Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
114. My Sunshine


__ADS_3

...114. My Sunshine...


Kirei


Kelahiran Gentala dan Gry telah mengubah kehidupannya. Ia yang terbiasa sendiri, lalu menikah dan terbiasa berdua setelah sekian lama. Sekarang, benar-benar berubah 180 derajat. Kini mereka berempat. Dengan segala kericuhan dan kegabutan yang hampir setiap detik melanda.


Beruntungnya ia dikelilingi orang-orang yang sayang padanya. Mama-bunda yang sigap membantunya, merawatnya dan menawarkan segala keperluan untuk ibu pasca-melahirkan. Dari hal-hal kecil sampai hal besar. Semua tak luput dari perhatian mereka.


Danang juga memberikan perhatian lebih. Suaminya itu benar-benar siaga. Dua puluh empat jam. Bahkan laki-laki itu selalu berdalih,


“Waktuku gak banyak. Mumpung cuti. Dua puluh empat jam untuk kalian aja rasanya kurang. Kalo bisa malah aku meminta 30 jam dalam sehari.”


Hari pertama kelahiran twins G. Seolah merekalah poros berputarnya dunia. Di mana, baby Gentala dan Gry jadi pusat perhatian. Apalagi saat mereka dibawa ke kamarnya. Dan semua orang menolak lupa. Bahwa ia lah yang melahirkan mereka. You see, kan Tala-Gry! Bunda sudah kalah telak dengan pesonamu.


Lalu, Gry yang masih harus melakukan penanganan khusus. Belum bisa setiap waktu di sisinya. Ia terus berupaya mengejar ketertinggalan bobot tubuh Gry. Dengan cara memberikan sumber makanan ASI dan melakukan perawatan dengan metode kangguru. Yaitu meletakkan si baby di dadanya atau dada ayahnya tanpa pakaian. Metode ini dipercaya dapat menaikkan bobot tubuh si bayi.


Ia dan Danang selalu bergantian untuk itu.


Tepat di hari kedua setelah melahirkan. Ia bisa pulang, meski sedikit kecewa sebab Gry masih harus tinggal di RS. Tapi rela tidak rela. Mau tidak mau semua demi Gry. Demi putri mungilnya.


Tiba di rumah penyambutan mereka tak kalah meriahnya. Semua keluarga berkumpul. Keluarga dari Solo. Dari Surabaya dan Gorontalo. Bahkan sahabat dan rekan kerja datang silih berganti. Seperti ikut dalam perayaan suka  cita menyambut mereka—twins G.


Ia duduk di sofa kamar sambil mengASIhi Gentala. Meskipun sudah tertidur, tapi ketika ia menarik mulut bayi itu dari sumber makanannya. Seketika bayi menggemaskan itu terbangun. Dan pada akhirnya merengek.


“Tahu aja kamu!” geramnya gemas bukan main. Kalau sudah begini ia tidak akan bisa beranjak dan bergerak ke mana pun. Hanya bisa pasrah.


Pintu kamar terbuka, ia menoleh sejenak.


“Belum selesai?” tanya Danang mendekatinya. Lalu duduk di sebelahnya. Membelai lembut kepala Gentala.


“Dia gak rela aku ke mana-mana, Mas.”


“Sini biar aku gendong. Enak banget nih. Gak mau bagi-bagi. Padahal itu punya Ayah asalnya,” Danang tergelak. Hingga bayi yang tengah menikmati tidur itu sempat terbangun sebentar, lalu tak acuh mencecap sumber makanannya kembali.


Matanya membola seketika, “Mas ....” Cicitnya. Perlahan mengangsurkan Gentala pada ayahnya. Namun baru beberapa detik berpindah tangan, si bayi itu terbangun merengek.


Dengan sigap Danang membuai. Menepuk-nepuk lembut punggungnya.


“Jagoan Ayah ....”


“Ssshhh ... sshhh, ” dan mulai bersenandung pelan.


You are my sunshine


My only sunshine


You make me happy


When skies are grey


You’ll never know dear


How much I love you


Please don’t take my sunshine away


-My Sunshine-Johnny Cash-


Gentala terbuai dan akhirnya terlelap kembali.


Lega. Ia akhirnya bisa mandi dan menemui para tamu yang sudah sejak tadi berdatangan.


**


Danang


Jagoannya telah tertidur dalam buaiannya. Diletakkannya di atas ranjang perlahan. Lalu ia ikut berbaring di sisinya. Menatap Gentala lekat-lekat. Mukanya percis dirinya, hanya saja Gentala punya lesung pipi seperti Kirei. Mata dan hidung juga turunan istrinya. "Ganteng seperti Ayah hehehe ...."


Ia tersenyum memandangi bayi pulas itu. Replika mereka benar-benar nyata di depannya. Rasanya ia masih tak percaya.


Ia menghela napas. Sebenarnya tak tega melihat Kirei mulai kewalahan mengurus Gentala. Meskipun istrinya itu tak mengeluh padanya. Tapi, bayi yang baru berumur 3 hari itu sepertinya menuntut perhatian lebih dari orang tuanya, terutama dari Kirei.


Tidak bisa ditinggal barang sejenak pun. Dan maunya tak jauh-jauh dari sumber makanannya.


Ia pernah menawari Kirei untuk mencari  baby sitter yang akan membantunya mengurusi Gentala. Tapi justru mendapat penolakan.


“Rei, masih sanggup, Mas. Lagian cuma Gentala. Nanti aja kalo Rei mulai kewalahan. Atau Gry sudah bisa diajak pulang.” Tolaknya waktu itu di rumah sakit.


“Masih ada Yumah, Mbok Sumi yang bantu-bantu. Kalo seandainya Mas Danang sudah mulai masuk kerja.”


Bukan sekali saja ia menawarkan solusi itu. Sebab ia melihat Kirei seperti kelelahan. Waktunya benar-benar tersita hanya pada Gentala. Padahal Kirei juga masih dalam kondisi recovery pasca-melahirkan.


Lantas, bagaimana jika Gry sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang?


Jawabnya, “Lihat nanti!” Balas Kirei.


“Masih tidur, Mas?” Kirei keluar dari kamar mandi. Masih menggunakan handuk kimono.


“Seperti biasa ... nurut sama Ayahnya,” akunya jemawa. Sebab kenyataan yang tak terelakkan. Sejak dalam kandungan hingga lahir, twins G seperti punya bonding kuat dengannya.  Ia kemudian bangkit duduk di tepi ranjang.


Kirei terlihat mengambil gurita. Lalu jamu-jamuan yang ia sendiri tak tahu manfaat dan namanya di atas meja.


“Mau ke mana?” cegahnya melihat Kirei hendak masuk kembali ke kamar mandi.


“Mau pake ini,” Kirei menunjukkan gurita dan ramuan dalam mangkok itu padanya.


“Kenapa gak dipake di sini?”


“Mas, aku malu.”


Ia berdecak, “Sini!” Kemudian beranjak menarik tangan istrinya. “Kenapa harus malu? Apa yang harus ditutupi? Aku udah tahu semua.” Ia terkekeh.


“Mas, Rei, kan lagi nif—”


Tapi ia sudah melepas handuk kimono istrinya. Kirei hanya mengenakan dalaman atas dan bawah, “Gimana cara makenya?” Ia meraih gurita dari tangan istrinya.


Kirei terlihat kesal sekaligus wajahnya memerah. Tapi malah membuatnya semakin mengulum senyum. Istrinya masih saja tersipu malu.

__ADS_1


“Olesi ini dulu,” Kirei menyodorkan mangkok dari tanah liat yang berisi ramuan dan kuas. Bau khas ramuan langsung menguar. “Namanya tapel, kata mama untuk diolesi di perut.”


Danang berjongkok, perlahan melakukan apa yang dikatakannya.


“Kata mama biar perutnya kencang sekaligus bisa menghangatkan. Dan bisa ngilangin selulit, seperti ini ....” Kirei menunjuk bagian perutnya yang memang berbeda warna. Seperti bergaris-garis dan bergelombang.


Ia sudah selesai mengoleskan ramuan itu di seluruh perutnya.


“ Terus digimanain?”


“Guritanya dipasang di perut aku, Mas.”


“Repot banget!” Ia masih berjongkok harus mengikat satu persatu tali gurita dari atas ke bawah, “gak sesek pake ini?!” protesnya.


“Ini gurita, makenya ya kayak gini. Kalo korset tinggal dikaitin atau tempel.” Salak Kirei.


Memang baru ini ia membantu istrinya. Bahkan baru tahu, apa saja yang dipakai. Sebab belakangan kemarin bunda dan mama yang bergantian mengurus.


Dengan entengnya ia berucap, “Kok susah-susah? Tinggal ke dokter kecantikan. Semua teratasi.”


Kirei menggeleng, “Ini tradisi jaman old, Mas. Tapi bagus. Lagian mama ngasih wejangan kaya gini pasti bermanfaat.” Tandas Kirei tak terima.


“Tapi kalo bikin ribet dan cape ngapain dilakuin. Kan, ada yang praktis dan simpel.” Lagaknya seperti biasa. Ia masih keberatan. Pasalnya tak tega melihat istrinya dengan perut yang dililit-lilit seperti kesusahan untuk berjalan dan bernapas.


“Mas!” Istrinya itu bersungut-sungut.


Ia terkekeh, “Okay! Ready.” Ia kembali berdiri sejajar dengan Kirei. Mereka saling berhadapan.


“Apa lagi?”


Kirei menatapnya dengan mengukir senyum. Cantik. Semakin cantik.


“Makasih, Ayah ....” Spontan istrinya itu menghadiahi ciuman di pipinya.


Sudut bibirnya melengkung ke atas, “Bisa berat sebelah kalo cuma satu,” ia menunjuk pipi sebelahnya.


Istrinya itu menggeleng tapi tak urung juga mencium pipi yang ditunjuknya tadi. Ia memanfaatkan situasi. Mumpung Gentala terlelap. Sudah 3 hari perhatian mereka terfokus hanya pada twins G. Rasanya seperti 1 abad mereka tidak melakukan hal-hal seintim ini.


Ia merengkuh tubuh Kirei yang padat berisi. Meraup bibir yang menjadi candunya.


Tapi saat ia akan memperdalam ciuman, menekan tengkuk leher jenjang dengan rambut tercepol ke atas itu, suara baby Gentala terdengar.


“Hekk ... ekk ... ekk,”


Keduanya refleks menoleh ke arah kasur, lalu tergelak bersama.


**


Kirei


Hari ke-7 bertepatan dengan tasyakuran akikahan twins G. Gry diperbolehkan untuk pulang.


Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Meski setiap pagi dan sore hari selama Gry di RS ia dan Danang selalu datang. Memberikan ASI, melakukan kontak kulit dan sekaligus mengantarkan ASI perah untuk dijadikan stok. Ia berusaha untuk memberikan ASI eksklusif pada anak-anaknya. Ya, walau di hari pertama kelahirannya terpaksa ia memberikan susu formula sebab ASI belum keluar.


Rumah telah ramai. Para tamu undangan telah berdatangan. Selain keluarga inti, teman-teman kantor TVS, rekan-rekan kantor Danang. Anak-anak Sae Care, Arba Techno, rumah singgah semua melebur. Bercengkerama satu dengan yang lain.


“Artinya apaan sih, Rei?” tanya Anisa, “dari pertama jenguk maen rahasia-rahasian segala. Isss ...!” Anisa menggerutu.


“Tau nih, takut ditiru buat anak gue besok!” Anita menimpali.


Ia terkekeh.


Sementara Aisah mengusap-usap perutnya yang tampak menonjol. Katanya tengah hamil 4 bulan, “Aku mau juga donk dikasih referensi,” sahut Aisah.


“Cari tuh di mbah online, banyak referensi!” Kasih menyergah.


“Isss ... males gue. Jangan-jangan buat adiknya Aryasetya sama Aryandra?!” Tebak Aisah tanpa tedeng aling-aling.


Kasih mengangguk, “Emang.”


Semua orang menatap Kasih, “Hah! Seriusan lo?!” Anita menukas.


Kasih mengangguk kembali sembari tersenyum lebar.


“Wah ... wah ... selamat Mbak Kasih, udah isi lagi.” Ucapnya.


Aisah geleng-geleng, “Weh, produksi terus. Gue baru mau satu. Mbak Anita baru mau nikah. Wes, ntaps lah!” Aisah mengancungkan 2 jempolnya.


Mereka tergelak bersama.


**


Danang


Setelah mengobrol dengan papa, baapu, Pak Agus, rekan-rekan dulu di Polda, di Polres dan teman-teman papa baik yang masih aktif maupun yang sudah purnawirawan ia akhirnya pamit undur diri menemui tamu lainnya.


Menyapa beberapa karyawan Sae Care, TVS, Arba Techno dan anak-anak rumah singgah.


Lalu ikut bergabung dengan Arik cs. Saling berjabat tangan lalu beradu jotos kepalan tangan.


“Selamat-selamat ... Bapak Danang Barata Jaya telah sah dipanggil Ayah.” Cibir Willi.


Ia berdecak. Namun sepersekian detik tersenyum mengejek.


Willi berdecih.


Arik dan Dipa tergelak.


Sementara Rangga berucap, “Hanya lo yang tanpa pasangan, Wil! Rasanya kita perlu rayakan,”


Tak tahan lagi ia pun ikut tergelak.


Namun saat Aksa dan Ken datang, Willi tersenyum. “Masih ada mereka.” Dagunya menunjuk Aksa dan Ken yang ikut bergabung. Merasa satu nasib meski beda jaman.


“Apaan?” Tanya Aksa penasaran.


“Status masih darksome. Dari jaman jahiliyah sampai sekarang gak hijrah-hijrah.” Tukas  Dipa sarkas.

__ADS_1


“Cih,” Willi tak terima.


Aksa dan Ken tampak santai. Pasalnya di antara mereka Willi lah yang paling tua—seumuran Danang. Dengan status menyedihkan.


“Gue, gak enak harus nglangkahin yang berumur. Biarlah yang muda dan energik mengalah.” Kata Aksa. Tentu sindiran yang menohok buat siapa lagi kalau bukan untuk William.


“Mengalah tapi memang kenyataan,” Arik terkekeh.


“Sekarang Mas Bro sudah punya penerus, sepasang lagi. Dipa OTW, soon dipanggil papa. Rangga ... sudah ada yang punya. Dan gebetan lo, akhirnya bukan jodoh lo ....” Sambung Arik.


“Dia tugasnya jagain jodoh orang!” satire Rangga.


Lagi, lagi Willi berdecak.


“I feel bad for you ....” Ujarnya.


William menjadi bulan-bulanan mereka.


**


Kirei


Menjelang malam, tamu satu persatu mulai meninggalkan kediamannya. Hanya tinggal keluarga inti saja.


Bunda menggendong Gry. Sementara Gentala dalam buaian mama. Baapu dan neene duduk bersisian tengah mengobrol dengan papa. Mengenang masa lalu yang entah sampai kapan akan terus terngiang. Walau dimakan usia.


Ia duduk bersebelahan dengan Danang. Sedangkan Aksa dan Ken di sofa seberang.


“Binte biluhuta makanan kesukaan saya, Pak Idrus. Kalo brenebon minuman favorit.” Ucap papa.


“Iya betul, Ne. Sekembalinya kami ke Surabaya. Saya sering disuruh buat. Sampai-sampai harus minta dikirimi ikan cakalang dari Gorontalo.” Mama menimpali.


Neene dan baapu tertawa.


“Sekarang yang ketagihan ada penerusnya, Pa.” Danang melirik ke arahnya.


“Pernah ngidam minta binte biluhuta. Dibuatin sama Yumah, tapi gak dimakan. Katanya rasanya enakan buatan Neene,” imbuh Danang.


“Padahal resepnya sesuai yang dikasih Neene.” Tukasnya.


“Memang suka beda. Apalagi Yumah baru pertama kali masak.” Kata bunda masih menggendong Gry sambil menimangnya.


“Dulu, Bunda pertama kali buat itu juga selalu diprotes ayah. Katanya rasanya enakan buatan mama,”


“Sampai-sampai Bunda tanya sana sini, cari resep di internet. Dan resep mama paling enak.” Imbuh bunda.


Neene tersenyum.


“Kalau ngumpul seperti ini rasanya waktu cepat berlalu. Padahal Baapu dan Neene masih betah seperti ini.” Ujar baapu.


“Kalo gitu Baapu sama Neene tinggal di sini,” selanya.


“Iya, setuju!” Ken memberikan dukungan.


Baapu melempar senyum.


“Iya, Pak Idrus. Dekat dengan anak, cucu, cicit, adalah impian setiap orang tua. Kelak kalian yang muda-muda ini akan merasakannya.” Papa menghela napas, “tolak ukur kebahagiaan itu bukan dari seberapa banyak harta kita. Seberapa tinggi jabatan kita. Tapi, dapat memaknai setiap apa yang kita dapat, manfaat untuk sekitar dan kebersamaan keluarga tentunya.”


Mereka yang berada di sana mendengar papa berbicara.


“Kelak, sejauh-jauhnya kalian pergi pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Keluarga adalah tempat kita kembali pulang. Tempat kita melepas penat dan dahaga.”


Baapu mengangguk, mengembuskan napasnya perlahan. “Kami besok pagi pamit pulang.” Sudah 1 minggu baapu dan neene tinggal di sini.


“Terima kasih Pak Bagas dan Bu Anita yang masih menganggap kami keluarga.”


“Kita semua keluarga, Pak Idrus.” Papa menyergah.


“Kami ... titip cucu, cicit kami tercinta ini. Kita besarkan penerus Kamaru dan keluarga Jaya ini dengan kasih sayang dan doa-doa kebaikan. Semoga kelak menjadi anak yang sholeh-sholehah. Menebar kebaikan dan manfaat di sekitarnya.”


Mereka menyahut hampir bersamaan, “Aamiin ....”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2