Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
12. Mama Always Had A Way....


__ADS_3

...12.  Mama Always Had A Way......


 


Danang


Sore itu ia telah tiba di rumah Surabaya bersama Aksa. Setelah berbagai alasan menolak akhirnya ia mengikuti saran mamanya. Mama always had a way (Mama selalu punya cara).


“Malam ini kita akan ke rumah Gus Ahmad putranya Kiai Maksum di Pasuruan.” Kata mama saat dua bersaudara itu baru mendudukkan diri beberapa menit yang lalu di sofa ruang keluarga.


Ia menghela napas berat.


“Mama janji ini sekedar silaturahmi. Mudah-mudahan kalian berjodoh. Gus Ahmad adalah kawan Papa sekaligus guru spiritual Papa dulu. Sudah lama mereka tidak bertemu karena Gus Ahmad beberapa tahun ini bermukim di Madinah. Dan semingguan ini beliau kembali ke Pasuruan.” Terang mama dengan bersemangat. Ada binar tercetak jelas di wajahnya.


Aksa yang duduk di sebelahnya menepuk pundaknya, “Semoga jodohmu, Mas.” Aksa tersenyum jahil.


“Papa dan Mama gak pernah maksa atau jodohkan kalian, hanya membuka jalan saja. Kalo cocok silakan diteruskan. Tapi kalo kalian punya pilihan sendiri bawa mereka ke hadapan Papa sama Mama,” ujar papa menimpali sembari menyesap teh madu yang baru saja disajikan oleh Bi Darmi asisten rumah tangga yang telah bekerja lama di rumah ini.


“Ini bukan khusus buat Masmu saja, tapi juga buatmu, Sa. Umurmu juga sudah bukan untuk main-main lagi!” seru mama tegas.


“Siapa pun dari kalian yang akan berjodoh sama dia nanti. Mama dukung. Terutama kamu, Nang. Umurmu sudah matang. Sampai kapan lagi kami harus menunggu punya cucu dari kamu?” Lanjutnya penuh pengharapan di sana.


“Tuh, berarti Mas Danang duluan yang nikah!” sembur Aksa merasa di atas angin.


“Sudah-sudah sebaiknya kita bersiap-siap. Habis maghrib nanti kita langsung ke rumah Gus Ahmad,” ucap papa seraya bangkit berdiri dan meninggalkan mereka.


“Mas, gak usah pikirin yang di Sumatera. Dia sudah bahagia. Atau masih kepikiran gadis kecil di taman? Udah milik orang juga kali,” kelakar Aksa turut serta meninggalkannya.


Ia menghempaskan tubuhnya ke belakang.


“Udah, ayo kita siap-siap. Kamu mandi dulu biar segeran. Masa  mau ketemu anak gadis mukanya kucel begitu? Move on sama masa lalu kamu. Kalo berjodoh dengannya pasti nanti dipertemukan lagi.” Ujar sang Mama memberikan saran. Mama dan Aksa tahu kisah tentang hubungannya yang kandas dengan seorang wanita pada saat ia bertugas di Sumatera. Pun juga dengan kisah masa lalunya bersama seorang gadis kecil. Namun sejurus kemudian senyum kecil terbit di bibirnya.


Mobil mereka memasuki kawasan kompleks pondok pesantren ‘Darunnajah’ tepat saat para santri berhamburan keluar dari masjid.


“Sebaiknya kita salat isya dulu di masjid,” usul papa yang disetujui olehnya, Aksa dan mama.


Lima belas menit kemudian, mereka menunggu sang mama yang belum muncul di pelataran masjid.


“Assalamu’alaikum ....” Sapa salah satu santri berbaju koko putih dan mengenakan sarung mendekat ke arahnya, Aksa dan papa yang tengah berdiri di dekat pilar.


“Wa’alaikumsalam ....” Jawab ketiganya hampir bersamaan.


“Mau berkunjung ke mana ya, Pak?” Tanya santri itu lagi, “maaf kalau boleh tau. Soalnya jam kunjung santri sudah habis sampai batas jam 6 sore,” sambungnya karena hari minggu memang jadwal besuk para santri.


“Kami mau menemui Gus Ahmad,” sahut papa.


“Oh ... maaf. Kalau begitu saya antarkan ke rumah beliau, Pak.” Balas santri itu dengan sopan.


Mama yang muncul dari pintu kemudian menghampiri mereka. Mengekori dari belakang. Menuju ke kediaman Gus Ahmad yang tidak jauh dari masjid.


“Assalamu’alaikum,” salam santri tadi yang mengantar mereka hingga ke rumah Gus Ahmad seraya mengetuk pintu beberapa kali.


Tak lama terdengar sahutan dari dalam, “Wa’alaikumsalam ....”


Seorang wanita paruh baya berbalut gamis biru muda dan jilbab instan senada yang besar hingga menutup sampai pinggangnya, membuka pintu.


“Masya Allah ... Mbak Anita,” ucap wanita itu terkesiap memandang mama. Lalu kedua wanita itu berhamburan saling berpelukan.


“Apa kabar Umi?” Tanya mama.


“Alhamdulillah, kabar baik dan sehat. Eh, sama rombongan?” Tanya wanita yang dipanggil umi oleh mama melongok ke belakang mama, di mana dirinya, Aksa dan papa berdiri.

__ADS_1


“Umi, kalo gitu saya pamit,” tukas santri tadi.


“Makasih, ya, Mail." Balas umi dengan tersenyum.


“Sama-sama, Umi. Assalamu’alaikum.” Ucapnya sembari meninggalkan kediaman Gus Ahmad.


“Wa’alaikumsalam,” mereka membalasnya.


“Mari, masuk ....” Ujar umi mempersilakan para tamunya untuk masuk ke dalam.


Aksa yang membawa dua paper bag oleh-oleh dari Surabaya meletakkannya di atas meja.


“Apa kabarnya Mas Bagas?” Kata umi sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


“Kabar baik, Um.”


“Ini anak-anak ya,” tunjuk umi padanya dan Aksa.


Mereka berdua mengangguk dan mengulas senyum.


“Ini pasti Danang yang polisi itu, kan?” tebak umi padanya, “lalu ini ....“ Tunjuknya pada Aksa, “ ..., Aksa, yang sekarang pegang perusahaan kakaknya?”


Dua bersaudara itu tak menjawab, lagi-lagi mengulas senyum sebagai tanda jawaban.


“Hebat-hebat, yaa anakmu Mbakyu. Padahal terakhir ketemu sama mereka udah lama banget ya, waktu masih sekolah SMA kalo gak salah."


“Iya betul. Selepas SMA mereka sibuk sendiri-sendiri tak ada waktu lagi berkumpul seperti  sekarang ini." Sahut mama menimpali ucapan umi.


“Assalamu’alaikum,” ucap seorang pria paruh baya yang mungkin seumuran dengan papa muncul.


“Wa’alaikumsalam ....” Sahut semua bersamaan.


Papa dengan sigap langsung berdiri, “Yo opo kabare, Gus? (Bagaimana kabarnya, Gus?)” Papa menepuk pundak Gus Ahmad lalu berpelukan sebentar, “sudah berapa tahun kita gak jumpa. Kangen pisan,” seloroh papa.


“Kabar baik, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana kabarnya setelah pensiun? Apa kesibukan sekarang?”


“Kami semua baik, ya ... beginilah kesibukanku sekarang. Berduaan lagi seperti pengantin baru. Mereka berdua ....“ Tunjuk papa pada Aksa dan dirinya, “sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa pulang,” jawabnya dengan berkelakar.


Mereka terkekeh mendengar pembicaraan papa dan Gus Ahmad.


Dari balik pintu yang tertutup korden muncullah seorang wanita berjilbab merah hati dan mengenakan gamis floral berwarna senada membawa nampan berisi minuman dan camilan.


“Ini Zahra,” tunjuk Gus Ahmad pada gadisnya. “Baru lulus sarjana di Universitas Islam Madinah."


Gadis itu menangkupkan kedua tangannya di dada sambil menerbitkan senyuman kecil di bibirnya, lalu menunduk dan duduk di sebelah uminya.


“Dulu terakhir ketemu kayaknya masih SMP, ya? Sekarang tambah cantik,” tukas mama dengan pujiannya.


Sementara gadis itu tetap menunduk dengan kedua tangan saling bertautan di atas pangkuannya.


“Betul,” sahut umi.


“Lalu, kakaknya Fikri ke mana sekarang, Gus?” Tanya papa.


“Fikri selama ini yang menggantikan aku selama di Madinah. Tapi hari ini kebetulan ada undangan ke ponpes (pondok pesantren) Jombang. Jadi tidak bisa ikut berkumpul di sini. Arek iku udah punya dua anak, aku udah jadi kakek sekarang.” Balas Gus Ahmad dengan senyum terkembang. Bangga dengan statusnya sekarang.


“Kalau si bungsu?” Tanya mama menimpali.


“Dia sedang ambil S1 di Mesir," jawab Gus Ahmad.


Obrolan itu mengalir begitu saja meski lebih di dominasi oleh obrolan para orang tua, hingga ponsel Danang bergetar berkali-kali. Ia pun merasa sungkan pada akhirnya meminta ijin untuk keluar sebentar.

__ADS_1


“Mari, silakan di minum ....” Ucap umi, “maaf seadanya, yaa. Mbakyu ngasih tau mau ke sini ngedadak sih, baru sore tadi. Jadi gak sempat bikin kue. Malah repot-repot bawa oleh-oleh segala." Kata umi berbasa-basi. Padahal di atas meja sudah tersaji dua piring berisi pisang goreng dan bolu gulung.


“Umi nih bisa aja! Ini udah lebih dari cukup,” balas mama.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ia yang baru saja kembali dari luar telah duduk kembali di kursi yang tadi ditempatinya.


“Kami pamit, ya, Gus. Sudah malam. Kapan-kapan lagi kita agendakan pertemuan. Terima kasih atas waktunya," ucap Papa berpamitan. Disusul semua yang berada di ruangan itu berdiri. Meninggalkan kediaman Gus Ahmad.


Di tengah perjalanan menuju Surabaya, “Gimana tadi dengan Zahra?” Tanya mama penasaran tanggapan dari kedua putranya terutama dirinya.


Hening sejenak.


Ia dan Aksa saling pandang sekilas, “Cantik” sahut Aksa setelah beberapa detik ia masih dalam keterdiamannya. Aksa terpaksa yang menjawab pertanyaan sang mama.


“Lalu menurutmu, Nang?” desak mama belum puas jika putra sulungnya itu belum memberi respon apa pun.


“Yang namanya wanita, ya pasti cantik, Ma.” Jawabnya berkelakar. “Pa, Ma, aku langsung balik ke Semarang,” sambungnya.


“Kenapa buru-buru?” Tanya papa yang duduk di bangku belakang bersama mama.


“Iya, Nang. Ini sudah malam. Besok saja pagi-pagi kan masih bisa,” saran mama.


“Pak Sigit masuk Rumah Sakit lagi. Metro satu menyuruh aku menggantikan sementara Pak Sigit, Pa.” Ia menjelaskan alasannya. Pak Sigit menjabat sebagai Direktur Reserse kriminal khusus sekaligus atasannya di Ditreskrimsus.


“Sakit apa lagi, dia?” Tanya Papa.


“Jantungnya kambuh,” tandasnya.


“Sigit sama Metro satu itu adik kelas Papa dulu.  Jadi Papa tau sepak terjang mereka. Sigit memang orang yang serampangan, susah menjaga kesehatan.” Papa menyandarkan punggungnya ke belakang sambil menghela napas. Mama menepuk-nepuk lengannya.


“Tuh, Papa dengar. Papa harus jaga kesehatan. Dimulai jaga pola hidup, makan dan kebiasaan Papa yang masih suka begadang. Ingat harus tetap olahraga, Mama siap temani kapan saja. Pokoknya Mama akan selalu ....“


“Iya, iya, Ma.” Papa menyahuti dengan cepat meskipun kalimat Mama belum selesai.


Mama tersenyum lebar ke arah Papa.  Absolutely, Mama always had a way (Pastinya, mama selalu punya cara). Di usianya mereka saat ini, keduanya masih terlihat romantis meski dengan hal-hal kecil dan sederhana. Tak bisa dipungkiri usia keduanya memang rentan dengan penyakit.


“Iya, Pa. Papa sama Mama harus selalu jaga kesehatan. Olahraga tetap dijalankan yang ringan-ringan saja menyesuaikan umur." Aksa menimpali dengan sesekali melirik spion tengah dan kembali fokus mengemudi.


“Mama sama Papa pasti jaga kesehatan. Pokoknya sebelum kalian menikah dan kami punya cucu,” kilah mama.


“Mama ... Mama.” Aksa menggeleng heran. Sementara ia memilih memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur sejenak sebelum berangkat kembali ke Semarang.


-


-


Catatan :


Metro 1 adalah sebutan untuk kapolda dalam kode sandi pangkat kesatuan.


Terima kasih yang sudah mampir , membaca dan memberikan dukungan like, comment, tips dan vote-nya ....yaa 🙏


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2