Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
82. Sudut Pandang


__ADS_3

...82. Sudut Pandang...


Kirei


Ia telah selesai melakukan syuting untuk recording talkshow. Tokoh yang diwawancarai kali ini menarik dan unik. Tokoh wanita yang menginspirasi. Meski di usia  yang tidak lagi muda, tapi tekad dan semangatnya tak mau kalah. Seorang pengusaha, pernah menjabat sebagai pembantu presiden. Sekaligus motivator dan inspirator. Truly amazing!


Bahkan pesan beliau yang ia ingat adalah,


“Wanita bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Kita bisa mewujudkannya. Kuncinya pada kerja keras, konsistensi dan integritas. Jadi jangan takut dan khawatir.”


Pungkasan wawancara ditutup dengan berjalan di seputar Taman Astrid-Kebun Raya Bogor.


Ia menghela napas. Lega. Ketika syuting telah selesai. Dan bintang tamu telah pergi meninggalkan lokasi. Semua seakan direstui. Diberkahi. Meski ia datang dengan berbagai drama terlebih dahulu, tapi tepat waktu. Kemudian cuaca tempatnya syuting yang tak bisa diduga, terkadang cerah lalu tiba-tiba hujan. Tapi selama proses recording semesta mendukung. Meski awan tipis menggelap menggantung di langit. Semua masih oke.


“Good job, Rei. Thanks ....” Anton mengacungkan jempol.


Ia membalas dengan menerbitkan senyuman.


Lalu ia kembali ke kafe Dedaunan. Membereskan perlengkapannya. Berganti pakaian.


Ia melihat Gita yang duduk sendirian. Usai bertugas menjadi MUA, ia pikir Gita akan langsung cabut. Tapi ternyata perkiraannya salah.


“Masih di sini aja. Kirain udah ngacir?” Ia menghempaskan pantatnya di kursi seberang Gita.


Dari sini ia masih bisa melihat hamparan permadani hijau, kolam Astrid dengan bunga teratai. Bunga tasbih yang bermekaran berwarna merah dan kuning. Semua menyejukkan mata.


“Nungguin, lo!” Seru Gita.


“Biasanya juga ngabur,” cibirnya. Ia melihat sekilas raut wajah Gita. Sepertinya Gita sedang ada masalah.


Gita menyeruput fruit punch-nya. Lalu berucap,


“Gue jenguk Aldi kemarin ....”


Ia menunggu kelanjutan Gita.


“Nitip salam ke elo.”


Ia mengangkat sudut bibirnya ke atas. Meski samar.


“Mungkin 2 bulan lagi bisa keluar dari panti.”


Gita tampak menghela napas.


“Are you okay, Git?” Tanyanya.


Raut muka Gita seketika berubah. Tidak seperti biasanya.


“Gue ... juga sempat balik ke rumah.”


“Emak gue marah sama gue.” Gita menunduk.


“Adik gue ngikutin jejak gue.” Gita tampak menyusut sudut matanya. Masih dengan menunduk. “Gue salah ya kayak gini?”


Gita menggelengkan kepala, “Maksud gue,  kondisi gue kaya gini salah? Dosa gitu, ya? Padahal gue nyaman dengan kayak gini!” ungkap Gita.


Ia memajukan posisi duduknya lebih mendekat, “Mungkin emak lo, khawatir. Itu salah satu bukti bahwa emak lo sayang, Git.”


“Dulu waktu gue mutusin kayak gini. Emak marah. Tapi lambat laun bisa menerima meski terpaksa mungkin,” ucap Gita seperti gumaman.


“Tapi ... sejak adik gue mulai ngikutin jejak gue. Emak gak ngasih toleransi lagi. Katanya gue yang bikin adik gue kayak gitu.” Gita mengembuskan napasnya berat.


“Gue gak boleh nemuin mereka lagi. Adik gue mau dimasukin ke asrama laki-laki.”


Gita mendesah, “Lo tau gak, gue tuh nyaman kayak gini. Sumpah gue masih pisang tulen. Boleh dicek langsung. Gak mungkin pisang makan pisang! Jijik gue.”


Tanpa sadar ia terkekeh, “Ups sorry ....”


“Gue percaya lo, Git!”


“Atau, lo bisa buktikan itu sama emak lo.” Imbuhnya.


“Maksud lo?” sergah Gita.


“Ya biar pemikiran emak lo berubah. Kalo lo masih dalam jalan yang lurus. Meski belok dikit.”


Gita mencebik. “Yee ... gue suruh ngapain?”


“Nikah.”


“Hah!” Gita terkesiap, “lo, kalo ngasih usul yang bener, Rei?! Gak mungkin gue nikah. Pacar aja gak punya!” Sembur Gita lalu menghempaskan punggungnya ke belakang.


Pelayan datang mengantarkan minuman.


“Untuk Mbaknya dari Mas itu,” ujar pelayan tersebut sambil menunjuk laki-laki yang duduk di bawah tenda kafe berwarna merah.


Laki-laki itu melambaikan tangan padanya. Meski agak jauh tapi ia masih bisa melihatnya.


Ia mengernyit. Sepertinya ia mengenalnya tapi ia tak mau berspekulasi. Ia hanya menatap sekilas. Lalu mengalihkan pandangan ke Gita.


“Siapa?” Tanya Gita.


Ia mengangkat bahunya ke atas. Lalu menggeser minuman yang baru saja disajikan untuknya.


Tapi tanpa disadarinya laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya. Ia yang tertunduk mendongak ketika laki-laki itu memanggil,


“Kirei,”


**


Danang


“Ren.” Ia memanggil Rendra saat keluar dari mobil.


Tapi Rendra masih terpaku dengan pandangan di depannya. Yang menampilkan lalu lalang orang berjalan menyusuri selasar rumah sakit.

__ADS_1


“Ren!” Serunya. Panggilan pertama tak diindahkan. Kedua kali suaranya sudah mulai naik. Bahkan pandangannya mengikuti arah pandang bawahannya itu.


Ia menggulung kertas yang dibawanya, lalu menggetok kepala Rendra dengan kertas tersebut.


“Ii ... iya, Pak.” Sahut Rendra sembari menghadapnya.


“Giliran kalau lihat cewek kaca mata kuda dipakai!” Salaknya.


Mendadak Rendra salah tingkah.


Mereka akhirnya melangkah menyusuri selasar rumah sakit. Hingga tiba di sebuah kamar perawatan. Rendra mengetuk pintu. Setelah mendapat jawaban dari dalam. Rendra membukakan pintu untuknya. Barulah Rendra mengekor di belakangnya.


“Selamat Pak ....” Ucapnya pada Banuaji. Yang menyambut kedatangan mereka.


“Makasih, Komandan.” Sahut Banuaji.


Lalu mereka memberikan juga ucapan selamat pada Sisilia, istri Banuaji.


“Terima kasih, Pak.” Balas Sisilia.


“Semoga Pak Danang juga lekas menyusul,” sahut Banuaji .


“Ya, kan, Ren!”


Rendra mengulas senyum canggung. Rupanya ia masih penasaran dengan orang yang dilihatnya tadi di selasar.


“Ibu Kirei masih di Jakarta, Pak?” Tanya Banuaji.


Ia mengangguk.


Mereka duduk di sofa.


“Jadi ini anak ketiga cowok. Masih ada harapan untuk launching yang cewek,” tukasnya.


Banuaji terkekeh, “Cukup, Pak. Pabrik sudah di steril.”


Ia berdecih, “Steril masih bisa dioperasikan kembali. Yang penting masih bisa memproses.”


“Hahah ... kualitas menurun pabrik perlu turun mesin.”


“Apa perlu pabrik baru?”


“Wah gawat izinnya rumit dan yakin gak lolos.”


“Betul gak Ren?!” Tandas Banuaji tergelak setelahnya.


Rendra meringis. Menjadi pendengar percakapan 2 orang yang absurd mengarah entah ke mana. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati.


Lalu seorang perawat dan dokter masuk ke dalam ruang perawatan.


“Permisi,”


“Kunjungan dokter, ya, Bu.” Kata perawat itu.


“Pie ono keluhan? (gimana ada keluhan?)” Tanya dokter itu.


“Gak, Mas.” Jawab Sisilia.


Lalu perawat menutup tirai. Tapi ia dan Rendra masih bisa mendengar percakapan mereka.


“Tante, nanti si baby dibawa ke sini kalo udah dimandiin.” Ucap dokter wanita.


“Kalo hari ini stabil, sesuk wes isoh balik (besok sudah bisa pulang).” Timpal dokter kandungan yang menangani Sisilia. Memeriksa bekas jahitan operasi caesar.


“Wes mantep tutup pabrik, po?”


Banuaji menyahut, “Wes telu, Mas. Sitok gak oleh tunjangan (sudah tiga, Mas. Satu lagi gak dapat tunjangan).” Kekehnya.


“Tambah sitok meneh yo gak po-po. Ben rame (tambah satu lagi ya gak apa. Biar ramai).”


Banuaji berdecak, “Sampeyan iku lek ndang mantu. Ben cepet duwe putu. Yo kan, Nit? Lagian umurku wes warning iki. (Kamu yang harusnya cepat punya mantu. Biar cepat punya cucu. Ya, kan, Nit? Lagian umurku sudah warning ini).”


Dokter wanita itu tersipu lalu menyahut, “Om Banu jadi kompor mleduk.”


Banu terkekeh.


Tirai telah dibuka kembali. Dokter dan timnya melangkah meninggalkan bed Sisilia.


Matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Bertepatan dengan dokter wanita itu yang juga melihatnya.


“Pak Danang.” Sapa dokter wanita padanya.


Ia lekas berdiri, “Apa kabar?” mereka bersalaman.


“Baik. Pak Rendra di sini juga?” Tanya Anita ketika melihat Rendra juga di sana.


Rendra tersenyum kaku. Tapi dalam hati membuncah bahagia. Bagaimana bisa ia bertemu dengan wanita yang diincarnya. Tanpa terencana. Dan pastinya ia harus mengorek lebih dalam kedekatan atasannya pada Anita. Pun kedekatan Pak Banuaji. Bisa jadi kunci pikirnya.


Dokter kandungan yang menangani istri Banuaji ikut tertahan.


“Kenalkan ini Dokter Yoiku. Ayahnya Anita yang juga dokter gigi di sini. Kami semua kalo dirunut masih satu saudara. Kami satu kakek buyut.” Terang Banuaji memperkenalkan mereka.


Rendra telah melajukan mobil ketika sore menjemput senja.


“Aku bisa tebak isi kepalamu, Ren.” Tandasnya saat keheningan beberapa menit berlalu.


“Jadi?”


Rendra menoleh padanya.


“Sepertinya perjuanganmu berat.” Tukasnya.


Mematahkan semangat Rendra. William saja sampai detik ini belum bisa menaklukkan Anita. Padahal kalau ditimbang-timbang Willi memenuhi standar. Pun sosok player yang tak pernah tak gagal menggaet mangsa.


Ia menggeleng. Situasinya semakin menantang. Antara si Willi sahabatnya atau Rendra anak buahnya? Siapakah gerangan yang akan mendapatkan hati dokter gigi itu.

__ADS_1


Rendra mengernyit.


“Mas Danang kenal Anita?” Tanya Rendra penasaran.


Ia terkekeh, “Dia itu temannya istri Arik.”


“Dan aku gak nyangka, ayahnya Anita dokter yang memeriksa Kirei kemarin.” Setelah Banuaji menyebut nama dokter Yoiku.


Ia menghela napas. Merogoh ponsel dalam saku celana. Mengetikkan sesuatu.


Danang : Gimana tadi syuting, lancar?


Tanpa menunggu lama langsung mendapat balasan.


My wife : Lancar. Mas Danang lagi apa? Di mana?


Danang : Habis jenguk istri Pak Banuaji. Sudah melahirkan.


My wife : Oya? Sampaikan salam buat Ibu Sisilia, ya, Mas. Cewek atau cowok anaknya?


Danang : Cowok lagi.


Lama tak ada chat dari Kirei. Padahal ia menunggu chat kelanjutan.


Ia merebahkan punggungnya ke belakang. Dengan ponsel masih di genggaman.


Ting.


My wife : Maaf Mas. Aku lagi check in kamar. Bareng Gita sama kru lainnya. Besok pagi roadshow di sini.


Danang : Hati-hati.


My wife : Mas Danang juga. Jaga kesehatan.


My wife : Love you.


**


Rendra


Mobilnya telah terparkir sempurna di depan kantor. Atasannya telah pergi menuju ruangannya. Tapi ia masih berdiri menyandar mobil. Mengingat beberapa saat lalu.


Pertemuan yang tak sengaja dan tanpa perencanaan semakin membulatkan tekadnya untuk terus mendekati dokter gigi itu.


Walau ... menurut atasannya. Ia harus berjuang keras untuk mendapatkan Anita.


Siapa takut!


Bibirnya melengkung ke atas. Mengingat percakapan singkat tapi meninggalkan bekas dalam untuknya.


“Pak Rendra di sini juga?”


Ia tersenyum kaku. Sebab hatinya membuncah bahagia. Namun ia bingung harus mulai dari mana.


“Gimana giginya? Udah sembuh?” Tanya Anita kemudian.


“Sudah. Tapi masih bisakah ketemu?”


“Eh ... maksud saya, kalo kambuh masih bisa kontrol?” Ia grogi.


“Tentu. Pak Rendra bisa kontrol kapan saja. Saya tunggu.” Jawaban yang membuat jantungnya tiba-tiba berdegup tak menentu.


Dan tangannya mendadak berkeringat dingin ketika tangan Anita terulur, “Saya duluan ya, Pak. Permisi.”


Ia menyambut tangan Anita lama. Sampai Pak Danang berdehem untuk menyadarkannya.


Oh my god.


"Ren ... dipanggil Komandan!" Sontak kesadarannya kembali pulang.


-


-


Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2