
Weekend ini Steven dan Sheila akan menginap di rumah Jefri. Setelah berziarah ke makam Ayah Jason dan Bunda Miranda mereka berdua kemudian langsung menuju ke rumah Jefri.
Sesampainya di rumah Jefri seperti biasa Steven dan Sheila disambut penuh kasih sayang. Tampak beberapa orang sedang mempersiapkan hantaran untuk seserahan. Malam ini Max akan melamar kekasihnya Sylvia secara resmi.
Sheila langsung bergabung dengan Sarah dan Bik Sumi di dapur, membuat kue untuk hantaran nanti malam. Sementara Steven bergabung dengan Ricko, Max, dan Leon di ruang keluarga, membahas obrolan bisnis para laki-laki.
"Seru amat ngobrolnya. Nih Sheila bawain teh sama camilan," kata Sheila berjalan mendekat sambil membawa nampan.
"Makasih ya Shei," kata Steven menerima cangkir teh sembari tersenyum manis ke arah Sheila.
"Sama-sama Mas," Sheila tersenyum tak kalah manisnya.
Interaksi keduanya tak luput dari perhatian Jefri, Max, dan Leon. Terbersit rasa syukur dalam hati mereka bertiga melihat hubungan Steven dan Sheila yang terlihat semakin baik.
"Thank you Maemunah," goda Max seperti biasa.
"Max," tegur Jefri seketika. "Jangan panggil adikmu seperti itu lagi. Sheila sudah menikah sekarang, gak enak sama suaminya."
"Iya maaf," sesal Max.
"Gak pa-pa kok Yah. Saya tau Max gak serius dan cuma menggoda saja," bela Steven.
"Tapi tetap saja Max harus ditegur Steve, suka kebablasan dia itu."
"Rasain tuh," ejek Sheila yang duduk di sebelah Steven.
"Kamu juga jangan godain kakak kamu terus, sama aja," tegur Steven sambil mencubit pelan hidung Sheila.
"Mas iiihh,,, kan Kak Max yang mulai," rajuk Sheila tidak terima.
"Syukurin tuh," kata Max sambil tertawa.
"Kak Max, awas ya, lihat aja nanti," gerutu Sheila.
"Hei, sudah-sudah. Kalian ini ya kalau lagi kumpul, ada saja alasan untuk ribut," kata Jefri menengahi.
...
Malam harinya.
"Sudah siap?" tanya Steven pada Sheila yang masih duduk di meja riasnya.
"Sudah Mas," jawab Sheila kemudian berdiri dan berbalik menghadap suaminya.
Sesaat Steven terpana dengan penampilan Sheila malam ini. Dress batik sarimbit khusus keluarga yang dikenakannya mungkin biasa saja, tapi terlihat begitu luar biasa ketika Sheila yang mengenakannya.
__ADS_1
"Ayo Mas," kata Sheila hendak mengajak Steven untuk turun ke bawah.
"Tunggu sebentar."
Steven berjalan ke arah nakas dan mengambil sesuatu di laci nakas samping tempat tidur. Kembali menghampiri Sheila dengan membawa sebuah kotak beludru panjang berwarna merah.
"Buat kamu," kata Steven sembari mengulurkan kotak tersebut.
"Apa ini Mas?"
Sheila menerima kotak beludru pemberian Steven.
"Hanya hadiah kecil."
"Boleh aku buka?" tanya Sheila lagi.
Steven mengangguk sambil tersenyum lembut. Sheila kemudian membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah kalung dengan liontin berlian. Tidak terlalu besar, tapi nampak cantik dan elegan.
"Subhanallaah, ini indah banget Mas," kata Sheila terpukau.
"Sini Mas pakein."
Steven mengambil kalung dari dalam kotak kemudian berjalan ke belakang Sheila hendak memakaikan kalung tersebut. Sheila mengumpulkan rambutnya menjadi satu, memudahkan Steven memakaikan kalung tersebut. Keduanya menghadap cermin di meja rias.
"Cantik banget Mas," kata Sheila tersenyum dan membelai kalungnya.
"Terima kasih banyak ya Mas," kata Sheila setelah berbalik menghadap Steven.
Cup.
Satu ciuman mendarat di kening Sheila cukup lama.
"Sama-sama sayang," balas Steven. "Kita turun yuk," ajaknya kemudian.
Sheila mengangguk. Menggandeng lengan suaminya, mereka berdua kemudian keluar untuk bergabung bersama keluarga yang lain.
Menuruni tangga dengan tetap bergandengan tangan, perhatian keluarga yang berkumpul di bawah tertuju kepada Steven dan Sheila.
"Udah siap sayang?" tanya Sarah setelah Sheila sampai di depannya.
"Udah Bun."
"Ayo semuanya kita berangkat sekarang aja," ajak Sarah kemudian.
Rombongan pun berangkat meninggalkan rumah Jefri. Tidak banyak yang ikut, hanya keluarga dari kakak Sarah dan keluarga inti Jefri. Total hanya tiga mobil itupun sudah termasuk seserahan.
__ADS_1
Keluarga Jefri berada dalam satu mobil. Steven yang mengemudi dan Sheila duduk di sebelahnya. Di dalam mobil,
"Gue yang punya acara tapi kenapa jadi kalian berdua sih yang jadi pusat perhatian," gerutu Max.
"Kasian deh lu," goda Sheila menoleh ke belakang kemudian menjulurkan lidahnya.
"Jangan mulai deh," sela Steven yang duduk di belakang kemudi sambil menarik pipi Sheila agar kembali menghadap ke depan.
"Iiihh, Mas kok belain kak Max sih," rajuk Sheila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, bibirnya kok gitu lagi, mau dihukum lagi ya?"
Sheila reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Eh, apaan tuh pake dihukum segala? Emang hukumannya apaan?" tanya Max penasaran.
"Kepo. Rahasia perusahaan," jawab Sheila sewot.
"Huu, dasar Maemunah pelit," cibir Max.
"Max, Sheila, udah. Kalian ini ya, udah pada gede juga masih aja ribut," gerutu Sarah.
"Kayak gak biasa aja Bun," seloroh Leon.
Mereka lalu tertawa bersamaan. Sesampainya di rumah Sylvia, Sarah menggandeng Sheila jalan di depan sementara para lelaki masih mengurusi seserahan.
"Kalung kamu cantik banget Shei. Baru ya? Bunda kayaknya belum pernah lihat deh," tanya Sarah sambil menggandeng tangan Sheila.
"Hadiah dari Mas Steven Bun," jawab Sheila.
"Ooh. Pantes, cantik banget."
"Makasih Bun."
Acara berlangsung dengan lancar. Pada saat acara tukar cincin, Sheila melihat dengan haru Max yang sedang memasangkan cincin di jari manis Sylvia.
"Sayang banget kita gak melewati fase ini dulu. Apa kamu menyesal Shei?" tanya Steven setengah berbisik pada Sheila yang berdiri di sampingnya.
Sheila menoleh ke arah Steven kemudian tersenyum begitu manis.
"Sama sekali enggak Mas. Semua memiliki ceritanya masing-masing. Dan aku tidak menyesali apapun yang sudah terjadi pada kita."
Steven meraih pinggang Sheila kemudian mengecup keningnya.
"Beruntung banget Mas dapet istri kayak kamu Shei, meski Mas terlambat menyadari semuanya."
__ADS_1
"Gak ada kata terlambat Mas, semua memang butuh proses."
Apa yang dilakukan oleh Steven dan Sheila tidak luput dari perhatian Jefri dan Sarah. Keduanya saling berpandangan kemudian tersenyum. Bersyukur karena hubungan kedua putra putrinya semakin mesra. Menghilangkan perasaan bersalah karena telah menyetujui perjodohan mereka berdua dulu.