
"Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh. Assalamu'alaikum warahmatullaah."
Sean mengakhiri sholat witir tiga rakaat mereka dengan salam dan menengok-kan wajahnya ke arah kanan dan kiri secara bergantian.
Sonia yang berada di belakang Sean di sebelah kanan pun mengikutinya. Selesai salam Sonia kemudian sedikit maju ke depan untuk bisa mencium punggung tangan kanan Sean.
Sean tersenyum. Ada perasaan hangat yang mengaliri hatinya. Pun demikian dengan Sonia. Ada rasa berdebar-debar yang dia rasakan. Bahkan, seakan masih belum percaya, bahwa sekarang dia sudah sah menyandang gelar sebagai seorang 'istri'.
Sean dan Sonia kemudian berdzikir dan berdo'a bersama.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Sean berbalik ke belakang menghadap ke arah Sonia setelah dia selesai berdo'a.
"Belum Mas," jawab Sonia dengan menggelengkan kepalanya.
"Kita ngaji yuk!" ajak Sean.
Sonia sempat terkesiap. Tapi kemudian dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Akhirnya, tidak perlu lagi diam-diam mendengarkan kamu ngaji di musholla. Karena sekarang Mas bisa ngaji secara langsung bareng sama kamu," celetuk Sean.
Sonia sontak membulatkan kedua matanya.
"Jadi bener yang selama ini diam-diam selalu dengerin aku ngaji di musholla itu Mas Sean?" tanya Sonia tidak percaya.
"Lah, emangnya kamu belum tau ya?" Sean balik bertanya dengan terkekeh kecil.
"Udah sempet menduga sih Mas, tapi takut kepedean. Kan biasanya cuma liat punggung Mas aja," jawab Sonia jujur.
Sean seketika tertawa.
"Jadi beneran belum tau?"
"Belum. Baru tau ini tadi."
Sean mengusak kepala Sonia yang masih dibalut mukena. Membuat wajah Sonia lagi-lagi merona merah.
"Kasihan. Pasti penasaran banget ya?"
"Penasaran sih, tapi nggak mau kepo. Jadi ya udah, aku diemin aja."
"Jadi, kita ngaji bareng yuk!" ajak Sean lagi.
"Hayuk," balas Sonia dengan senyuman manisnya.
Sean dan Sonia pun kemudian mengaji bersama, sambung ayat setelah masing-masing membaca lima ayat secara bergantian. Sean sudah sering mendengar Sonia mengaji, jadi bukan hal yang baru untuk Sean. Sementara Sonia, ini adalah pertama kalinya dia mendengarkan Sean mengaji. Sonia dibuat takjub karena ternyata suara Sean sangat merdu. Bahkan tajwid dan makhorijul hurufnya pun hampir sempurna.
Selesai mereka mengaji bersama, kebetulan sudah masuk waktu sholat subuh. Sean dan Sonia pun melanjutkan untuk melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah sekalian.
Sonia menguap kecil ketika sedang melipat mukenanya.
"Kamu ngantuk ya? Dari semalem kamu sama sekali belum tidur kan?" tanya Sean.
"Enggak kok Mas. Nanggung juga kalau mau tidur sekarang."
"Ehmmm, Ana, apa kita akan tidur satu kamar?" tanya Sean hati-hati.
Sonia sedikit terkejut dengan pertanyaan Sean. Bingung juga harus menjawab seperti apa. Sonia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah saat ini.
__ADS_1
"A-aku..." perkataan Sonia terjeda, "Terserah gimana Mas Sean aja."
Sonia sadar sekarang status mereka adalah pasangan suami istri, yang sah secara agama. Jadi tentu saja dia harus menuruti perkataan Sean yang merupakan suaminya.
"Biar bagaimanapun juga kita udah sah jadi suami istri sekarang. Tapi Mas juga nggak mau maksa kamu. Mas pengen denger pendapat dari kamu juga untuk masalah ini," kata Sean.
"Maaf Mas, mungkin memang aku belum siap untuk hal-hal yang lebih jauh. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Tapi kalau memang Mas Sean menginginkan kita untuk tidur satu kamar, aku nggak akan nolak. Mungkin dengan begitu, kita bisa lebih cepat untuk beradaptasi," Sonia pun mengeluarkan isi hatinya.
"Jadi kamu nggak keberatan?" tanya Sean meyakinkan lagi.
Sonia menggelengkan kepalanya, masih dengan kepala yang tertunduk.
Tiba-tiba terdengar suara perut Sean yang berbunyi. Sonia yang kaget pun langsung mengangkat wajahnya.
"Mas lapar?" tanya Sonia.
Sean tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Merasa malu sekali.
"Kemarin nggak sempet makan malam. Baru juga mau makan cake coklat eh tiba-tiba ada insiden kemarin itu," kata Sean.
"Ya udah, kalau gitu aku masakin dulu ya. Mas mandi aja dulu," balas Sonia.
"Oke. Yuk Mas temenin turun. Sekalian ngambil barang-barang kamu di bawah."
Sonia menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kamar.
Sonia langsung menuju ke arah dapur. Sementara Sean mengambil barang-barang Sonia yang tadi diletakkan Nadirga di dekat sofa ruang tamu.
Sekitar satu jam kemudian. Saat ini Sean dan Sonia sudah duduk bersama di meja makan dan memulai sarapan pagi mereka lebih awal. Sonia mengambilkan nasi beserta sayur dan lauknya untuk Sean.
"Silahkan Mas," kata Sonia menyerahkan piring yang sudah terisi komplit kepada Sean.
Sonia kemudian menuangkan air minum untuk Sean dan dirinya sendiri.
"Jadi gini ya rasanya punya istri tuh. Ada yang nemenin, ada yang masakin, ada yang ngelayanin makan," celetuk Sean kemudian terkekeh kecil.
"Apaan sih Mas," kata Sonia dengan wajah yang memerah.
"Oh ya, kata kak Kiara perban elastis kamu harus dibuka minimal dua kali dalam sehari kan?" tanya Sean sembari menikmati sarapan paginya.
"Iya Mas. Tadi pas mau mandi udah aku buka kok. Ini udah aku pake lagi."
"Masih sakit?"
"Udah enggak kok Mas."
"Selesai sarapan langsung diminum obatnya."
"Iya Mas."
"Habis minum obat kamu istirahat aja. Urusan bersih-bersih rumah dan yang lainnya biar dikerjain Mbak Ratmi. Mbak Ratmi itu asisten rumah tangga yang dikirim Bunda buat bantuin Mas disini. Tapi dia nggak stay karena anak-anaknya masih sekolah semua. Cuma dari jam 7 sampe jam 5 sore aja. Jadi nanti kalau kamu butuh apa-apa kamu tinggal bilang ke Mbak Ratmi aja, ya?"
"Iya Mas."
Selesai sarapan dan membereskan meja makan, Sonia hendak mencuci piring kotor. Tapi tiba-tiba tangannya dihentikan oleh Sean.
"Nggak usah. Nanti biar Mbak Ratmi aja. Ayo kamu minum obat dulu."
__ADS_1
Sean kemudian menarik tangan Sonia untuk mengikutinya naik ke lantai atas menuju ke kamar mereka. Sonia hanya diam saja mengikuti langkah Sean.
Setelah sampai di dalam kamar Sean mendudukkan Sonia di sofa. Sean pun mengambilkan obat Sonia dan menyuruh Sonia untuk segera meminum obatnya itu. Beberapa saat kemudian Sonia tampak menguap, mungkin efek dari obat yang tadi dia minum.
"Kamu istirahat aja dulu."
Sonia menguap sekali lagi dan menutupnya dengan telapak tangan kanannya.
"Cari apa?" tanya Sean melihat Sonia yang nampak kebingungan mencari sesuatu.
"HP aku Mas."
"Mau buat apa?"
"Pasang alarm, biar nanti bisa bangun buat sholat Dhuha."
Sean berjalan ke arah nakas kemudian mengambil ponsel Sonia yang tergeletak di atas nakas.
"Nih," kata Sean sembari mengangsurkan ponsel Sonia.
"Makasih."
Setelah Sonia selesai mengatur alarm di ponselnya. Sean kemudian membantu Sonia untuk berdiri dan memapahnya ke arah tempat tidur. Sonia segera merebahkan tubuhnya.
"Udah ya. Kamu istirahat aja dulu."
"Iya Mas."
Sean menarik selimut sampai sebatas pundak Sonia. Dan tidak butuh waktu yang lama, akhirnya Sonia pun tertidur pulas.
Sean tersenyum kecil. Membelai lembut kepala Sonia yang tertutup hijab.
'Rencana Allah SWT memang sangat menakjubkan. Rasanya aku masih belum percaya kalau sekarang aku udah punya seorang istri. I have a wife now. And it's an amazing feeling. Gadis yang selama ini berhasil mencuri perhatianku, tidak disangka dia sekarang menjadi istriku. Ya, meski harus melalui cara yang benar-benar tidak terduga.'
🌸🌸🌸
Ketika Sean turun ke bawah hendak berangkat bekerja dia melihat Mbak Ratmi sedang mencuci piring. Sean pun menghampirinya.
"Mbak Ratmi," panggil Sean.
"Iya Den," jawab Mbak Ratmi kemudian menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Mbak, di dalam kamar saya ada seorang wanita yang sedang tidur. Namanya Ana. Dan dia adalah istri saya."
Mbak Ratmi menutup mulut dengan kedua tangannya karena saking terkejutnya.
"Kapan Aden nikahnya?" tanya Mbak Ratmi bingung.
"Ceritanya panjang Mbak. Pokoknya saya minta tolong sama Mbak Ratmi tolong bantu Ana kalau dia butuh sesuatu. Kakinya sedang sakit. Dan saya juga minta tolong sama Mbak Ratmi untuk merahasiakan hal ini dulu dari keluarga saya di rumah, ya Mbak? Biar nanti saya cari waktu yang tepat dulu untuk ngomong sama Ayah sama Bunda."
"I-iya Den. Baik," jawab Mbak Ratmi tergagap.
"Oh ya, satu lagi, tolong nanti Mbak Ratmi bangunin Ana jam sembilan ya. Dia mau sholat Dhuha katanya."
"Baik Den."
"Ya udah, saya berangkat dulu kalau begitu. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Den, hati-hati."