Cinta Sheila

Cinta Sheila
Drama Berlanjut


__ADS_3

Sheila dan Lusia sudah kembali duduk bersama Dyah dan Tya di meja VIP mereka.


"Loh, Mbak Santi mana? Tadi katanya dia nyusulin kamu loh Shei," tanya Dyah.


"Mbak Santi aku suruh nemenin Mas Steven," jawab Sheila sambil tersenyum.


"Biar nggak ketempelan ulat bulu," seloroh Lusia.


"Eh iya tuh bener. Dari tadi gue juga udah eneg banget tahu nggak. Tuh cewek nggak ada sopan santun banget ya berusaha nemplok terus ke suami Lo Shei," kata Tya emosi.


Sheila hanya tersenyum menanggapi perkataan Tya.


"Terobsesi kayaknya tuh cewek sama pesona Bang Steven," kata Lusia.


"Udah, nggak usah bahas itu lagi," potong Sheila menyudahi. "Yah, minumku habis. Aku ambil minum dulu ya."


"Gue aja Shei, minum gue juga habis nih. Lo duduk aja," cegah Tya lalu berdiri dari kursinya.


"Makasih ya Ya," kata Sheila.


Tya berjalan ke arah stand minuman hendak mengambil minum. Tapi belum juga sampai tiba-tiba ada yang menyenggol Tya cukup keras sampai Tya pun oleng. Tya hampir saja jatuh tapi kemudian ada tangan kokoh yang menarik pinggangnya dan mendekapnya, si pelaku penyenggolan tadi.


"Ahhh," pekik Tya kaget.


"Tya?" kata Leon setelah tahu bahwa yang disenggolnya adalah Tya.


"K-kak Leon," Tya menjawab terbata, merasa canggung berada dalam dekapan Leon.


Sesaat kemudian keduanya tersadar lalu melepaskan dekapan mereka.


"Maaf ya kakak nggak sengaja. Sedikit terburu-buru tadi sampai nyenggol kamu," sesal Leon.


"Eh, nggak pa-pa kok kak. Tya juga nggak hati-hati jalannya."


"Mau ambil minum?" tanya Leon.


"Iya kak, sekalian buat Sheila juga."


"Oh, kalau gitu ayo kakak anter, biar nggak repot juga bawanya," kata Leon lagi.


"I-iya kak, makasih," jawab Tya salah tingkah.


Leon lalu mengikuti Tya ke stand minuman dan mengambil masing-masing satu gelas orange jus. Keduanya lalu berbalik dan berjalan beriringan kembali menuju ke meja VIP.


Dari jauh Leon bisa melihat Raka sedang mengajak Sheila berbicara.


"Sial. Tya ayo lebih cepat sedikit," ajak Leon.


"Eh, i-iya kak," sedikit bingung tapi Tya meng-iyakan.


Keduanya lalu berjalan sedikit tergesa-gesa.

__ADS_1


...


Tidak lama setelah Tya pergi untuk mengambil minum.


Raka melihat Sheila duduk di meja VIP sedang bercanda dengan teman-temannya. Tidak ada Steven bersama Sheila. Raka pun mendekat, hendak memanfaatkan kesempatan.


"Selamat malam nona-nona manis," sapa Raka.


Sheila nampak terkejut dan sedikit khawatir. Hal itu tidak luput dari perhatian Lusia dan Dyah. Mereka masih ingat ketika di pesta pernikahan Max laki-laki ini juga yang mengganggu Sheila.


"Ka-kak Raka, selamat malam," meski terbata Sheila berusaha tetap bersikap sopan dan membalas sapaan Raka.


"Boleh aku ikut bergabung bersama kalian?" tanya Raka basa basi.


"Maaf kak tapi meja ini khusus untuk para cewek," jawab Lusia.


"Oh, sayang sekali, padahal aku ingin mengobrol dengan Sheila. Sudah lama kita tidak bicara berdua dari hati ke hati, benar kan Shei. Jadi, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Raka penuh harap.


"Maaf kak, tapi sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan," tolak Sheila hati-hati.


"Kenapa Shei? Apa suamimu yang melarang?"


"Tidak kak, tapi memang aku merasa tidak ada yang perlu kita bicarakan," tegas Sheila.


"Tega sekali kau melakukan ini padaku Shei. Dari dulu kau tidak pernah menghargai perjuanganku sama sekali. Dan sekarang dengan mudahnya kau menerima perjodohan pernikahan dengan laki-laki lain, yang bahkan dia masih berhubungan dengan kekasihnya setelah menikah denganmu. Dan kau masih bertahan dengan laki-laki semacam itu?" cibir Raka.


"Cukup kak. Tolong jangan bicara sembarangan tentang suamiku. Apa yang terjadi di dalam hubungan rumah tangga kami itu bukan urusan kakak," jawab Sheila seketika berdiri, dia sedikit terpancing emosi.


"Maaf kak, tapi perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Dan dari dulu memang aku tidak memiliki perasaan apapun kepada kakak."


Raka nampak tidak terima. Dia kemudian meraih tangan Sheila dan menggenggamnya sedikit kencang, membuat Sheila terkesiap kaget.


"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini Shei," geram Raka.


"Kak, sakit. Tolong lepaskan," pinta Sheila sambil meringis.


"Aku tidak ak-"


"Raka lepaskan," hardik Leon sambil setengah berlari.


Meletakkan gelas di atas meja Leon kemudian berusaha melepaskan tangan Sheila dari genggaman Raka.


"Apa-apaan sih Lo?" tanya Leon berang.


Tya merangkul bahu Sheila setelah meletakkan gelas di atas meja. Dyah dan Lusia pun ikut bangkit dan menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Gue cuma mau bicara sama Sheila Yon," jawab Raka.


"Tapi nggak dengan cara kasar dan pemaksaan seperti ini juga kan."


"Tapi Sheila selalu menghindar kalau gue mau ajak bicara Yon. Terus gue mesti gimana?"

__ADS_1


"Sheila sekarang udah nikah Rak, jadi wajar kalau dia menghindar. Dia menjaga martabatnya sebagai seorang wanita yang sudah bersuami. Harusnya kalau Lo emang mau bicara baik-baik ya Lo temuin Sheila ketika suaminya ada, bukan di belakang suaminya seperti ini," jawab Leon.


Max dan Sylvia datang menghampiri mereka.


"Bro, gue tahu Lo dari dulu suka sama adek gue. Tapi kan Lo juga udah tahu jawabannya kalau adek gue nggak bisa nerima perasaan Lo," kata Max setelah menepuk kemudian memegangi pundak Raka.


"Tolong Bro, gue minta Lo bisa menghargai keputusan adek gue. Terima dengan lapang dada. Apalagi sekarang adek gue juga udah nikah. Tolong jangan Lo ganggu kehidupan pernikahan adek gue. Bro, gue nggak mau persahabatan kita selama ini rusak cuma gara-gara masalah ini," lanjut Max lagi.


Terdiam cukup lama. Raka kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Sorry Max."


"It's okey. Kita cari minum dulu yuk," ajak Max lalu merangkul bahu Raka dan membawanya pergi meninggalkan Sheila dan yang lainnya. Sylvia mengikuti di samping Max.


"Huft, syukurlah," Sheila mendesah lega.


"Kamu nggak pa-pa kan dek?" tanya Leon.


"Aku nggak pa-pa kok kak," jawab Sheila dengan tersenyum.


Dengan berlari kecil Steven menghampiri Sheila dan yang lainnya.


"Sayang kamu nggak apa-apa kan?" tanya Steven setelah sampai di samping Sheila.


Tya, Dyah, dan Lusia mundur. Steven kemudian memeluk Sheila dan mencium puncak kepalanya.


"Aku nggak pa-pa kok Mas."


"Steve sebaiknya Lo ajak Sheila pulang aja. Udah malam juga, kasian Sheila," saran Leon.


"Iya Yon. Gue akan bawa Sheila pulang sekarang," kata Steven. "Thanks ya bantuan kalian semua malam ini. Kalian udah menjaga Sheila saat gue nggak bisa berada di samping Sheila untuk menjaganya."


"Sama-sama. Lo nggak perlu berterima kasih lagi kedepannya, itu tanggung jawab kita juga dan kita ikhlas ngelakuinnya. Karena kita semua sayang sama Sheila," balas Leon.


"Oke. Gue sama Sheila cabut ya. Kalian silahkan lanjutkan menikmati acaranya," pamit Steven.


"Hati-hati di jalan," pesan Leon.


"Guys, aku balik duluan ya. Makasih udah nemenin aku malam ini. Aku pulang duluan ya kak," pamit Sheila juga.


"Iya Shei, hati-hati ya," balas sahabat-sahabat Sheila.


"Hati-hati ya dek."


"Ayo sayang kita pamit sama Papa dan Mama dulu," ajak Steven.


"Iya Mas," balas Sheila.


Steven dan Sheila lalu pergi untuk menemui Ricko dan Amelia untuk berpamitan.


Dari jauh Celine memperhatikan semua yang sudah terjadi tadi dengan seksama. Senyum licik kemudian tersungging di bibirnya. Rencana-rencana baru mulai tersusun rapih di otak cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2