Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Pulang Ke Rumah ( Pertemuan Dua Sahabat )


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka sepakati semalam, sore ini setelah pulang dari kantor Sean dan Sonia segera bersiap. Mereka berdua akan pulang ke rumah Ayah Steven untuk memberitahukan kabar tentang pernikahan mereka kepada keluarga Sean.


Jam lima sore Sean dan Sonia sudah sampai di rumah Ayah Steven.


"Aku gugup banget Mas," keluh Sonia sebelum turun dari mobil.


Sean tersenyum kemudian mengusap lembut puncak kepala Sonia.


"Bismillah aja. Kita hadapi sama-sama, ya. Kamu percaya kan sama Mas?"


Sonia tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sonia kemudian mengucap basmalah pelan.


"Kita turun sekarang?" tanya Sean.


"Iya."


Sean dan Sonia kemudian turun dari mobil. Mereka berdua kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan. Sesampainya di dalam, ternyata semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga. Bahkan Opa Ricko dan Oma Amelia pun ada disana.


"Assalamu'alaikum," sapa Sean.


"Wa'alaikumsalam," balas semuanya bersamaan.


Seketika semua yang ada disana pun menoleh ke arah Sean dan Sonia. Safa langsung berdiri begitu menyadari seseorang yang datang bersama kakaknya itu. Nampak tidak asing. Sheila dan Steven pun ikut berdiri.


"Abang?" tanya Sheila bingung, apalagi setelah melihat bahwa putranya itu tidak datang sendirian.


Sonia dan Safa saling beradu pandang sejak tadi. Lama kelamaan kedua mata dua sahabat itu sama-sama berkaca-kaca.


"Sonia," pekik Safa yang langsung berlari dan memeluk erat sahabat yang selama ini selalu dia rindukan itu.


"Safa," balas Sonia yang membalas pelukan Safa dengan sama eratnya.


Tangis haru dan bahagia dua sahabat itu seketika tumpah. Sheila pun ikut menangis haru, akhirnya putrinya bisa bertemu kembali dengan sahabat yang selama ini selalu dia rindukan. Steven merangkul pundak Sheila, mengusapnya pelan, menenangkan istrinya itu.


Opa Ricko, Oma Amelia, Syafiq, dan Adrian pun sudah ikut berdiri. Opa Ricko juga terlihat merangkul Oma Amelia dan menenangkan istrinya yang ternyata juga ikut menitikkan air mata. Suasana haru memenuhi ruang keluarga Steven sore itu menyaksikan pertemuan dua sahabat yang sudah lama terpisahkan.


"Aku kangen banget sama kamu," kata Safa di sela Isak tangisnya.


"Aku juga kangen banget sama kamu Sa," balas Sonia memeluk sahabatnya itu lebih erat lagi. "Maafin aku udah pergi tanpa pamit dulu ke kamu."


"Aku udah tau semuanya. Kamu nggak salah So."


Sonia melepaskan pelukan mereka.


"Sa-So-Sa-So," keluh Sonia memasang wajah pura-pura marah.


"Kan aku Sa, kamu So," jawab Safa.


Seketika tawa pecah dari kedua sahabat yang kembali berpelukan itu. Ya, dari dulu Sonia selalu memanggil Safa dengan panggilan 'Sa' dan Safa pun juga memanggil Sonia dengan panggilan 'So', suku kata awal dari nama masing-masing. Setelah itu salah satu dari mereka akan mengeluh seperti Sonia tadi, dan yang satu akan menjawab seperti jawaban Safa tadi. Kebiasaan kecil Sonia dan Safa ketika mereka masih di bangku sekolah dulu.


Semua yang ada disana ikut mengulum senyum menyaksikan perdebatan kecil dua sahabat itu. Sheila kemudian melangkah mendekati Sonia dan Safa yang masih setia berpelukan.

__ADS_1


"Sonia," panggil Sheila sambil memegang pundak Sonia.


Pelukan Sonia dan Safa terlepas. Sonia kemudian beralih kepada Sheila.


"Bunda," panggil Sonia.


Sheila pun segera memeluk Sonia dan mengusap kepalanya lembut.


"Bunda kangen banget sama kamu."


"Sonia juga kangen sama Bunda."


Sheila melepaskan pelukan mereka. Sonia segera meraih tangan kanan Sheila dan menciumnya. Sheila tersenyum, kesopanan Sonia dari dulu memang selalu membuatnya kagum.


"Gimana kabar kamu sayang?"


"Alhamdulillaah Sonia baik Bun. Bunda gimana kabarnya?"


"Syukurlah kalau begitu. Alhamdulillaah Bunda juga baik sayang."


"Ayo ketemu Ayah, Opa, dan yang lainnya juga," ajak Safa yang sudah merangkul lengan Sonia kemudian mengajak Sonia menemui Steven.


"Ayah," sapa Sonia kemudian mencium punggung tangan kanan Steven.


"Hai sayang," balas Steven sambil mengusap lembut kepala Sonia.


Safa membawa Sonia menghampiri Opa Ricko dan Oma Amelia.


"Sonia. Opa senang bisa berjumpa dengan kamu lagi sayang," balas Ricko.


"Oma Amel," sapa Sonia mencium punggung tangan kanan Amelia juga.


Oma Amelia justru langsung memeluk Sonia.


"Syukurlah kamu sudah kembali sayang."


"Iya Oma."


"Nah, kalau yang itu Mas Rian sama kak Syafiq. Kamu masih ingat sama mereka kan So?" kata Safa setelah pelukan Sonia dan Oma Amelia terlepas.


"Iya, aku masih ingat sama mereka kok Sa," balas Sonia.


Sonia kemudian beralih memandang ke arah Adrian dan Syafiq lalu menyapa mereka.


"Kak Rian, kak Syafiq."


"Hai Sonia," balas Adrian dan Syafiq bersamaan.


"Udah kan kangen-kangenannya?" tanya Steven.


"Belum cukup Yah. Safa masih kangen banget sama Sonia," rajuk Safa yang sudah memeluk Sonia dari samping.

__ADS_1


"Nanti dilanjut lagi. Sekarang kita semua duduk dulu yuk. Ada sesuatu yang mau Abang kamu sampaikan sama kita," kata Steven.


"Eh, Abang. Safa sampai lupa."


Safa kemudian berlari menghampiri Sean dan langsung memeluk Sean.


"Makasih ya Bang. Abang udah nepatin janji Abang dan bawa Sonia kembali buat Safa," kata Safa masih dengan memeluk kakaknya itu.


"Iya Dek, sama-sama," balas Sean sambil mengusap lembut puncak kepala Safa.


"Udah yuk, duduk dulu semuanya," kata Steven lagi.


Safa kembali berlari menghampiri Sonia. Safa kemudian membawa Sonia untuk duduk di sofa panjang. Opa Ricko dan Oma Amelia duduk bersisian, begitu juga dengan Steven dan Sheila. Sementara Adrian dan Syafiq duduk di sofa tunggal. Rupanya Steven sudah mempersiapkan tempat duduknya sedemikian rupa, sehingga bisa pas posisinya. Sean kemudian mendudukkan dirinya di samping Sonia.


"Eh, kok Abang duduk disitu sih?" tanya Safa heran.


"Nggak pa-pa Dek," jawab Sean sambil tersenyum yang justru membuat Safa semakin bingung.


Sean melihat ke arah Steven. Setelah melihat Steven menganggukkan kepalanya, Sean kemudian memulai pembicaraannya.


"Sebelumnya, Abang mau ngucapin terima kasih karena semuanya sudah mau berkumpul sore ini. Maaf, mungkin sedikit mengejutkan, tapi Abang mau menyampaikan kepada semuanya kalau Abang dan Sonia sudah menikah sebelas hari yang lalu," kata Sean.


Sontak semuanya menjadi terkejut mendengar penuturan Sean. Kecuali Steven dan Adrian tentu saja.


"So?" tanya Safa masih tidak percaya.


"Abang?" Sheila meminta penjelasan kepada putra sulungnya itu.


Sean kemudian menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai akhir. Sheila, Safa, dan Oma Amelia kompak menutup mulut mereka dengan kedua tangan masing-masing karena terkejut mendengar semua penjelasan dari Sean.


Sheila kemudian bangkit dan menghampiri Sonia yang duduk di antara Sean dan Safa. Sheila menangkup pipi Sonia dengan kedua tangannya, mencium kening Sonia, kemudian memeluknya erat.


"Subhanallah. Rencana Allah SWT memang tidak bisa ditebak. Tapi Bunda yakin kalau ini pasti yang terbaik untuk kalian berdua. Bunda bahagia sekali sayang. Bunda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau kamu akan menjadi menantu Bunda. Subhanallah, alhamdulillaah," kata Sheila mengungkapkan kebahagiaannya.


Sean, Steven, Opa Ricko, Oma Amelia, Syafiq, dan Adrian, semuanya tersenyum melihat reaksi Sheila dan begitu sayangnya Sheila pada Sonia. Tapi tidak dengan Safa. Gadis itu diam mematung di sebelah Sonia yang sedang dipeluk oleh Sheila.


Seakan menyadari keterdiaman putrinya, Sheila kemudian melepaskan pelukannya pada Sonia. Sheila dan Sonia menatap ke arah Safa yang masih diam tanpa ekspresi. Yang lain pun seketika memusatkan perhatian mereka ke arah Safa juga.


"Sa,,," panggil Sonia kemudian menggenggam kedua tangan Safa.


"Jadi sekarang kamu adalah kakak ipar aku?" tanya Safa dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"Maaf Sa. Semuanya terjadi begitu cepat dan diluar perkiraan kami. Tolong maafkan aku Sa," pinta Sonia.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Semuanya seakan menahan nafas, menunggu balasan dari Safa. Dan tidak disangka, Safa justru langsung menarik Sonia ke dalam pelukannya.


Air mata kembali mengalir dari dua sahabat itu, begitu pun juga dengan Sheila. Sementara yang lainnya menghembuskan nafas dengan lega.


"Aku seneng banget So. Sekarang kamu bukan hanya sahabat baik aku, tapi juga kakak ipar aku. Sekarang kita benar-benar jadi saudara So," kata Safa masih sambil memeluk Sonia.


"Iya Sa. Aku juga senang. Kita saudara sekarang Sa," balas Sonia.

__ADS_1


Sean bersyukur karena reaksi dari keluarganya sama seperti yang dia harapkan. Syukurlah semuanya bisa menerima pernikahannya dengan Sonia.


__ADS_2