
...113. She’s Amazing...
Danang
Ia benar-benar panik ketika Kirei semakin intens mengeluh merasakan kontraksi. Ia yang duduk di samping Pak Mus yang membawa mobil berkali-kali menolehkan kepalanya ke bangku belakang. Di mana istrinya yang duduk bersama bunda meringis, mengatur napas, berpeluh dan mengucapkan kalimat-kalimat auto sugesti.
Pun ia dan bunda juga memberikan semangat, memberikan dorongan kekuatan melalui kalimat-kalimat ajaib dan untaian doa-doa.
“Sayang, harus kuat. Sebentar lagi anak-anak akan bertemu dengan kita.”
“Kita berdoa, Sayang. Kamu pasti bisa!”
Sementara bunda terus mengusap-usap punggung Kirei seraya mendoakan.
"Robbana hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a'yun."
‘Ya Allah, anugerahkanlah pada kami, istri istri dan keturunan-keturunan yang bisa sebagai penenang hati. Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'
Tiba di rumah sakit. Ia mendudukkan Kirei di kursi roda. Mendorongnya ke ruangan dokter Yoiku. Tiba di sana, Kirei langsung ditangani. Ia sedikit tenang meski rasa cemas dan khawatir masih menggelayuti.
Jika dikasih pilihan, ia pasti memilih baku tembak di medan perang. Menangkap para tersangka kejahatan kelas kakap sekalipun. Atau memilih offroad di Hells Revenge-Colorado sebagai jalur terekstrem offroad di dunia.
Sungguh!
Sangat-sangat menegangkan.
Bahkan lebih dari itu.
Ia mengusap wajahnya kasar. Mengacak-acak rambutnya. Mendesahkan napas ke udara.
Sreeekkk ....
Bunyi tirai korden tersibak. Ia menoleh, menatap istrinya yang masih berbaring dengan wajah tersenyum.
Runtuh.
Seketika runtuh.
Kecemasan hakiki yang mengimpit sedari tadi sedikit berkurang dengan tulusnya senyuman yang terpancar dari wajah istrinya.
Ia dan bunda yang tadi menunggu di kursi depan meja kerja Yoiku sontak bangkit.
Dokter Yoiku mengajaknya mendekat ke ranjang pasien untuk mengetahui posisi janin dalam rahim istrinya melalui USG. Setelah tadi dilakukan pemeriksaan Vaginal Touch (VT) oleh perawat.
“Bagus. Kondisi janin vertex. Berat janin keduanya ... yang ini ... 2400 gram,” Yoiku menunjuk janin yang ditandai melalui USG. “Yang ini ... 2250 gram. Berat badan termasuk rendah. Tapi masih bisa ditoleransi. Karena bayi kembar. Jadi asupan makanan dan sirkulasi darah dari ibu berbeda-beda. Siapa yang menang itulah yang punya bobot cukup.”
Yoiku manggut-manggut, “Semua oke.”
“Dari pemeriksaan dalam masih pembukaan 3, Pak. Masih lama prosesnya. Bisa jadi besok pagi. Atau paling cepat nanti malam.”
Ia langsung menyergah, “Kenapa begitu, Dok?!”
Dokter Yoiku terkekeh.
“Ini anak pertama, Komandan. Jadi janin perlu mencari jalan lahir. Karena perdana, jadi agak kesusahan.”
“Ya, seperti kalo kita malam pertama. Seperti itulah kira-kira.” Yoiku tergelak. Ceplas-ceplos meski itu kenyataan yang tak bisa terbantahkan.
Ia langsung mengatupkan mulutnya.
“Kalo terjadi serangan kontraksi, Bapak atau neneknya bisa mengusap-usap atau memijit punggung dan pinggulnya. Itu bisa mengurangi rasa sakitnya,”
“Dan ... buat si ibu hamil happy dengan hal-hal yang menyenangkan. Ya, dengan happy segala ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, ketegangan bisa berkurang. Bahkan mengalahkan pikiran-pikiran negatif.” Pungkas dokter kandungan itu.
“Oke. Nanti akan ada yang memeriksa VT lagi, jika kontraksi semakin sering. Bapak tenang saja. Ibu Kirei kami pindahkan ke kamar perawatan sementara.”
**
Bunda
“Rei mau apa?” ia menawari makanan yang ingin dimakan anaknya.
Namun Kirei justru menggeleng.
“Aku cuma mau Bunda di sini, gak ke mana-mana.” Pinta Kirei.
Sementara Danang tengah mengurus segala administrasi. Juga menelepon mama dan papa di Surabaya.
Kirei berbaring miring. Perut bulat nan penuh yang telah turun ke bawah itu disangga dengan bantal.
Ia duduk di tepi ranjang di belakangi punggung Kirei. Sambil terus memijat dan mengusap-usap punggung anaknya.
“Udah, Nda. Bunda istirahat aja. Rei, udah gak kerasa sakit.”
Ia beranjak memutari ranjang. Dan duduk di kursi berhadapan dengan putrinya.
“Kamu yakin mau neruskan lahiran normal?” tanyanya. Ia sendiri sebenarnya tidak tega Kirei kesakitan. Ini sudah malam. Pembukaan belum ada kemajuan berarti. Masih dilevel 5 naik 2 tingkat sejak siang tadi masuk RS. Meski ia sadar sepenuhnya itulah hakikat seorang wanita yang berjuang demi buah hatinya. Nyawanya seolah bukan apa-apa. Tapi hati seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ia pun merasakan sakit saat kontraksi itu menyiksa putrinya.
Kirei mengangguk.
Tapi ia bisa melihat air mata Kirei telah merebak. Cairan kristal bening itu menggenangi kelopak matanya.
“Maafin, Rei, Nda.”
“Ternyata dulu Bunda mempertaruhkan nyawa buat Rei. Maafin, Rei belum bisa membalas kasih sayang Bunda,” air mata putrinya semakin berderai. Mengucur membasahi batalnya.
Ia membelai rambut putrinya, “Sshh ...,” matanya ikut memanas. Dan ikut menyusut sudut matanya dengan punggung tangannya.
“Itu kewajiban, Bunda. Kewajiban seorang ibu untuk memberikan kehidupan untuk buah hatinya, apa pun pasti akan dilakukannya.”
“Rei, sayang Bunda.”
Hatinya seketika berdesir. Ia merengkuh kepala putrinya. Mendekapnya di dada, “Bunda juga sayang kamu ... sekarang kamu harus berjuang, untuk memberikan kehidupan buat anak-anak kamu. Kamu harus kuat. Pasti kamu bisa melewatinya. Percayalah ... pengorbanan kamu akan selalu diingat oleh mereka kelak. Kamu akan mendapat pahala besar atas kesakitan ini,”
Kirei semakin terisak.
“Rei, pasti bisa. Bunda yakin! Berikan mereka kehidupan yang terbaik. Kasih sayang yang melimpah. Disertai dengan doa-doa kebaikan.”
“Sssssssshhhhhhh ....” Kirei meringis, terpejam lalu mengatur napasnya. Kontraksi datang kembali. Ia sigap memijat punggungnya.
“Allahu Akbar!” Desis Kirei.
Ia juga terus merapal doa. Baik dalam hati maupun mulutnya yang terus berdengung memanjatkan doa tak putus-putusnya untuk sang putri tercinta.
**
Danang
__ADS_1
Setelah mengurus segala administrasi. Mengabari mama-papa. Neene dan baapu. Ia kembali ke ruang perawatan istrinya. Tapi baru akan mendorong pintu, Aksa dan Arik datang menyapanya.
“Gimana?” Tanya Arik. Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku selasar yang tak jauh dari kamar perawatan Kirei.
“Belum, terakhir masih pembukaan 5.”
Arik yang duduk di sebelah kanannya menepuk pundaknya.
“Semoga dimudahkan, Brother. Kasih nitip salam.”
Ia mengangguk, “Thanks, kalian sudah datang.”
“Besok pagi biar aku yang jemput mama-papa di bandara, Mas.” Aksa menyahut.
“Meskipun gue belum pernah merasakan nungguin orang melahirkan secara normal. Tapi gue bisa ngrasain apa yang lo rasain sekarang.” Ucap Arik.
“Rileks, Mas Bro! Kita hanya bisa doain dan ngasih semangat,”
“Besok pagi, si Willi, Dipa sama istrinya mau jenguk. Si Rangga juga, ngasih tau mau datang.”
Ia membalasnya dengan mengulas senyum.
“Mas Danang kalo butuh apa-apa, kasih tau aku. Nanti aku bawain.” Timpal Aksa.
Ia mengacungkan jempol bersamaan mereka berpamitan. Dan akan berkunjung lagi esok.
**
Kirei
Ia merasakan kontraksi yang semakin menyakitkan. Pembukaan masih 5 tapi rasanya luar biasa. Kehadiran bunda dan Danang menjadi semangat tersendiri baginya.
Ia tersenyum ketika Danang muncul menghampirinya. Bertepatan dengan kontraksinya yang mereda.
“Aku bawa wingko babat, mau?” Danang meletakkan bungkusan itu di atas kabinet.
“Dari mana? Kok bawa wingko?” ia setengah baring. Membenahi rambutnya yang berantakan.
“Dibawain Aksa. Tadi Aksa sama Arik ke sini,” Danang duduk di kursi samping ranjang. “Bunda istirahat saja, biar aku yang jagain Kirei.”
Bunda mengangguk. Mengusap kepalanya. Lalu menghilang dibalik partisi. Fasilitas VVIP kamar perawatan yang dipilihkan Danang untuknya menyediakan ranjang untuk keluarga pasien.
Laki-laki itu menyobek pembungkus kertas wingko babat. Lalu mengangsurkan padanya.
“Gimana? Masih kuat, kan?”
Ia mengangguk sambil mengunyah makanan.
“Wingkonya enak,” tak terasa ia menghabiskan 8 bungkus wingko babat.
Perawat baru saja keluar dari kamarnya setelah menyuntikkan obat induksi persalinan melalui cairan infus. Rangsangan ini diharapkan merangsang dan meningkatkan kontraksi rahim serta melebarkan leher rahim.
Kontraksi kembali datang. Lagi-lagi ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Menahan nyeri yang menyeruak seolah mendesak tulang dan persendiannya.
Danang sigap berdiri. Memberikan pijatan terbaiknya. Mengajak si kembar berbicara.
“Udah, Mas.”
Laki-laki itu menghapus titik-titik peluh di dahinya.
“Mas ....”
Ia meraih tangan suaminya, “Maafin, Rei.” Mencium punggung tangan yang tampak urat-uratnya itu. Kemudian melekatkan telapak tangannya pada telapak Danang yang lebar dan kokoh. Menautkan jemarinya di sana dengan erat.
Tangan Danang satunya menyibak sulur yang menutupi wajahnya, lalu mengaitkan ke belakang telinga. “Sayang, aku ikhlas. Perjuanganmu sungguh luar biasa.”
“Jangan mikirin macam-macam. Sekarang istirahatlah.” Laki-laki itu mencium keningnya.
Ia mengulas senyum. Sebelum pada akhirnya memejamkan mata. Sebab kantuk yang mendera. Ia juga harus memanfaatkan waktu yang sedikit untuk beristirahat. Sebab gelombang kontraksi bisa datang tiba-tiba.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 WIB. Waktu rasanya berjalan lambat. Danang tertidur di kursi tunggu sebelahnya. Dengan kedua tangan melipat di atas ranjang sebagai bantalan.
Padahal ia tadi sudah memaksa laki-laki itu untuk tidur di sofa. Tapi tak diindahkannya. Beberapa kali ia merasakan kontraksi, tapi ia tahan sendiri. Ia tak mau mengganggu Danang maupun bunda.
Hingga benar-benar ia sudah tak tahan lagi merasakan kesakitan yang luar biasa. Akibatnya Danang terbangun olehnya.
“Kontraksi lagi?” ucap Danang dengan suara parau dan mengerjapkan matanya.
“Sakit banget ... ssssshhhhh ... huhhhhhh,” ia berusaha mengatur pernapasannya.
“Sakit, Mas ....” Air matanya rebas seiring rengekkan yang keluar. “Sssshhhh ... huhhhhh,”
Bunda muncul masih dengan menggunakan mukena yang sebagian tersampir di pundaknya.
“Mas Danang, sebaiknya panggilkan perawat. Atau dokter. Kayaknya kontraksinya sudah semakin sering.”
Danang mengangguk. Langsung sigap melesat keluar. Dan tak perlu menunggu lama, laki-laki itu datang bersamaan dengan perawat.
“Kite cek pembukaan dulu, ya, Bu.” Perawat berpakaian merah jambu itu meminta izin.
Sementara ia sudah tak menghiraukan lagi kondisinya. Ia pasrah. Hanya Danang yang berdiri di sampingnya. Memegang tangannya erat.
“Sudah pembukaan 9. Sebentar lagi waktunya.”
“Silakan ibu persiapkan diri. Sebentar lagi kita bawa ke ruangan bersalin. Kami akan menghubungi dokter Yoiku.
Perawat itu pamit. Ia menatap suaminya dan bunda secara bergantian. Lalu menerbitkan senyuman.
Danang mengecup puncak kepalanya, “Bismillah ... kita bisa menghadapi ini. Kamu harus semangat!”
**
Danang
Kini ia menemani Kirei di ruang bersalin. Sepuluh menit yang lalu istrinya dipindahkan ke sini.
Kirei yang semakin kesakitan.
Ia yang semakin tak tega.
Hanya bisa pasrah dan berdoa.
Berkali-kali ia menyeka peluh yang mengembun bermunculan di wajah Kirei. Diselingi kecupan-kecupan. Lalu membisikan kata, “Sayang, harus kuat! Kamu pasti bisa.”
“We will fight together, (kita akan sama-sama berjuang)”
“I love you,”
__ADS_1
"We love you,"
Dokter Yoiku baru saja datang. Dengan ramah menyapa mereka.
“Pembukaan 9, Dok.” Terang perawat.
“Oke. Ibu Kirei siap, ya.”
“Kita berdoa dulu,” Yoiku memimpin doa.
Terdengar, “Aamiin ....” sahutan orang-orang yang berada satu ruangan dengannya ketika dokter itu mengakhiri doa.
“Jangan tegang. Rileks saja. Bayangin, sebentar lagi akan bertemu dengan si kembar. Yang ganteng kayak bapaknya. Yang cantik percis ibunya.” Yoiku terus berbicara seraya mengenakan sarung tangan.
“Mas,” Kirei menatapnya dengan buliran air mata.
“I’m here ... and always here,” ia duduk di sisi ranjang tepat pada bagian kepala istrinya.
Bersyukur istrinya diberi kemudahan. Pembukaan 9 ke 10 berjalan cepat. Kirei menerapkan cara pernapasan yang dipelajarinya selama mengikuti senam hamil. Dan tentunya mengikuti semua instruksi dokter.
Tak terhitung lagi berapa peluh yang keluar. Berapa jerit kesakitan yang terdengar. Berapa tenaga yang menguar. Dan berapa doa-doa yang dipanjatkan bergetar.
Semua hanya untuk ‘dia’. Yang sebentar lagi lahir ke dunia.
Ya ... si kembar kesayangannya. Kesayangan mereka. Kesayangan keluarga.
Istrinya mengejan sekuat tenaga.
“Alhamdulillah ....” Suara Yoiku menyadarkannya dari ketakjubannya. Air mata yang sedari tadi bergumul, akhirnya menitik. Anak pertamanya telah lahir.
Ia hanya ternganga. Tak bisa berkata-kata.
“Baby boy!” Seru Yoiku. Bayi mungil itu langsung ditangani perawat. Sementara ia masih menggenggam tangan Kirei erat. Tangan satunya menyeka keringat.
Salah satu perawat berucap, “Laki-laki, 2400 gram. 49 centi meter. Lengkap. Waktu 04.00 WIB.”
Sepuluh menit kemudian, menyusul anak kedua lahir, “Baby girl.” Ucap Yoiku. Lebih mungil dari yang pertama. Tapi langsung terdengar mengeluarkan suara. Melenting dan menggetarkan hatinya. Bahkan kini keduanya menangis saling sahut-sahutan. Mungkin telepati si kembar sangat kuat.
Lagi, perawat berucap, “Perempuan, 2250 gram, 48 centi meter. Lengkap. Waktu 04.10 WIB.”
Ia menciumi wajah Kirei yang basah dan lembab. Cairan bening itu masih bergulir di sudut matanya. Bibirnya bergetar, “Thank’s a million ... thank you so much ... terima kasih, Sayang. Terima kasih ....” Hanya itu yang mampu terucap.
Kirei membalas dengan tersenyum tipis. Tapi ia tahu, istrinya sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia.
“Silakan diazanin dulu, Pak.” Tukas salah satu perawat di sana.
“Aku tinggal sebentar. Gak akan lama,” pamitnya. Kirei memberikan kode matanya berkedip.
**
Bunda
Suara tangisan bayi saling sahut menyahut pertanda Kirei telah melahirkan. Air matanya langsung luruh seketika. Hatinya lega. Tapi masih menyisakan secuil rasa. Rasa khawatir. Sebab belum melihat kondisi putrinya sepenuhnya.
Tepat ketika pintu ruangan bersalin itu terbuka. Ia lekas menyeka air mata dengan ujung kain pada lengannya.
Danang muncul dengan mendorong baby cot. Ia langsung mendekat. Sudut bibirnya terangkat ke atas.
“Say, hello ke Oma.” Bisik Danang membungkuk pada baby cot.
“Masya Allah ... cucu-cucu, Oma.” Air matanya kembali menetes. Saking terharunya.
“Kirei baik, Nda, sehat alhamdulillah. Masih ditangani dokter. Kalo udah stabil nanti dipindah ke kamar perawatan,”
“Baby G mau di bawa dulu ke ruang intensif neonatal, Nda. Karena mengalami berat badan lahir rendah kurang dari 2500 gram.” Tutur Danang.
Ia mengangguk, “Bunda mau lihat Kirei.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏
Besok Readers pada datang ya, nengok 🤭. Jangan lupa kadonya 😜
__ADS_1