
...43. Wow ... One Billion!...
Kirei
Ia akhirnya memutuskan untuk menemui tibaapu di sebuah hotel tempatnya menginap. Bersama Ken dan mas Danang.
“Aku gak bisa terima ini, Nda.” Ucapnya setelah selesai membaca semua berkas surat kuasa tersebut beberapa saat lalu.
“Setelah sekian lama ... kenapa tibaapu datang?” Ia masih tak habis pikir.
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi ... kalo dikasih warisan siapa yang gak mau?!” Kekeh Ken berkelakar di saat timing yang tidak tepat.
Sontak mendapat tatapan tajamnya, “kalo gitu, Kak Ken saja yang terima pelimpahan aset. Tuh ... sekalian jadi komisaris. Aku gak mau” tandasnya menggerutu.
“Gila! Kamu pikir Kakak matre! Bagaimana dengan keluarga baapu lainnya? Bisa-bisa mereka tidak setuju dengan hal ini” sergah Ken. Kakaknya itu menegakkan punggungnya.
“Menurut Mas Danang gimana?” tanyanya pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Yang dari tadi hanya menjadi pendengar saja.
Mas Danang mengusap punggungnya, “kalo kamu gak yakin dan merasa gak nyaman ... lebih baik bicarakan dulu dengan tibaapu. Mungkin dengan berbicara langsung, bisa tahu alasan dibalik semua ini”
“Ya ... aku setuju” Ken menimpali. “Bagaimana, Bunda?” tanya Ken menoleh pada bunda.
“Sebenarnya selama ini, Baapu peduli dengan kalian,”
Ia dan Ken mengernyit.
Peduli?
Bunda bangkit dari duduknya, lalu pergi. Tak lama kembali dengan membawa sebuah buku tabungan berwarna biru tua. Menyodorkan pada Ken.
“Wow ....!” sergah Ken dengan mata mendelik.
“One billion!”
“Itu pemberian tibaapu, sebelum pulang ke Gorontalo. Setelah ayah meninggal. Untuk keperluan kalian ....”
“Tapi ... Bunda tak pernah memakainya sepeser pun” tandas Bunda.
Mobil telah berhenti di depan lobi hotel.
Mereka bertiga berjalan beriringan.
“Sayang, sebaiknya aku tunggu di sini saja” langkah mas Danang terhenti.
“Tapi, Mas ....”
Diraihnya tangannya, kemudian diusap perlahan.
“Bicarakan baik-baik. All the best to you (doaku untukmu)” seraya mengulas senyum untuknya.
Ia mengangguk. Kemudian berlalu bersama Ken.
Sementara Danang menunggu di lobi.
“Aku lupa wajah baapu, Kak” katanya saat mereka memasuki resto hotel. Mereka janji temu di sana.
“Pastilah ... kamu waktu itu masih 10 tahun. Aku aja lupa-lupa ingat”
“Dengan Mas Kenichi dan Mbak Kirei?” tiba-tiba seseorang berpakaian formal menghampirinya.
“Perkenalkan saya, Dambea. Saya disuruh pak Idrus menemui kalian. Sebentar lagi beliau turun” ucap seseorang itu yang mengaku bernama Dambea.
Pria paruh baya itu mengajak mereka ke ruangan VIP. Mempersilakan duduk.
Lalu menawarinya buku menu, “silakan pesan ....”
Ia dan Ken saling pandang, akhirnya memutuskan untuk memesan minuman saja.
Tak berapa lama, seorang pria dengan rambut hampir keseluruhan berwarna putih itu datang. Melempar senyum pada mereka.
“Baapu ....” sapa Ken berdiri lalu mencium punggung tangannya.
Ia yang tak begitu ingat wajah kakek pun ikut menyambut dan mencium punggung tangannya.
“Bagaimana kabar kalian?” tanya baapu setelah duduk di seberang kursinya.
“Kami baik,” sahut Ken.
“Kalian sudah besar. Baapu sampai pangling. Bagaimana kerjaan kalian?”
__ADS_1
“Baik, Baapu ....” Ken yang terus menyahut.
“Bagaimana ... apa kalian tidak mau kerja dengan Baapu? Baapu sudah tua. Sama siapa lagi kalau tidak berharap dengan kalian”
Ia dan Ken terdiam.
“Kamu, Kirei, kan? Kamu seperti ayahmu” tukas baapu mengulas senyum padanya.
Tapi justru ia membalas dengan senyum terpaksa. Entahlah....
“Maaf ... Baapu. Kami merasa gak pantas dan gak cakap menerima semua ini ....” ia menyodorkan amplop cokelat itu pada baapu.
Baapu terlihat kecewa, “kamu cucu perempuan satu-satunya di keluarga Kamaru. Kamu pantas mendapatkan ini” tekannya.
Gadis itu menggeleng, “maaf ....” tandasnya teguh pendirian.
“Oke ....!” Baapu menghela napas berat, “kalau itu mau kalian. Meski sebenarnya Baapu kecewa dengan keputusan kalian. Tapi—”
“Kami gak ingin memecah belah lagi keluarga Kamaru. Kami sudah bahagia dengan keadaan kami sekarang” tutur Ken dengan nada bicara tenang dan merendah. Berharap tidak menyinggung baapu. Bagaimanapun sosok di depannya adalah orang tua sekaligus kakeknya. Meski nyatanya gurat kecewa, sedih termaktub di wajah baapu.
“Ini sudah sesuai dengan apa yang telah diputuskan. Dan keputusan Baapu bulat. Kalian tetap mendapat aset saham itu. Meski kamu tidak mau menjadi komisaris di Kamaru Nusa Sentana.” Keputusan baapu tak dapat lagi diganggu gugat. Meski penerima kuasa tetap teguh menolak.
Pertemuan yang seyogianya mengharu biru sebab keluarga yang lama terpisah tak bertemu. Justru berbanding terbalik. Gadis itu sepertinya membangun tembok tersendiri. Meski ia menerima baapu. Tapi tidak dengan pelimpahan aset. Yang menurutnya aneh dan terkesan ada yang ditutupi.
**
Menjelang malam, ia dan mas Danang pamit pulang ke Semarang. Ia begitu lelah hingga tertidur sepanjang perjalanan.
“Sayang, sudah sampai ....” laki-laki itu membangunkannya. Mengusap-usap pipinya.
Ia melenguh.
“Maaf, Mas ... aku ketiduran” ucapnya ketika membuka mata.
“Mau aku gendong?” laki-laki itu melepas seat belt-nya. Turun dari mobil lalu memutari mobil menuju pintu penumpang. Membukakan pintu untuknya.
“Gak usah, Mas. Rei masih ada tenaga buat jalan ....” ujarnya saat mas Danang ingin menggendongnya.
“Okay ....”
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju unitnya. Bahkan Danang sesekali merengkuhnya mencium puncak kepalanya.
“Sure ... I’m going out with you (tentu ... aku jalan sama kamu)”
“Bukan jalan, tapi Mas Danang nemeni aku”
“Sama saja”
“Beda lah ... kalo jalan kita pergi ke mana gitu berdua. Romantis,” sergahnya.
“Up to you, tapi I really appriciate your presence in my life .... (terserah, tapi aku sangat menghargai kehadiranmu di hidupku ....)”
Seketika ia merasa tersipu. Wajahnya bersemu merah. Antara bahagia, begitu berharga untuk laki-laki di sampingnya ini. Dan tentunya malu. Bagaimana tidak malu sepanjang menyusuri lobi hingga sampai unitnya semua mata seolah memandang mereka.
Tiba di unit, mereka segera membersihkan diri. Ia terlihat duduk di kursi meja makan setelah mandi. Mengenakan piyama tidur berwarna merah kesukaannya. Menyesap teh madu hangat yang baru saja dibuatnya.
Ponselnya beberapa kali berdering tanda notifikasi pesan masuk.
Anisa : Besok, Lo kasih penjelasan akurat. Tentang Korlip kita.
Kirei : Korlip kita kenapa, Nis?
Anisa : Gila parah! Kemarin abis acara mabuk berat. Dan ... manggil-manggil, lo!
Kirei : Hah?!
Anisa : Catch you latter!
Ia terdiam sejenak. Tidak menyangka akan begitu besar efek dari menyembunyikan pernikahannya. Padahal ....
Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di lehernya. Tangan kokoh dengan aroma sabun citrus menguar menyergap indra penciumannya. Lalu sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya.
“Mas Danang mau teh madu?” tawarnya. Dengan mengusap lembut tangan yang masih bergelung di lehernya itu.
“Boleh ....”
Laki-laki itu berjalan menuju sofa. Menyalakan televisi. Sementara ia menyedu teh panas ke dalam gelas mug. Menambahkan madu dua sendok teh. Mengaduknya agar larut.
Danang menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, “ini ....” ucapnya seraya menyodorkan teh madu padanya. Lalu duduk di sebelah laki-laki itu.
__ADS_1
“Makasih,” balas mas Danang.
“Menurut Mas Danang keputusanku tepat, gak?” tanyanya seraya menyenderkan punggungnya ke belakang.
“Kalau itu buat kamu nyaman dan yakin. Pasti itu yang terbaik” laki-laki itu menyesap teh madu. Lalu menyimpannya di atas meja.
“Tapi baapu terlihat kecewa,” lirihnya.
“Padahal bukan maksud untuk mengecewakannya. Ayah dulu meninggalkan baapu beserta seluruh fasilitas yang diberikan demi memilih bunda.”
“Ya ... meski dulu bisnis baapu gak sebesar sekarang”
“Rei, merasa gak pantas. Gak nyaman ... dan pasti akan ada gejolak antara keluarga Kamaru.”
“Dua saudara ayah di Gorontalo pasti gak setuju dengan keputusan baapu. Lagi pula ayah sudah dicoret dari daftar warisan ....”
“Kenapa tiba-tiba ....” wajahnya berubah sendu.
Sejak ia lahir yang ia tahu dari cerita sang ayah. Bahwa keluarga di Gorontalo baik. Baapu, neene, pouwama dan pouwula di sana semuanya sayang. Tapi anehnya mereka tidak pernah kontak dan tidak pernah bertemu.
Hingga saat umurnya 9 tahun. Atau tepatnya setahun sebelum kepergian ayah. Keluarganya datang ke Gorontalo. Mereka di sambut baapu dan neene suka cita. Tapi tidak dengan pouwama dan pouwula.
Hingga pada saat ayah meninggal keluarga yang datang dari Gorontalo hanya baapu dan neene. Jelas ada ke-tidak sukaan masih tercipta antar keluarga Kamaru.
Tapi ia, Ken dan bunda tak pernah mempermasalahkan itu. Semakin besar semakin dewasa ia tahu. Bahwa pernikahan ayah dan bundanya dulu tak mendapat restu dari keluarga Kamaru terutama baapu.
Pun sampai sekarang. Hanya baapu dan neene yang sudah bisa menerima mereka. Dan tiba-tiba saja baapu datang kembali dengan membawa surat kuasa. Jelas ... pasti ada sesuatu.
Ia tidak mau menjadi pemecah keluarga itu lagi sebab aset. Cukup seperti ini. Ia, Ken dan bunda sudah bahagia. Ditambah laki-laki di sampingnya yang kini terus bersamanya mendampinginya.
Gadis itu melempar senyum. Saat mas Danang merangkul bahunya.
“Aku juga gak peduli dengan semua pelimpahan aset itu. Aku masih mampu memberi nafkah istriku ....”
“Yaa ... meski tak sebesar yang mereka tawarkan” tukas mas Danang dengan tawa kecil.
Gadis itu berdecak, “mulai deh ... aku gak pernah mempermasalahkan nafkah dari Mas Danang!” serunya.
“Yakin?” tantang mas Danang seraya tersenyum mencurigakan. Alisnya terangkat satu.
Ia mengangguk.
Tiba-tiba bibir laki-laki itu sudah menyergap kening, pipinya lalu mengecup bibirnya.
“Mas ak—”
Tak diberi kesempatan, mas Danang sudah menuruni leher jenjangnya. Menciumi tulang selangkanya. Membuatnya terhanyut dan, “mas ... aku ... get periods”
Laki-laki itu berhenti. Mengernyit. Menatapnya penuh tanya.
"Aku ... lagi datang bulan" terangnya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ....ya 🙏
__ADS_1