
...102. Konflik Batin...
Kirei
Kebekuan antara mereka hanyalah keegoisan semata. Kenyataannya perasaan keduanya tak bisa dibohongi. Saling membutuhkan. Saling merindukan. Saling menginginkan.
Punggung itu ... ya, punggung yang saling membelakangi kini berubah menjadi wajah saling mendamba.
Ia membuka matanya ketika merasa sebuah benda melingkari pinggangnya. Terasa berat memang. Tapi ....
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat ke atas saat mendapati benda itu adalah tangan suaminya.
Kedua tangannya menangkup menjadi bantalan di pipinya. Ia bisa berlama-lama memandangi laki-laki itu. Laki-laki yang ... terkadang sukar ditebak. Bikin hati meradang. Mata serta pikiran begadang. Dan berakhir seperti ini kadang-kadang.
Ia menghela napas perlahan. Begitu juga mengembuskannya.
**
Danang
Ia menurunkan Kirei tepat di lobi. Setelah tadi pagi sarapan bersama. Belum ada yang memulai untuk mengakhiri konflik batin di antara mereka.
Kirei mencium punggung tangannya, memberinya seutas senyuman lalu memberi pesan. “Mas, siang nanti aku ada meeting. Rencana di luar. Boleh pinjem Sae Care?” Itu berarti tidak ada acara makan siang bersama.
Ia mengangguk. “Telpon aja Abed.” Sambil menyerahkan sebuah kartu nama yang diambil dari laci dasbor.
Abednego
(Manager)
Di bawahnya tercantum nomor telepon. Email, sosial medianya. Dan juga alamat lengkap Sae Care.
**
Kirei
Setelah menerima kartu nama. Ia bergegas keluar dari mobil. Berjalan sambil memandangi kartu nama dengan dominasi warna hijau putih. Berlatar belakang pendopo utama Sae Care.
Memasukkan beberapa angka di ponselnya kemudian melakukan panggilan. Tak perlu menunggu lama. Suara Abed langsung terdengar menyahut.
Setelah melakukan transaksi. Ia kembali menyimpan ponsel dalam tasnya. Menunggu di depan pintu lift yang masih bergerak ke atas.
Tadi pagi kebekuan masih terasa. Mereka sama-sama lebih banyak diam. Ibarat es, yang mana mampu mendinginkan sekitarnya. Sehingga, sarapan pun terasa hambar.
Begitu juga di sepanjang perjalanan. Danang tak acuh. Tidak seperti biasanya. Kenapa sih? Gerutunya dalam hati.
Ia berusaha untuk self talk. Kira-kira apa yang membuat suasana jadi seperti ini? Aneh. Dingin. Tegang. Kikuk. Dan terasa lain. Kentara sekali ia merasakan perbedaan itu.
Ting.
Pintu lift terbuka. Ia masuk bergabung dengan para pegawai lainnya.
“Eh, kamu jadi indent gak perumahan di Garuda land?” Tanya pegawai perempuan yang sepertinya bagian keuangan.
“Jadilah ... siapa sih yang gak mau?! Mana lagi promo. Tempatnya bagus. Bener-bener real estate yang super lengkap dan mewah.” Jawab pegawai perempuan satunya dengan wajah yang senang. Sepertinya pegawai dari divisi keuangan juga.
“Wow! Lingkungan kamu nanti kaum borjuis donk. Garuda land kan memang real estate bagi kaum menengah ke atas.”
“Justru itu yang dicari. Dalam satu lingkup semua serba ada. Kita gak perlu jauh-jauh ngantar anak sekolah. Belanja. Bahkan kebutuhan pribadi semua terfasilitasi.”
Ting.
Ia lekas keluar dari kotak besi itu setelah lantai tujuannya sampai. Mengenyakkan tubuhnya di kursi sedikit lesu. Tak bersemangat.
Tapi ia tetap harus profesional bukan?
Ia harus mampu memainkan peran kecerdasan emosionalnya. Apalagi sebagai koordinator. Sebab ia punya pengaruh kuat untuk anggotanya, lingkungannya bahkan atasannya. Kalau dia dalam kondisi seperti ini, bukankah akan merugikan banyak pihak?
Huh!
Ia memejamkan mata. Menghela napas melalui hidung perlahan-lahan. Kemudian mengembuskannya lewat mulut. Dilakukannya selama 5 menit.
Menurut artikel dari University of Colorado Boulder yang pernah dibacanya, teknik ini menarik banyak oksigen ke paru-paru, sehingga membantu mengantarkan banyak oksigen ke jantung. Organ otak dan jantung menjadi sehat. Tekanan darah turun, kinerja kognitif dan fisik meningkat.
Done!
Ia tersenyum.
“TVS News!!” Seru Oka memimpin dengan berdiri.
Semua peserta meeting berdiri di depan kursinya masing-masing. Mengacungkan lengan dan kompak menjawab,
“Always there! (Selalu ada)”
“Straight! (langsung)”
“Bold! (Berani)”
“Relentless! (Tak kenal lelah)”
“Beyond words!! (Luar biasa)”
Pendopo Sae Care menggema dengan yel-yel anak divisi news. Di akhiri dengan riuh rendah tepuk tangan.
Presensi lebih dari setengah staf jurnalis divisi news bisa datang. Sisanya tengah meliput di lapangan. Berhalangan karena sakit dan izin lainnya.
Pak Rahmat membuka meeting siang itu setelah acara makan siang bersama. Meeting berlangsung kurang lebih 2 jam. Ditutup dengan hiburan dari anak-anak news yang bersedia menyumbang lagu.
“Mau bareng, Rei?” Pak Rahmat menawarinya untuk pulang bersama.
Ia mengulas senyum, “Makasih, Pak. Sebentar lagi dijemput.” Sahutnya beralasan.
“Tempatnya ....” Pak Rahmat mengacungkan 1 jempol, “recommended!” 2 jempol, seraya melukis senyum mengembang sempurna.
“Rei, duluan ya.” Oka menepuk pundaknya. Disusul Anisa, “gue juga duluan. Nebeng Oka.”
“Hati-hati ... thanks.” Balasnya.
Ia dan Budi ber- tos ria, “Mantap, Rei. Besok-besok gue bawa keluarga ke sini.”
“Boleh banget, sering-sering, Mas.” Cengirnya.
“Bisaan. Jadi tim marketing juga.” Budi terkekeh.
Ia pun tergelak, “100 persen profit masuk rekeningku, soalnya.”
“Hahaha ....” Budi tertawa keras. Sambil berlalu meninggalkannya.
Begitu juga dengan rekan-rekan news lainnya. Satu persatu meninggalkan Sae Care berpamitan dengannya.
Ia menatap mereka dengan senyuman dan kepuasan. Meeting berjalan lancar. Mereka juga puas dengan tempat dan menu yang disediakan.
__ADS_1
Ia berbalik kembali ke pendopo, membereskan berkas dan yang lainnya. Lalu dimasukkan ke dalam tasnya.
“Mas Abed, saya numpang solat ya?” Tukasnya saat melihat sang manajer itu membantu membereskan peralatan di panggung. Ia menyampirkan tas selempang di pundak.
“Abed aja, Mbak.”
“Musola di belakang, dekat gazebo nomor 4.” Sahut Abed.
“Oke. Makasih,” balasnya sambil berjalan, ia mengirim pesan ke Danang.
Kirei : Mas, aku tunggu di Sae Care. Jemput ya.
Tadinya ia tidak berpikir untuk meminta jemput. Sewaktu datang dirinya nebeng Oka. Pulangnya pun awalnya akan seperti itu. Tapi, mendadak dorongan keinginan itu menguat. Ya, ia harus berbicara. Dengan laki-laki itu. Setelah melakukan self talk, mungkin? Artinya, self talk itu berperan penting. Bisa mereduksi stres dan membantu berdamai dengan situasi di luar kendali.
Perjalanan ke Sae Care membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Setelah salat ia memilih gazebo yang tertutup. Di sana ada sofa panjang, jadi ia bisa meluruskan punggungnya sejenak. Ia menguap beberapa kali, alarm tubuhnya mengatakan perlu diistirahatkan barang sebentar. Hawa sejuk dan udara yang mulai dingin membuatnya cepat terlelap.
**
Danang
Setelah menyerahkan kartu nama Abed. Ia menghubungi sang manager itu.
“Bed, hari ini ada reservasi?” Tanyanya melalui sambungan telepon.
“Belum, Bos.”
“Kalo ada kamu tolak.”
“Siang nanti, istriku dan teman-teman kerjanya mau meeting di situ. Tolong kamu persiapkan segalanya. Jangan sampai ada yang terlupa. Berikan servis terbaik.”
“Siap, Bos.”
Ia melajukan mobilnya meninggalkan TVS.
Abednego.
Sudut bibirnya tersungging ke atas. Abed memang dapat diandalkan. Mantan napi dari Halmahera yang terjerat kasus pengeroyokan seorang pejabat. Demi sesuap nasi. Abed melakukan migrasi dari Halmahera ke Semarang akibat peristiwa yang kelam. Masih ingat peristiwa kekerasan berlatar belakang politik-agama? Abed salah satu korbannya. Waktu itu Abed masih duduk di kelas 1 bangku SMP. Konflik paling berdarah yang tak luput dari catatan sejarah.
Ribuan nyawa melayang, ribuan nyawa terluka-luka dan ratusan ribu warga Maluku mengungsi akibat konflik sektarian yang berpusat di Ambon dan meluas ke sebagian besar Maluku.
Abed diungsikan ke Yogyakarta oleh UNICEF saat itu, bersama anak-anak yang tak berdosa lainnya.
Sementara ...
Mendadak matanya memanas. Mengingat cerita Abed sungguh menyesakkan. Ia berkali-kali melihat kejahatan. Tapi ini, kejahatan kemanusiaan.
Dengan mata kepala sendiri Abed melihat kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya dibunuh secara keji. Perlu waktu lama untuk menyembuhkan trauma berat yang diderita Abed.
Hingga Abed bisa ke Semarang karena menjadi pengamen jalanan trayek bus Semarang-Yogya. Hidup Abed sangat keras. Apa pun dijalani demi sesuap nasi. Dan ia menerima imbalan cukup besar untuk melukai seorang pejabat.
Namun nasib Abed harus berakhir di penjara. Akibat perbuatannya. Ia menemukan Abed saat menjadi tahanan Polda. Anaknya disiplin. Patuh. Dan pekerja keras. Ia pun berani menjamin kebebasan Abed.
Setelah keluarnya Abed dari penjara, ia memperkerjakannya di Arba techno selama hampir 2 tahun.
Abed hobi memasak. Tangannya terampil dan cekatan menggunakan peralatan dapur. Pria itu juga pernah mengikuti berbagai cooking course selama bekerja di Arba techno.
Dan sekarang ia mempercayakan Sae Care pada Abednego. Ia yakin Abed adalah orang yang tepat di sana.
Ting.
Abed : Bos, meeting staf TVS baru saja dimulai. Sesuai pesanan. Servis terbaik.
Ia mengukir senyum.
Hari ini full, ia di kantor. Rapat membahas kasus per kasus. Koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Semua berjalan dengan lancar. Rapat diakhiri saat hari sudah sore.
Ting.
My wife : Mas, aku tunggu di Sae Care. Jemput ya.
Ia membelalakkan matanya. Memastikan pesan singkat itu tak salah kirim atau tak salah tulis.
Perjalanan ke Sae Care rasanya begitu lama. Jalanan ramai. Dibarengi dengan usai jam karyawan kerja. Jadinya semua tumpah ruah di jalan. Hanya satu tujuan mereka. Yaitu pulang.
Ia memarkirkan mobil tepat saat lampu-lampu jalanan mulai menyala.
“Gazebo 4, Bos.” Kata Abed dari balik bar, saat ia melewati pendopo.
Ia hanya mengacungkan jempol.
Kakinya terus melangkah. Membuka pintu kaca perlahan ketika tiba di sana.
Kirei tidur meringkuk di sofa. Mungkin karena kedinginan. Ia melepaskan jaketnya lalu menyelimutkan ke tubuh istrinya.
Tak ada pergerakan.
Ia duduk di sofa tunggal satunya. Mengamati Kirei. Rasanya tak adil ia memperlakukan Kirei seperti semalam. Rasa bersalah menggelayutinya.
Kirei bergerak perlahan. Mengerjapkan mata dan berusaha untuk duduk.
“Lho, Mas udah sampe? Kok gak bangunin aku?” Kirei menutupi mulutnya yang tengah menguap.
“Masih ngantuk?”
Kirei menggeleng. “Udah.” Lalu bangkit, “yuk!”
Ia berdecak, “Baru sampai. Lagian aku laper.”
Kirei duduk kembali, “Ya udah aku temani makan. Tapi aku gak makan. Masih kenyang,”
Ia menelepon, “Bed, antar ke belakang.” Titahnya.
Tak berapa lama pelayan datang membawa pesanan.
Ia begitu menikmati makannya kali ini. Sebab makan siangnya terlewati. Dan bisa jadi perubahan mood menjadi alasan dibaliknya.
“Mas Danang, laper banget?” Kirei mencomot udang goreng tepung.
“Hemm ....” Sahutnya sambil mengunyah makannya.
“Tadi siang gak makan?” Kirei menusuk potongan morning fritatta dengan garpu lalu memasukkan ke mulutnya.
“Hemm ....”
Kirei memasukkan kembali potongan fritatta. Tanpa menyadarinya jika ia telah menghabiskan 1 porsi.
Ia mencibir, “Katanya masih kenyang?”
Wajah istrinya seketika bersemu merah.
Mereka telah duduk bersisian. Meja telah bersih hanya tertinggal gelas berisi air guraka, kopi barata dan botol air mineral.
**
__ADS_1
Kirei
“Udah enakan mood-nya?” Gumamnya sambil menatap gelas air guraka yang ia tangkup dengan kedua tangannya. Masih tersisa kehangatan dari sana.
Danang menatapnya, lalu berdehem. Entah apa maksudnya?
“Rei, mau cerita. Tapi dengerin. Jangan dipotong. Jangan dicuekin.”
Danang menyesap kopinya.
“Salah, Rei di mana?”
“Apa soal ketemuan sama Mas Aldi?”
“Atau soal lain?”
“Atau ....”
“Atau apa?” Danang menimpali.
Ia menggeleng lemah.
“Kesel tau gak?!”
“Orang gak tau kesalahannya apa. Tapi tiba-tiba dicuekin gitu aja!” Salaknya.
“Siapa sih yang gak kesel!” Ia mengomel mengeluarkan isi hatinya.
“Oke, Rei ketemuan sama Mas Aldi. Tapi gak sengaja. Beneran. Cuma ngobrol bentar sebelum dia berangkat ke Amrik,”
“We just made small talk (kami hanya ngobrol biasa).”
“Dan waktu itu, Rei mau kasih tahu Mas Danang, tapi ....” Ia menggigit bibir bawahnya, “lu ... pa. Maaf ....” Lirihnya.
Danang mendengus. Lalu berdecak.
Ia meletakkan gelas berisi air guraka yang tinggal seperempatnya lagi.
Laki-laki itu menyentil keningnya. Ia mengaduh.
“Aku dikirimi foto kamu sama Aldi lagi duduk berdua. Tertawa. Siapa yang gak marah? Dan kamu baru konfirmasi kemarin malam ... is too late.”
Ia terperanjat, “Hah!”
“Foto?”
“Siapa yang kirim?” Ia menatap Danang.
“Yang pasti orang yang lihat kalian berdua.” Danang menyergah.
Ia menipiskan bibirnya, “I see ... Pradipta, ya kan?” Tebaknya. Soalnya Pradipta muncul setelah Aldi pamit kepadanya. Mereka sempat berpapasan tanpa mengucap sepatah kata. Siapa lagi coba? Mendadak mood-nya terjun bebas.
Danang menyodorkan ponsel miliknya kepadanya. “Biar kamu bisa ambil kesimpulan sendiri.” Ucapnya.
Ia begitu antusias menerima ponsel itu. Membuka kunci pengamannya. Langsung meluncur pada aplikasi pesan berlogo gelembung teks dan telepon berwarna hijau dan putih.
Ia mengernyit, “Mas Danang langsung percaya? Tanpa konfirmasi ke aku? Langsung nuduh aku?” Serbunya ketika melihat fotonya sedang duduk bersama Aldi di kedai kopi. Pas ketawa pula.
Laki-laki itu menyentil kembali keningnya, ia kembali mengaduh. “Aku menunggu istriku yang cerita. Tapi ternyata kesibukannya mengalahkan suaminya. Dan sepertinya aku terlupakan.”
“Ma ... af.” Cicitnya.
Danang menghela napas. Lalu merangkul erat pundaknya. Mencium puncak kepalanya.
“Akhir-akhir ini ... ada seseorang yang sengaja mengirim paket ke kantor,”
Danang mengendurkan rangkulannya. Alisnya berkerut.
“Tanpa nama dan sepertinya ....”
“Aku terlupakan lagi!” Danang mendengus kesal.
“Hal sepenting ini dan darurat, kamu baru cerita sekarang!?” Tandas Danang meluap-luap. Lalu mengurai rangkulannya.
Laki-laki itu menyambar ponsel yang masih dalam genggamannya, kemudian berdiri dan menelepon seseorang.
-
-
Cerita sedikit.
Kisah peristiwa Ambon disadur dari kisah nyata. Teman sekolah pindahan dari Ambon dan Halmahera. Mereka harus mengungsi ke Pulau Jawa demi meneruskan pendidikan dan kehidupan yang sempat terseok-seok akibat peristiwa bersejarah itu. Beberapa tahun setelah kejadian itu, mereka kembali ke kampung halamannya. Menjalani kehidupan dengan tenang dan damai. Semoga peristiwa kelam itu tidak akan terulang lagi. Di bagian sudut manapun di Indonesia. Damai Indonesia 🥰
Terima kasih yang sudah berkenan mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
__ADS_1