Cinta Sheila

Cinta Sheila
Ketahuan


__ADS_3

Suara adzan di ponselnya membangunkan Sheila. Mengerjabkan mata perlahan, Sheila kemudian menggeliatkan badannya.


'Oh astaga, badanku rasanya remuk semua,' batin Sheila.


Sheila mendongakkan kepalanya, dilihatnya Steven masih terlelap. Mereka tidur saling berpelukan dalam keadaan masih sama-sama polos. Wajah Sheila langsung memerah dan panas, mengingat apa yang telah mereka lakukan malam tadi.


"Mas... bangun yuk, udah adzan," kata Sheila sambil memegang pipi Steven.


Tiga kali panggilan baru Steven mulai merespon.


"Hmmh," gumam Steven mulai membuka matanya.


"Bangun yuk, udah adzan subuh."


Steven tersenyum lembut kemudian mengecup kening Sheila.


"Selamat pagi istriku sayang."


"Selamat pagi juga suamiku sayang," balas Sheila tersenyum manis.


"Mandi bareng aja ya, biar cepet."


Wajah Sheila kembali memerah karena malu mendengar ajakan Steven.


"Sendiri-sendiri aja Mas. Aku duluan," tolak Sheila gugup.


Bergegas Sheila turun dari ranjang dengan melilitkan selimut di tubuhnya. Tapi belum juga berdiri sempurna Sheila sudah jatuh terduduk kembali di ranjang.


"Aakhht,,," ringis Sheila merasakan nyeri di bagian intinya.


"Kenapa Shei? Sakit?" tanya Steven langsung terlonjak dan bangun.


Sheila tidak menjawab. Steven turun dari ranjang, memakai celana pendeknya dan menghampiri Sheila. Steven langsung menggendong Sheila membuat Sheila terpekik kaget dan reflek melingkarkan tangannya di leher Steven.


"Makanya kalau dibilangin sama suami tuh jangan ngeyel," goda Steven.


Melihat Sheila yang mengerucutkan bibirnya Steven langsung mengecup bibir Sheila, gemas.


"Maaasss,,," rajuk Sheila dengan memanjangkan kata.


"Kan Mas udah sering bilang, pokoknya kalo bibir kamu kayak gitu itu berarti kamu kasih kode sama Mas buat cium kamu."


"Ih, modus."


Steven tertawa. Dia kemudian membawa Sheila memasuki kamar mandi. Mendudukkan Sheila di pinggir bath up, kemudian mengisi air hangat dalam bath up.


"Pakai shower aja Mas, biar cepet."


"Dibawa berendam air hangat sebentar Shei, biar sakitnya berkurang."


Setelah air dalam bath up cukup Steven memasukkan bubble bath. Membantu Sheila berdiri dan hendak melepaskan selimut yang menutupi tubuh Sheila.


"Aku bisa sendiri Mas," tolak Sheila seraya memegangi bagian depan selimutnya.


Steven tertawa kecil.


"Mas sudah melihat semuanya Shei, kenapa masih malu?" goda Steven.


Wajah Sheila pasti sudah semerah tomat saat ini karena malu. Tapi hal itu justru nampak menggemaskan di mata Steven, membuat Steven tersenyum kecil.


Tanpa bisa menolak, Sheila hanya bisa menuruti semua keinginan suaminya. Steven membawa Sheila masuk ke dalam bath up dan berendam berdua.


Acara mandi bersama selesai dalam waktu hampir satu jam karena tangan Steven yang berkali-kali nakal dan tidak bisa dikondisikan. Hampir saja Steven khilaf dan kembali menggempur Sheila jika tidak diingatkan kalau mereka belum melaksanakan ibadah sholat subuh.

__ADS_1


Sheila turun hendak membantu memasak untuk sarapan pagi. Melihat Sheila yang turun terlambat tidak seperti biasanya dan cara berjalan Sheila yang sedikit aneh karena menahan rasa nyeri di pangkal pahanya, Sarah sudah bisa membaca situasi. Senyum simpul dan gelengan kepala pelan Sarah berikan untuk menyambut putrinya itu.


"Pagi Bun," sapa Sheila.


"Pagi sayang."


"Apa yang bisa Sheila bantu nih Bun?"


Diluar dugaan Sarah justru membawa Sheila berbalik dan mendudukkannya di kursi meja makan.


"Udah hampir selesai, kamu duduk aja ya, masih sakit kan," kata Sarah setengah berbisik kemudian mengerlingkan sebelah matanya menggoda Sheila.


"Bunda," wajah Sheila sudah memerah karena malu.


...


Jam sepuluh pagi Sheila dan Steven pamit. Steven ada janji bertemu dengan Danny dan Ken. Setelah berpamitan, cium tangan dan berpelukan, Sheila dan Steven pun meninggalkan rumah Jefri.


Steven mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Ken, mereka janjian untuk berkumpul di sana. Sesampainya di rumah Ken mereka berdua disambut oleh Kania dan si kecil Kiara.


"Tante cantik, Om ganteng," teriak Kiara antusias.


"Hai princess," sapa Steven langsung berjongkok dan menerima pelukan Kiara.


"Assalamu'alaikum Kak," sapa Sheila.


"Wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu Shei?" tanya Kania sembari memeluk Sheila.


"Alhamdulillaah baik Kak. Kakak sendiri gimana kabarnya?" jawab Sheila setelah pelukan mereka terlepas.


"Kakak juga baik Shei, seperti yang kamu lihat."


Sheila beralih kepada Kiara yang berada dalam gendongan Steven.


"Wuaaa, terima kasih Tante cantik," seru Kiara senang dan langsung menarik leher Sheila untuk dipeluknya membuat Sheila dan Steven otomatis tertarik berdekatan.


"Udah cocok tuh Steve. Kapan nih kita dapat kabar bahagia kehamilan istri kamu?" tanya Jery yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Kak Jery?" Steven langsung memeluk Jery membuat Kiara sedikit tergencet di antara tubuh kekar dua laki-laki tersebut.


"Daddy, Om, Kiara sesek nih," keluh Kiara.


"Ups, sorry sayang," kata Jery mencubit gemas pipi putrinya.


"Maaf ya princess, habis Om kangen sama Daddy kamu. Sibuk terus sampai gak pernah ikut kita kumpul. Oh iya kak, kenalin ini Sheila istri aku."


"Hai Sheila, aku Jery suaminya Kania," kata Jery memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.


"Hai kak," Sheila membalas uluran tangan Jery.


"Ya udah yuk, kita masuk. Danny juga udah di dalam sama Ken," ajak Kania.


Kiara langsung turun dari gendongan Steven dan berlari sambil membawa paper bag pemberian Sheila tadi.


"Dasar anak itu, pasti udah gak sabar tuh, mau nunjukin ke Om- nya," kata Kania sambil geleng-geleng kepala.


"Namanya juga anak kecil kak, wajar lah," balas Sheila.


Kania mengajak Sheila ke dapur, membuatkan minuman untuk mereka semua. Jery dan Steven berjalan beriringan ke arah ruang keluarga, dimana Danny dan Ken sedang bermain game.


"Gimana pertanyaan kakak tadi Steve?" tanya Jery sambil berjalan.


"Pertanyaan yang mana kak?" Steven balik bertanya, bingung.

__ADS_1


"Kapan kamu kasih kabar baik tentang kehamilan istri kamu?" Jery mengulang pertanyaannya.


"Oh, do'ain aja ya kak," jawab Steven salah tingkah.


"Jangan bilang kalau kamu belum 'belah duren'."


Steven langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Jery tadi.


"Apaan sih kak."


"Ya siapa tau, soalnya kakak denger dari Ken kalau kalian dijodohkan dan kamu gak cinta sama Sheila."


"Awalnya emang gak cinta kak, lebih tepatnya belum. Tapi kalau sekarang udah."


"Berarti udah 'belah duren' juga dong?" goda Jery tersenyum jahil.


"Kak Jery, udah deh."


"Apanya yang udah?" Danny menyahut penasaran dari sofa.


"Kepo lu," jawab Jery.


"Issh, Kak Jery mah gitu. Sekalinya ikut kumpul rese' banget deh sama kita-kita," gerutu Danny.


Sementara di dapur. Sheila sedang memasukkan es batu ke dalam orange jus dalam jar.


"Nih Shei kamu minum dulu," kata Kania menyerahkan sebuah obat kepada Sheila.


"Apa ini kak?" tanya Sheila bingung sambil menerima obat dari Kania.


"Obat pereda nyeri. Biar kamu bisa nyaman lagi kalau jalan."


Sheila terkejut dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Astaga, kelihatan banget ya kak?" tanya Sheila salah tingkah sekaligus malu.


"Kelihatan banget sih enggak, tapi kan kakak ini dokter Shei, jadi kakak tau. Emang semalem baru pertama kali ya?"


Sheila mengangguk pelan, tak kuasa menjawab.


"Astaga? Enam bulan Shei, dan baru semalem?" tanya Kania terkejut.


"Kan kakak tau sendiri bagaimana awal-awal pernikahan kami," jawab Sheila melirih.


"Iya juga sih. Tapi syukurlah, kebusukan nenek lampir itu udah kebongkar sekarang, jadi Steven udah gak dibohongin terus sama dia."


"Kak Kania tau?" tanya Sheila kaget.


"Ya tau lah. Jangan bilang-bilang Steven ya, sebenarnya kan itu emang rencana Danny sama Ken biar Steven bisa ngeliat sendiri pengkhianatan nenek lampir itu."


"Jadi Danny sama Ken yang ngirim foto-foto dan chat itu?"


"Iya. Tapi syukurlah dengan begitu Steven jadi sadar. Dan kami juga seneng, hubungan kalian berdua udah semakin membaik sekarang. Kamu wanita yang baik Shei, Steven beruntung dapet istri kayak kamu."


"Kakak terlalu berlebihan," Sheila tersipu mendengar pujian Kania.


"Udah, diminum dulu obatnya. Habis itu kita ke depan."


"Iya kak."


Sheila segera meminum obat pemberian Kania.


"Astaga, tadi Bunda, sekarang Kak Kania. Duh,,, malu banget aku ketahuan baru semalem 'malam pertama'-nya," gerutu Sheila dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2