
Hari ini jadwal sidang skripsi Sheila dan Lusia jadi Steven dan Danny tidak berangkat ke kantor. Mereka ingin menemani dan memberi dukungan secara langsung kepada orang-orang yang mereka sayangi tersebut.
"Semangat ya sayang," kata Steven.
"Iya Mas, pasti."
"Anaknya Ayah bantuin Bunda ya nanti, semangatin Bunda dan nggak boleh rewel, oke," kata Steven lagi sembari tangannya mengelus lembut perut Sheila, berjongkok kemudian mencium perut Sheila yang mulai membuncit itu.
Kembali berdiri Steven kemudian mencium kening Sheila dalam.
"Jangan lupa bismillah," pesan Steven.
Sheila mengangguk dan tersenyum lembut. Kemudian masuk ke dalam ruangan untuk melaksanakan sidang skripsinya.
Sekitar satu jam kemudian Sheila keluar dari ruang sidang dengan senyum terkembang.
"Gimana sayang?" tanya Steven tidak sabar.
"Alhamdulillaah Mas, semuanya lancar."
"Alhamdulillaah."
Steven mencium kening Sheila kemudian merangkul pundaknya.
"Yuk kita temui Danny dan yang lain," ajak Steven.
"Iya Mas."
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang sidang Lusia. Sesampainya disana, nampak Lusia sedang dipeluk Dyah dan Tya.
"Assalamu'alaikum. Gimana Lus?" tanya Sheila antusias.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dyah, Tya, Lusia, dan Danny.
"Alhamdulillaah Shei, lancar. Lo gimana?"
"Alhamdulillaah lancar juga. Selamat ya," jawab Sheila kemudian memeluk Lusia.
"Thank you. Selamat juga buat Lo," balas Lusia.
"Selamat ya Shei," kata Dyah dan Tya bergantian memeluk Sheila juga.
"Makasih, semoga sidang kalian besok juga lancar ya," do'a Sheila.
"Aamiin," balas semua bersamaan.
"Yuk kita makan siang bareng semuanya," ajak Steven.
__ADS_1
Meng-iyakan ajakan Steven, mereka semua kemudian beranjak meninggalkan kampus menuju ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.
...
Absennya Steven dan Danny membuat pekerjaan Ken menjadi berlipat ganda. Saat ini Ken dan Santi sedang melakukan meeting dengan klien sembari makan siang di sebuah restoran.
Acara meeting berjalan lancar. Selesai acara makan siang klien mereka pun pamit. Setelah kepergian klien tersebut, Santi sedang membereskan beberapa berkas, bersiap untuk kembali ke kantor.
"Tunggu dulu San, ada yang ingin saya tanyakan sama kamu," kata Ken menginterupsi Santi yang hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Iya Pak, mau bertanya tentang apa?" tanya Santi formal seperti biasanya.
'Nih cewek kaku amat sih kalo sama gue. Sama orang lain aja bisa santai sama senyum-senyum dia, kenapa sama gue enggak ya? Apa gue punya salah ya sama dia?' batin Ken bermonolog.
"Pak," panggil Santi menyadarkan Ken dari lamunannya. "Tadi katanya ingin bertanya sesuatu."
"Ah iya. Kemarin Steven sama Danny cerita tentang kejadian di toilet saat malam pesta ulang tahun perusahaan Om Ricko. Mereka bilang kamu yang nolongin Sheila sama Lusia dan ngusir cewek-cewek rese itu. Siapa cewek-cewek itu San, anak perusahaan mana mereka?" tanya Ken.
"Siapa mereka dan anak dari perusahaan mana, saya nggak tahu Pak. Tapi yang jelas saya melihat Celine berbicara pada mereka berdua sesaat sebelum mereka nyusul Bu Sheila dan Lusia ke toilet," jawab Santi.
"Celine? Kamu nggak salah kan San?" tanya Ken meyakinkan.
"Saya yakin Pak kalau saya tidak salah, memang itu yang saya lihat. Itu juga kenapa saya langsung nyusulin ke toilet, saya takut mereka memiliki niat tidak baik. Dan ternyata dugaan saya terbukti."
"Saya jadi penasaran siapa dua cewek rese itu dan kenapa Celine menyuruh mereka melakukan semua itu?," kata Ken sambil mengernyitkan dahinya.
"Bapak bisa mengecek rekaman CCTV kalau Bapak memang penasaran siapa dua cewek rese itu," jawab Santi enteng.
"Dan tentang kenapa Celine menyuruh mereka melakukan semua itu, seharusnya Bapak sudah bisa menduganya. Tidak perlu saya jelaskan lagi. Jangan sampai cinta juga membutakan akal pikiran Anda untuk berpikir logis Pak."
'Doble shit!!! Ni cewek nggak bisa gue anggap remeh. Perkataannya seolah-olah nyindir gue secara halus. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, emang bener juga sih apa yang dia bilang tadi. Duh, masak iya gue kalah selangkah sama cewek kaku ini sih. Benar-benar memalukan," umpat Ken dalam hatinya lagi.
"Oke San, terima kasih banyak informasinya. Saya akan menyelidiki lebih lanjut kejadian ini."
"Sama-sama Pak. Hanya satu pesan saya, jangan mudah tertipu dengan air mata palsu wanita ular, jangan sampai terjebak, justru kita yang harus memanfaatkan situasi untuk menjebak dia, paling tidak kita tahu apa rencana dia selanjutnya," kata Santi sedikit berteka-teki.
Ken sedikit bingung, belum memahami maksud perkataan Santi, sampai-sampai Ken mengerutkan kedua alisnya.
...
Malam harinya Ken mendatangi apartemen Celine. Tadi sore Ken sudah mengecek rekaman CCTV di depan toilet, seperti yang disarankan Santi. Dan ternyata benar, dua cewek itu bukan karyawan perusahaan Om Ricko maupun Steven, justru mereka adalah karyawan di perusahaan Celine.
"Kak Ken," sapa Celine sedikit terkejut setelah membuka pintu apartemennya.
"Hai Celine."
"Hai kak. Ayo masuk," kata Celine mempersilahkan.
__ADS_1
Ken kemudian masuk ke dalam apartemen Celine dan duduk di ruang tamu.
"Mau minum apa kak?" tanya Celine.
"Nggak usah repot-repot Cel. Duduk sini, ada yang mau kakak tanyain sama kamu."
"Tentang apa kak?" tanya Celine setelah mendudukkan dirinya di samping Ken.
"Kenapa kamu nyuruh dua karyawan cewek kamu untuk bergosip di toilet saat malam pesta ulang tahun perusahaan Om Ricko?" tanya Ken to the point.
Celine membulatkan kedua matanya karena terkejut. Ken juga bisa melihat gestur tubuh Celine yang nampak salah tingkah.
"Ma-maksud kak Ken apa sih, Celine nggak ngerti deh," elak Celine.
"Tidak perlu berbohong Cel. Kak Ken sudah menyelidiki semuanya," kata Ken masih bersikap halus.
Celine diam saja. Tapi sesaat kemudian dia mulai terisak.
"Kak Ken juga nggak percaya sama aku ya? Hiks hiks, semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi yang sayang dan peduli sama Celine. Bahkan kak Ken pun nuduh Celine kayak gitu," kata Celine sambil terisak pelan.
Jujur Ken sangat bingung saat ini. Dia tidak tega melihat Celine menangis seperti itu. Tapi bukti-bukti yang dia kumpulkan juga tidak salah.
"Cel, kenapa kamu nangis?"
"Kak Ken jahat. Kak Ken sama aja kayak kak Steven. Kakak udah nggak sayang lagi sama Celine. Kakak udah nggak peduli lagi sama Celine," rajuk Celine semakin terisak.
Merasa kasihan Ken kemudian menarik Celine ke dalam pelukannya.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih Cel? Kak Ken sayang dan peduli sama kamu. Justru karena kak Ken sayang dan peduli makanya kakak bertanya langsung sama kamu, biar nanti kakak bisa bantuin kamu kalau ditanyain sama Steven tentang masalah kemarin," kata Ken menenangkan sambil mengusap punggung Celine.
"Perempuan itu ngadu apa aja sih kak? Kenapa dia jahat banget memfitnah Celine seperti ini. Dia yang salah udah ngerebut kak Steven dari Celine tapi kenapa justru dia yang nyalahin Celine sih. Kak Ken juga jadi ikutan nyalahin Celine. Apa sih maunya perempuan itu? Kak Ken tuh harusnya lebih percaya sama Celine dong, bukannya malah ikut ngebela perempuan itu kayak gini," gerutu Celine panjang lebar.
Ken mengerutkan keningnya, merasa ada yang janggal. Kenapa Celine berkata seperti ini? Dia justru memutarbalikkan fakta dan malah menyalahkan Sheila. Bahkan secara tidak langsung sudah menghasut Ken secara halus. Sebagai pebisnis yang handal tentu Ken bisa menganalisis situasi dengan cepat dan tepat.
'Hanya satu pesan saya, jangan mudah tertipu dengan air mata palsu wanita ular, jangan sampai terjebak, justru kita yang harus memanfaatkan situasi untuk menjebak dia, paling tidak kita tahu apa rencana dia selanjutnya.'
Tiba-tiba saja Ken teringat dengan perkataan Santi tadi siang.
'Apa ini maksud dari perkataan Santi tadi ya? Gue nggak boleh luluh gitu aja dengan air mata Celine dan terhasut perkataan Celine. Sial, harus gue akui ternyata cewek kaku itu pandai juga memprediksi sesuatu. Hmm, benar juga kata Santi, gue harus bisa memanfaatkan situasi dengan berpura-pura berpihak pada Celine biar gue bisa tahu rencana Celine kedepannya.'
"Kak Ken nggak ngebela Sheila kok Cel, dan kak Ken juga percaya sama Celine. Justru karena kak Ken percaya makanya kak Ken nanya langsung sama Celine. Biar nanti kak Ken bisa bantuin Celine," kata Ken memulai aksinya dengan meyakinkan Celine.
Celine langsung menegakkan badannya.
"Sungguh kak Ken percaya sama Celine dan mau bantuin Celine?" tanya Celine antusias dengan wajah berbinar.
"Iya Cel. Memangnya kamu mau dibantuin apa, hmm?"
__ADS_1
"Celine mau kak Ken bantuin Celine ngerebut kak Steven dari perempuan itu. Pokoknya gimana pun caranya kak Steven hanya boleh jadi milik Celine," jawab Celine bersemangat.
'Ah, ternyata selama ini penantianku tetap sia-sia. Celine tidak pernah bisa melihat seberapa besar cintaku untuk dirinya. Semuanya masih tentang Steven. Tapi ini tidak boleh dibiarkan. Celine tidak boleh merusak rumah tangga Steven dan Sheila yang baru saja mulai merasakan kebahagiaan. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja.'