
Santi mengetuk pintu ruang kerja Steven tiga kali kemudian membukanya setelah mendapat perintah Steven dari dalam untuk masuk.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Santi setelah berdiri di hadapan Steven.
"Santi tolong hari ini kamu gantikan saya meeting dengan klien bersama Ken ya. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Sheila jadi saya tidak bisa menghadiri meeting tersebut," kata Steven.
Raut wajah Santi langsung berubah sedikit panik, hal itu tidak luput dari perhatian Steven.
"Ta-tapi Pak, masih ada beberapa laporan yang belum saya selesaikan. Bagaimana kalau Yas saja Pak?" jawab Santi gugup.
"Yas sedang saya tugaskan memantau kondisi di proyek pembangunan. Dan juga, tidak biasanya kamu membantah perintah saya seperti ini, apa ada masalah?" Steven bertanya langsung pada intinya membuat Santi semakin salah tingkah.
"Ma-maaf Pak. Baik, kalau begitu saya akan mempersiapkan berkas-berkasnya terlebih dahulu," jawab Santi berusaha setenang mungkin, kemudian pamit undur diri kepada Steven.
Santi mengesah pelan setelah keluar dari ruangan Steven. Bukan tanpa alasan Santi menolak perintah Steven, karena seperti yang dibilang Steven tadi kalau Santi tidak pernah membantah apapun perintah Steven, tapi jujur Santi sedang menghindari beraktivitas bersama dengan Ken.
Semuanya berubah menjadi canggung setelah kejadian Ken yang memaksa mengantar pulang Santi setelah acara syukuran Steven dan Sheila waktu itu.
Flashback On
Ken tiba-tiba menghentikan mobilnya di taman kota. Santi yang duduk di sebelahnya pun menjadi bingung.
"Kenapa kita berhenti disini Pak?" tanya Santi dengan raut wajah bingungnya.
"Santi, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu," jawab Ken setelah menyerongkan posisi duduknya sehingga menghadap ke arah Santi.
Santi mengernyitkan dahinya. "Ada apa Pak?"
"Santi, entah sejak kapan, aku sendiripun tidak menyadarinya, tapi yang aku tahu dengan pasti bahwa perlahan-lahan aku mulai terpesona padamu dan hatiku pun mulai merasakan benih-benih cinta yang tumbuh untukmu," Ken merubah panggilan formal mereka menjadi aku - kamu.
Jantung Santi berdebar kencang mendengar setiap perkataan Ken. Santi mulai bisa menduga arah pembicaraan Ken.
__ADS_1
"Santi maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Ken to the point.
Santi membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Meski sudah menduga arah pembicaraan Ken, tapi mendengar Ken yang langsung memintanya menjadi kekasih seperti saat ini tetap membuat nafas Santi tercekat.
Tangan Ken terulur, menggenggam kedua tangan Santi yang berada di atas pangkuannya.
"Aku tahu mungkin kamu menganggapku terlalu terburu-buru, tapi sungguh, aku belum pernah seyakin ini pada perasaanku sendiri. Bersamamu aku bisa melewati semua keadaan paling buruk dalam hidupku. Kehadiranmu mampu membawa ketenangan bagi diriku. Dan kata-katamu bagaikan sebuah oase di tengah padang gersang kegelisahan hatiku."
"Maukah kamu menjadi kekasihku San?" tanya Ken sekali lagi.
Air mata jatuh begitu saja di kedua pipi Santi. Merasa terharu tetapi juga merasa takut secara bersamaan. Kenangan buruk masa lalu masih jelas terekam dalam ingatannya.
Ken yang melihat Santi justru menangis menjadi bingung dan kalut.
"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Ken sambil menghapus air mata Santi dengan punggung tangannya.
"Maaf Pak, tapi saya merasa tidak pantas untuk semua ini," jawab Santi sambil menundukkan wajahnya.
"Pak, saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis yatim piatu dari panti asuhan, yang tidak jelas asal usulnya, tidak tahu siapa dan bagaimana keluarganya. Bapak berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya," jawab Santi merasa rendah diri. Masih teringat jelas bagaimana perkataan mama Ryo dulu kepada dirinya.
"Santi jangan berbicara seperti itu. Sungguh, aku tidak pernah menilai kamu dari asal usul maupun siapa keluargamu. Aku tulus mencintai kamu San," kata Ken mengeratkan genggaman tangannya untuk meyakinkan Santi.
Santi menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf Pak, tapi saya tidak-" perkataan Santi terpotong karena jari telunjuk Ken yang berada di depan bibirnya. Membuat Santi akhirnya mendongakkan wajahnya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Aku memberimu waktu untuk bisa memikirkan semua ini baik-baik. Sungguh, aku tidak pernah memandangmu dari siapa kamu, tapi aku menilaimu dari bagaimana sifatmu. Dan rasaku ini tulus untukmu San. Aku akan sabar menunggu jawaban darimu," kata Ken bersungguh-sungguh.
Flashback off
"Gimana Bro?" tanya Ken begitu masuk ke dalam ruangan Steven dan duduk di hadapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Beres. Tapi ingat baik-baik pesan gue, jangan pernah Lo nyakitin Santi atau mempermainkan perasaan Santi, kalau enggak Lo akan berhadapan langsung dengan gue. Santi udah kayak saudara gue sendiri," kata Steven memperingatkan.
"Nggak akan Bro, Lo bisa pegang omongan gue. Belum pernah gue seyakin ini sama perasaan gue sendiri," balas Ken mantap.
"Tapi kayaknya perjuangan Lo nggak bakal mudah. Lo udah tahu kan tentang masalah Santi dan Ryo dulu?" tanya Steven.
"Iya, kak Kania yang cerita ke gue. Gue nggak nyangka aja kalau cewek Ryo dulu itu adalah Santi."
"Trauma itu masih membekas di hati Santi. So, selamat berusaha Bro. Kali ini perjuangan Lo akan sedikit sulit," cibir Steven.
"Sialan Lo."
...
"Sudah siap San?" tanya Ken begitu sampai di depan meja kerja Santi.
Santi menghembuskan nafas pelan untuk menenangkan hatinya. "Sudah Pak," jawab Santi berusaha profesional seperti biasanya.
"Oke, kita berangkat sekarang. Driver udah nungguin kita di bawah," kata Ken dengan wibawanya yang begitu kentara.
"Baik Pak."
Santi kemudian berdiri dan melangkah mengikuti Ken di belakangnya dengan beberapa berkas di tangan. Keduanya melangkah beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar, dimana mobil dan driver kantor sudah menunggu. Siap mengantar mereka menuju ke tempat meeting kali ini.
Setelah kejadian malam itu Santi merasa sangat sulit untuk bersikap biasa saja kepada Ken seperti dahulu. Belum lagi perhatian-perhatian kecil yang Ken berikan untuknya, seperti mengingatkan waktu sholat dan makan. Bahkan sampai mengiriminya makan siang ketika beberapa hari yang lalu dirinya dan Yas begitu disibukkan dengan pekerjaan sampai melewatkan waktu makan siang.
Seringkali Santi berusaha menghindari Ken. Tapi seakan semesta sedang mengoloknya, Santi justru harus sering menghadiri rapat dengan klien bersama Ken seperti saat ini, entah karena Steven yang berhalangan atau karena memang Santi lah yang dari awal sudah menangani kerjasama dengan klien tersebut, sehingga mau tidak mau Santi tetap harus melanjutkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Kebimbangan masih melanda hati Santi. Jujur, dari awal Santi memang sudah terkesan dengan sikap Ken yang begitu serius, dewasa, dan berwibawa. Tapi setelah Ken mengungkapkan perasaannya malam itu, hati Santi justru merasa ragu.
Santi merasa tidak pantas untuk Ken. Tapi di sisi lain dia juga merasa tersanjung dengan kesungguhan dan ketulusan Ken padanya. Bahkan Santi sedikit demi sedikit juga mulai luluh dengan semua usaha yang Ken lakukan. Hati kecilnya mulai merasa nyaman dengan semua perhatian dari Ken.
__ADS_1
Tapi ketakutan itu juga masih tetap ada. Rasa rendah diri karena derajat yang berbeda masih menjadi penghalang terbesar di dalam hatinya sendiri. Trauma masa lalu itu masih membekas di hatinya, membuat Santi ragu untuk melangkah maju.