Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Usaha Penyelamatan


__ADS_3

Tidak lama kemudian mobil yang mereka kendarai sampai di dekat sebuah rumah besar bertingkat tiga yang sudah agak tua dan lumayan jauh dari pemukiman warga. Nadirga menghentikan mobilnya di dekat sebuah pohon besar.


"Menurut sinyal GPS dari kalung Sonia, mereka ada di rumah itu," kata Sammy sambil mengotak-atik laptopnya.


"Posisi Alvin dan yang lainnya?" tanya Sean.


"Mereka udah di sekitar sini juga. Alvin dan Lucky yang mimpin serangan. Kenzie mantau kondisi sama koordinasi dengan tim Om Darius. Biasa, para ibu melarang calon pengantin turun langsung ke lapangan. Menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan," jawab Sammy.


"Nggak masalah. Udah ada konfirmasi dari Kenzie?" tanya Adrian.


"Ini baru aja masuk Mas. Alvin dan yang lainnya sudah siap. Mereka nunggu aba-aba dari kita buat nyerang langsung dari depan."


"Ledakkan gerbang depan. Setelah Alvin dan yang lainnya masuk dan fokus anak buah Raka terpusat untuk menyerang mereka, kita masuk dari taman samping dan menyelinap masuk ke dalam," kata Sean memberi pengarahan.


"Kasih tau Kenzie, terus pantau keadaan Alvin dan yang lainnya. Sekiranya keadaan sudah diluar kendali segera hubungi Tristan dan Dylan," imbuh Adrian.


"Oke Bang, Mas. Gue udah sampein ke Kenzie," balas Sammy.


Sekitar lima menit kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras di pintu gerbang depan rumah tua tersebut. Tidak lama kemudian riuh suara orang berkelahi pun terdengar juga.


"Kita bergerak sekarang," perintah Sean yang langsung diangguki oleh Adrian, Syafiq, Nadirga, dan Sammy.


Mereka berlima kemudian berusaha masuk dengan memanjat tembok samping yang tingginya sekitar 1,5 meter. Setelah berhasil melewati tembok, Sean dan yang lainnya pun menyelinap masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


Hanya beberapa orang saja anak buah Raka yang nampak berjaga di dalam rumah tersebut. Sepertinya sesuai dengan yang mereka rencanakan sebelumnya, sebagian besar anak buah Raka fokus dengan penyerangan di gerbang depan.


Dengan mudah Sean dan yang lainnya melumpuhkan beberapa anak buah Raka yang sedang berjaga tersebut.


"Dimana kalian menyembunyikan istriku?" tanya Sean dingin pada salah satu anak buah Raka yang sudah babak belur karena dia hajar.


"D-di lantai ti-tiga," jawab anak buah Raka susah payah karena Sean mencengkeram lehernya dengan kuat.


BUGH!!!


Satu pukulan keras Sean berikan di wajah sehingga membuat anak buah Raka tersebut seketika kehilangan kesadaran.


"Kita ke atas," kata Sean.


"Hati-hati jebakan. Semuanya kelihatan terlalu mudah," peringat Adrian.


"Lo bener Yan," Sean mengangguk membenarkan ucapan Adrian. "Gue sama Adrian masuk duluan, kalian bertiga stay di belakang. Bersiap, sekiranya keadaan berubah menjadi di luar kendali," lanjut Sean memberikan arahan.


Syafiq, Sammy, dan Nadirga mengangguk mengiyakan. Sean dan Adrian kemudian menaiki anak tangga menuju ke lantai tiga sesuai dengan informasi dari anak buah Raka tadi. Sementara Syafiq, Sammy, dan Nadirga mengikuti setelah beberapa saat. Menjaga jarak aman, sekaligus mengawasi keadaan sekitar.


Sesampainya di lantai tiga, nampak lima orang anak buah Raka berjaga di depan sebuah pintu. Melihat kedatangan Sean dan Adrian mereka berlima pun segera melakukan perlawanan. Perkelahian pun terjadi. Namun Syafiq, Sammy, dan Nadirga segera mengambil alih.


"Abang masuk aja, urusan di luar serahkan sama kita," kata Syafiq.

__ADS_1


Sean mengangguk. Sean dan Adrian kemudian mendobrak pintu yang ternyata dikunci dari dalam tersebut. Dan begitu pintu berhasil terbuka, Sean dan Adrian pun bergegas masuk ke dalam ruangan.


Dan pemandangan pertama yang mereka lihat begitu memasuki ruangan tersebut adalah Sonia yang sedang terikat pada sebuah kursi dengan dua orang anak buah Raka yang menodongkan pistol ke arah kepala Sonia.


"Sonia," pekik Sean.


"Mas," lirih Sonia dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


"Wah wah wah. Situasi yang mengharukan. Sang suami datang untuk menyelamatkan istrinya," kata Raka yang sedang duduk nyaman dengan menyilangkan kaki di sebuah kursi di sudut ruangan.


"Sayangnya tidak semudah itu," lanjut Raka dengan berdiri dari duduknya.


"Kurang ajar," geram Sean seraya hendak maju menghajar Raka.


"Eit, tunggu dulu. Jangan macam-macam, kalau kau memang masih sayang pada istrimu," cegah Raka dengan mengancam.


Dan benar saja, dua orang anak buah Raka itupun seketika menempelkan ujung pistol mereka tepat ke kanan dan kiri kepala Sonia. Sean pun menghentikan langkahnya. Menggeram kesal dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


"Apa sebenarnya mau Anda?" tanya Sean dingin.


"Mau-ku? Hahahahaha..." ulang Raka yang kemudian tertawa jahat. "Yang aku mau adalah,,, BALAS DENDAM," lanjut Raka dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Dua orang anak buah Raka yang lain segera mengunci pergerakan Adrian.


"Hadapi mereka seorang diri, baru kamu bisa berhadapan denganku," kata Raka.


Sean yang harus menghadapi tujuh orang sekaligus dengan kemampuan yang lumayan tinggi, nampaknya sedikit kewalahan.


"Mas Sean," teriak Sonia ketika melihat Sean terjatuh karena mendapat serangan dari arah belakang.


Adrian yang mencoba untuk melepaskan diri pun ternyata kalah tenaga dengan dua orang berbadan kekar yang mengunci pergerakannya. Sementara Syafiq, Sammy, dan Nadirga yang mengintip dari luar masih menyembunyikan keberadaan mereka.


"Bagaimana kondisi diluar?" tanya Syafiq pelan kepada Kenzie melalui sambungan earpiece yang terpasang di telinganya


"Situasi terkendali," jawab Kenzie.


"Segera kirim bantuan ke atas begitu keadaan diluar sudah aman," pinta Syafiq.


"Oke. Gue suruh Alvin, Lucky, dan yang lainnya naik sekarang."


"Gue tungguin. Secepatnya."


Selesai berkomunikasi dengan Kenzie, Syafiq kembali mengintip ke dalam ruangan. Nampak Sean yang semakin kewalahan karena dikeroyok tujuh orang sekaligus.


"Kita masuk sekarang. Nadirga bantuin Mas Rian. Gue sama Sammy bantuin Abang," kata Syafiq.


Sammy dan Nadirga menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan arahan dari Syafiq. Syafiq, Sammy, dan Nadirga pun segera masuk ke dalam ruangan. Nadirga segera membantu Adrian untuk terlepas dari cekalan dua orang anak buah Raka. Sementara Syafiq dan Sammy juga segera membantu Sean melawan ketujuh anak buah pilihan Raka.

__ADS_1


Merasa keadaan semakin tidak terkendali, Raka bergegas mendekati dua orang anak buahnya yang sedang menjaga Sonia.


"Kalian berdua bantu mereka. Gadis ini urusan saya," perintah Raka.


"Baik bos," sahut kedua anak buah Raka yang tadi menodongkan pistol ke arah Sonia.


Setelah kedua anak buahnya pergi membantu kawan-kawannya melawan Sean dan yang lainnya, Raka pun membuka tali ikatan tangan Sonia. Raka kemudian memaksa Sonia untuk berdiri dan mengikuti dirinya.


"Bangun. Ikut saya!" perintah Raka tegas.


"Lepasin. Aku nggak mau," berontak Sonia berusaha melepaskan cekalan tangan Raka pada lengannya.


"Diam!!!" bentak Raka. "Jangan banyak melawan. Ikut saya"


"Enggak. Lepasin. Aku nggak mau."


Sonia kalah tenaga. Raka berhasil menyeretnya menjauhi semua orang.


"Sonia!" teriak Sean begitu melihat Raka membawa Sonia.


"Selametin Sonia Bang. Biar mereka kita yang hadapi. Jangan khawatir, Alvin dan yang lainnya udah bergerak naik," kata Syafiq.


"Oke," balas Sean.


Sean kemudian meninggalkan kerumunan perkelahian tersebut. Dengan berlari Sean segera mengejar Raka yang sudah membawa Sonia ke arah balkon.


"Berhenti, atau aku lempar gadis ini ke bawah," ancam Raka ketika Sean sudah berhasil mengejar sampai ke balkon ruangan tersebut.


Melihat Raka yang sedang menawan Sonia dan meletakkan pisau tepat di leher Sonia, Sean pun mengikuti permintaan Raka dan menghentikan langkahnya. Posisi Raka dan Sonia sudah berada tepat di pinggir pagar besi pembatas balkon. Sean tau dirinya tidak boleh gegabah, atau nyawa Sonia yang menjadi taruhannya.


"Heh, cukup patuh juga rupanya. Tapi memang seharusnya begitu kalau kamu masih ingin istri cantikmu ini selamat," cibir Raka.


Sean mengepalkan kedua tangannya. Sekuat tenaga menahan emosinya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Sean.


"Apa yang aku inginkan? Tentu saja kehancuran kamu dan ayah kamu. Kalian ayah dan anak sama saja, selalu merebut wanita yang aku inginkan," jawab Raka menggeram marah.


"Urusanmu denganku, jadi lepaskan Sonia. Kita selesaikan masalah kita secara jantan," kata Sean.


Tawa Raka menggema.


"Hahahahaha. Melepaskan Sonia? Setelah bertahun-tahun aku mencarinya dengan susah payah?" tanya Raka dengan seringainya.


"Tapi... Hmm, sepertinya itu ide yang tidak buruk juga. Setidaknya bukan hanya aku, tapi justru kau yang akan jauh lebih menderita karena kehilangan gadis ini. Dan Steven juga Sheila pasti juga akan ikut menderita melihat putranya hancur. Baiklah kalau begitu,,,"


Dan tiba-tiba saja Raka berbalik hendak mendorong Sonia melalui pagar besi pembatas balkon tersebut.

__ADS_1


"SONIA!!!" teriak Sean kencang.


__ADS_2