
"Mas sengaja nyuruh Mbak Santi yang berangkat meeting sama Ken untuk membantu Ken PDKT sama Mbak Santi ya?" tanya Sheila.
Saat ini keduanya sedang duduk bersisian di dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Damar. Mereka baru saja selesai melakukan pemeriksaan kehamilan Sheila di rumah sakit.
"Sengaja nggak sengaja sih. Kan Mas emang beneran ada keperluan mau nganterin kamu periksa kandungan. Kebetulan klien yang ini dari awal emang Santi juga yang ngurusin berkasnya. Dan kebetulan juga Ken bilang sama Mas kalau dia pengen meeting berdua biar bisa PDKT sama Santi. Jadi ya udah deh," jawab Steven enteng.
"Banyak banget kebetulannya?" tanya Sheila sambil memicingkan kedua matanya ke arah Steven membuat Steven tergelak menanggapi kecurigaan istrinya.
"Beneran sayang, Mas nggak bohong kok," jawab Steven masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Sebaiknya Mas jangan terlalu ikut campur dalam hubungan mereka deh. Takutnya nanti malah jadi nggak enak satu sama lain," kata Sheila mencoba menasehati Steven.
"Iya sayang, Mas paham kok. Mas juga nggak mau ikut campur dalam hubungan mereka. Tapi kalau cuma sekedar membantu ngasih kesempatan Ken untuk berusaha lebih dekat dengan Santi, Mas rasa itu nggak pa-pa deh," Steven mengutarakan pendapatnya.
"Nggak pa-pa sih Mas, asal jangan mencolok banget aja. Jangan keseringan juga, takutnya Mbak Santi malah nggak nyaman nantinya."
"Siap Bu Bos," balas Steven dengan sikap tangan hormat.
"Apaan sih Mas. Eh, kok kita kesini sih Mas?" tanya Sheila bingung setelah menyadari kalau mobil yang mereka tumpangi masuk ke pelataran parkir sebuah mall. "Mas mau beli sesuatu?" tanya Sheila lagi.
"Bukan Mas, tapi kita. Kita beli perlengkapan buat dedek bayi yuk. Usia kehamilan kamu kan udah masuk tujuh bulan sayang, mumpung Mas ada waktu luang juga," jawab Steven penuh sayang.
"Uuhhh, Mas so sweet banget sih," kata Sheila terharu.
"Buat kamu sama dedek bayi apa sih yang enggak sayang. Sekalian kita beli perlengkapan yang kurang untuk acara pengajian tujuh bulanan besok. Katanya kamu mau beliin anak-anak panti peralatan sekolah baru?"
"Iya Mas," jawab Sheila dengan penuh semangat.
...
Acara meeting yang dilanjutkan dengan makan siang berjalan dengan lancar. Ken dan Santi nampak berdiri dan saling berjabat tangan dengan klien mereka yang sedang berpamitan.
"Terima kasih banyak Pak Ken, Bu Santi. Semoga kerjasama kita kali ini sukses. Kami permisi pamit dulu," kata sang klien sambil menjabat tangan Ken erat.
"Sama-sama Pak. Saya juga berharap kerjasama kita kali ini lancar dan sukses. Hati-hati di jalan ya Pak," balas Ken.
"Baik Pak Ken. Kami permisi dulu," pamit sang klien.
"Silahkan Pak," Ken dan Santi mempersilahkan.
Setelah klien mereka dan sekretarisnya pergi, Ken beralih ke Santi.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?" tanya Ken.
"Maaf Pak, saya ijin ke toilet sebentar ya," kata Santi.
"Oke, saya tunggu disini ya," balas Ken.
"Baik Pak, permisi."
Santi pun segera pergi menuju toilet karena benar-benar sudah tidak bisa menahan panggilan alamnya.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet Santi pun berniat kembali ke mejanya tadi, merasa tidak enak kalau Ken menunggu terlalu lama. Tapi baru beberapa meter meninggalkan toilet tiba-tiba Santi bertabrakan dengan seorang wanita cukup keras hingga membuat Santi membentur dinding pelan.
"Aahh, maaf mbak saya nggak sengaja," kata Santi lebih dulu meminta maaf karena dia sadar tadi dirinya sempat tidak memperhatikan jalan karena sedang merapikan blazernya.
Namun sepertinya itikad baik Santi tidak mendapatkan balasan dari wanita tersebut yang nampak begitu marah dan emosi.
"Lo punya mata nggak sih? Kalau jalan tuh jangan meleng aja dong," sembur wanita itu emosi.
"Maaf mbak, saya beneran nggak sengaja," Santi masih mencoba untuk bersabar.
"Makanya kalau jalan tuh pake mata," wanita itu nampak masih belum terima.
'Dih, nyolot nih cewek. Yang namanya jalan ya pake kaki dong, masak pake mata. Maunya apa sih nih cewek? Gue udah minta maaf duluan loh."
"Oke, saya akui saya salah, karena tadi lagi ngerapihin blazer saya makanya nggak lihat jalan. Jadi, saya minta maaf sama mbak," Santi masih bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Enak aja Lo cuma minta maaf doang," kata si wanita masih emosi.
"Ya terus, mbak maunya gimana? Emang mbak-nya ada yang luka? Kalau ada saya siap kok tanggung jawab. Mbak kan nggak sampe jatuh tadi, justru saya loh mbak yang kebentur tembok. Tapi saya tetep minta maaf duluan. Terus mbak maunya gimana lagi?" tanya Santi yang lama-lama mulai jengah juga.
"Honey ada apa?" terdengar suara seorang laki-laki bertanya dari arah belakang Santi.
Tubuh Santi menegang seketika dengan kedua mata membelalak terkejut, dia tau betul suara itu. Dan sungguh, dia tidak siap untuk bertemu kembali dengan pemilik suara itu.
"Honey, wanita ini nabrak aku," rengek si wanita manja sambil berlalu melewati Santi menghampiri laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tapi kamu nggak pa-pa kan honey?" tanya Ryo nampak khawatir.
Ya, Ryo. Seseorang yang sangat dihindari oleh Santi agar tidak bertemu kembali.
"Aku nggak pa-pa. Tapi kan aku kaget honey," rajuk si wanita lagi.
__ADS_1
Santi menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian. Santi kemudian membalikkan badannya.
Ekspresi kaget pun langsung nampak di wajah Ryo begitu melihat Santi.
"Maaf, saya beneran nggak sengaja nabrak mbak-nya tadi. Dan saya juga udah minta maaf berkali-kali," kata Santi berusaha setenang mungkin.
"Enak aja tinggal minta maaf doang. Makanya lain kali kalau jalan tuh pake mata. Dasar cewek kampungan. Kok bisa sih cewek kayak kamu masuk restoran mewah begini? Bikin masalah aja," ejek si wanita.
"Honey, udah," Ryo mencoba menenangkan si wanita.
Santi mengepalkan kedua tangannya. Marah? Tentu saja. Tapi Santi masih bisa memakai akal sehatnya. Dia tidak ingin masalah sepele ini menjadi semakin berlarut-larut. Santi hanya ingin segera pergi dari sini. Rasanya dada Santi sudah begitu sesak.
"Tolong jaga bicara anda," ucap Ken tiba-tiba.
Ketiganya kemudian mengarahkan pandangan kepada Ken yang baru saja datang. Ken berjalan menghampiri Santi lalu berdiri di sampingnya. Ken sengaja menyusul Santi setelah mendengar terjadi keributan di dekat toilet. Ken mengkhawatirkan Santi. Dan ternyata firasatnya tidak meleset.
"Ken," panggil Ryo dan Leana, wanita yang bertabrakan dengan Santi tadi.
Tentu saja mereka mengenal satu sama lain karena mereka adalah teman kuliah dulu.
"Apa pantas kata-kata seperti tadi keluar dari mulut seorang wanita berpendidikan seperti kamu Le?" tanya Ken tegas dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat.
"Tapi dia udah nabrak aku Ken," jawab Leana membela diri.
"Dan bukankah Santi sudah meminta maaf? Berkali-kali malah. Lalu apa lagi masalah kamu?" tanya Ken yang langsung membuat Leana salah tingkah.
Tidak mungkin kan dia jujur mengatakan kalau dia memang sengaja menabrak Santi dan mencari masalah dengannya karena cemburu? Leana tahu siapa Santi. Dan Leana juga tahu karena Santi lah dulu Ryo menolak dijodohkan dengan dirinya. Rasa kesal dan tidak suka yang masih bersemayam di dalam hatinya sampai sekarang yang membuat Leana melakukan semua ini.
"Sudah Pak. Jangan diperpanjang lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang," ajak Santi kepada Ken.
Selain tidak ingin memperpanjang masalah Santi juga ingin segera pergi dari situasi menyesakkan ini. Kenangan-kenangan tentang masa lalu kembali berputar di otaknya. Bahkan Santi kembali bisa merasakan rasa sakit dan kecewa itu.
"Tapi seharusnya Leana juga minta maaf sama kamu San, dia juga salah. Apalagi dengan kata-kata kasarnya tadi," justru Ken yang tidak terima.
"Cukup Pak. Tolong," lirih Santi dengan memegang lengan Ken.
Ken melihat luka dan juga rasa tidak nyaman di mata Santi. Demi apapun Ken sangat marah sekarang. Rasanya Ken ingin menghajar siapa saja yang menyakiti gadisnya. Tapi akal sehatnya masih berfungsi. Ken harus segera membawa Santi pergi dari sini sekarang juga kalau tidak ingin melihat gadisnya lebih terluka lagi.
Ken melepaskan tangan Santi yang memegang lengannya dan justru menggenggamnya. Santi tidak menolak, membuat Ken tersenyum lembut.
"Kami pergi dulu Ryo, Leana. Lain kali bertindaklah lebih sopan terhadap orang lain," kata Ken.
__ADS_1
Ken membawa Santi pergi dari sana, masih dengan menggenggam lembut tangan Santi. Mereka meninggalkan Ryo dan Leana yang berdiri terdiam dengan pemikirannya masing-masing.