
Hari bahagia Ken dan Santi akhirnya tiba. Saat ini semuanya tengah berkumpul di halaman belakang villa milik Wirawan yang sudah didekorasi sedemikian rupa untuk acara pesta pernikahan Ken dan Santi.
Di meja tempat akan diadakannya akad nikah, penghulu sudah duduk berhadapan dengan Ken dan Santi. Di sebelahnya Steven dan Jery duduk sebagai saksi. Sementara wali nikah untuk Santi akan diwakili oleh wali hakim.
Acara ijab kabul berjalan dengan lancar. Setelah kata 'syah' terucap dari saksi dan semua yang hadir, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do'a. Setelah itu penandatanganan dokumen-dokumen pernikahan.
Selesai acara ijab kabul dan berfoto bersama dengan kedua mempelai, acara pun dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Pesta pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, teman-teman dekat, dan beberapa kolega serta tamu undangan itu berjalan dengan lancar. Acara pesta yang tidak terlalu formal, lebih ke santai dan kekeluargaan.
Acara demi acara pesta akhirnya telah selesai terlaksana dengan baik. Beberapa tamu undangan dan kerabat juga sudah pamit. Para orang tua pun sudah kembali masuk ke dalam villa, hendak mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah setelah acara pesta pernikahan yang baru saja berakhir.
Tapi tidak dengan delapan pasangan yang saat ini masih berkumpul di sebuah meja panjang. Steven - Sheila, Danny - Lusia, Ken - Santi, Andika - Anita, Jery - Kania, Max - Sylvia, Leon - Tya, dan juga Toni - Dyah.
"Terima kasih ya semuanya sudah bersedia hadir dan memberikan do'a kalian untuk gue dan Santi," ucap Ken tulus, mengawali pembicaraan mereka.
"Sama-sama Ken," balas yang lainnya.
"Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah," do'a Anita.
"Langgeng sampai kakek nenek," sambung Andika.
"Dan semoga segera dikasih momongan," lanjut Lusia juga.
"Aamiin," balas Ken, Santi, dan semua yang ada disana.
"Akhirnya playboy kita nikah juga," celetuk Toni
"Ck, jangan mulai deh," Ken berdecak malas.
"Playboy apaan? Playboy nanggung iya, beraninya cuma sekedar gonta ganti doang," cibir Steven sambil memainkan tangan mungil Sean yang sedang dipangkunya.
Memainkan tangan mungil Sean sekarang menjadi hobi baru Steven semenjak kehadiran putranya tersebut. Interaksi sederhana yang mampu menyalurkan perasaan kasih sayang antara ayah dan anak.
"Iya tuh. Paling banter cuma jalan berdua, nonton, makan bareng, udah gitu aja," Danny pun menambahi.
"Mentok paling ciuman doang dia mah," Jery ikut-ikutan.
"Tenang, habis ini boleh unboxing Lo. Menikmati semua yang dulu belum pernah Lo lakuin sama cewek-cewek Lo yang cuma numpang lewat itu," goda Max juga yang sukses membuat pasangan pengantin baru itu merona.
"Dan gue jamin Lo bakal ngerasain nikmatnya pacaran setelah menikah, mau ngapain aja juga udah halal bro," imbuh Danny.
"Udah cukup dia main-main sama cewek, udah tobat semenjak serius sama Santi," kata Steven.
"Bener banget Lo Steve. Padahal dulu, beuh nggak terhitung deh berapa banyaknya cewek yang dia ajak jalan," Danny masih belum puas.
"Udah gitu nggak ada yang bertahan lebih dari dua minggu pula. Udah gatel pengen ganti yang lain," sambung Toni tak mau kalah.
__ADS_1
"Sialan Lo semua. Seneng banget sih jatohin gue di depan istri gue," gerutu Ken.
Gelak tawa langsung memenuhi meja tersebut. Terutama dari para laki-laki yang merasa berhasil mengerjai Ken.
"Justru Abang suka yang kayak Ken gitu, sekedar penjajakan mencari yang paling tepat dan terbaik. Bukan yang sukanya ngambil kesempatan untuk kesenangan semata dalam berhubungan," kata Andika setelah tawanya mereda.
"Betul banget Bang. Gue juga salut sama Ken yang nggak pernah memanfaatkan hubungannya dengan para gadis, nggak sampai merusak masa depan mereka. Walaupun gue tau seringkali mereka yang duluan ngegoda Ken untuk bertindak lebih jauh. Pernah liat sendiri soalnya gue," bela Leon juga.
"Dengerin tuh. Jangan cuma bisanya negatif thinking doang kalian sama gue," kata Ken jumawa merasa ada yang membela dirinya.
"Gue punya saudara perempuan, itu kenapa gue nggak mau mainin perempuan. Gue nggak mau kalau hal yang sama juga akan terjadi sama kakak gue. Karma is real bro, mungkin bukan kita yang langsung kena, bisa jadi imbasnya ke saudara atau bahkan ke anak kita nanti," lanjut Ken lagi.
"Gue setuju sama Lo Ken. Jangan pernah mempermainkan perasaan, apalagi cuma mencari kesenangan untuk memuaskan nafsu. Itu kenapa gue nggak mau lama-lama pacaran dan menumpuk dosa, setelah gue yakin gue mantap dengan Kania gue langsung lamar dia, walaupun kita baru kenal tiga bulan aja waktu itu," kata Jery.
"Setuju gue kak sama Lo. Terus kalian sendiri kapan? Jangan bisanya cuma ngejekin gue doang," tanya Ken kepada Toni dan Leon.
"Secepatnya dong bro," jawab Toni.
"Kalau gue tentu aja nungguin Toni duluan. Nggak mungkin dong Tya ngelangkahin Abang-nya," kata Leon.
"Kenapa nggak bareng aja sekalian?" celetuk Danny.
"Wah, ide Lo boleh juga tuh Dan. Gimana menurut Lo Ton?" tanya Leon.
"Ya iyalah. Gue serius ya sama Tya. Makanya nggak sabar pengen cepet-cepet ngehalalin," jawab Leon mantap, membuat wajah Tya yang duduk di sebelahnya memerah.
"Kak,,," rajuk Tya malu.
"Loh, beneran ini sayang," balas Leon.
"Kampret Lo Yon, udah sayang-sayangan aja Lo ama adek gue," kesal Toni.
"Hilih, Lo aja yang nggak berani ngasih panggilan sayang ke Dyah, kenapa jadi nyalahin gue?" cibir Leon.
"Kak Leon kenapa jadi ketularan usilnya Tya ya?" tanya Sheila heran.
"Biar nggak sepaneng katanya dek," jawab Leon.
"Biarin lah Shei, biar si kaku juga bisa menikmati hidupnya," bukannya membela Max justru ikut menggoda Leon.
"Seenaknya aja Lo Max," gerutu Leon.
"Udah, ngaku aja, semenjak sama Tya hidup Lo jadi lebih berwarna kan? Nggak kaku dan monoton mulu," cecar Max lagi.
"Iya-iya, gue akuin Tya emang banyak membawa perubahan positif dalam hidup gue. Makasih ya sayang," kata Leon sambil meraih tangan Tya kemudian mengecupnya. Keduanya lalu saling melempar senyum.
__ADS_1
"Asem Lo Yon, berani kecup-kecup adek gue di depan mata gue," kesal Toni sambil melempar Leon dengan serbet makan di depannya.
"Abang,,,," protes Tya tidak terima. "Kan cuma kecup tangan doang Bang."
"Iri bilang bos," goda Ken kepada Toni.
"Nggak usah ikut campur deh Lo," balas Toni semakin kesal.
"Weiss, selow bro. Sorry deh sorry," kata Ken.
"Mas,,," Santi memegang lengan Ken untuk menghentikan perdebatan mereka.
Nampak Dyah juga tengah menenangkan Toni dengan mengusap lembut lengannya berulang kali.
"Buruan nikah deh kalian, emosi gue liat kalian mesra-mesraan gitu," ketus Toni.
"Tya kan nggak mungkin ngelangkahin Abang," kata Tya.
"Ya udah kalau gitu kita nikah bareng aja," putus Toni akhirnya.
"Yes, akhirnya... Oke bro, dengan senang hati kalau gue mah," balas Leon.
"Awas aja kalau Lo cuma ngomong doang."
"Nggak dong bro. Secepatnya gue bawa keluarga gue buat ngelamar Tya," janji Leon yang lagi-lagi membuat wajah Tya memerah.
"Oke, gue tunggu kedatangan Lo dan keluarga Lo."
"Siap Abang ipar," kelakar Leon.
"Wah, berarti abis ini kita siap-siap pesta besar dong, double marriage Toni dan Dyah sama Leon dan Tya," kata Steven.
"Yoi bro, siapin angpao kalian mulai dari sekarang. Dua sekaligus soalnya," Toni sudah bisa berkelakar kembali.
"Kecil itu mah," kata Jery sambil menjentikkan jari kelingking dengan ibu jarinya dan langsung dihadiahi pukulan di lengannya oleh Kania.
"Hehe, bercanda honey," kata Jery sambil meringis.
"Percaya gue kak kalau Lo, sekelas kak Jery gitu loh," Danny menanggapi.
"Semoga lancar sampai hari H nanti untuk kalian berempat," do'a Andika.
"Aamiin..." yang lain kompak menyahuti.
Obrolan demi obrolan terus mengalir, menghangatkan suasana yang sedikit dingin. Canda dan tawa bersahutan terdengar dari meja tempat para sahabat itu berkumpul bersama.
__ADS_1