Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Serangan Dimulai


__ADS_3

"Sayang sore nanti Mas ada meeting dengan Mr. Kim, kamu pulang dijemput Sena sama Rey ya," kata Sean.


Saat ini Sean dan Sonia sedang makan siang bersama di dalam ruangan Sean.


"Nggak usah Mas. Nggak enak ngerepotin Sena sama Rey. Biar nanti aku pulang sama Hana aja ya," tolak Sonia sekaligus memberikan saran.


"Jangan. Sammy tadi bilang sama Mas kalau rencananya hari ini dia mau ngajakin Hana pulang bareng. Mau PDKT dia. Lagian, emangnya kamu nggak tau kalau hari ini Hana nggak bawa mobil karena mobil dia masuk bengkel?" tanya Sean.


"Eh, iya kah? Tapi kok Mas malah tau sih?" Sonia yang bingung justru balik bertanya kepada Sean.


"Tadi pagi nggak sengaja ketemu sama Sammy di loby. Dia habis nganterin Hana katanya. Terus pas Mas tanya 'kok bisa', Sammy cerita kalau mobil Hana masuk bengkel. Dan Sammy juga cerita tentang rencana dia buat jemput Hana pulang kerja nanti sekaligus mau PDKT ke Hana," jawab Sean.


"Oh, pantesan aja dari tadi pagi Hana sering senyum-senyum sendiri. Kelihatan malu-malu gitu juga kayaknya. Ternyata habis dianterin sama Sammy ya," ucap Sonia.


"Hmm, kayaknya mereka berdua sama-sama ada rasa deh, sayang."


"Bisa jadi sih Mas. Tapi kita jangan ikut campur terlalu jauh ya. Biarkan aja semuanya mengalir. Biar mereka berdua yang menentukan sendiri mau seperti apa hubungan mereka kedepannya. Takutnya nanti kalau tidak berakhir dengan baik malah jadi canggung dan ngerasa nggak enak sama kita," kata Sonia.


"Iya sayang. Uhh, bijak banget sih istri Mas ini," puji Sean sambil mencubit pelan hidung Sonia dengan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Mas Sean apaan sih. Sakit tau," keluh Sonia sambil mengusap-usap hidungnya yang dicubit Sean tadi.


"Eh, sakit ya? Maaf deh. Sini-sini, biar Mas obatin."


Sean mendekatkan wajahnya kepada Sonia kemudian mencium hidung Sonia secara tiba-tiba.


"Maaasss,,," kesal Sonia dengan wajah cemberut.


"Kan diobatin, sayang. Biar cepet sembuh."


"Dasar tukang modus," gerutu Sonia.


"Loh kok modus sih? Niat Mas baik loh pengen ngobatin hidung kamu yang katanya sakit itu," kata Sean dengan wajah sok polosnya.


"Yang bikin hidung aku sakit siapa coba?"


"Suami kamu."


"Nah, itu ngaku. Berarti emang sengaja kan biar bisa cium-cium."


"Hehe, cari suasana baru sayang, biar ada sensasi tersendiri," kata Sean dengan tertawa kecil.


"Mas Sean, iiihhh,,,,"


Sonia kemudian menghujani Sean dengan pukulan-pukulan ringan di lengan dan dadanya. Tapi bukannya merasa kesakitan, Sean justru tertawa terpingkal-pingkal tanpa berniat untuk menghalau sama sekali hujan pukulan dari istrinya itu.


Dan setelah Sonia berhenti karena merasa kelelahan sendiri, Sean justru menarik Sonia ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Sonia beberapa kali.


Sementara di luar ruangan Sean.


"Baru kali ini gue denger Sean tertawa sampai seperti itu," celetuk Adrian yang berdiri di depan meja kerja Nadirga.


Nadirga kemudian mengikuti arah pandangan Adrian yang tertuju kepada pintu ruangan Sean yang tertutup, tapi terdengar gelak tawa yang begitu nyaring dari Sean di dalam sana.


"Sama Mas. Dirga juga baru kali ini denger Bang Sean bisa tertawa lepas sebahagia itu," balas Nadirga ikut tersenyum sambil melihat ke arah pintu ruangan Sean.

__ADS_1


"Kehadiran Sonia sudah membawa begitu banyak perubahan positif dalam hidup Sean. Terutama dalam hal kebahagiaan," kata Adrian dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Ya, Mas Rian bener," ucap Nadirga membenarkan.


🌸🌸🌸


"Mbak Sonia,,," panggil Sena setengah berteriak sambil melambaikan tangannya ketika melihat Sonia keluar dari lobi kantor.


"Sena, Rey," kata Sonia.


Sonia membalas lambaian tangan Sena. Sonia kemudian berjalan mendekati Sena dan Rey yang sudah menunggu di samping mobil mereka.


"Maaf ya, udah lama ya nunggunya?" tanya Sonia begitu tiba di depan Sena dan Rey.


"Enggak kok Mbak. Kita juga baru aja dateng kok," jawab Sena yang tentu saja tidak seperti kenyataan yang sebenarnya.


Sesuai rencana Steven kemarin, Sena dan Rey ditugaskan untuk selalu mengawasi Sonia. Jadi tentu saja mereka berdua selalu berada di sekitar area kantor SR Group.


"Ya udah yuk, kita jalan sekarang aja," ajak Rey.


"Oke deh. Mbak Sonia mau langsung pulang atau mau kemana dulu mungkin?" tanya Sena.


"Langsung pulang aja deh, Dek."


"Oh, oke deh. Yuk Mbak," ajak Sena kemudian.


Baru juga mereka hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba saja ada yang menyergap Sonia dari belakang.


"Aaahhh,,," pekik Sonia kaget.


"Mbak Sonia," teriak Sena.


Dan karena lengah Sena pun terkena pukulan lawan sehingga jatuh tersungkur dan membentur paving blok.


Tiga orang petugas keamanan SR Group pun datang membantu. Tapi tetap saja mereka kalah dalam jumlah.


Sebuah keberuntungan bagi Sonia, Sena, dan Rey, karena tiba-tiba saja Syafiq datang. Rencananya Syafiq mau menemui Adrian. Tapi ternyata Syafiq justru melihat adegan tidak terduga di depan matanya. Syafiq segera menghentikan mobilnya dan mendial nomor Bima di ponselnya.


"Red code. Kantor Bang Sean," teriak Syafiq begitu panggilan teleponnya dijawab, dan Syafiq juga langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja.


Syafiq segera turun dan membantu Rey dan yang lainnya menghadapi para penyerang tersebut.


"Sena selamatkan Sonia," perintah Syafiq.


Sena mengangguk kemudian berlari memburu ketiga orang yang masih berusaha membawa Sonia pergi. Sonia yang terus berontak nampaknya cukup merepotkan ketiga orang itu. Sena yang langsung menyerang ketiga orang tersebut sontak membuat mereka kaget. Sonia terdorong tanpa sengaja sehingga terjatuh.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian bala bantuan dari anak buah Bima pun datang. Dalam sekejap akhirnya para penyerang itu berhasil dilumpuhkan.


"Mbak nggak pa-pa kan?" tanya Sena sembari membantu Sonia berdiri.


"Mbak nggak pa-pa kok. Astaga Sena, luka kamu banyak banget," kata Sonia terkejut dan khawatir melihat Sena yang terluka cukup parah.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Syafiq yang tiba-tiba sudah ada di dekat Sonia dan Sena.


Syafiq merangkul pundak Sena untuk membantunya berjalan. Tapi Sena segera menepisnya.

__ADS_1


"Tidak perlu. Terima kasih," tolak Sena.


"Jangan keras kepala, kamu terluka," kesal Syafiq.


"Aku tau, tapi aku bisa sendiri," kekeuh Sena.


Sena berjalan sedikit pincang karena kaki kirinya terluka. Sonia segera membantu memapah Sena agar bisa berjalan dengan baik.


"Lo nggak pa-pa kan Sen?" tanya Rey khawatir.


Kondisi Rey pun tidak kalah kacaunya dengan Sena saat ini.


"Nggak pa-pa kok, tenang aja," jawab Sena dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Semua masuk ke mobil gue, kita ke rumah sakit sekarang," perintah Syafiq tanpa mau dibantah.


Sonia kemudian membawa Sena masuk ke dalam mobil Syafiq. Karena tidak mungkin untuk menghindar lagi, dengan berat hati akhirnya Sena pun masuk ke dalam mobil Syafiq. Rey pun juga ikut masuk ke dalam mobil. Baru kemudian Syafiq mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.


🌸🌸🌸


Sean langsung melompat turun dan berlari dengan kencang begitu mobil yang dikemudikan Nadirga berhenti di parkiran rumah sakit. Raut wajah yang begitu khawatir nampak jelas di wajah Sean saat ini. Seperti orang kesetanan Sean langsung menerobos masuk ke dalam ruang IGD di rumah sakit tersebut.


"Sonia,,," panggil Sean.


Dan setelah melihat Sonia yang duduk di sebuah kursi di dalam ruang IGD tersebut, Sean segera berlari menghampiri Sonia kemudian memeluk istrinya itu dengan erat. Mengabaikan tatapan mata semua orang yang berada di dalam ruang IGD tersebut.


"Kamu nggak pa-pa kan, sayang?" tanya Sean khawatir.


"Aku nggak pa-pa kok Mas," jawab Sonia.


Setelah beberapa saat, Sean pun melepaskan pelukannya. Melihat Syafiq yang sudah berdiri di dekatnya, Sean segera menegakkan tubuhnya.


"Siapa?" tanya Sean dingin menahan emosi.


"Anak buah Raka, Bang," jawab Syafiq.


"Sialan," geram Sean.


"Kita harus lebih waspada lagi sekarang Bang. Mereka sudah mulai melancarkan serangannya," kata Syafiq.


"Raka?" tanya Sonia tidak percaya.


Sean langsung beralih kepada Sonia. Dilihatnya wajah Sonia yang sudah berubah takut bercampur khawatir itu. Sean berjongkok kemudian menangkup wajah Sonia dengan kedua tangannya.


"Kamu nggak perlu khawatir sayang. Jangan takut, ada Mas yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu, ya," kata Sean berusaha menenangkan Sonia.


"Apakah dia Raka yang sama?" tanya Sonia pelan dengan suara bergetar.


"Iya sayang. Maaf kalau Mas menyembunyikan hal ini dari kamu. Mas hanya tidak ingin membuat kamu menjadi takut dan kepikiran."


Air mata yang mengalir di pipi Sonia langsung dihapus oleh Sean.


"Sssttt... Jangan takut ya. Ada Mas dan yang lainnya yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu," tegas Sean.


Sonia menganggukkan kepalanya pelan. Sean kemudian kembali membawa Sonia ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2