Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Ijab Kabul ( Dadakan )


__ADS_3

Saat ini semuanya sudah berkumpul di rumah Pak RT. Hanya tinggal menunggu penghulu yang belum datang. Sean dan Adrian juga masih berada di teras rumah sedang menunggu Nadirga.


"Udah dapet nih Bang," kata Nadirga setengah berlari.


"Syukurlah," Sean dan Adrian berucap bersamaan.


Nadirga menyerahkan seperangkat alat sholat yang akan digunakan Sean sebagai mas kawin nantinya.


"Lo emang bisa diandalkan Ga, thanks ya," kata Sean.


"Sama-sama Bang," balas Nadirga.


"Nak Sean, boleh Om bicara sebentar?" tanya Ahmad yang tiba-tiba menghampiri mereka bertiga.


"Oh, tentu Om," jawab Sean.


"Gue sama Dirga bawa ini masuk dulu ya Sean. Mari Om," pamit Adrian yang dijawab anggukan kepala oleh Sean dan Ahmad.


Setelah Adrian dan Nadirga masuk ke dalam rumah Pak RT, Ahmad mengajak Sean untuk berbicara di halaman samping rumah Pak RT, sedikit menghindar dari warga yang sedang berkumpul.


"Nak Sean, sekali lagi Om bertanya sama kamu, apa kamu yakin mau menikahi keponakan Om, Ana?"


"Tentu Om, saya sangat yakin," jawab Sean mantap.


"Ana menjalani kehidupan yang cukup berat beberapa tahun terakhir ini. Apalagi setelah ayahnya meninggal. Itu kenapa hari ini Om yang menjadi wali nikah dari Ana."


Sean sedikit terkejut, tapi tetap memilih untuk diam terlebih dahulu, mendengarkan perkataan Ahmad.


"Om hanya mau berpesan sama kamu, tolong bersabar dalam menghadapi Ana yang pasti masih banyak kekurangannya. Pernikahan ini memang terlalu mendadak, bahkan tanpa persiapan apapun, jadi tolong nak Sean sedikit bersabar apabila nanti Ana masih belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Ana pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan statusnya yang baru."


"Tidak ada manusia yang sempurna Om, saya sendiri pun juga masih memiliki banyak kekurangan. Insya Allah saya akan selalu bersabar dalam menghadapi Ana Om. Kami akan bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik."


"Satu lagi, Om minta tolong sama kamu untuk bisa menjaga Ana dengan baik," pinta Ahmad serius.


"Pasti Om. Saya berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Ana dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga saya," jawab Sean meyakinkan.


Ahmad memegang pundak Sean.


"Om percaya sama kamu. Sekarang Om bisa merasa tenang, karena Ana tidak lagi sendiri di kota besar ini. Sudah ada kamu yang akan selalu menjaga dan melindungi Ana. Ya sudah, Om kembali ke dalam dulu ya."


"Baik Om."


Ahmad kemudian meninggalkan Sean dan kembali masuk ke dalam rumah Pak RT. Baru saja Sean ingin beranjak dari tempatnya, tiba-tiba saja Jordan sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Gue tau kenapa Lo langsung bersedia untuk menikah dengan Ana."


Sean mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Jordan yang sarat akan amarah.


"Lo sengaja kan, biar bisa jadiin Ana boneka pemuas n*fsu Lo," cecar Jordan lagi berapi-api.


Sean membulatkan kedua matanya, kaget dan emosi sekaligus.


"Ati-ati Lo kalo ngomong, jangan asal ngejeplak aja tuh mulut," balas Sean sengit.


"Apa? Lo mau ngelak? Gue hafal banget kelakuan orang kaya kayak kalian. Kalian nggak mungkin ngelakuin sesuatu kalau nggak ada untungnya buat kalian. Dan sekarang? Lo pasti ngerasa kejatuhan durian runtuh kan, bisa dapetin gadis secantik Ana buat dijadiin budak se*s, pemuas n*fsu Lo," cerosos Jordan.


Seketika Sean naik pitam dan langsung melayangkan pukulan kerasnya ke wajah Jordan.


"Brengsek Lo. Jangan sembarangan ya Lo kalo ngomong. Sekali lagi Lo berani ngomong kurang ajar kayak gitu lagi, gue habisin Lo," seru Sean emosi.


"Lepasin Ana kalo Lo emang nggak punya niat buruk sama dia. Biarin gue yang ngambil alih posisi Lo buat nikahin Ana," tawar Jordan setelah menyeka sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Cuih," Sean meludah ke samping. "Ngelepasin gadis sebaik Ana dan ngebiarin cowok brengsek kayak Lo buat nikahin dia? Sampai mati juga gue nggak bakalan ngelakuin hal itu."


"Sialan Lo. Asal Lo tau ya, Ana cuma boleh jadi milik gue seorang. Susah payah gue bikin rencana, kenapa malah jadi Lo yang untung!" seru Jordan tak kalah emosi.


"Udah gue duga dari awal kalau ini semua pasti ulah Lo. Tapi nggak masalah, justru sekarang gue mau bilang makasih sama Lo, karena berkat rencana Lo gue jadi bisa nikah sama Ana," cibir Sean.


Sean mundur beberapa langkah, tapi dia justru menunjukkan senyum mengejeknya.


"Terserah Lo mau bilang apa, tapi bentar lagi Ana jadi milik gue!" tegas Sean.


"Bangs*t Lo. Ana harus jadi milik gue!" teriak Jordan kemudian melayangkan pukulan ke wajah Sean.


"Jangan mimpi Lo," balas Sean dengan melayangkan pukulan balasannya juga.


"Sean!!!" teriak Adrian yang langsung berlari dan menahan tubuh Sean yang hendak melayangkan pukulan lagi ke arah Jordan.


Salah satu teman Jordan juga memegangi Jordan, untuk menghentikan perkelahian di antara Sean dan Jordan. Kebetulan tadi Adrian keluar karena disuruh untuk memanggil Sean.


"Kali ini gue ngalah. Tapi gue janji, gue bakal rebut Ana dari Lo," ancam Jordan sengit.


"Dan gue bakal pastiin Lo nggak bakalan bisa nyentuh Ana walau seujung kuku pun. Apalagi Lo mau rebut Ana dari gue, cih, jangan pernah berharap," balas Sean tak kalah sengit.


"Oke. Lo tunggu aja. Gue bakal lakuin cara apapun buat rebut Ana dari Lo," pungkas Jordan seraya mundur karena ditarik oleh dua orang temannya untuk meninggalkan halaman samping.


"Gue pastiin Lo nggak bakalan bisa ngerebut Ana dari gue," seru Sean.

__ADS_1


"Udah Sean, udah, istighfar. Tenangin diri Lo. Nggak usah dengerin omongan cowok nggak penting itu," Adrian mencoba menenangkan Sean.


"Hah,,, astaghfirullah hal adziim,,," Sean mendesah pelan kemudian ber-istighfar.


"Pak penghulu udah datang. Ayo kita masuk sekarang. Acara akan segera dimulai," ajak Adrian.


Setelah merapikan kembali pakaiannya, Sean dan Adrian pun masuk ke dalam rumah.


Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Sean kemudian diarahkan untuk duduk tepat di depan Ahmad. Penghulu kemudian segera memulai acara ijab kabul dadakan tersebut.


Sonia nampak khawatir. Sean akan segera tau nama panjangnya dan nama ayah kandung Sonia. Sonia takut Sean akan langsung menyadari kalau dia adalah sahabat Safa yang selama ini menghilang.


Tidak jauh berbeda dengan Sonia, raut wajah cemas pun nampak di wajah Adrian. Khawatir dengan reaksi Sean, seandainya dia tau kalau Ana ternyata adalah Sonia yang selama ini mereka cari.


Dan tiba-tiba,


"Saya terima nikah dan kawinnya Sonia Anastasia Wicaksono binti almarhum Ihsan Wicaksono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin 5 gram dibayar tunai," seru Sean lantang, menarik paksa Sonia dan Adrian dari kekhawatiran mereka.


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.


"Sah..." pekik semua yang hadir di ruangan tersebut.


"Alhamdulillaah hi robbil 'aalamiin," ucap Sean dan semua orang lega.


Sean langsung tersenyum sinis ke arah Jordan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Raut wajah Jordan yang dipenuhi dengan emosi justru membuat Sean merasa puas. Dan Adrian menyadari hal tersebut.


'Syukurlah, Sean selalu tidak begitu fokus apabila sedang dikuasai emosi. Kali ini ternyata sifat buruk Lo justru membawa keuntungan buat kita semua Sean. Setidaknya sampai Lo menyadari kenyataan yang sebenarnya.'


Adrian menghembuskan nafas lega. Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh Sonia. Identitas asli Sonia masih aman, Sean ternyata tidak menyadarinya, setidaknya untuk saat ini.


"Selamat nak Sean, nak Ana, sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Silahkan nak Ana untuk mencium tangan suaminya. Dan nak Sean juga diperkenankan untuk mencium kening istrinya," kata penghulu.


Sonia kemudian mencium punggung tangan Sean untuk pertama kalinya. Lalu Sean pun juga kemudian mencium kening Sonia. Setelah itu Sean lalu memakaikan cincin yang tadi dia jadikan mas kawin ke jari manis Sonia.


Penghulu kemudian mengarahkan Sean dan Sonia selaku kedua mempelai, Ahmad selaku wali, dan Adrian serta Pak RT selaku saksi 1 dan 2, untuk melakukan penandatanganan surat keterangan sementara nikah siri.


"Nak Sean dan nak Ana, ini hanya surat keterangan sementara, jadi bapak harap setelah ini kalian segera mengurus isbat pernikahan kalian ke Kantor Urusan Agama untuk mengesahkan pernikahan kalian ini," pesan penghulu.


"Baik Pak, terima kasih," balas Sean.


"Nak Sean, nak Ana, kalian berdua memang menikah secara mendadak, dan tentunya dalam keadaan yang tidak kalian inginkan. Tapi satu pesan bapak, menikah bukan sebuah permainan, karena kalian berjanji langsung di hadapan Allah SWT. Jadi jangan pernah bermain-main dengan ikatan suci pernikahan. Jalani semuanya dengan ikhlas sebagai salah satu takdir dari Allah SWT untuk kalian berdua," pesan Pak Kiyai pula, selaku sesepuh di kampung tersebut.


"Baik Pak," jawab Sean dan Sonia bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2