Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
64. Adventure: Storm


__ADS_3

...64. Adventure: Storm...


Kirei


Setelah hampir dua jam diobservasi. Kondisi Talima membaik. Begitu juga kondisi bayi mungil prematur itu. Sempat dilakukan inisiasi menyusui dini. Sebelum dimasukkan kembali ke inkubator. Kekhawatiran Maega dan dirinya atas kondisi Talima dan bayinya tidak terjadi. Ia bersyukur atas itu.


Ken berperan menjadi ayah dadakan bagi bayi cantik itu. Meski awalnya terpaksa mengazankan, tapi Ken melakukan juga. Mengatas namakan rasa kemanusiaan, begitu kilahnya.


Ia sempat mengambil foto si bayi cantik itu saat tengah di Azani, Ken. Lalu meng-upload ke media sosialnya. Klinik kesehatan merupakan satu dari beberapa ruangan yang difasilitasi jaringan wifi.


Menulis caption,


‘Baby born with papa’


Ia cekikikan saat berhasil meng-upload foto tersebut.


Lalu ia dan Ken pamit meninggalkan klinik. Saat petugas kebersihan datang. Ia juga memesankan sarapan buat Maega dan Talima dari restoran. Sebelum akhirnya benar-benar pergi.


“Aku pesankan sarapan agar diantar ke kamar,” tukas Ken ketika mereka telah sampai di depan kamar.


Ia mengangguk, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Tapi matanya begitu berat. Rasa kantuk lebih mendominasi daripada rasa laparnya. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur begitu tiba di kamarnya.


**


Kenichi


Begitu selesai mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia membuka layar ponselnya. Sebab terdengar beberapa kali notifikasi yang masuk.


Tapi urung ia lakukan, ketika pintu kamarnya diketuk.


Saat membuka pintu, ternyata pesanan sarapan paginya. Ia menyuruh pelayan itu untuk meletakkan di atas meja.


Setelah pelayan itu pergi, ia kembali melanjutkan membuka layar ponselnya.


Dan yang membuatnya kesal adalah ....


Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar adiknya. Tapi tak juga dibuka. Berusaha menghubungi lewat ponsel, lama tak ada sahutan.


Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar.


Tapi selintas ide balas dendam menyelinap dalam otaknya. Ia menyeringai lebar.


**


Kirei


Ia terbangun saat matahari tepat di atas kepala. Lekas membersihkan diri. Sedari tadi cacing-cacing di perutnya juga terus bernyanyi. Melewatkan makan pagi rupanya membuat perutnya terus protes minta diisi.


Saat membuka layar ponselnya, ada lebih dari 3 panggilan dari Ken. Puluhan notifikasi media sosialnya.


Ia tersenyum menang, ketika membuka ig-nya. Tapi seketika senyum itu memudar seiring posting-an Ken yang me-tag akunnya.


Foto dirinya tengah menatap senja di atas kapal.


Dengan caption,


‘I wish you were here ....’


Terburu ia keluar kamar langsung menerobos pintu kamar Ken yang kebetulan tidak terkunci. Kakaknya itu sedang menatap layar laptopnya seraya mengenakan  headphone.


Tapi sebelum bibirnya terbuka, Ken berkata lantang.


“Satu ... satu,” lalu terbahak. Merasa di atas angin.


Ia menggeleng, rasa laparnya berkali lipat melihat Ken yang tertawa mengejek.


Tanpa membalas berkata, ia tetap mengatupkan bibirnya. Menuangkan sayur serta lauk dalam piring yang telah berisi nasi.


Memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke mulutnya.


Ken bahkan tak menghiraukannya. Asyik melanjutkan game-nya.


Ia bersungut-sungut sambil terus mengunyah makanannya. Namun dalam hati berkata, “Awas ... pembalasan tengah dipersiapkan.”


Selesai makan pagi dan siang sekaligus, ia bergegas meninggalkan kamar Ken. Langkah kakinya menuju lantai 1 di mana klinik kesehatan berada.


Melewati koridor kelas kamar ekonomi  dan kelas 2. Di ujung terdapat anak-anak bersama ibunya yang sedang bermain di playground.


Ia terus melangkah melewati restoran, belok ke kiri. Mendorong pintu klinik kesehatan yang tidak terkunci.


Terlihat Talima sedang menyusui anaknya. Mereka saling melempar senyum saat mata bertemu pandang.


“Gimana kondisinya?” Tanyanya ketika sudah mendekat bed yang di tiduri Talima.


“Sudah baikan. Terima kasih, Ka.” Sahut Talima. Ibu muda itu terlihat bergerak. Menutup sumber makanan bayinya. Setelah merasa anaknya itu kenyang dan terlelap tidur.


“Ih ... lutuuunya,” celetuknya gemas melihat bayi Talima.


“Siapa namanya, Ma?" Tanyanya kemudian. Talima menggendong bayinya dengan posisi bersandar pada tembok.


Ia membantu Talima, menumpuk bantal untuk bersandar.


“Belum,”


Sontak ia mengerutkan keningnya, “Kok belum? Memang belum dipersiapkan?”


Talima menggeleng.


Ia baru sadar, Talima bahkan tidak menyangka akan melahirkan di kapal. Pun, di usia kehamilan yang jauh dari prediksi.


“Tapi tahu, kalo anaknya perempuan?” Tanyanya lagi.


Talima menggeleng kembali.


“Apa belum pernah di USG?”


Dengan senyum kecil Talima menjawab, “Cuma periksa ke bidan saja.”

__ADS_1


“Oo ....” Ia langsung mengatupkan bibirnya.


“Kakak boleh kasih nama untuk anak saya,” tukas Talima yang membuatnya sedikit terkejut.


“Nanti papanya, gimana?”


“Papanya pasti setuju. Kakak yang bantu saya melahirkan. Saya tidak bisa membalasnya dengan uang.” Ucap Talima jujur.


Ia terlihat berpikir sejenak.


“Bagaimana kalo, DAMA SEA MAHARANI ... artinya ratu laut yang penuh cinta kasih.”


“Setuju,” Maega yang baru datang menimpali.


Ia menoleh ke belakang.


“Bagaimana, Ma?” Maega mengedipkan satu matanya pada Talima.


Ibu muda itu tersenyum, lalu mengangguk. “Bagus sekali, Kak. Apa cocok?”


“Sesuai kok. Dia lahir di tengah laut. Saat kondisi tidak sesuai prediksi. Semoga kelak menjadi ratu yang penuh cinta kasih.”


***


Ia semakin rajin menjenguk Talima dan Sea. Bayi mungil, imut dan cantik itu masih harus membutuhkan inkubator. Selain dari kehangatan ibu bayi tentunya.


Pukul 3 sore waktu setempat kapal diperkirakan akan bersandar di Pelabuhan Kendari-Sulawesi Tenggara.


Suling kapal sekali berbunyi nyaring. Ia semakin terbiasa dengan suasana bongkar muat penumpang di Pelabuhan. Hiruk pikuk para penumpang yang turun dan naik.


Ia melihat kesibukan itu dari geladak atas. Seraya mendekap kedua tangannya di dada.


“Setelah ini kita menuju Raha.” Tukas Maega yang berdiri di sebelahnya.


“Terima kasih atas bantuannya sejak tadi malam sampai pagi tadi,” imbuh Maega.


Ia menoleh sejenak pada Maega, lalu menerbitkan senyum. “Sudah seharusnya,”


“Kamu orang sini?” Tanyanya.


Maega mengangguk, “Aku dari Makassar. Baru ini bertugas di kapal. Awalnya di RSU Gorontalo.”


Mereka bercakap-cakap. Maega bercerita jika cita-citanya ingin menjadi nakhoda kapal, namun orang tuanya menginginkan dirinya menjadi dokter.


Wanita berdarah Bugis itu tergelak, “Dan aku sekarang dokter yang bekerja di kapal ....”


Malam harinya ia mengajak Ken makan di kamar. Sedang malas begitu alasannya.


Padahal sesuatu sedang direncanakannya.


Ken dengan lahap menyantap makan malamnya. Bahkan sampai menghabiskan jatah porsinya.


Ia menelan ludahnya kasar. Lalu bergegas meninggalkan kamar Ken.


Berusaha untuk memejamkan mata, namun rasa bersalah menghantuinya. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Menunggu kabar dari Ken selanjutnya. Tapi, sudah lebih dari 2 jam obat itu juga belum bereaksi. Buktinya Ken tidak ada menghubunginya.


Memaksa matanya agar terpejam. Lamat-lamat ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk.


Dengan langkah cepat, ia membuka pintu. “Kenapa?” Ia melihat dengan jelas Ken memegangi perutnya. Lalu meringis kemudian tanpa berucap. Kakaknya itu lari tunggang langgang masuk dalam kamarnya kembali.


Ia ingin ketawa, tapi berusaha menahannya. Rencananya berhasil.


“Yes!!” Pekiknya senang.


“Mae, bisa ke kamar VIP nomor 3?”


Tak berselang lama, Maega datang dengan membawa perlengkapan stetoskop, yang melingkar di lehernya. Rupanya dia baru saja dari klinik.


Ia menyambut Mae di ambang pintu kamar Ken dengan senyum mengembang.


“Terima kasih sudah datang,” ucapnya. Mempersilakan Maega untuk masuk.


“Sudah berapa kali buang air besar?” Tanya Mae memeriksa kondisi Ken. Kakaknya terbaring lemah dengan meringkuk memegangi perutnya.


Ken tampak berpikir, “lima ... enam kali mungkin, rasanya melilit,” sahut Ken sambil meringis.


“Permisi, saya harus memeriksa perutmu.”


Kening Ken mengerut, dengan ragu ia menyibak kaosnya perlahan.


Maega terlihat memeriksa perut Ken, menepuk-nepuk.


“Bagaimana? Apa perlu di infus?” Tukasnya.


Ken menggeleng tanda tidak setuju.


“Kalau semakin parah mau tak mau. Tapi saya kasih obat dulu. Mudah-mudahan diarenya segera berhenti."


“Apa kalian salah makan?” Tanya Maega menoleh padanya.


“Aku rasa tidak. Buktinya aku gak sakit. Padahal kami makan dengan menu yang sama. Bahkan dia menghabiskan porsiku,” selaknya berdalih.


Maega pamit untuk kembali ke klinik mengambil obat. Sementara ia juga berlalu meninggalkan Ken. Ia sengaja membiarkan mereka berdua.


**


Kapal KF STAR terus melaju menuju tujuan berikutnya Pelabuhan Bau-Bau, Pulau Buton. Perjalanan dari Pelabuhan Raha ke Bau-Bau memakan waktu sekitar 4 jam.


Kini setelah dari Bau-Bau, perjalanan berlanjut ke Pelabuhan Makassar. Waktu yang ditempuh lebih lama. Akan tetapi baru merasakan lelap, tubuhnya terasa diayun-ayun ke kanan dan ke kiri, lalu terhempas.


Ia membuka matanya. Semua terasa bergerak dan bergoyang. Sayup-sayup ia mendengar suara orang-orang dalam keributan. Ia pun bangkit dan dengan cepat menyambar jaket lalu keluar kamar.


Terlihat Ken juga tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.


“Sedang badai,” ucap Ken tahu kekhawatirannya.


“Jangan mendekati railing. Jangan ke geladak. Pakai life jacket!” Ken kembali ke kamar, lalu keluar lagi dengan jaket pelampung berwarna oranye. Menyodorkan padanya.


Tangannya sibuk memakai jaket pelampung. “Sampai kapan badai ini?” Tanyanya.

__ADS_1


“Tidak tahu. Tapi jangan panik.” Beberapa orang penghuni satu lantai dengannya terlihat berlalu lalang. Menggunakan jaket pelampung yang sama. Mereka terlihat berkumpul di tengah ruangan.


“Maega,” sergahnya. Dokter muda itu tak tampak padahal kamarnya juga satu lantai dengan mereka.


“Mungkin masih di klinik, Kak.” Tukasnya, “susul, Maega di klinik!”


Ken menatapnya penuh arti, “Aku tidak akan meninggalkanmu,”


Ia menggeleng.


“Kita ke klinik sama-sama,” Ken menggandeng tangannya.


Mereka menuruni tangga. Menggunakan lift di saat badai bukan solusi tepat. Sampai di lantai 1, situasi lebih menegangkan.


Semua orang tampak panik. Ada yang menangis ketakutan. Ada yang sedang merapal doa, mendekap buah hatinya.


Ia dan Ken bergegas menuju klinik.


“Talima ....” Panggilnya setelah melihat ibu muda itu  mendekap Sea duduk di kursi tunggu.


Talima mendongak padanya. Raut wajahnya begitu cemas, “Tenanglah ... kita berdoa semoga badai ini cepat berlalu.”


Ibu muda itu menggendong bayinya dengan salah satu tangannya , sementara tangan yang lain berpegangan erat pada kursi tunggu. Lalu ia duduk di sebelah Talima.


“Maega?” Tanyanya, ketika tubuhnya telah sempurna duduk.


“Ke mana?” Imbuh Ken.


“Tadi ada yang kesini. Katanya ada yang kena serangan jantung,” ucap Talima.


Ia menatap Ken, “Kak?” mengisyaratkan agar Ken mencari Maega secepatnya.


***


Kenichi


Matanya mengedarkan ke seluruh penjuru. Mencari sosok dokter muda yang beberapa jam terakhir mampu mendekatinya. Tentunya ini semua ulah Kirei sang adik.


Dalam kampus percintaannya, cukup nama ‘sang mantan’ yang mengisi hatinya hingga detik ini. Meski harapannya jauh dari kenyataan. Dia yang tinggal nun jauh di belahan benua berbeda.


Ia hanya berpasrah diri, menggantungkan doa dan harapan jika mereka berjodoh pasti akan dipertemukan kembali.


Cukup lama, ia menjelajahi ruangan per ruangan di lantai 1. Tapi ia belum menemukan sosok Maega.


Di luar hujan sangat deras. Petir juga menyambar, menghadirkan gelegar guntur yang memekakkan telinga.


Kapal masih bergoyang, tak tentu arah.


Dengan berpegangan tangan pada dinding, ia memasuki kamar kelas 2.  Di sana terlihat wanita memakai jas snelli itu tengah berusaha memberikan bantuan resusitasi jantung paru atau CPR.


Ia melihat pasien yang ditolong Maega dalam kondisi pingsan.


Napas Maega terengah-engah.


“Aku bisa melakukannya,” ucapnya. Melihat Maega yang sudah kelelahan. Tidak mungkin ia membiarkan.


Dengan berbekal pengalaman sewaktu pelatihan prosedur K3 beberapa minggu lalu di kantornya. Ia berusaha menggantikan posisi Maega.


Dibantu dengan pernapasan buatan. Akhirnya pasien itu tersadar.


Ia dan Maega bernapas lega. Dengan dibantu penumpang lainnya, pasien dibawa ke klinik. Agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2