Cinta Sang Jurnalis

Cinta Sang Jurnalis
51. Aku Dan Kamu


__ADS_3

...51. Aku Dan Kamu...


Danang


Pikirannya semakin tidak tenang. Acara pertunangan Gayatri dan Richard sedang berlangsung. Namun sedari tadi ia duduk tak nyaman.


“Mas ....” Bisik Aksa yang duduk di sebelahnya.


“Lebih baik Mas Danang nyari Mbak Rei.”


Ia mengangguk. Lalu meninggalkan ruangan tamu yang sudah didekor elegan bertema rose gold tersebut.


Mama juga mengkhawatirkannya sebab sekilas melihat Kirei berjalan cepat seperti tergesa-gesa. Tapi belum sempat bertanya dan menyusulnya.


“Lebih baik kamu cari, Nang.” Begitu pesan mama sesaat yang lalu.


Berusaha menghubungi teleponnya kembali. Namun justru sudah tidak aktif. Ini sudah hampir satu jam sejak gadis itu hilang dari pandangannya.


Ia coba mengecek keberadaan mobil melalui aplikasi GPS. Dan mengejutkan, mobil itu tidak berada di rumah ini.


Secepat kilat ia melajukan mobil Aksa menuju titik mobil gadis itu berada. Meski hujan menerjang begitu derasnya. Ia tak mengacuhkannya.


Yang lebih membuatnya nanap adalah ketika ia tiba di tempat tujuan. Sebuah mobil patroli polisi berada di sana. Lalu mobil istrinya berwarna merah marun itu terlihat ringsek bagian belakang dan sisi kiri.


Pikirannya semakin tak karuan.


Ia turun dari mobil menembus hujan.


“Pak, di mana istri saya?” Tanyanya saat sudah mendekati petugas patroli yang mengenakan jas hujan. Matanya mengerjap-ngerjap menghalau rintik hujan yang menghunjam.


“Anda ....”


“Saya suaminya yang punya mobil ini,” ia mengusap wajahnya. “Di mana istri saya, Pak?”


“Istri Bapak sudah dibawa ke rumah sakit ....” Petugas polisi patroli tersebut menyebutkan sebuah rumah sakit swasta yang tak jauh dari tempat terjadinya kecelakaan.


Ia tak peduli bajunya yang basah kuyup. Mobil yang dikendarai melaju dengan kecepatan penuh.


Tiba di rumah sakit, ia memarkirkan mobil serampangan. Begitu turun langkahnya langsung tertuju pada pusat informasi.


“Korban kecelakaan di mana!” Serunya.


“Kecelakaan kap ....”


“Baru saja,” potongnya cepat.


“IGD, Pak.”


Ia berlarian menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berkali-kali menyeka wajahnya.


“Sus,” panggilnya saat berpapasan dengan seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan IGD.


“Istri saya ... korban kecelakaan ....”


“Maaf, Pak. Masih ditangani dokter. Harap Bapak menunggu sebentar. Silakan Bapak mengurus administrasinya terlebih dulu.” Ucap suster tersebut.


Hampir satu jam telah berlalu. Ia duduk termangu di depan ruang IGD. Bajunya yang basah kuyup sudah hampir mengering meninggalkan hawa dingin yang begitu menusuk kulit. Tapi rasa dingin itu tak seberapa baginya dibandingkan kondisi sang istri yang masih belum jelas kabarnya.


Pikirannya dan hatinya benar-benar berkecamuk. Sejuta tanya. Sejuta rasa yang menggantung di benaknya.


Ia menundukkan kepalanya. Begitu dalam. Menatap lantai keramik putih yang ia tapaki. Ada jejak air di sana. Pandangannya lambat laun mengabur. Menyisakan butiran kristal yang siap meluncur kapan saja.


Dengan cepat ia menyusut sudut matanya, ketika pintu ruang IGD terbuka.


Bergegas ia menghampiri pria yang berseragam jas putih itu.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” Tanyanya tergesa.


“Tenang, Pak. Istri Bapak sudah kami tangani dengan baik. Kondisinya stabil. Tapi ... kami mohon maaf. Tidak bisa menyelamatkan janin istri  Anda. Istri Anda mengalami pendarahan dan keguguran ....”


Sontak ia limbung mendengarnya. Tapi ia kembali menguatkan diri.


“Istri saya ....”


“Sebentar lagi kami pindahkan ke ruang perawatan.”


Ia masih termangu. Bahkan dokter dan suster telah meninggalkannya. Cairan bening itu akhirnya lolos juga.


Menurut keterangan polisi di TKP beruntung pengendara mobil berwarna merah marun tertolong dengan sistem keamanan mobil. Air bag berfungsi optimal melindungi daerah vital seperti kepala, leher dan dada. Sehingga luka pada istrinya hanya trauma dan lebam. Ditambah dengan guncangan yang keras mengakibatkan pendarahan pada rahimnya.


Sementara pengendara mobil yang menabraknya dari belakang terluka cukup parah. Ia harus menjalani operasi patah tulang kaki.


Kini gadis itu telah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Wajahnya pucat pasi.


**


Mama


Ia, papa dan Aksa segera menyusul ke rumah sakit ketika mendapat kabar Kirei kecelakaan. Tiba di sana menantunya itu belum sadarkan diri.


Papa menepuk pundak Danang  yang duduk di kursi samping ranjang dua kali, “Sabar ... belum rezeki. Semoga Tuhan memberikan gantinya yang lebih baik.” Ucap Papa menguatkan Danang. Papa tahu kesedihan sedang menyelimuti anak pertamanya itu. Karena harus kehilangan calon anak dalam rahim Kirei.


Sementara dirinya menyusut sudut matanya. Ia tidak tahu kejadiannya sebenarnya seperti apa? Beribu tanya ingin ia ungkap. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat.


“Lebih baik kamu ganti baju dulu, Nang? Tadi Aksa bawain kamu baju.” Ia mengusap punggung anaknya itu. Baju Danang yang basah. Lembab. Acak-acakan. Namun tetap menggenggam erat tangan istrinya. Ia bisa melihat raut kecemasan Danang pada Kirei.


“Kamu harus kuat ... harus sehat. Kalo kamu ikut sakit siapa yang akan jagain istrimu?” Tukasnya. Ia masih berdiri di sebelah Danang.


“Anak kami sudah gak ada, Ma.” Ucap Danang lirih.


“Iya, Mama mengerti. Tapi kesehatan Kirei sama kamu itu lebih penting sekarang. Benar kata Papa, Tuhan belum memberi kalian anak untuk saat ini. Tapi bukan berarti untuk selamanya. Pasti akan diganti dengan yang lebih baik dan tepat waktu.”


Hari itu juga papa menyuruh Aksa untuk mengurus segala hal menyangkut kecelakaan tersebut. Korban lainnya yang tak lain si penabrak setuju untuk berdamai. Dengan pengobatan dan kerugian lain sepenuhnya ditanggung oleh mereka.


**


Danang


“Sayang ....” Ucapnya senang. Melihat tangan istrinya mulai bergerak. Matanya mulai membuka perlahan.

__ADS_1


Namun detik berikutnya justru reaksi yang diperlihatkan Kirei berbeda. Gadis itu menggeleng. Sorot matanya begitu tersirat kekecewaan dan kemarahan.


“Sayang, kamu masih merasakan sakit? Di mana? Aku panggilkan dokter, ya.” Baru juga ia akan beranjak dari duduknya.


Gadis itu berucap, “Pergilah.”


“Pergilah ... tidak seharusnya aku dan kamu begini ... tidak seharusnya aku dan kamu bertemu." Jeda. "Tidak seharusnya aku dan kamu menikah ... tidak seharusnya ....” Kirei meracau sambil menggelengkan kepala.


DEG


“Apa maksudmu?” Ia mengernyit. Tak paham apa yang sedang dibicarakan istrinya. Aku ... kamu?


“Go away!! (Pergilah!)” Teriak istrinya histeris.


“Apa mak ....”


“Pembunuh!” Kirei menggeram seraya mengepalkan tangannya kuat.


“Kalian semua pembunuh.”


Ia semakin tak mengerti kalimat yang keluar dari gadis itu. Berusaha menenangkannya. Merengkuhnya untuk memberikan kenyamanan. Tapi justru penolakan yang didapat. Gadis itu meronta-ronta tidak mau sama sekali disentuhnya.


“Oke ... oke. Aku tidak akan menyentuhmu,” tangannya terangkat di udara. Mengalah.


Sementara gadis itu terisak. Sambil terus berucap, “Go away ... go ... go away ....”


Ia mengira Kirei mengalami trauma. Sehingga butuh waktu untuk sendiri.


“Aku akan duduk di sofa,” ucapnya. Sembari mengusap wajahnya gusar.


“Tinggalkan aku sendiri ...!”


“Kamu kenapa?”


“Leave me alone!” Teriak gadis itu frustrasi.


“Kita sama-sama kehilangan calon anak kita, Rei. Tapi bukan begini cara kamu menghadapinya.” Ujarnya.


“Aku tidak peduli."


“Dan aku tidak sudi mengandung anakmu! Ingat itu! Anak keturunan pembunuh!” Gadis itu mengeratkan rahangnya. Matanya tajam menatapnya.


Ia sudah tak tahan lagi dengan ocehan gadis itu. Meskipun ia juga sakit dikatakan ‘anak seorang pembunuh’. Menenangkan diri dengan keluar dari ruang perawatannya mungkin lebih baik.


Ia memanggil suster jaga untuk menemani istrinya. Lalu menghubungi bunda. Menceritakan kejadian yang menimpa Kirei.


Kemudian duduk di kantin memilih area bebas merokok. Menyalakan sebatang rokok yang baru saja ia beli. Pikirannya sedang kacau balau.


Semenjak menikah dengan gadis itu, ia tak pernah merokok lagi. Tapi kali ini ia benar-benar butuh ketenangan. Jiwanya terguncang.


***


Kirei


Tubuhnya meringkuk di atas ranjang rumah sakit. Matanya menyorot nanar. Sesekali air matanya merabas.


“Makan dulu, ya, Mbak ....” Ucap suster jaga yang disuruh Danang untuk menjaga istrinya.


Suster tersebut mendekatinya.


Matanya pura-pura terpejam.


“Kalo Mbak Kirei gak mau makan, nanti gak bisa pulang cepat lho. Soalnya jadi lambat penyembuhannya,” Suster itu berusaha membujuknya.


Tapi ia tetap bergeming. Berpura-pura terlelap.


“Baiklah, saya tinggal. Tapi kalau butuh sesuatu bisa pencet tombol samping ranjang.” Suster itu berpesan sebelum meninggalkannya.


Ketika suara pintu tertutup menandakan suster tersebut telah pergi, ia membuka matanya kembali.


Dadanya berkedut sakit. Kali ini air matanya sudah menganak sungai. Bahunya bergetar hebat. Ia telah kehilangan ayahnya tercinta karena dipaksa. Tapi ia sekarang harus kehilangan cintanya sebab suatu alasan.


**


Bunda


Ia dan Ken berjalan terburu-buru. Bagaimana tidak panik, mendapati kabar dari Danang bahwa anaknya mengalami kecelakaan.


Baru bulan kemarin Kirei keluar rumah sakit karena musibah liputan. Sekarang harus masuk rumah sakit lagi disebabkan kecelakaan.


“Nda ....” Sergah Ken, “Bunda gak boleh cape.” Peringat Ken saat napas bunda mulai terengah-engah sebab tak memedulikan kesehatannya. “Bunda ....” Berkali-kali Ken mengingatkannya.


Tapi tak juga mengurangi rasa cemasnya yang ingin segera melihat kondisi anak perempuannya itu.


Tiba di depan ruang perawatan Kirei, ia melihat Danang duduk di sana.


“Lho, Mas Danang di sini. Gimana Kirei?”


“Maaf, Nda. Saya gagal menjaganya ....” Danang berucap lirih bernada putus asa.


“Bagaimana kecelakaan itu terjadi?” Sahut Ken.


Danang terlihat menggeleng lemah. Wajahnya kuyu.


Membuka pintu kamar perawatan perlahan. Anak perempuannya itu meringkuk tidur membelakangi pintu. Berselimut hingga ke pundaknya. Tapi ia tahu, Kirei tidak benar-benar sedang tertidur. Suara isak jelas terdengar.


“Sayang.” Sapanya ketika sudah mendekati ranjang. Lalu mengusap kepala anaknya penuh kelembutan.


Bahu Kirei semakin bergetar.


“Sshh ... kenapa?” Ia bisa merasakan kesedihan yang amat besar menyelimuti anaknya itu.


Akhirnya pecah juga tangis Kirei. Memutar posisinya berusaha bangkit dan langsung menghamburnya.


“Sshh ... sudah ... sudah, ya.” Ia mengusap punggung Kirei.


“Ikhlaskan ....” Ia tahu bagaimana sedihnya kehilangan janin yang sedang tumbuh di rahim. Sebab ia juga pernah kehilangan. Pernah mengalaminya.


“Bunda yakin, suatu saat akan diganti yang lebih baik.”

__ADS_1


Kirei justru menggeleng.


“Rei ... pengen pulang, Nda. Gak mau di sini.”


Ia mengerutkan dahi.


“Iya, Bunda tahu. Tapi harus sembuh dulu. Bagaimana mau pulang. Makanan aja dianggurin,” ia melihat jatah makan di atas nakas yang masih utuh dan tertutup plastik krep. Tandanya belum disentuh sama sekali.


“Makan, ya ... Bunda suapin.” Bujuk bunda.


***


Kenichi


“Itulah mengapa gue gak pernah setuju, lo nikah sama dia!” Tandasnya penuh emosi.


Ia menendang kursi taman hingga bergeser. Meluapkan emosi yang tengah memuncak. Setelah mendengar penjelasan Danang.


“Keluarga lo terkait dengan kematian ayah kami.”


“Bagaimanapun sejarah itu tak akan pernah terlupakan. Sejarah itu tidah bisa dihapus! Kalian merenggut ayah kami secara paksa!”


Bergegas meninggalkan Danang yang masih berdiri terpaku.


Ia tak peduli siapa sekarang yang akan dihadapinya. Karena kebahagiaan adik semata wayangnya adalah prioritasnya.


**


Danang


Pikirannya semakin kacau. Ia tidak bisa tidur. Selalu terjaga di depan kamar perawatan istrinya.


Di hari kedua istrinya masih menolak kehadirannya. Pun dengan kehadiran keluarganya. Di hari ketiga kondisinya masih sama. Ia hanya bisa menatap pintu kamar perawatannya tanpa bisa masuk ke dalam.


Tak ada yang bisa ia lakukan. Saat ia memaksa bertemu pun, justru istrinya itu menolak mentah-mentah. Meski ia diusir, dicela, tidak diinginkan tapi ia percaya kondisi Kirei tengah labil. Ia tetap bertanggung jawab sebagai suami untuk terus mendampinginya.


Tubuhnya yang bersandar di dinding merosot ke lantai. Ia terduduk dengan pandangan nanar. Tertunduk lunglai.


Tiba-tiba bahunya diusap seseorang.


“Mas Danang ... maafkan anak Bunda, ya. Dia hanya butuh waktu.”


Suara bunda membuatnya mendongak. Wajah teduh bunda membuatnya menyunggingkan senyum kecil yang dipaksakan.


“Besok Bunda akan bawa dia pulang. Mas Danang gak keberatan, 'kan?”


Ia menggeleng.


“Bunda bisa bicara sebentar?” Bunda berdiri tegak setelah tadi membungkuk. Berjalan di depan. Diikuti Danang yang bangkit lalu berjalan mengekori bunda dari belakang.


Mereka duduk di taman bersisian.


“Peristiwa itu sudah lama sekali. Bahkan kami sudah bahagia sekarang.” Menjadi kalimat pembuka bunda.


“Kirei mungkin terguncang. Belum bisa menerima karena ayahnya pergi. Itu wajar ... karena ... kami memang tidak pernah menceritakan padanya.”


Bunda mendesahkan napas ke udara. Jeda sesaat.


“Tapi Bunda sudah mengikhlaskan. Bunda tahu bagaimana posisi papa kamu waktu itu. Tidak sepenuhnya kesalahan ada pada papamu.”


“Papamu punya jawaban dan alasan. Bunda tidak berhak berbicara di sini,” Bunda memejamkan matanya.


Lengang melingkupi.


“Pelan-pelan, Bunda akan berbicara sama Kirei. Dia hanya butuh waktu. Untuk menerima kenyataan ... untuk mengikhlaskan ayahnya.”


“Dia itu anak kesayangan ayahnya. Saking dekatnya mereka, sewaktu ayahnya pergi untuk selamanya ia sampai jatuh sakit. Harus di rawat di rumah sakit. Jadi anak pemurung dan suka berdiam diri di kamar. Butuh waktu lama mengembalikan Kirei yang ceria lagi.”


Bunda menyusut sudut matanya. Mengingat kembali kejadian belasan tahun silam rasanya membangkitkan kenangan pahit.


“Bahkan dia menekadkan diri menjadi seperti ayahnya. Cita-citanya pun ingin menjadi seorang jurnalis. Ia bahkan memilih jurusan ilmu komunikasi untuk mewujudkan cita-citanya. Padahal waktu itu ia diterima di fakultas kedokteran.”


Wanita paruh baya itu mengembuskan napasnya perlahan. Berdehem sekilas untuk menetralkan suaranya yang sengau.


“Mas Danang sabar ya ....” Kalimat pungkas bunda sebelum meninggalkannya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberi dukungan .... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2