
...68. Pacu Adrenalin...
Kirei
Pagi ini ia menghadiri acara di TK Kemala Bhayangkara dalam rangka melepas murid-murid TK dan KB yang sudah lulus menjalani masa pendidikannya.
Mengenakan baju seragam PSH berwarna pink, rambutnya disanggul rapi. Ia dan Danang disambut penuh antusias oleh segenap panitia dan anak-anak. Ia menerima buket bunga saat kedatangannya tepat di ambang gerbang.
“Terima kasih,” ucapnya saat menerima buket bunga tersebut seraya mengusap lembut kepala anak perempuan yang memberinya tadi.
Lalu mereka diarak menuju tempat perhelatan acara dengan tarian jaran kepang oleh anak-anak.
Senyum terus mengembang dari bibirnya.
Berbagai pertunjukan dan atraksi disuguhkan di depan panggung. Semua menghibur dan menggemaskan. Anak-anak menunjukkan semangat dan kreativitas masing-masing.
Kini suaminya tengah berdiri di depan panggung. Memberikan sepatah dua patah kata untuk sambutan.
Begitu gagah dan berkarisma.
Lalu ia pun berdiri di panggung guna memberikan penghargaan kepada para tenaga pendidik.
Tiba saatnya ia dan Danang pamit setelah acara selesai. Menyalami satu persatu semua panitia.
“Sore ini kita berangkat ke griyo skyway.” Ujar laki-laki yang duduk di sebelahnya. Mobil bergerak pelan mininggalkan tempat acara.
“Kok acaranya ngedadak?” Tanyanya. Jujur ia belum bersiap.
“Tidak perlu bawa banyak barang, kita nginap dua malam,” mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah setelah Darmo membuka pagar besi. Terlihat 2 personil bersenjata lengkap juga berdiri tegap menyambut kedatangan mereka di pos penjagaan.
Ia tersenyum tipis.
Semua dalam penjagaan dan pengawasan ketat. Apalagi setelah peristiwa teror yang dilayangkan pada aparat penegak hukum akhir-akhir ini.
Begitu tiba di ruang tengah ia melepas sepatu dengan hak lumayan tinggi itu. Lalu berjalan ke dapur tanpa alas kaki. Membuat teh madu sepertinya mengurangi sedikit penat.
Tadi malam ia belum sempat membuka surel yang masuk. Pun ketiduran di meja kerja laki-laki itu. Gara-gara Ken mengajaknya mengobrol hingga satu jam lamanya.
Ia baru terbangun ketika sebuah telapak tangan menyentuh pipinya, terasa dingin.
“Mas Danang baru pulang?” Tanyanya dengan mulut menguap dan refleks menutup dengan punggung tangan. Ia mengerjapkan mata, mengenyahkan rasa kantuk yang masih mendera. Layar laptop sudah dalam keadaan gelap.
“Mau aku gendong ke kamar?” Tawar Danang yang sudah siap untuk merengkuhnya.
Tapi tergesa ia bangkit dari kursi. Dan ....
Jedug.
Lututnya terantuk dengan meja cukup keras. Ia sempat mengaduh lalu meringis mengusap-usap lututnya yang terasa nyeri.
Tanpa tawar menawar lagi, Danang membopongnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Ngeyel.” Seru laki-laki itu.
Esok paginya lututnya terlihat lebam. Ia sudah mengoleskan salep untuk mengurai rasa nyeri. Tapi pagi ini ada undangan di TK Kemala Bhayangkara. Terpaksa menggunakan sepatu berhak tinggi dan rok span yang semakin membuatnya berdenyut.
**
Danang
Mobil yang dikendarainya telah terparkir sempurna di depan vila utama griyo skyway.
Ia melepas sabuk pengaman tanpa mematikan mesin mobil. Lalu menatap Kirei yang tengah terlelap di kursi sebelahnya.
Pada hitungan ke sepuluh barulah ia mematikan mesin mobil. Turun dan melangkah memutari mobilnya. Membuka pintu penumpang dan menyelusupkan kedua tangannya pada kaki dan punggung istrinya.
Tapi, justru Kirei terbangun.
“Sudah sampai?”
“Mas Danang mau ngapain?” Sergahnya cepat.
“Aku bisa jalan sendiri.” Selaknya.
Ia tak menggubris penolakan dari Kirei. Meski dalam hati senang sebab tanpa disadari, Kirei mengalungkan tangan ke lehernya.
Tiba di teras ia mendudukkan Kirei di kursi.
“Tunggu sini,” pintanya. “Aku ambil tas di mobil,” imbuhnya.
Malam harinya mereka hanya mengobrol di sofa ruang tengah. Televisi layar datar bervolume kecil yang menyala hanya sebagai pemanis. Buktinya mereka tidak akan mengerti jika ditanya acara yang berlangsung sedang tayang apa?
“Sepertinya kita pernah ngalami kayak gini, Mas?” ucap Kirei ketika jemarinya mengoles salep pada lututnya.
Ia menutup salep tersebut setelah selesai. Lalu menyimpan di kotak obat.
“Waktu di ruangan Wadir Reskrimsus,” sahutnya. Ia kembali duduk di sebelah Kirei.
“How time flies.”
Ia mengusap kepala Kirei, “Waktu itu kamu sudah punya rasa-rasa sama aku belum?”
Kirei langsung mendengus, “Yang ada rasa gak nyaman dan takut.”
“Kok takut?”
“Baru pertama kali dekat dengan cowok dan Mas Danang yang nyentuh aku,”
Ia tersenyum, “Jadi sudah ada feelings.” Tembaknya. Sebuah kesimpulan yang terburu-buru.
__ADS_1
Kirei menggeleng, “Pede! Sampai kita menikah aja rasanya kiamat buatku.” Memang itu yang dirasakan. Menikah dengan laki-laki yang sama sekali di luar dugaannya. Tanpa cinta, tergesa-gesa dan terpaksa.
“Tapi setelah tahu aku kakak baik, gimana?” todongnya.
Kirei tersenyum, tangannya terulur, mengusap lembut rahangnya.
“Dulu sempat meminta agar dipertemukan dengan kakak baik. Tapi gak menyangk juga dipertemukan dengan cara seperti ini.”
Ia menangkup wajah istrinya, menatapnya lekat-lekat. “Di sini ....” Tangannya turun ke perut Kirei, “sudah ada belum?” mengusap-usap perut itu.
Tangan Kirei refleks ikut memegang tangannya, “Semoga ...,” lirih gadis itu.
“Kalau belum kita buat lagi,” bisiknya.
“Biar secepatnya jadi,”
“Kita ulangi ... malam pertama kita di sini.” Tukasnya yang langsung menyergap bibir Kirei.
Memang benar. Malam pertama dengan alasan ingin bertemu teman. Awalnya akibat kecemburuan.
“Will you be all mine? (maukah kamu menjadi milikku seutuhnya)”
“I’ve fallen for you ... since the park (aku telah jatuh hati padamu ... sejak di taman).”
Kalimat yang menyugesti Kirei mengangguk perlahan malam itu, menyerahkan seluruh hidupnya, hatinya, raganya hanya untuknya seorang.
Suara jangkrik dan burung malam sesekali terdengar saling sahut menyahut mengiringi malam yang semakin kian larut.
Tapi tidak dengan dirinya. Semakin larut semakin menantangnya untuk terus berpacu dalam keinginan. Bibir mereka masih saling berpagut. Sementara tangan kananya melepas kancing piyama tidur gadis itu.
Tangan kirinya meraba punggung, lalu menekan tengkuk leher Kirei. Gadis itu melenguh saat ia menciumi leher hingga tulang selangkanya.
Piyama tidur itu telah terlepas seluruhnya. Lalu dengan cepat kedua tangannya melepas pengait di balik punggung Kirei yang berwarna hitam. Ia meremas sumber makanan bagi anak-anaknya kelak, memijitnya lembut searah jarum jam.
Membuat Kirei menggigit bibir bawahnya lalu melengkungkan tubuhnya.
Ia menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Kirei yang masih mengatur napas.
Kemudian tersenyum. "Sudah bisa?" Tanyanya.
Tapi Kirei tak menjawab.
“Trying a new style,” ucapnya lagi dengan tersenyum miring.
Sementara gadis itu menatapnya tak mengerti.
Ia berdiri lalu membungkuk, kedua lututnya bertumpu pada sofa. Dengan tetap menciumi seluruh bagian tubuh gadis itu tak terkecuali. Menjejakkan hak patennya. Tangan kirinya melepas segitiga hitam berenda itu dengan cepat, tentu dengan pertimbangan matang agar tidak koyak.
Rambutnya diremas kuat saat ia berjongkok di antara kaki gadis itu yang terbuka lebar. Berlama-lama di bagian bawah sana. Sampai gadis itu menegang dan menggeram berulang kali. Sekarang gilirannya.
Dengan cepat ia mengubah posisi. Mengangkat tubuh Kirei agar duduk di pangkuannya. Tentu ini lebih memudahkan menyatukan mereka. Dan benar saja woman on top. Membuat sensasi berbeda. Pastinya ia ingin membuai istrinya untuk menikmati lebih lama. Mereguk bersama sebab gaya baru ternyata memacu adrenalinnya.
Yang awalnya dengan intensitas lambat dan stabil, lambat laun menjadi cepat dan tergesa-gesa. Sebab hasrat yang hampir meledak di udara. Hingga sofa itu bergerak maju mundur mengikuti gerak mereka. Beruntung tidak sampai berderit, sofa itu tetap kokoh dan nyaman. Boleh lah direkomendasikan pikirnya. Ia terkikik dalam hati.
Hingga ia melihat Kirei yang mulai kelelahan memegang kendali. Merebahkan gadis itu dengan terburu, tanpa melepaskan tautan dan ....
Tap.
Layar televisi seketika gelap.
Mereka mendongak secara bersamaan ke arah televisi layar datar itu.
“Mass ....” Cicit Kirei.
Ia menatap Kirei lalu berucap, “Dan tv pun malu melihat tingkah kita,” kekehnya.
Mereka akhirnya tergelak bersama.
Penyatuan dengan intermezo ternyata tak mengurangi sensasinya. Bahkan membuatnya semakin penasaran untuk mencoba gaya baru lagi. Huh.
Hingga akhirnya mereka harus berpindah ke kamar. Melanjutkan yang sempat tertunda. Sebelum hasrat kembali pulang.
**
Kirei
Pagi itu ia tersenyum-senyum bak orang yang sedang menang undian bank. Meski hanya mendapatkan payung. Bagaimana mereka harus pindah ke kamar akibat televisi yang padam dengan sendirinya.
Oh, bukan karena hal mistis.
Tapi, karena ... remote televisi yang tergencet punggungnya. Mungkin kebetulan tombol on/off yang tertekan. Oh my god. Batinnya memekik malu.
Ia menyeruput capuccino yang hampir dingin. Padahal baru saja diantar oleh pelayan ke kursi taman di depan vila. Udara dingin pegunungan mampu mendinginkan apa saja di sekitarnya.
Memakai sweater merah, nyatanya masih mampu menembusnya. Ia mengusap-usap telapak tangannya. Mengusir dingin yang begitu menusuk.
Sementara laki-laki itu masih bergelung dalam selimut. Setelah 2 babak tadi pagi mereka ulangi sekali lagi. Tanpa intermezo pastinya. Dan tentunya berdalih mencari kehangatan di tengah-tengah hawa dingin yang menggigit.
Ia menggelengkan kepalanya. Konyol.
Cahaya matahari mulai merangkak naik. Paling tidak ada kehangatan yang dihantarkannya. Ia berdiri ketika melihat wanita berparas ayu mendorong baby stroller menghampirinya.
Lalu melempar senyum.
“Mbak Kasih,” sapanya. “Apa kabarnya?”
“Hai ... kabar baik,” sambutnya ramah. Mereka berjabat tangan lalu bercipaka cipiki.
“Gimana kabarmu, Rei?”
__ADS_1
“By the way ... selamat ya atas pernikahan kalian. Sorry banget aku gak tahu. Kalau tahu pasti kami datang.” Imbuh Kasih.
“Ihhh ... lucuuuu banget sih,” ia menatap 2 bayi kembar yang tengah pulas tertidur di dalam stroller.
“Gak apa, Mbak. Lagian pernikahan kami gak ramai-ramai kok.” Sambungnya.
Mereka duduk berseberangan.
“Harusnya kami yang minta maaf, waktu lahiran si baby, malah kami yang gak datang jenguk. Jadi gak enak ....” Ia meringis, malu.
“Ngerti kok. Santai saja ....”
“Mas Danang mana?” Tanya Kasih.
“Masih di dalam, katanya mau maen paralayang sama Mas Arik, ya?”
“Katanya sih, gitu.”
“Aku tuh was-was. Hobi kok nyeremin gitu. Katanya memacu adrenalin lebih menantang. Takut kenapa-napa sih,”
Ia jadi teringat, peristiwa kelakuan mereka tadi malam. A new style katanya.
Lalu dengan cepat ia mengalihkan topik pembicaraan, “Eh, si baby siapa namanya, Mbak?” Ia ingin mencubitnya saking gemasnya.
“Embul ... gemesin!” Geramnya.
“Yang ini Aryandra,” Kasih menunjuk bayi yang menggunakan baju berwarna biru muda, “kalau yang ini Aryasetya,” menunjuk bayi yang mengenakan baju putih.
“Betul, gak mau ikut?” Tanya Danang padanya.
Ia menggeleng.
“Serem.” Tukasnya.
“Kan, sama aku. Tandem,” ujar laki-laki itu.
Mau tandem, mau sendiri. Ia tidak bisa membayangkan terbang tinggi melayang. Bisa-bisa jantungnya copot. Atau minimal kencing berdiri.
Ia menggeleng lagi.
“Mas Danang hati-hati, yaa ...," pesannya. Ia tidak mau terjadi hal buruk menimpa laki-laki itu.
Setelah semua perlengkapan lengkap dan safety, Danang mengusap kepalanya lalu mengecup puncak kepalanya.
"Tunggu aku," pesan Danang.
Laki-laki itu siap terbang sesuai arahan pelatih.
Dalam hati ia merapal doa untuk keselamatan suaminya. Sementara Rendra mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka dengan kameranya.
Danang telah terbang tinggi dan semakin menjauh. Hanya terlihat seperti titik kecil di langit yang berwarna cerah siang itu. Ia merasakan ponselnya yang bergetar, tersimpan di tas selempang yang dicangklongnya.
“Ya,” sahutnya.
Seketika keningnya berkerut.
-
-
Terima kasih yang berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏
__ADS_1