. Semua ijin mereka telah lolos dan legal. Semua sudah konform.” Ujar Imam seraya menunjukkan beberapa bukti-bukti perijinan.


Ia menggelengkan kepalanya, “Pihak Walhi saja menduga ada permainan di sini,” sambil menatap tak percaya berbagai dokumen perijinan perusahaan di depan matanya. “Mereka juga menyertakan bukti-bukti autentik. Jadi siapa yang benar di sini?” Ia menatap kakaknya Imam dan atasannya Mas Tarman secara bergantian.


“Seperti bukti-bukti yang di tulis salah satu wartawan di media cetak nasional?” Tebak Mas Tarman.


Ia mengangguk, “Percis ....”


“Tapi kita harus menyelesaikan kasus ini secepatnya! Sebelum korban semakin banyak. Ini juga perintah Bima ....” Mas Tarman menatapnya, “aku percoyo ro awakmu, Gas. Mesti isoh nangani kasus iki. Wes terserah koen rep kepie carane (aku percaya sama kamu, Gas. Pasti bisa menangani kasus ini. Terserah kamu bagaimana caranya).”


“Perusahaan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) ini menghasilkan nilai investasi yang tidak sedikit bagi negara. Lagian banyak pengusaha dan pejabat yang ikut menanam modal di sana. Jadi ....”


Mas Tarman tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi atasannya itu sangat yakin, ia dan Imam tahu maksudnya.


-


-


Catatan :


Talola’i u Boheli : lelaki yang pemberani.


Bima : wakil presiden.


 


Beberapa Bab akan membahas masa lalu Demas dan Bagas. Semoga tidak menjemukan...🤗.


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan like, comment, tips dan vote-nya .... 🙏.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2