
"Pagi Abang, pagi Mas Rian," sapa Safa dengan riang sambil memasuki area dapur kemudian duduk di kursi di sebelah Sean.
"Pagi Dek."
"Pagi Safa."
Sean dan Adrian membalas bersamaan.
"Nah, gitu dong," kata Sean sambil mengusap lembut kepala Safa.
Safa hanya tersenyum menanggapi ucapan Sean. Menoleh ke arah Adrian, keduanya pun saling melempar senyum manis.
"Buruan sarapan, habis ini kita berangkat," kata Adrian.
"Siap Mas."
Mereka bertiga kemudian mulai menghabiskan sarapan masing-masing. Selesai sarapan mereka pun berangkat. Sean dan Adrian mengantar Safa terlebih dahulu ke sekolah barunya.
"Kalau sudah pulang hubungi Abang atau Mas Rian ya. Jangan pulang sendirian, kamu masih baru di kota ini. Kalau Abang nggak bisa biar Mas Rian yang jemput kamu. Oke?" pesan Sean sebelum Safa turun dari mobil.
"Siap Abang. Safa masuk ya. Abang sama Mas Rian hati-hati. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas Sean dan Adrian.
Safa kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam area sekolah.
"Syukurlah, gue seneng bisa ngeliat Safa ceria kayak gini lagi," kata Sean sembari melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Safa dan bertolak ke kampus mereka.
"Gue juga seneng," balas Adrian.
"Thanks ya Bro."
"Apaan sih, gue kan nggak ngelakuin apa-apa," elak Adrian merendah.
"Lo tuh ya, selalu aja gitu," balas Sean sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Gue sayang sama Safa, apapun akan gue lakuin asal bisa buat dia ceria lagi," kata Adrian pada akhirnya.
"I know that."
🌸🌸🌸
Hari-hari selanjutnya berjalan sama. Safa sudah kembali menjadi gadis yang ceria lagi. Dan hal itu tentu saja menjadi kabar yang menggembirakan untuk keluarga di tanah air.
Tanpa semua orang tahu, terkadang ada saat-saat dimana Safa kembali teringat dengan sahabatnya, Sonia. Kebersamaan mereka selama bertahun-tahun menjadikan hubungan Safa dan Sonia begitu erat. Jadi bukan hal mudah bagi Safa untuk melupakan begitu saja. Begitu pun juga dengan Sonia.
Adrian yang lebih sering memergoki Safa ketika sedang termenung mengingat Sonia. Dan Adrian juga yang akan selalu membangkitkan kembali semangat di hati Safa untuk kembali ceria dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya kedepan.
Weekend ini Steven, Sheila, dan Syafiq menyempatkan berkunjung ke London. Sean, Adrian, dan Safa menjemput mereka di bandara.
__ADS_1
"Ayah, Bunda," teriak Safa yang langsung berlari dan memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan.
Steven dan Sheila membalas pelukan putri mereka satu-satunya itu dengan hangat.
"Gimana kabar putri Bunda?" tanya Sheila setelah pelukan mereka terlepas.
"Baik dong Bun, seperti yang Bunda lihat nih," jawab Safa kemudian memutar tubuhnya sekali, memperlihatkan kalau dia baik-baik saja.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu," kata Sheila dengan senyuman lembutnya.
Steven pun ikut tersenyum sambil mengelus lembut kepala Safa. Sean dan Adrian pun bergantian menyalami dan memeluk Steven dan Sheila.
"Halo adik cantik," kaya Syafiq yang kemudian langsung memeluk Safa.
Namun di luar dugaan, Safa justru berontak hendak melepaskan pelukan kakaknya itu.
"Kak Syafiq iiihhh,,, lepasin," pekik Safa sambil melepas paksa pelukan Syafiq.
"Dih, tega kamu ya Dek sama kakak," rajuk Syafiq.
"Biarin, wleee," ejek Safa dengan menjulurkan lidahnya.
"Kamu curang ah Dek, nggak asik. Sama Mas Adrian aja kamu mau dipeluk-peluk, eh giliran sama kakak kamu nggak mau. Ini kakak kandung kamu loh Dek," gerutu Syafiq.
"Ya beda lah. Mas Rian kan orang yang spesial buat Safa. Kalau kakak usil, Safa nggak suka," jawab Safa sekenanya.
"Sudah-sudah, kalian ini ya kalau ketemu, berantem aja kerjaannya," lerai Sheila.
"Safa tuh Bun yang mulai duluan," adu Syafiq.
"Lah, kok aku sih?" tanya Safa dengan menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya iyalah kamu," tuduh Syafiq.
"Kakak yang mulai," Safa tidak mau kalah.
"Kamu."
"Kakak."
"Kamu."
"Sudah-sudah," lerai Sheila lagi kemudian menggandeng Safa dan Syafiq di sebelah kanan dan kirinya.
Steven, Sean, dan Adrian geleng-geleng kepala, sudah terlalu hafal dengan pertengkaran Safa dan Syafiq setiap harinya. Sean berjalan mengikuti Bunda dan kedua adiknya dari belakang. Steven dan Adrian pun segera menyusul mereka.
"Makasih ya untuk semuanya," kata Steven sambil menepuk pundak Adrian yang berjalan di sebelahnya.
"Makasih untuk apa Yah?" tanya Adrian bingung.
__ADS_1
Sekedar informasi, semua anak akan memanggil para orang tua sama seperti panggilan anak-anaknya kepada orang tuanya tersebut. Jadi tidak ada panggilan Om atau Tante di antara sembilan pasangan keluarga tersebut.
"Untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk Safa."
"Rian nggak ngelakuin apa-apa kok Yah."
"Ck, Ayah udah tau semuanya. Kamu pikir bisa apa bohongin Ayah," decak Steven.
Adrian hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit salah tingkah mendengar perkataan Steven tadi.
🌸🌸🌸
"Kabar Sonia sekarang gimana ya Bun?" celetuk Safa tiba-tiba.
Sheila tersenyum sambil masih terus mengelusi kepala Safa yang sedang tiduran di pangkuannya. Saat ini keduanya sedang berada di dalam kamar Safa.
"Sonia pasti baik-baik saja. Percayalah kalau dimana pun Sonia berada saat ini, Allah SWT pasti selalu menjaga dan melindungi Sonia dan juga keluarganya," jawab Sheila bijak.
"Safa kangen Sonia Bun. Biasanya Sonia yang akan selalu ngehibur Safa kalau Safa lagi sedih, begitu juga sebaliknya. Sonia yang selalu ada buat Safa, kapanpun Safa butuh dia. Tapi sekarang, justru di saat-saat terberatnya, Safa nggak ada buat bantuin Sonia. Apalagi cuma sekedar menghibur dan menguatkan Sonia. Safa nggak bisa ngelakuin itu Bun."
Sheila merasakan pahanya basah. Sheila tau Safa menangis dalam diamnya.
"Sayang, semua sudah menjadi ketetapan Tuhan. Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah berdo'a, semoga dimanapun Sonia dan keluarganya berada mereka selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Dan semoga, suatu saat nanti kamu masih diberi kesempatan untuk dapat bertemu lagi dengan Sonia."
"Aamiin."
"Safa kangen Sonia Bun," kata Safa lagi melirih di pangkuan Sheila.
"Bunda tau sayang. Yang sabar ya nak. Putri Bunda kuat, putri Bunda pasti bisa melalui semua ini," Sheila menyemangati Safa yang dibalas anggukan kepala dari Safa.
Jauh di sebuah desa kecil, ternyata Sonia pun juga sedang merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya.
"Kabar Safa sekarang gimana ya Bu?"
Suci, ibu Sonia, merasakan air mata Sonia membasahi pahanya. Suci bisa merasakan kesedihan putrinya itu. Terus diusapnya kepala Sonia berulang-ulang.
"Safa pasti marah banget karena Sonia pergi nggak bilang apapun sama dia, nggak pamitan juga. Sonia jahat banget ya Bu udah bikin Safa sedih."
"Sabar ya sayang. Semoga Safa baik-baik saja. Dan ibu do'akan semoga kamu nanti masih diberi kesempatan untuk dapat bertemu dengan Safa dan meminta maaf secara langsung sama Safa."
"Apa Safa mau maafin Sonia Bu?"
"Kalau Safa tau alasan kamu melakukan semua ini, Safa pasti bisa ngertiin dan mau maafin kamu sayang."
"Semoga saja ya Bu. Sonia kangen banget sama Safa Bu."
"Ibu tau itu. Kamu yang sabar ya."
Sonia mengangguk di pangkuan ibunya. Pikirannya menerawang, mengingat kembali kenangan kebersamaan dirinya dan Safa dulu. Saat mereka sedang bercanda dan tertawa bersama. Saat mereka sedang curhat dan bercerita. Saat mereka sedang dipusingkan oleh tugas sekolah. Dan semua kekonyolan-kekonyolan yang mereka lakukan bersama. Ah, Sonia sangat merindukan sahabatnya itu.
__ADS_1