Cinta Sheila

Cinta Sheila
Keep Fighting Ken


__ADS_3

"Kita mampir dulu ke masjid terdekat Pak," perintah Ken kepada Pak Wanto, driver kantor yang mengantar dirinya dan Santi meeting kali ini.


"Baik Pak," balas Pak Wanto patuh.


Santi masih terus terdiam sambil melihat keluar jendela. Tidak ada satu pun kata terucap semenjak mereka keluar dari restoran tadi hingga sekarang. Ken mencoba memahami dan memberinya waktu.


Tidak lama kemudian mobil berhenti di pelataran parkir sebuah masjid.


"Kita sholat Dzuhur dulu yuk San," ajak Ken.


Santi menoleh ke arah Ken, kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ken, Santi, dan Pak Wanto pun turun dari mobil. Setelah mengambil wudhu ketiganya kemudian sholat Dzuhur berjamaah dengan Ken sebagai imam-nya.


Perubahan yang terjadi pada Steven dan Danny akhirnya dirasakan Ken juga. Perlahan namun pasti Ken kini juga mulai rutin sholat lima waktu lagi. Bahkan Ken pun sudah tidak canggung bertindak sebagai imam seperti saat ini.


Siapa lagi kalau bukan Santi alasan awal yang membuat Ken menjadi berubah seperti saat ini. Membuat Ken bertekad untuk bisa merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, untuk bisa menjadi pantas untuk mendapatkan Santi.


Selesai sholat dan berdo'a, Pak Wanto lebih dulu meninggalkan Ken dan Santi, seolah tahu bahwa kedua atasannya membutuhkan waktu untuk berbicara.


"Are you okay?" tanya Ken kepada Santi yang hendak memakai sepatunya di teras masjid.


Santi mengangkat wajahnya, melihat ke arah Ken, kemudian tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Senyum yang tidak sampai ke matanya, Ken tahu itu. Ken lalu duduk di sebelah Santi.


"Kamu pernah melihatku berada dalam kondisi terburuk-ku, menemaniku, bahkan menghiburku dengan kata-katamu yang bagaikan sihir. Kata-katamu waktu itu bagaikan sebuah oase, menghilangkan segala resah dan kesedihan yang aku rasakan saat itu."


Santi terdiam mendengar setiap perkataan Ken.


"Dan sekarang, tolong ijinkan aku, setidaknya menemanimu, melewati kondisi burukmu saat ini," pinta Ken.


Santi kembali mengulum senyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih... Mas," balas Santi diakhiri dengan panggilan 'Mas' kepada Ken, seperti apa yang pernah diminta Ken pada saat mengantarnya pulang malam itu, setelah acara syukuran di rumah Steven.


Senyum Ken merekah, hatinya membuncah bahagia, akhirnya Santi bersedia mengubah panggilan kepada dirinya di luar kantor. Sebuah kemajuan yang signifikan.


"Mas Ken?" panggil Santi karena bingung melihat Ken yang terus terdiam.


"Ah, iya," balas Ken tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Santi.


"Tidak. Aku hanya merasa tidak percaya saja karena akhirnya kamu bersedia memanggilku dengan sebutan 'Mas'. Aku senang sekali," jawab Ken tidak menutupi rasa bahagianya sedikit pun.


Santi kembali tersenyum. Kali ini senyuman itu begitu tulus, begitu indah di mata Ken.


"Dari tadi kamu terus diam, Mas jadi bingung," Ken pun mulai merubah panggilan untuk dirinya sendiri, mengikuti panggilan Santi kepada dirinya.


"Maaf," sesal Santi.


Ken tersenyum lalu mengusak lembut kepala Santi. Gerakan refleks yang tanpa Ken sadari mampu membuat Santi, bahkan juga Ken sendiri, merona dan salah tingkah.


Hening sesaat.


"Kamu masih mencintainya?" tanya Ken hati-hati.


Santi tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Ken bingung.


"Tiba-tiba saja rasa kecewa dan sakit hati itu muncul lagi, bersamaan dengan ingatan tentang kejadian waktu itu," jawab Santi sendu.


"Saat itu pasti sangat buruk?" tanya Ken lagi dengan nada prihatin.


"Memang. Tapi untunglah saat itu aku mendapat dukungan dari orang-orang yang menyayangiku dengan tulus, sehingga aku bisa bangkit dan melewati semuanya," jawab Santi, menerawang kembali ke saat-saat dimana dirinya pernah terpuruk.


"Dan karena alasan itukah kamu belum bisa menerimaku?"


"Maaf Mas," sesal Santi untuk yang kesekian kalinya.


Ken tersenyum lembut sebelum menjawab.


"Tidak apa-apa. Mas akan buktikan kalau Mas dan keluarga Mas berbeda. Kami tidak seperti mereka," jawab Ken begitu mantap.


"Tolong jangan Mas. Aku tidak pantas untuk itu," tolak Santi merasa rendah diri.


"No Santi, kamu pantas, sangat pantas," ucap Ken meyakinkan.


...


Acara pengajian syukuran tujuh bulanan kehamilan Sheila berjalan dengan lancar. Saat ini semuanya sedang menikmati hidangan sambil bercengkrama di taman belakang kediaman Ricko.


Santi sedang membagikan balon untuk anak-anak panti.


"Tante cantik, Kiara mau balonnya juga," pinta Kiara yang tiba-tiba menghampiri Santi.


"Oh, tentu saja sayang. Ini dia, balon untuk Kiara yang cantik," kata Santi sambil berjongkok memberikan sebuah balon kepada Kiara.


Santi tertawa melihat tingkah lucu Kiara. Santi bahkan membenarkan letak jilbab Kiara yang sedikit miring kemudian mengusap kepalanya penuh sayang.


"Seneng amat sayang?" tanya Kania yang berjalan menghampiri Santi dan Kiara.


"Mommy, lihat Kiara dapet balon dari Tante cantik," kata Kiara memamerkan balon yang ada di tangannya.


"Wah, balonnya lucu ya sayang, bentuk hati gitu," balas Kania menanggapi celotehan Kiara.


Santi segera berdiri untuk menyapa Kania, yang ternyata tidak sendirian, tapi berdua dengan Jihan, ibu Kania dan Ken.


"Dokter Kania, dokter Jihan," sapa Santi sopan.


"Jangan terlalu formal begitu San, panggil aja kakak kayak yang lainnya, ya," kata Kania.


"Ah, iya kak," balas Santi sambil tersenyum.


"Sama Tante juga ya San, nggak usah pake embel-embel dokter segala," kata Jihan.


"Baik Tante," balas Santi juga.


"Kamu pinter banget ya San menangani anak-anak panti yang segitu banyaknya," puji Kania.


"Sudah terbiasa kak dari dulu sering bantuin Ummi sama Abi ngurusin adik-adik panti. Santi juga masih sering mampir kalau ada waktu luang, yah itung-itung membalas kebaikan Ummi sama Abi dengan bantuin mereka sesekali lah kak," jawab Santi.


"Tante bener-bener salut sama kamu San. Masih bisa nyempetin waktu untuk membantu di panti di sela-sela kesibukan kamu yang pasti padet banget," puji Jihan juga.

__ADS_1


"Biasa aja kok Tante, jangan terlalu dilebihkan," Santi merasa tidak enak.


"Oh iya San, kata Sheila kamu pinter masak ya?" tanya Kania.


"Nggak pinter-pinter banget kok kak, ya cuma sekedar bisa aja," jawab Santi merendah.


"Besok kan hari Minggu, kamu dateng ke rumah Tante ya San, kita masak sama-sama. Mumpung Tante dan Kania juga libur," ajak Jihan tiba-tiba.


Santi sampai kaget dan salah tingkah, bingung harus menjawab apa.


"Ta-tapi Tan, Santi nggak enak kalo tiba-tiba dateng ke rumah Tante," kata Santi berusaha menolak.


"Tante nggak menerima penolakan. Pokoknya besok pagi kamu siap-siap ya, biar Ken yang jemput ke apartemen kamu," tegas Jihan tidak ingin dibantah.


"Ta-tapi,,,"


"Udah San, nurut aja, mamih kakak ini orangnya paling nggak bisa dibantah pokoknya," kata Kania ikut mengompori.


"Fix, besok pagi kamu siap-siap ya San. Jam sembilan Tante suruh Ken jemput kamu," putus Jihan.


"Ba-baik Tan," kata Santi akhirnya mengalah.


"Yeay besok Tante cantik main ke rumah Kiara," sorak Kiara bahagia.


"Tuh San, Kiara aja sesenang itu loh kamu mau dateng," kata Kania.


Santi hanya bisa tersenyum, sedikit canggung sebenarnya dengan ajakan Jihan dan Kania yang tiba-tiba. Tapi melihat raut kebahagiaan di wajah Kiara membuat Santi akhirnya ikut bahagia juga.


Di meja tidak jauh dari tempat Santi , Jihan, Kania, dan Kiara sedang mengobrol, Ken duduk bersama Steven, Danny, Andika, Max, Leon, Jery dan juga Toni. Mereka duduk berkumpul menjadi satu karena para wanita juga sedang sibuk dengan urusan masing-masing.


"Hebat juga Lo Bro, nggak tanggung-tanggung PDKT Lo," puji Danny.


"Berani sumpah, gue beneran nggak tahu tentang ide mamih itu," balas Ken.


"Jelas aja Lo nggak tahu, Kania tuh yang langsung ngomporin mamih sampai akhirnya tercetus ide itu," kata Jery.


"Dasar kakak," gerutu Ken.


"Alah, nggak usah muna deh Lo. Lo juga seneng kan dibantuin PDKT sama nyokap dan kakak Lo," cibir Toni.


"Hehe, jelas lah Bro. Kalian tahu sendiri kan gimana cerita masa lalu Santi sama Ryo, itu kenapa gue sangat bersyukur karena keluarga gue juga menyukai Santi dan sama sekali nggak mempermasalahkan latar belakang dan asal usul Santi," kata Ken tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi perjuangan Lo belum berakhir sampai Santi bersedia membuka hatinya dan menerima perasaan Lo Bro. So, keep fighting," Steven mengingatkan.


"Yah, Lo bener Steve. Gue masih harus meyakinkan Santi tentang keseriusan perasaan gue ke dia," kata Ken.


"Semangat Bro. Gue yakin Lo pasti bisa, apalagi dengan dukungan penuh dari seluruh keluarga Lo," Leon menyemangati.


"Pasti Yon," jawab Ken mantap.


"Semoga sukses Bro," yang lain pun ikut menyemangati.


Ken tersenyum, merasa beruntung memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan memberikan semangat kepadanya.


"Thanks guys. Do'ain aja ya, semoga perjuangan gue segera berhasil," kata Ken yang langsung di-amin-kan oleh teman-temannya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2