Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
100. Pemuja Rahasia?


__ADS_3

...100. Pemuja Rahasia?...


Kirei


Pukul 8 pagi, ia langsung memimpin meeting harian bersama penanggung jawab beberapa program di news. Ini wajib.


Namanya editorial meeting. Bertujuan untuk memberitahu tim liputan mengenai peristiwa atau acara apa saja yang perlu diliput pada hari itu. Dan tentunya siapa saja yang akan meliputnya. Tapi semua berkembang sesuai situasi dan kondisi. Tidak kaku. Bisa berubah kapan saja.


Sekitar 45 menit. Waktu yang ia sediakan untuk editorial meeting. Bahkan bisa kurang. Sebab mereka harus bergerak cepat mengejar berita yang tak mengenal waktu.


Selesai.


Ia keluar ruangan meeting jurnalis. Lalu menuju ruangannya yang masih satu lantai.


Dalam 2 hari ini banyak berita yang masuk. Untuk area 1 provinsi di bawah kendali TVS saja sampai puluhan bahkan hampir mencapai 40. Belum disisipi berita nasional. Selingan Internasional. Itu juga sudah dipilah pilih yang memenuhi syarat masuk kategori layak tayang seperti aktualitas, proximity, prominence, consequence, konflik, disaster dan crime, unusual dan terakhir human interest.


Jadi ia tidak bisa membayangkan seandainya harus menangani berita di 34 provinsi. Ditambah kilasan internasional. Mungkin ... ya, kepalanya bisa mendidih. Mengepulkan asap. Lalu ia bergidik sendiri.


Sebab tidak bisa serta merta dengan kendala keterbatasan seperti SDM dan durasi yang terbatas berita sebanyak itu akan tayang dalam suatu waktu. Buktinya TV nasional kita yang punya konsep memusatkan pada warta berita saja masih kurang dengan mengudara 24 jam. Jadi ....


Paling tidak ia harus mengelompokkan lagi menjadi berita yang benar-benar layak. Sisanya ia serahkan pada news portal online TVS.


Sebelum ia bawa ke rapat redaksi sebentar lagi. Alangkah baiknya ia menyortir dahulu pikirnya.


Tangan kanannya mulai menulis rank top news. Tangan kirinya menyibak beberapa laporan liputan.


“Kasus korupsi mantan anggota DPRD,” gumamnya.


“Reklamasi,” ia menipiskan bibirnya.


“Banjir rob,” hem ... tak berkesudahan batinnya. Yang meliput saja sudah bosan cibirnya dalam hati.


“Demo UMK,”


“Narkoba di lapas,”


“Curanmor? Hem ... banyak banget. Solo, Semarang Kota dan Kabupaten, Kudus, Demak, Purwodadi, Grobogan, Magelang, Klaten ... ah gila ini mah semua Kabupaten ada.” Ia geleng-geleng kepala. Kasus kriminalitas curanmor mendominasi di setiap daerah.


Mulutnya terus menyebutkan satu persatu laporan liputan. Seraya kedua tangan yang terus bergerak aktif.


Tunggu.


Disaster atau bencana alam dan crime adalah masuk kategori cepat sehingga ia bisa masukkan dalam berita breaking news.


Ya ampun! Kenapa ia sedikit melupakan hal itu.


Ia meninggalkan ruangannya, berjalan cepat ke kubikel Anisa. Dengan membawa beberapa file holder yang telah disortir.


“Nis, koreksi lagi berita buat breaking news!” Serunya sambil menyerahkan map snelhecter laporan liputan breaking news ke meja Anisa. “Cari yang bener-bener aktual dan to date.” Imbuhnya.


Anisa menyahut, “Oke.”


Lalu menuju kubikel Oka.


“Ka, lo belum berangkat juga. Satu jam lagi sidang kasus korupsi mantan anggota DPRD di Pengadilan Tipikor, lho!” Bawelnya. “Buruan, Ka. Go! Go! Go!” Serunya menyemangati.


Oka, pun bergegas bergi.


Semua seolah bergerak cepat. Berpacu dengan waktu. Lalu ia menghubungi seseorang lewat ponselnya.


“Mas, udah di mana?” kakinya melangkah melewati beberapa kubikel yang kosong. Kemungkinan penghuninya sedang liputan di lapangan.


“Jadinya sama siapa?” Ia menutup pintu ruangannya dengan salah satu kakinya. Tangan kanan memegang ponsel yang menempel di pipi kanan. Sementara tangan satunya membawa file holder. Yang lumayan banyak.


“Jam 11 Pak Gubernur mau konferensi pers. Di ....” Ia menyebutkan tempat terselenggaranya konferensi pers yang di selenggarakan oleh pemerintah provinsi dalam pengambilan kebijakan penetapan UMK.


“Ke sana dulu. Nanti baru ke depan kantor Gubernur lagi.”


“Awas siap-siap chaos. Hati-hati, Mas.” Pesannya pada Budi yang tengah meliput demo di depan kantor Gubernur.


Menyimpan file holder di atas meja. Kemudian mengenyakkan tubuh ke kursi. Baru menghela napas, telepon line kantor berdering. Sambil bertopang dagu memejamkan mata ia menyahut,


“Ya,”


“Rei, ke ruanganku dulu.” Ucap Pak Rahmat.


Ia langsung bangkit menuju lantai 5. Menunggu sebentar di depan lift. Dan saat pintu terbuka, tampak Gladis kepayahan membawa sebuah hand bouquet gardenia berukuran besar dan sebuah paper bag. Belum paket yang lain. Wangi semerbak langsung menyergap indra penciumannya.


Ia menyapa Gladis dengan senyuman. Hendak masuk ke dalam lift namun,


“Mbak Rei,” cegah Gladis.


Ia menahan pintu lift yang hampir menutup dengan tangannya.


“Ini untuk Mbak Rei,” imbuh Gladis. Mengulurkan hand bouquet.


Ia mengerutkan kening.


“Gimana ini ... mau ditaro di mana?”


Tak bisa berpikir lama. “Taro aja di dalam ruanganku, Dis. Thanks, yaa ....” Pamitnya bersamaan ia melepas tangan dan pintu lift tertutup.


Tiba di depan ruangan Pak Rahmat. Ia mengetuk pintu ruangan produser eksekutif itu. Terdengar suara ‘masuk’ dari dalam.


“Duduk, Rei.” Titah Pak Rahmat ketika ia menyembul dari balik pintu.


Ia memilih duduk di sofa. Sementara Pak Rahmat berjalan menghampirinya dengan membawa map berwarna kuning. Meletakkannya di atas meja.


Pak Rahmat masih belum mau bicara. Tapi desahan berat Pak Rahmat saat duduk di seberangnya sudah menandakan ada sesuatu yang ... kurang beres.


“Reklamasi di pesisir utara Jawa, sepertinya kasusnya agak berat.”


“Pengembang bukan pengusaha kelas teri. Sudah puluhan tahun berkecimpung. Bukan hanya satu, dua proyek yang ditanganinya. Tapi hampir menguasai dari barat ke timur. Mereka yang handle.”


Ia menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Pak Rahmat.

__ADS_1


“Sepertinya mereka kurang ... ‘you know’ ... dengan pemberitaan kita kemarin tentang profil mereka,”


Pak Rahmat menyenderkan punggungnya.


“Kamu yakin melanjutkan reportase investigatif ini?”


***


“Terima kasih semua atas kerja samanya, meeting hari ini ditutup. Sampai ketemu minggu depan. Tapi tidak menutup kemungkinan rapat redaksi bisa dilaksanakan sesuai kebutuhan.” Pungkas Direktur Pemberitaan dalam rapat redaksi.


Semua peserta meeting membubarkan diri. Termasuk dirinya. Setelah membereskan semua berkas. Memasukkan kembali ke dalam file holder. Ia pun bangkit dari duduknya.


“Gimana, Rei?” Tanya Pak Rahmat yang menjajari langkahnya keluar ruangan meeting redaksi di lantai 5.


“Mas Budi akan tetap melanjutkan reportase investigatif ini.” Putusnya. Meski sosok Budi tidak ada di tempat. Ia berhak menunjuk siapa saja yang akan meliput peristiwa.


Keterdiaman menjeda.


Suara kepak sepatu beradu dengan lantai granit menggema.


Mereka berhenti tepat di depan ruangan produser eksekutif, “Oke. Kalo itu sudah jadi tekad kamu. Tapi kita tetap harus hati-hati.” Pungkas Pak Rahmat sebelum masuk ke ruangannya.


Ia menghela napas panjang.


Huft.


Menyandarkan punggungnya ke belakang sedikit kasar. Setelah rapat redaksi yang selalu diadakan setiap minggu berakhir, ia kembali ke ruangannya.


Bertepatan dengan pintunya yang terbuka.


“Ngopi, Rei?” Anisa membawa 2 mug coffee latte yang masih panas. Yang disimpan di atas meja kerjanya.


Anisa mendekati buket bunga yang disimpan Gladis di atas kabinet besi di pojok ruangan.


“Widih, wangi banget. Dari siapa nih?” Anisa menelisik, mencari-cari siapa nama pengirimnya.


Ia yang baru sadar, menatap Anisa dengan pergerakannya. Lalu mengangkat bahunya cuek.


“Wah ... secret admirer, lo?”


“Hah?!” Ia terperanjat, “gak mungkin!” tolaknya mentah-mentah. Selama ini penggemarnya memang lumayan. Ada yang mengirimi bunga, makanan dan yang lainnya. Tapi selalu jelas pengirimnya.


“Gak ada nama pengirim, cuma ....”


Ia lekas berdiri dan menghampiri Anisa.


“Cuma apa?” Ikut menelisik buket bunga tersebut. Nihil. Tidak ada nama pengirim dan pesan. Lalu ...


“Coba di paper bag ini,” tangannya menyambar paper bag lalu membawanya duduk di sofa. Ia pikir paper bag yang sama percis dibawa Gladis tadi untuknya. Sebab Gladis menaruh 2 benda itu di ruangannya.


“Tunggu!” Seru Anisa. “Lo, yakin ini bukan bom atau semacamnya?”


Refleks ia melempar paper bag di atas meja dengan kasar, sampai berbunyi.


“Lo, jangan ngebadut deh.” Sungutnya kesal.


“Issh ... antisipasi, siapa tau. Sekarang banyak pemuja rahasia dengan cara meneror seperti ini.”


Jeda sesaat.


Benar juga pikirnya.


Ia menuju meja kerjanya, menekan angka di telepon kantor.


“Halo, Selamat Siang. Kantor TVS di sini. Saya Gladis siap membantu Anda.”


“Dis,”


“Hah,”


“Siapa yang ngirim buket bunga dan paper bag tadi pagi?” Tanyanya.


“Mbak, Rei?”


“Tadi lewat jasa kurir.”


“Kamu gak nanya dari siapa gitu? Alamatnya di mana?”


“Eem ... biasa, kan gitu, Mbak. Kalo ada paket untuk Mbak Rei, langsung aku antar ke ruangan.” Sahut Gladis jujur. Dan memang benar, selama ini jika ada paket untuknya selalu di simpan di ruangannya. Tapi, selama itu pula selalu ada nama pengirimnya dan alamatnya. Tidak ... seperti ini. Tanpa nama dan terkesan semacam meneror. Suruh main tebak-tebak buah manggis. Atau main TTS, ah kalau itu gampang. Decaknya dalam hati.


Ia mendengus.


“Lain kali kalo tidak ada nama pengirim dan alamat jelas, jangan diterima.” Pesannya dan langsung menutup telepon.


“And then ... ini mau diapain?” Tanya Anisa ketika mata mereka bertemu pandang.


Ia tak menjawab. Masih terpaku berdiri di samping meja kerjanya.


“Aku panggilin security aja, ya?” usulnya kemudian. Sigap mengangkat gagang telepon.


“Tunggu dulu. Kayaknya bukan barang berbahaya.” Ia menyimpan ganggang telepon kembali.


“Ko, lo jadi plin plan, sih!”


“Feeling gue mengatakan gitu.”


Ia berdecak sebal.


Anisa sudah meraih paper bag tersebut. Lalu dengan hati-hati mengeluarkan isinya.


Keduanya langsung tercenung.


Saling melempar pandang.


Menatap bungkusan yang jelas memperlihatkan kontak bergambar sebuah kamera dengan merek terkenal.

__ADS_1


“Gila. Gila. Edan ....” Anisa terkesiap, menyerapahi, “inimah, gue juga mau.” Sambungnya.


Ia langsung menggelengkan kepala. Menipiskan bibirnya.


Sebuah kamera yang mirip incarannya. Tapi versi ini lebih tinggi dan keluaran terbaru. Kemungkinan harganya di atas 70 juta. Atau bisa jadi berkisar 80 jutaan. Sebab kamera yang dulu sempat menggoyahkan imannya di sanding dengan harga di atas 60 juta.


Ia menelan ludahnya kasar. Pikirannya larut menebak-nebak. Kakinya perlahan mendekat Anisa dan duduk di sana.


“Siapa sih nih yang kirim?” Anisa sibuk membolak balikkan kotak dan mencari pesan yang terselip mungkin. Bahkan sampai mengguncang, menerawang, menunggingkan paper bag dan ....


Sebuah kartu ucapan kecil dan tipis berwarna merah muda melayang-layang seringan kapas. Meliuk-liuk lalu jatuh tepat di atas sneakers-nya dan posisinya pas. Sehingga mereka bisa membaca dengan jelas tulisan yang tertera di sana.


‘Semoga bermanfaat’


Itu saja.


***


“Mas Danang lagi apa?” Tanyanya melalui sambungan telepon.


“Baru saja keluar dari auditorium. Pelatihan sampe malam soalnya.”


Ia melihat jam dinding yang tergantung ditembok. Pukul 9 malam.


Tadi pagi sebelum memulai aktivitas mereka saling bertukar kabar. Siang hanya menyapa lewat pesan singkat. Dan malam ini kembali  menelepon.


Ia merebahkan tubuhnya. Miring ke kanan. Mengusap-usap bantal sebelahnya yang kosong.


“Hei ... kok diem?” Tanya Danang.


“Lagi ngapain?”


“Kangen.” Ujarnya.


Terdengar kekehan dari sana.


“Baru sehari.”


“Rasanya udah sepekan,”


“Mulai gombal.” Masih terdengar kekehan.


“Kalo gak percaya pake video call.” Ia sedikit meradang. Pasalnya dianggap guyonan.


“Sorry ... besok pagi ya? Abis ini mau ketemuan sama teman-teman seangkatan. Biasa sekalian reuni kecil-kecilan.”


“Ada ceweknya?” pertanyaan sekaligus todongan.


“Ada,”


Keheningan menjeda.


Embusan napas keduanya terdengar.


Kemudian Danang terbahak, “Udah nikah. Malah udah punya anak.” Imbuh laki-laki itu.


Ia mendesis, “Gak lucu!”


Dan sambungan telepon itu terputus setelah saling mengatakan “Good night. Miss you ....”


Jujur, hati dan pikirannya belum tenang. Mengenai paket yang tadi pagi dikirimkan seseorang.


Mungkinkah Mas Danang? Ah, kemungkinan kecil bukan. Buat apa main rahasia-rahasian segala batinnya.


Ia mengirimkan pesan pada Budi.


Kirei : Mas, jam berapa besok ke tempat target.


Kirei : Aku ikut.


Pesan terkirim.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2