
Sean menekan kombinasi angka yang merupakan pin pada pintu apartemennya. Dan setelah pintu terbuka Sean, Sonia, Adrian, dan Nadirga pun masuk ke dalam.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon dengan ibunya tadi Sonia dan yang lainnya pun berpamitan kepada Ayu dan Erna. Sean, Sonia, Adrian, dan Nadirga juga berpamitan kepada Pak Aji selaku pemilik kost, sekaligus berterima kasih dan mengembalikan kunci kamar kost milik Sonia kepada Pak Aji.
Dan saat ini, disinilah mereka sekarang, di dalam apartemen milik Sean.
"Gue sama Dirga langsung balik ya. Udah malem banget juga, kalian juga harus istirahat," kata Adrian.
"Oke. Thanks ya Yan, Ga, untuk semuanya. Sorry ngerepotin kalian malem-malem," balas Sean.
"Never mind, kayak sama siapa aja sih Lo. Kakak sama Dirga balik dulu ya So- eh Ana," pamit Adrian yang hampir saja kelepasan memanggil dengan nama Sonia.
"Iya kak, makasih untuk semuanya," balas Sonia.
Sean sedikit mengerutkan keningnya, sejak kapan Ana memanggil Adrian dengan sebutan kakak?
"Gue balik ya Bang, Ana," kata Nadirga juga.
"Thanks for everything ya Ga," ucap Sean sementara Sonia hanya menganggukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum," pamit Adrian dan Nadirga.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati," balas Sean dan Sonia.
Adrian dan Nadirga kemudian meninggalkan apartemen Sean.
Suasana canggung seketika melingkupi Sean dan Sonia setelah kepergian Adrian dan Nadirga. Sean kemudian berdehem pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya dan mengawali pembicaraan di antara mereka.
"Ehem. Ana, bisa tolong kamu buatkan teh untuk saya?" pinta Sean.
"Tentu saja Pak. Kalau boleh saya tau, dimana letak dapurnya?"
"Ikut saya. Barang-barangnya biar disini aja dulu."
"Baik."
Sonia kemudian mengikuti langkah Sean menuju ke dapur di apartemen tersebut.
"Cangkirnya ada di atas. Gula sama teh ada di rak bawahnya," kata Sean memberitahu.
"Baik. Bapak tunggu saja di depan biar nanti saya anter."
"Saya tunggu di meja makan aja."
"Oh, baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya Pak."
Sean mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Buat dua, satu lagi untuk kamu," kata Sean kepada Sonia yang sedang mengambil cangkir.
"Ba-baik Pak," balas Sonia tergagap.
Sesaat kemudian Sonia menghampiri Sean dengan nampan berisi teh di tangannya.
__ADS_1
"Silahkan Pak," kata Sonia setelah meletakkan secangkir teh di depan Sean.
"Makasih Ana. Duduklah, kita bicara dulu sebentar."
"Baik Pak."
Sonia kemudian duduk di kursi di depan Sean.
"Adrian saja sudah kamu panggil dengan sebutan 'kakak', lalu kenapa aku masih 'bapak'?" tanya Sean yang membuat Sonia terkesiap.
"Maaf," cicit Sonia.
"Jangan minta maaf. Jadi, kamu mau manggil aku dengan sebutan apa?"
"Mmm, kalau 'Mas' bagaimana?" usul Sonia.
"Hmm, boleh juga. Oke, jadi mulai sekarang kamu panggil aku Mas aja ya. Dan satu lagi, jangan berbicara terlalu formal lagi padaku. Kamu istriku sekarang."
Ada perasaan hangat yang menjalari hati Sean ketika dia mengakui bahwa Sonia adalah istrinya. Dan wajah Sonia pun nampak merona merah mendengar sebutan 'istriku' yang diucapkan oleh Sean tadi.
"Baik, Mas" kata Sonia yang masih begitu canggung.
"Jangan terlalu formal. Biasa aja."
"Iya."
"Ana, kalau boleh Mas tau, kenapa kamu harus bekerja sampingan di cafe? Apa gaji yang kamu dapat dari perusahaan Mas belum cukup?" tanya Sean, menyuarakan pertanyaan yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.
"Bukan begitu Mas. Hanya saja,,,"
"Hanya saja kenapa?" tanya Sean penasaran.
Melihat Sonia yang nampak gelisah dan ragu untuk bercerita, Sean bisa menyadari bahwa ada masalah yang sedang dihadapi oleh Sonia.
"Cerita aja sama Mas. Mas suami kamu sekarang. Kamu bisa berbagi masalah kamu sama Mas," bujuk Sean meyakinkan Sonia.
Sonia menghembuskan nafasnya pelan, berusaha menguatkan hati untuk bercerita.
"Kemarin itu nenek aku di kampung sempat sakit dan di-opname. Dan untuk membayar biaya perawatan nenek selama di rumah sakit ibu mendapatkan pinjaman dari ketua RT di desa kami. Jadi Ana mengambil kerja sampingan itu untuk membayar uang yang sudah dipinjam ibu itu Mas," kata Sonia menceritakan.
"Memangnya berapa uang yang dipinjam sama ibu untuk biaya perawatan nenek?"
Lagi, Sonia terdiam dengan kepala tertunduk, nampak segan untuk menjawab.
"Ana?" Sean masih menunggu jawaban.
"Sekitar lima belas juta Mas," jawab Sonia pada akhirnya dengan suara yang pelan.
'Astaga, hanya lima belas juta, dan itu sudah membuat Ana harus bekerja keras dengan mengambil kerja sampingan? Ya Allah, ternyata memang benar, sedikit bagi kami tapi belum tentu bagi sebagian orang,' Sean membatin di dalam hatinya, merasa miris pada kenyataan yang ada.
"Berapa nomor rekening kamu? Mas transfer ke kamu sekarang juga. Setelah itu kamu transfer ke ibu. Kalau langsung Mas yang transfer takutnya nanti ibu malah bingung," kata Sean sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Eh, jangan Mas, nggak usah," tolak Sonia seketika mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Ana, kamu istri Mas sekarang. Kamu tanggung jawab Mas. Masalah kamu berarti adalah masalah Mas juga," tegas Sean.
"Tapi Mas,,,"
"Tulis nomor rekening kamu," kata Sean seraya menyodorkan ponselnya.
Sonia masih nampak ragu-ragu.
"Ayo Ana, tulis sekarang," perintah Sean mutlak.
Perlahan-lahan tangan Sonia terulur untuk mengambil ponsel Sean. Kemudian mengetikkan beberapa rangkaian nomor di ponsel tersebut. Setelah selesai Sonia mengangsurkan kembali ponsel Sean.
Sean menerima ponselnya kembali. Mengoperasikannya beberapa saat, kemudian,
"Sudah. Kamu bisa langsung mentransfernya ke ibu sekarang juga," kata Sean kembali meletakkan ponselnya kemudian meminum tehnya.
Sonia mendapatkan notif laporan dari mobile bangking di ponselnya. Dan setelah membuka pesan tersebut Sonia langsung membulatkan kedua matanya.
"Masya Allah, Mas kenapa banyak sekali? Ini terlalu banyak Mas," kata Sonia merasa tidak enak hati setelah mengetahui bahwa Sean mentransfer sebesar seratus juta ke rekeningnya.
"Anggap aja itu nafkah lahir dari Mas. Kamu bisa menggunakannya untuk keperluan kamu. Kamu juga bisa mengirimkannya kepada ibu untuk kebutuhan ibu dan adik-adik kamu disana."
"Tapi Mas, ini..."
"Sssttt, udah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang Mas mau minta sama kamu untuk berhenti bekerja sampingan di cafe itu. Kamu bersedia kan?" potong Sean sekaligus meminta kepada Sonia.
"Baik Mas. Nanti aku akan kasih kabar ke Mbak Ayu, karena kemarin juga Mbak Ayu yang bantu masukin aku kerja di cafe itu," jawab Sonia.
"Oke. Oh ya, hari ini kamu juga nggak usah masuk kerja dulu ya. Kaki kamu kan masih sakit. Biar nanti Dirga yang ngurus surat ijin kamu."
"Iya mas. Maaf ya, belum apa-apa aku udah ngerepotin Mas kayak gini," sesal Sonia.
"Kamu ngomong apa sih Ana? Jangan pernah berkata seperti itu lagi, nggak ada istilah merepotkan di antara kita, oke?"
"Iya Mas."
"Ya udah, sekarang kamu tidur ya, istirahat. Ini udah hampir jam tiga pagi."
"Mas duluan aja, aku mau sholat tahajud dulu sebentar."
"Oh, kalau gitu kita sholat tahajud berjamaah aja. Yuk," ajak Sean seraya berdiri dari duduknya.
"Eh, i-iya Mas," jawab Sonia tergagap.
"Kita sholat di kamar Mas aja ya. Eh, tapi kamu nggak pa-pa harus naik tangga ke lantai dua?"
"Nggak pa-pa kok Mas. Udah nggak begitu nyeri kok."
"Ya udah, yuk!"
Sonia mengikuti langkah Sean menuju ke arah tangga. Melihat Sonia yang sedikit kesulitan, Sean akhirnya membantu Sonia berjalan menaiki anak tangga satu per satu.
Sean membuka pintu kamarnya kemudian mengajak Sonia untuk masuk ke dalam. Wangi maskulin khas cowok langsung menyeruak di indera penciuman Sonia. Kamar yang dominan memiliki warna hitam dan putih, penataan yang simpel tapi elegan, dan sangat rapi. Itulah kesan pertama Sonia begitu memasuki kamar Sean.
__ADS_1
Sean dan Sonia kemudian mengambil wudhu secara bergantian. Mereka berdua kemudian melaksanakan sholat tahajud berjamaah di dalam kamar Sean dengan Sean sebagai imamnya.
Hari ini benar-benar merupakan hari yang tidak terduga untuk Sean dan Sonia. Dalam sekejap saja mereka berdua sudah berganti status baru menjadi sepasang suami istri, meski harus diawali dengan kejadian tidak mengenakkan dan kesalahpahaman. Dan saat ini, untuk pertama kalinya, mereka melaksanakan sholat berjamaah, sebagai pasangan suami dan istri, di hari pertama pernikahan mereka.