
...63. Adventure: The Power Of A Mother...
Kirei
Sore hari ia berjalan-jalan di geladak. Kamera DSLR tak lupa dibawanya. Ia merasa senang sebab selama perjalanan dengan KF STAR pasti momen sang surya kembali ke peraduan dan muncul akan terasa begitu dekat. Bahkan tanpa penghalang.
Sesekali ia mengarahkan kamera ke bawah. Di sana ada beberapa ikan lumba-lumba yang tengah berenang seperti mengikuti arah kapal melaju. Ia tersenyum.
“Masih ingat, gak? Waktu kamu dicium lumba-lumba?” Tanya Ken dari arah belakangnya.
Senyumnya mengembang seketika. Saat teringat peristiwa di mana ia, Ken, bunda dan ayah pergi ke atraksi ikan lumba-lumba saat libur sekolah.
Saat ia masih duduk di kelas 4 mungkin. Sudah sangat lama sekali. Tapi lintasan kenangan itu serasa baru kemarin.
“Dan seorang Kenichi ketakutan dengan beruang madu ....” Ejeknya sembari terkekeh.
Mereka tergelak. Lalu duduk di kursi malas yang disediakan oleh cafe and bar di bagian outdoor.
Matahari semakin condong ke barat. Mereka Merebahkan punggungnya ke sandaran, setengah berbaring. Memakai kaca mata hitam. Sembari menikmati hangatnya matahari yang beradu dengan terpaan angin.
Namun tiba-tiba seorang wanita mendekati mereka, “Boleh bergabung,” ucap wanita memakai dress floral sebetis. Rambut panjangnya tergerai.
Ia menoleh pada Ken di sebelahnya. Yang juga tengah menatapnya. Seolah Ken juga tengah meminta persetujuannya.
Ia bangkit lalu duduk tegak, “Silakan ....” Ada 3 kursi malas di sana. Kebetulan di sebelah Ken masih kosong.
Wanita itu tersenyum. Memakai kaca mata hitamnya yang tadi di gantungkan pada kerah dress-nya.
“Thank you,” ucap wanita itu.
“Saya, Maega.” Wanita itu mengulurkan tangannya.
Ia menyambutnya seraya berdiri, “Kirei,” balasnya.
“Kak!” Pekiknya setengah tertahan. Kakaknya itu tak acuh.
Mau tak mau Ken bangkit, dengan malas dan terpaksa ia mengulurkan tangannya, “Ken,” lalu kembali duduk seperti semula.
“Maaf, dia memang begitu.” Tukasnya. Kakaknya memang tipe cuek, di usianya 28 tahun yang harusnya sudah punya calon atau pendamping hidup justru tak pernah dipikirkan oleh Ken.
Bahkan Ken baru sekali pacaran. Itu pun hanya sebentar. Sebab mereka harus LDR-an dan akhirnya berujung putus. Semenjak itu Ken tak pernah terlihat lagi menggandeng ataupun dekat dengan cewek.
Wanita bernama Maega itu tampak duduk dan memosisikan tubuhnya setengah berbaring di kursi sebelah Ken.
Ia yang masih berdiri, justru memutuskan untuk berjalan ke ujung geladak dengan membawa kameranya. Suasana di geladak utama satu lantai di bawahnya terlihat lebih ramai.
Kameranya ia arahkan pada orang-orang yang tengah bersantai menikmati kembalinya sang surya ke peraduan.
Mengulas senyum saat hasil jepretannya memuaskan. Ilmu dari Aldi atasannya dulu di TVS memang bermanfaat.
Mengingat Aldi, tentu juga mengingat yang lainnya. Anisa, Oka, Mas Budi, Mas Agung dan Gita.
Bagaimana kabar mereka?
Ia menghela napas. Sejenak memejamkan mata.
Sejauh ini memang tidak ada komunikasi dengan mereka. Semenjak ia berganti ponsel baru pemberian Ken yang otomatis dengan nomor baru, praktis komunikasinya terputus. Hanya bunda dan Ken saja. Ia bahkan baru membuka aplikasi media sosialnya tadi siang. Itu pun hanya dibacanya.
“Tujuan kamu ke mana?” Tanya Maega yang berdiri di sebelahnya tanpa disadarinya.
Ia menoleh wanita itu sekilas, “Bali.”
“Oo ... akhir perjalanan kapal ini.” Sahut Maega.
Tergopoh-gopoh seorang laki-laki berpakaian perawat menghampiri mereka.
“Dok, ada yang pingsan.” Ucap perawat itu.
Maega lekas berpamitan padanya. Meninggalkan ia dan Ken yang masih asyik setengah berbaring sambil mendengarkan MP3 player melalui earphone.
**
Malam harinya ia dan Ken menikmati makan malam di restoran. Ditemani Kapten Lukita.
“Berapa jam lagi sampai di Pelabuhan Luwuk, Kap?” Tanyanya saat mereka sudah hampir menyelesaikan makannya.
“Sekitar jam 8 malam.” Jawab Kapten Lukita.
Itu artinya sebentar lagi.
Mengobrol dengan Kapten Lukita yang ternyata orang Denpasar-Bali. Menjadi nakhoda kapal hampir 10 tahun lamanya.
Kapten Lukita ijin untuk kembali ke tempatnya. Sebab sebentar lagi kapal akan bersandar di Pelabuhan Luwuk-Sulawesi Tengah.
Ia dan Ken kembali ke kamar. Tapi bukan masuk ke kamarnya. Justru ia masuk dalam kamar Ken.
“Kak, Maega ternyata bertugas jadi dokter di sini.” Tukasnya. Ia baru tahu saat tadi membuka buku panduan keselamatan dan kesehatan.
Ken hanya mengedikkan bahunya. Tak acuh.
“Pantas tadi dia terburu-buru saat ada yang pingsan,” celetuknya seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
“Ngapain, sih?” Penasaran dengan apa yang dilakukan Ken di depan laptopnya. Ia pun bangkit dan melongok pada Ken yang tengah serius.
Lalu berdecak sebal saat mengetahui apa yang dilakukan kakaknya itu.
“Kenichi Estiawan Prasetyo!” Serunya.
Ia kesal lalu keluar dari kamar Ken. Sedikit membanting pintunya. “Dunia serasa miliknya sendiri kalo sudah main mobile legends ... huh!” Gerutunya.
Terdengar bunyi suling kapal sekali. Saat ia sudah kembali ke kamarnya.
Tepat pukul 8 malam kapal bersandar di Pelabuhan Luwuk. Untuk membongkar dan memuat penumpang.
Ia melihat cahaya kelap kelip dari kaca jendela kamarnya. Lalu membuka aplikasi media sosialnya.
**
Danang
Ia masih duduk di kursi kerjanya. Belum berniat untuk mengakhiri kerjanya hari ini. Padahal waktu sudah berganti malam.
Mendapat informasi posisi gadis itu di Teluk Tomini. Ia segera membuka aplikasi media sosial ig-nya.
Status gadis itu online.
Tanpa menunggu lama, ia mendapatkan posisi keberadaannya.
“Pelabuhan Luwuk,” ucapnya.
Ia tampak menghubungi seseorang. Cukup lama. Lalu menutup kembali ponselnya.
Menatap foto gadis itu pada posting-an terakhirnya saat tapping program telusur peristiwa.
**
Kirei
__ADS_1
Matanya tak mau terpejam saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia berjalan keluar kamar. Menyusuri koridor. Namun baru beberapa langkah, ia melihat Maega berjalan terburu-buru.
“Mae, ada apa?” Tanyanya tergesa.
“Ada yang mau melahirkan,” sahut Maega.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Maega.
“Aku ....”
“Bisa bantu aku? Aku butuh seorang lagi.” Tukas Maega.
Tanpa berpikir panjang, ia menganggukkan kepalanya.
Menuju klinik kesehatan yang berada satu lantai dengan geladak utama. Setibanya di sana, Maega menyibak tirai pembatas antar bed. Tampak seorang ibu muda tengah berbaring miring, meringis memegangi perutnya yang ....
“Kehamilan masih 32 minggu,”
“Tadi sempat kepleset jatuh saat menaiki tangga.” Tukas Maega seraya berucap, “bagaimana, Bu? Masih merasa ada yang mrembes?” Tanyanya pada ibu muda itu.
“Masih, Dok.” Jawab ibu muda yang bernama Talima.
Ia menatap Talima yang menahan rasa sakit dan Maega bergantian.
Tapi rasa penasaran membuatnya bertanya, “Di mana perawat yang kemarin?”
“Oo, Abason? Dia turun di Luwuk. Pulang ke Banggai. Ibunya masuk rumah sakit. Jadi dia ijin tidak bisa ikut berlayar.” Sahut Maega.
“Dok ....” Talima menggeram. Tangan kanannya mencengkeram besi bed, sementara tangan kiri memegangi perutnya yang menonjol acak.
“Kontraksi lagi.”
“Tahan ya, saya periksa pembukaannya sekarang,” Maega mengenakan sarung tangan medis, “tekuk kakinya, Bu. Tarik napas dalam, yaa ... bagus, begitu.”
Hanya beberapa detik, “Pembukaan 5,” ucapnya.
Maega melepas kembali sarung tangannya di wastafel. Lalu ia mencuci tangan di sana.
Dokter muda itu mendekat tiang infus, memeriksa jalannya cairan itu sesuai atau tidak.
“Kontraksi akan semakin sering, mendekati pembukaan lengkap. Tetap berdoa, berbaring miring. Jangan lupa tetap makan dan minum, untuk asupan tenaga saat persalinan nanti.” Maega berpesan pada Talima. Si ibu muda itu mengangguk paham seraya menggigit bibirnya menahan kontraksi yang timbul kembali.
Ia pun ikut meringis melihat pemandangan di hadapannya. Baru pertama kali melihat situasi seorang ibu yang akan melahirkan.
Pikirannya kini menerawang jauh. Begitukah saat bunda juga melahirkannya?
Melahirkan tanpa orang-orang terdekat. Sebab di perantauan. Hanya ayahnya saja yang menemani. Sementara Ken masih kecil dititip ke tetangga apartemen sebelahnya.
Ia masih terdiam memaku.
Ibu muda itu mendesis kembali, tampaknya kontraksi datang lagi.
Tanpa sadar ia mendekati ibu muda itu, lalu berjalan mengelilingi bed. Dan berkata, “Aku bantu apa?”
Maega menelengkan kepala padanya. Dokter muda itu sedang menyiapkan perlengkapan persalinan.
“Pijat bagian punggung dan panggulnya secara perlahan saat kontraksi datang, itu bisa mengurangi rasa sakit.” Ucap Maega.
Tanpa aba, ia memijat perlahan punggung Talima, “Masih sakit?”
Talima menggeleng.
Maega terlihat gusar, pembukaan berjalan lambat, tapi ketuban terus merembes. Ia sudah memberikan induksi guna mempercepat kontraksi dan pembukaan.
Menunggu kapal bersandar di pelabuhan berikutnya masih lama, paling tidak besok sore baru tiba di Pelabuhan Kendari.
“Kenapa?” Tanyanya pada Maega yang terlihat gusar.
Dokter muda itu berlalu, menuju ruangannya yang masih satu ruangan dengan klinik. Hanya disekat seperti bilik. Ia pun mengikutinya. Meninggalkan Talima yang tertidur.
Maega duduk di kursinya sementara ia duduk di kursi depan meja kerja Maega.
“Jika pembukaan tidak bertambah, aku takut akan berakibat fatal dengan kondisi ibu dan janinnya. Sedangkan ketubannya terus merembes. Perkiraan jika harus di bawa ke rumah sakit menunggu kapal tiba di Pelabuhan Kendari. Itu masih lama.”
Ia tampak berpikir, “Apa peralatan persalinan di klinik tidak lengkap?”
“Kalau persalinan normal masih bisa diatasi. Tapi ini berisiko. Bayi yang lahir dipastikan prematur. Ketuban juga terus berkurang. Bisa membahayakan janin,”
“Aku sudah menginduksi, tapi belum bekerja maksimal.”
“Keluarganya ....”
“Dia asli Banggai, hendak ke Makassar. Suami dan keluarga mertuanya semua di sana.”
Ia menelan ludah.
Mereka terperanjat, saat mendengar Talima menggeram kembali.
Bergegas menuju Talima yang tengah terbangun dan mengerang kesakitan.
“Tarik napas dari hidung, embuskan dari mulut perlahan ....” Talima mengikuti instruksi Maega.
Sementara dirinya memijat kembali punggung dan panggul Talima.
“Ya, seperti itu. Jika kontraksi kembali datang.” Pesan Maega pada Talima.
Waktu sudah menunjukkan hampir pagi hari.
“Istirahatlah,” tukas Maega. Melihat kondisi Talima yang sudah terlelap kembali.
“Tapi kamu sendirian.” Timpalnya tak tega meninggalkan dokter itu sendirian.
“Nanti kalau aku butuh bantuanmu, aku akan menghubungimu. Sebelumnya terima kasih,” Maega tersenyum ke arahnya.
“Baiklah ... aku kembali ke kamar dulu. Jangan sungkan menghubungiku.” Pesannya pada Maega sebelum ia meninggalkan klinik.
Ia memanfaatkan waktunya untuk membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya sejenak.
Namun, baru merasakan terlelap sebentar ponselnya berdering nyaring.
“Ya,”
“Bisa ke klinik sekarang.”
Ia langsung bangkit dari tidurnya. Melihat kembali pada layar ponselnya, “Ya.” Tandasnya cepat.
Maega pasti membutuhkannya. Tanpa berpikir lama, ia bergegas mencuci muka dan keluar kamar.
Namun sesaat berhenti di depan kamar Ken.
Ia mengetuk pintu kamar kakaknya beberapa kali.
Suara pintu terbuka, “Ikut aku sekarang!”
“Masih jam 5, kalo ngajak sarapan ntar jam 7,” sergah Ken seraya mengucek matanya.
“Penting! Sekarang. Aku tunggu!” Serunya, berlalu masuk dalam kamar Ken dan duduk di sofa. Tampak laptop masih tersambung dengan arus daya. Dipastikan kakaknya itu bermain game hingga dini hari.
__ADS_1
Ia menggeleng.
“Cepat Kak!” Semburnya tak sabar.
Melihat Ken hendak kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Ken berdecak sambil bergumam-gumam tidak jelas.
“Maega membutuhkan kita,” ia menarik lengan Ken.
“Cepetan, cuci muka aja. Urgen! Genting! Gawat! Darurat ... SOS!”
“Apa sih?” Ken bangkit dan berusaha duduk tegak.
Namun ia tetap menarik Ken agar cepat mengikuti perintahnya. Dengan terpaksa Ken menyeret kakinya menuju kamar mandi.
***
“Tarik napas ... embuskan perlahan. Ya, sekali lagi.”
Talima terlihat terengah-engah mengatur napasnya. Sesekali memekik. Peluh jelas bercucuran di wajah dan tubuhnya.
“Bayangkan sebentar lagi bertemu dengan dede bayi,”
“Berdoa meminta kemudahan dan kelancaran,”
“Ingat! Kalau saya bilang dorong. Dorong, mengejan dengan kuat. Kalau belum ada instruksi jangan mengejan. Atur napas seperti tadi.” Maega terus menyugesti Talima. Memberikan semangat.
“Dok,” ucapnya yang masih berdiri mematung di belakang Maega.
“Sorry, aku mengganggu istirahatmu.”
“Sudah pembukaan 9. Sebentar lagi.”
Lalu Maega memberikan beberapa instruksi padanya. Agar bisa membantunya saat waktunya bersalin.
Ia mengangguk.
Sementara Ken duduk menunggu di ruang tunggu. Seketika rasa kantuknya lenyap mendengar seseorang di balik korden sendang berjuang melahirkan. Ia tidak tahu jika diajak adiknya menyaksikan orang yang akan melahirkan. Jika tahu, sedari tadi pasti ditolaknya mentah-mentah.
Terdengar Talima memekik kencang. Ken pun sampai menjengit.
“Dorong, Bu! Kuat ... terus. Ya ... sekali lagi.”
“Sudah terlihat kepalanya, sekali lagi ya.”
“Tarik napas, embuskan dan dorong kuat!”
“Sakit, Dok. Ga ku ... at.” Talima berucap seraya napasnya kembang kempis.
“Sekali lagi. Bayangkan wajah bayi ibu dalam gendongan. Dia akan hadir sebentar lagi. Ibu harus berjuang demi dia. Hayoo semangat ....”
“Tarik napas dalam, dorong kuat ....”
Maega mulai membimbing Talima lagi.
Dan dengan kekuatan seorang ibu, akhirnya bayi Talima lahir. Dengan tangis kencang, bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir selamat.
Sesuai instruksi Maega, ia membantu dokter itu. Meski gugup dan panik tapi ia berusaha sigap. Apa yang diminta Maega ia harus bertindak cepat.
Bayi telah di bersihkan dan dipotong ari-arinya.
“Tolong bedong, bisa, kan? Seperti tadi yang aku ajarkan!”
“Aku harus membantu si ibu mengeluarkan plasentanya,” ucap Maega.
Dengan gugup dan keringat dingin, ia berusaha membedung bayi cantik itu.
Ia menaruh bayi itu dalam timbangan, “Dua ribu gram, Dok.”
Lalu ia mencatatnya. Ia juga mengukur panjang bayi itu, “empat puluh tiga senti meter.”
“Letakkan di inkubator.” Titah Maega. Beruntung klinik ini memiliki fasilitas inkubator.
Kini Talima telah dibersihkan, sang bayi juga terlelap di inkubator.
Perasaan lega begitu kentara di wajah Maega dan dirinya. Baru pertama kali pengalaman membantu persalinan seumur hidupnya.
Ia baru teringat, ada Ken tengah menunggu di luar.
“Kak!” Panggilnya seraya menyibak korden pembatas.
Ken mendongak, menatapnya.
“Tolong ... Azanin,”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏
__ADS_1