Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Kembali Ke Ibu Kota


__ADS_3

Satu tahun berlalu dan alhamdulillah sekarang Sonia sudah berhasil menamatkan kuliahnya. Pun juga dengan Safa dan Lucky yang seumuran dengannya.


"Ibu, Sonia dapet tawaran pekerjaan dari dosen Sonia di sebuah perusahaan," kata Sonia memberitahu ibunya.


Saat ini Sonia dan ibunya sedang memasak di dapur.


"Alhamdulillaah. Di perusahaan mana nak?" tanya Suci antusias.


"Di Jakarta Bu," jawab Sonia lirih, antara takut dan ragu-ragu.


Suci seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong sayuran. Sonia mendekati Suci kemudian menggenggam kedua tangan ibunya itu.


"Sendy dan Dennis masih membutuhkan biaya yang banyak untuk pendidikan mereka Bu. Sedangkan gaji yang ditawarkan di perusahaan tersebut juga lumayan besar. Ini adalah kesempatan emas yang tidak datang pada setiap lulusan Bu, hanya yang terpilih yang mendapat penawaran ini."


Suci masih terdiam. Sonia memahami apa yang menjadi kekhawatiran ibunya saat ini.


"Sonia janji Sonia akan menjaga diri dengan baik Bu. Sonia juga akan menggunakan identitas lain biar tidak dikenali. Tolong Bu, ijinkan Sonia pergi," mohon Sonia dengan sungguh-sungguh.


"Beri ibu waktu untuk berpikir ya nak," ucap suci setelah terdiam cukup lama. "Kapan kamu harus memberikan jawaban pada dosen mu itu?"


"Paling lambat akhir minggu ini Bu."


Suci tersenyum lembut kemudian membelai kepala Sonia.


"Besok ibu sampaikan keputusan ibu," kata suci pada akhirnya.


"Baik Bu," lirih Sonia.


🌸🌸🌸


"Gimana Bang?" tanya Steven kepada Andika yang sedang duduk di depannya.


"Beres. Sonia mau mengambil pekerjaan itu."


"Abang tempatin dimana?"


"Di tempat Sean aja. Tidak terlalu mencolok dan tidak akan menarik perhatian berlebih. Kebetulan juga ada posisi kosong di bagian keuangan."


"Abang udah kasih tau Sean dan Adrian?"


"Sebaiknya nggak usah. Sonia saja sedikit mengganti identitasnya. Biarkan semuanya berjalan apa adanya dan Sonia juga bisa bekerja dengan tenang."


"Oke Bang. Yang penting tetep selalu kita awasi aja."


"Pasti. Darius juga sudah menyerahkan semuanya sama kita. Tapi dia juga masih tetep ngawasin dari jauh."


"Good."


🌸🌸🌸


Saat ini Suci, Sendy, dan Dennis sedang mengantar Sonia ke stasiun.


"Ibu udah hubungi Om Ahmad. Beliau yang akan jemput kamu nanti di stasiun dan bantu kamu nyari kontrakan. Om Ahmad minta maaf karena nggak bisa bawa kamu ke rumahnya, yah kamu tau sendiri gimana Tante mu itu," kata Suci memberitahu.


"Iya ibu, nggak pa-pa kok. Lagian Sonia juga nggak mau ngerepotin Om Ahmad, apalagi sampai membuat Om dan Tante bertengkar," balas Sonia.

__ADS_1


"Setidaknya ibu bisa tenang kalau Om Ahmad mengetahui keberadaan kamu disana. Jadi kalau ada apa-apa sama kamu ada yang bisa ibu mintai pertolongan."


"Iya Bu, Sonia paham kok. Ya udah ya Bu, Sonia naik sekarang," pamit Sonia kemudian mencium punggung tangan Suci lalu memeluknya erat selama beberapa saat.


Setelah pelukan mereka terlepas Sonia kemudian beralih kepada kedua adiknya.


"Kakak pergi ya Dek. Kalian jaga ibu baik-baik, belajar yang rajin. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak, oke," pesan Sonia kepada Sendy dan Dennis.


"Oke kak," balas Sendy dan Dennis bersamaan.


Sendy dan Dennis mencium tangan Sonia bergantian. Sonia kemudian memeluk kedua adiknya itu bersamaan.


Tanpa mereka sadari Suci menghapus air mata di sudut matanya. Tidak rela sebenarnya melepas kepergian putri satu-satunya yang harus kembali sendirian ke ibu kota, tempat awal masalah mereka bermula. Rasa khawatir itu selalu menghantuinya.


Sonia kemudian naik ke atas kereta. Tidak berapa lama kemudian kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun. Sonia membalas lambaian tangan ibu dan kedua adiknya. Sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak jatuh saat itu juga. Sonia tidak ingin ibu dan kedua adiknya melihat air matanya dan menjadi sedih.


🌸🌸🌸


Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir sepuluh jam itu, Sonia akhirnya sampai di ibu kota. Turun dari kereta dengan membawa tas yang tidak terlalu besar berisi baju dan keperluan lainnya. Sonia kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Di luar pintu kedatangan nampak Ahmad dan seorang remaja laki-laki celingukan mencari keberadaan Sonia. Sonia yang lebih dulu melihat keberadaan Om dan keponakannya itu pun segera menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum Om," sapa Sonia.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Sonia? Ini beneran Sonia?" tanya Ahmad terkejut dan tidak percaya karena melihat penampilan Sonia yang begitu berbeda.


Ya, Sonia berhijab sekarang. Perubahan tersebut Sonia mulai sejak ayahnya meninggal. Selain ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Sonia juga tidak ingin menambah beban dosa untuk kedua orang tuanya. Dan juga, Sonia merasa perasaannya lebih tenang sekarang setelah mengenakan hijab.


"Iya Om, ini Sonia," jawab Sonia.


"Subhanallah, kamu cantik banget dengan hijab begini nak. Iya kan Is?" puji Ahmad sekaligus meminta persetujuan Ismail.


"Iya bener Pa. Kak Sonia jadi anggun banget," jawab Ismail ikut takjub.


"Kamu bisa aja ah Dek. Gimana kabar Om, Tante, dan adik-adik?" tanya Sonia.


"Alhamdulillaah kabar kami semua baik nak. Kabar nenek, ibu, dan adik-adik mu bagaimana?" Ahmad menjawab dan bertanya sekaligus.


"Alhamdulillaah semua juga baik kok Om," jawab Sonia.


"Syukurlah kalau begitu. Ya udah, yuk Om anterin ke kost-an kamu. Om udah nyariin kamu kost yang tempatnya nggak terlalu jauh dengan perusahaan tempat kamu bekerja nanti," kata Ahmad memberitahu.


"Makasih banyak ya Om. Maaf juga udah ngerepotin Om," balas Sonia merasa tidak enak hati.


"Kamu ngomong apa sih nak, kamu nggak ngerepotin Om kok. Justru Om yang harusnya minta maaf, maaf karena nggak bisa bawa kamu tinggal sama Om," sesal Ahmad.


"Nggak pa-pa kok Om. Om udah mau bantu Ana aja Ana udah makasih banget."


"Ana?" Ahmad bingung dengan perkataan Sonia yang menyebut dirinya sendiri sebagai Ana.


"Iya Om, selama disini nama tengah saya yang akan saya pakai, Anastasia," jawab Sonia.


"Ah iya, Om mengerti. Ibumu sudah menjelaskan sama Om kemarin."


"Berarti aku harus panggil kak Ana juga ya?" tanya Ismail

__ADS_1


"Iya Dek. Tolong ya, bantu kakak menutupi identitas kakak. Kakak masih takut kalau orang-orang jahat itu masih berusaha buat nyari kakak," jawab Sonia.


"Oke kak, aman," balas Ismail dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Makasih ya Dek."


"Ya udah, yuk berangkat sekarang," ajak Ahmad.


Sonia mengangguk kemudian mengikuti Ahmad berjalan menuju ke mobilnya. Ismail juga dengan sigap langsung mengambil alih tas yang Sonia bawa.


Beberapa saat kemudian akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang disebelahnya nampak berderet beberapa kamar kost.


Ahmad mengajak Sonia untuk turun kemudian memperkenalkannya dengan pemilik kost yang kebetulan juga sedang berada di halaman rumah.


"Assalamu'alaikum Pak Aji," sapa Ahmad.


"Oh, wa'alaikumsalam Pak Ahmad," balas Pak Aji yang langsung menyambut uluran tangan Ahmad.


"Pak Aji kenalkan ini Ana, keponakan saya yang akan nge-kost di tempat Pak Aji," kata Ahmad memperkenalkan Sonia kepada pemilik kost-an tersebut.


"Assalamu'alaikum Pak, nama saya Ana," Sonia pun memperkenalkan diri dan menyalami Pak Aji.


"Wa'alaikumsalam nak Ana. Mari, saya tunjukkan kamar kost nya," ajak Pak Aji setelah jabat tangan mereka terlepas.


Ahmad dan Sonia mengangguk, kemudian mengikuti langkah Pak Aji menuju ke deretan kamar kost di sebelah rumah. Ismail mengekor di belakangnya.


Pak Aji membuka sebuah pintu kamar.


"Nah nak Ana, ini kamar kost kamu. Semoga betah ya," kata Pak Aji.


"Makasih Pak," balas Sonia.


"Ya sudah, kalau begitu bapak tinggal dulu ya. Ini kuncinya," pamit Pak Aji sembari mengulurkan sebuah kunci kepada Sonia.


"Baik Pak, sekali lagi terima kasih," kata Sonia menerima kunci tersebut.


Setelah Pak Aji pergi, Sonia, Ahmad, dan Ismail pun masuk ke dalam kamar kost tersebut.


Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman, apalagi dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan ruang kecil di sebelah kamar mandi yang bisa digunakan sebagai dapur. Sonia memindai tempat yang akan dia tinggali selama berada di ibu kota itu dengan seksama.


"Maaf ya nak, memang tidak terlalu besar, tapi insya Allah lingkungan di sekitar sini baik dan aman" kata Ahmad.


"Ini sudah lebih dari cukup Om. Terima kasih banyak ya Om untuk semua bantuan Om," ucap Sonia tulus.


"Sama-sama nak. Ya sudah, Om sama Ismail permisi dulu ya. Kamu juga istirahatlah," kata Ahmad lagi.


"Iya Om. Sekali lagi terima kasih banyak ya Om."


"Sama-sama nak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Sonia mencium punggung tangan Ahmad sebelum Om nya itu pergi. Begitu juga dengan Ismail yang mencium tangan Sonia.


Setelah kepergian Ahmad dan Ismail, Sonia kemudian merapikan barang-barang bawaannya.

__ADS_1


'Semoga ini merupakan awal yang baik untuk kehidupan ku kedepannya Yaa Allah. Aku hanya ingin membahagiakan ibu dan adik-adikku. Semoga Engkau meridhoi niat baikku dan memberiku kemudahan, aamiin Yaa Robbal 'aalamiin,' do'a Sonia di dalam hatinya.


__ADS_2