Cinta Sheila

Cinta Sheila
Jangan Dengarkan Mereka


__ADS_3

Mobil Ken berhenti di pelataran parkir butik milik Ani, sahabat Jihan. Jarak dari rumah sakit ke butik tersebut tidak begitu jauh, sehingga tidak butuh waktu lama bagi Ken untuk menjemput mamih dan kakaknya itu. Ken, Jihan, dan Kania segera turun kemudian bergegas masuk ke dalam butik.


Pegawai butik yang menyambut mereka mengarahkan mereka ke ruang tamu dimana Santi sedang menunggu. Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat perdebatan Santi dengan Leana. Dan ketika Mama Ryo tiba-tiba datang dan ikut memojokkan Santi, Ken sudah hampir berlari saat itu juga.


"Tunggu Ken," cegah Jihan sambil memegangi lengan Ken. "Biar Mamih aja. Ini urusan perempuan. Kamu dan Kania jagain Santi aja, oke!"


Dengan berat hati Ken menganggukkan kepalanya, mengikuti perkataan Mamih-nya. Ken, Jihan, dan Kania mempercepat langkah mereka untuk menghampiri Santi.


"Dari dulu saya memang tidak pernah suka dengan kamu. Dan sekarang semuanya terbukti bukan? Kamu memang tidak sederajat dengan kami. Semua perbuatan kamu sudah mencerminkan siapa kamu yang sebenarnya. Seorang wanita terhormat tidak akan melakukan cara rendahan dan menghancurkan hubungan orang lain. Apalagi hanya untuk alasan balas dendam,"


Perkataan Reni yang sarat akan hinaan kepada Santi itu dapat didengar dengan jelas oleh Ken, Jihan, dan Kania yang sudah berdiri satu meter dari Santi, Reni, dan Leana. Wajah Santi yang sudah berkaca-kaca pun tak luput dari perhatian mereka bertiga. Tangan Ken sudah terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"Ternyata benar bukan, didikan orang tua itu sangat penting. Dan kamu tidak pernah mendapatkan itu karena siapa orang tua kamu saja kamu tidak pernah tahu," cibir Reni


Dan air mata yang akhirnya lolos dari mata indah Santi, membuat emosi Ken semakin memuncak, tapi Kania dengan sigap memegang lengan adiknya itu.


"Dan apakah seperti ini cara seorang wanita terhormat memperlakukan orang lain?" tanya Jihan tiba-tiba.


Reni, Leana, dan juga Santi yang kaget pun segera mengarahkan pandangan mereka kepada Jihan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Jihan, Ken, dan Kania segera menghampiri Santi. Ken dan Kania merangkul Santi dari sisi kanan dan kiri sementara Jihan berdiri di depan mereka.


"Seorang wanita terhormat tidak akan menghina dan merendahkan wanita lain, apalagi di depan umum seperti ini," kata Jihan penuh penekanan.

__ADS_1


"Dokter Jihan, Anda tidak perlu ikut campur masalah ini. Ini urusan pribadi saya dengan Santi. Dan juga, apa yang saya katakan adalah fakta. Buktinya Santi diam saja kan, tidak bisa membantah perkataan saya?" tantang Reni.


Jihan terkekeh pelan sebelum menjawab.


"Saya tidak menyangka kalau ternyata pikiran Anda sepicik itu nyonya Reni. Saya jelaskan kepada Anda, Santi adalah calon menantu saya. Jadi apapun yang menjadi urusan Santi maka itu juga adalah urusan saya," tegas Jihan.


Reni dan Leana nampak terkejut mendengar bahwa ternyata Santi adalah calon menantu dari Jihan. Yang berarti Santi adalah calon istri Ken.


"Dan kenapa Santi tidak membantah perkataan Anda? Itu karena Santi masih menghormati Anda sebagai orang yang lebih tua dari dirinya. Saya sangat tahu betul bagaimana sifat calon menantu saya. Dia selalu menempatkan kesopanan di atas segalanya. Dan seharusnya, seperti itulah cara seorang wanita terhormat bersikap, menghargai dan menghormati orang lain," lanjut Jihan telak.


Reni dan Leana kehilangan kata-kata. Mereka merasa tertampar dengan perkataan Jihan.


"Dan satu lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda nyonya Reni. Terima kasih banyak karena telah melepaskan gadis sebaik Santi sehingga kami bisa mendapatkan berlian ini. Seorang gadis yang cantik, baik hati, sopan, pintar, pekerja keras, dan juga tangguh. Saya dan keluarga saya merasa sangat beruntung sekali karena akan memiliki seorang menantu seperti Santi."


Air mata Santi yang tadi sempat berhenti kini mengalir kembali. Merasa terharu dengan semua pembelaan Jihan terhadap dirinya. Ken yang mengetahui hal itu pun semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Santi.


"Satu hal yang harus Anda tahu nyonya, jangan pernah menilai seseorang hanya dari latar belakang keluarga dan derajatnya saja. Karena yang paling penting adalah bagaimana sikap dan sifatnya. Suatu hubungan tidak akan bertahan lama apabila tidak ada rasa saling menghargai dan menghormati di dalamnya, di samping rasa sayang tentu saja."


"Saya harap ini adalah terakhir kalinya Anda mengusik calon menantu saya. Jangan pernah Anda mengulanginya lagi atau saya pastikan Anda akan sangat menyesalinya. Kami permisi," pamit Jihan kemudian memutar tubuhnya ke belakang, "Ayo sayang, Tante Ani udah nungguin kita untuk fitting baju pengantin kalian."


Ken, Santi, dan Kania mengangguk. Mereka berempat kemudian pergi dari ruang tamu tersebut, meninggalkan Reni dan Leana yang masih terdiam di tempatnya. Ken tidak pernah melepaskan tangannya dari lengan Santi sedari tadi.

__ADS_1


"Are you okey, honey?" tanya Ken setelah mereka berempat sampai di ruang yang akan digunakan untuk fitting baju pengantin.


Santi tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Sebuah senyuman yang dipaksakan, Ken tahu itu.


"Jangan dipikirin ya sayang. Jangan dengarkan omongan mereka. Omongan mereka semuanya nggak bener, cuma omong kosong. Mereka cuma pengen membuat kamu menjadi semakin merasa rendah diri. Jadi jangan dengarkan mereka. Anggap aja omongan mereka itu cuma angin lalu, nggak penting, oke," hibur Jihan panjang lebar.


"Iya mih. Makasih ya mih udah belain Santi tadi," kata Santi.


"Itu udah jadi kewajiban Mamih sayang. Pokoknya siapa pun yang berani cari masalah sama anak-anak Mamih maka mereka akan berhadapan sama Mamih," balas Jihan penuh penekanan.


Melihat Santi yang kembali berkaca-kaca karena terharu Jihan pun langsung memeluk calon menantunya itu.


"Don't cry sayang. Jangan bersedih lagi. Kamu nggak sendiri sekarang. Kamu punya Mamih, Ken, Papih, dan yang lainnya juga. Jangan pikirkan omong kosong mereka karena kami nggak akan terpengaruh sedikit pun, oke," hibur Jihan.


"Iya mih. Makasih," balas Santi dalam pelukan Jihan.


Kania menghapus air mata di sudut matanya, ikut terharu melihat interaksi Santi dan Mamih-nya. Begitu juga dengan Ken.


Di dalam hati Ken berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu menjaga dan melindungi Santi dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dan Ken tidak akan membiarkan siapapun membuat gadisnya itu menitikkan air mata lagi. Sudah cukup semua kesedihan yang dialami Santi selama ini. Sekarang adalah waktunya kebahagiaan yang akan memenuhi kehidupan Santi dan juga dirinya.


Dan semoga niat baik Ken itu diridhoi oleh Allah SWT.

__ADS_1


__ADS_2