Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Kehilangan


__ADS_3

"Hahahahaha. Melepaskan Sonia? Setelah bertahun-tahun aku mencarinya dengan susah payah?" tanya Raka dengan seringainya.


"Tapi... Hmm, sepertinya itu ide yang tidak buruk juga. Setidaknya bukan hanya aku, tapi justru kau yang akan jauh lebih menderita karena kehilangan gadis ini. Dan Steven juga Sheila pasti juga akan ikut menderita melihat putranya hancur. Baiklah kalau begitu,,,"


Dan tiba-tiba saja Raka berbalik hendak mendorong Sonia melalui pagar besi pembatas balkon tersebut.


"SONIA!!!" teriak Sean kencang.


Diluar dugaan, Sonia menyikut dengan kuat perut Raka sehingga membuat Raka mengaduh kesakitan. Memanfaatkan situasi Raka yang lengah Sonia pun berusaha melepaskan diri. Sean bergerak cepat menghampiri Sonia, hendak menyelamatkan istrinya tersebut.


Namun sayang Sean kalah cepat. Raka yang marah mendorong tubuh Sonia sekuat tenaga.


"Dasar wanita kurang ajar!" teriak Raka dengan mendorong sekuat tenaga tubuh Sonia ke arah tembok.


Punggung Sonia membentur tembok dengan kuat.


"Aaahhh!!!" teriak Sonia merasakan sakit yang teramat sangat di punggungnya.


"Sonia!" teriak Sean. "Kurang ajar, beraninya kau menyakiti istriku," geram Sean.


Sean berlari memburu ke arah Raka. Memukul wajahnya dengan kekuatan penuh. Raka yang belum siap menerima serangan dari Sean seketika tubuhnya oleng. Pukulan kedua dari Sean membuat tubuh Raka terdorong ke belakang sampai akhirnya melewati pagar besi pembatas balkon dan membuat Raka terjatuh.


"Aaahhh!!!" teriak Raka yang terjatuh dari balkon lantai tiga rumah tua tersebut.


Naas bagi Raka karena kepalanya lebih dulu membentur paving block dengan sangat keras. Darah segar segera saja mengalir keluar dari kepala Raka yang terluka. Bahkan juga dari mulut dan hidung Raka.


Sean segera berbalik dan berlari ke arah Sonia yang sedang terduduk di lantai sambil merintih kesakitan dengan memegangi perutnya.


"Kamu nggak pa-pa kan sayang?" tanya Sean panik dengan memegangi kedua pundak Sonia.


"Akht, perutku sakit sekali Mas," keluh Sonia dengan meringis.


"Astaghfirullah!" pekik Sean ketika melihat darah yang merembes keluar dari gamis Sonia.


"Mas,,," lirih Sonia yang semakin kesakitan hingga mencengkeram erat lengan Sean.


"Jangan khawatir sayang. Kita ke rumah sakit sekarang," kata Sean.


Sean kemudian membopong Sonia dan hendak membawanya keluar. Di dalam ruangan nampak semua anak buah Raka sudah berhasil dilumpuhkan oleh Syafiq dan yang lainnya.

__ADS_1


"Syafiq anterin Abang ke rumah sakit sekarang. Sonia terluka," teriak Sean sambil setengah berlari membawa Sonia keluar dari ruangan tersebut.


"Oke Bang," sahut Syafiq yang langsung menyusul Sean di belakangnya.


"Alvin urus semua anak buah kita yang terluka. Anak buah Raka biar ditangani oleh tim Om Darius. Mas Rian akan ikut Sean ke rumah sakit," kata Adrian memberikan arahan.


"Oke Mas," balas Alvin.


Adrian kemudian berlari menyusul Sean dan Syafiq yang sudah keluar terlebih dahulu.


🌸🌸🌸


Sean terduduk dengan lemas di kursi tunggu rumah sakit di depan ruang operasi. Menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Syafiq dan Adrian pun hanya bisa berdiri dengan terdiam, tidak tau harus menghibur seperti apa.


Saat ini tim dokter sedang melakukan tindakan dilatasi dan kuretase pada Sonia. Ya, sangat disayangkan karena benturan keras yang dialami oleh Sonia di rumah tua tadi membuat janin Sonia yang baru berusia 4 minggu itu tidak dapat diselamatkan sehingga Sonia mengalami keguguran.


Sebuah kabar yang begitu mengejutkan bagi Sean. Sean dan Sonia bahkan belum mengetahui kehadiran janin di dalam rahim Sonia tersebut dan sekarang mereka sudah harus kehilangan calon buah hati mereka itu. Sean benar-benar merasa terpuruk dan kehilangan saat ini.


Tidak lama kemudian Sheila datang bersama dengan Steven dan Safa. Sheila duduk di sebelah Sean dengan pelan.


"Abang," panggil Sheila lembut dengan memegang pundak Sean.


"Abang gagal Bun. Abang nggak bisa jagain Sonia. Abang juga nggak bisa jagain calon anak kami. Abang bener-bener nggak berguna Bun," rutuk Sean pada dirinya sendiri.


"Sssttt, Abang nggak boleh ngomong kayak gitu," kata Sheila.


"Kami bahkan belum mengetahui kehadiran calon buah hati kami itu Bun. Dan sekarang kami sudah harus kehilangan dia Bun. Apa salah kami Bun? Gimana Abang jelasinnya ke Sonia nanti Bun?," keluh Sean dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.


Safa sudah menangis di dalam pelukan Adrian sejak tadi.


"Abang dan Sonia baru mau periksa ke dokter hari itu Bun, tapi ternyata semuanya jadi kayak gini. Abang bener-bener nggak berguna Bun. Abang udah gagal jadi suami yang baik. Abang gagal melindungi istri dan calon anak kami Bun, hiks hiks. Abang gagal Bun," keluh Sean dengan sesenggukan.


Sean menumpahkan segala beban yang ada di dalam hatinya kepada Sheila. Sheila mengelus lembut punggung anak sulungnya yang terus bergetar karena tangisnya itu.


"Abang nggak boleh berkata seperti itu. Semuanya sudah menjadi ketetapan Allah SWT Bang. Dan kita nggak bisa menghindari takdir. Abang juga udah berusaha sebaik mungkin, jadi jangan pernah bilang kalau Abang gagal dan nggak berguna lagi, ya," nasehat Sheila.


"Abang harus kuat, biar Abang juga bisa menguatkan Sonia. Bukan hanya Abang, Sonia pasti juga sangat terpukul setelah mengetahui kabar ini nanti. Sonia justru adalah orang yang paling merasa terpuruk karena kehilangan ini Bang. Dan di saat-saat seperti inilah kalian harus bisa saling menguatkan satu sama lain, saling mendukung, dan bangkit bersama-sama."


"Yakinlah Bang, semua ketetapan dari Allah SWT pasti adalah yang terbaik untuk kita. Ambil sisi positif dari musibah ini. Janin itu mungkin memang belum menjadi rezeki kalian. Tapi justru dia bisa menjadi tabungan kalian ketika di akhirat nanti. Kalian masih muda, kesempatan kalian masih banyak. Bunda yakin Allah SWT pasti akan segera memberikan pengganti yang lebih baik untuk kalian berdua. Kalian hanya perlu untuk terus berusaha, terus berdo'a, dan juga bersabar, ya. Kalian harus bisa saling menguatkan," nasehat Sheila panjang lebar.

__ADS_1


"Abang janji sama Bunda ya, setelah ini Abang nggak boleh nyalahin diri Abang lagi. Abang juga harus kuat, demi Sonia. Saat ini Sonia sangat butuh dukungan dari Abang, ya," pinta Sheila.


"Baik Bun," jawab Sean lirih.


Sean mengangguk kecil dalam pelukan bundanya. Steven, Syafiq, dan Adrian pun diam-diam menghapus air mata yang keluar dari sudut mata mereka.


🌸🌸🌸


Operasi kuret Sonia berjalan dengan lancar. Saat ini Sonia sudah dipindahkan ke ruang VVIP di rumah sakit tersebut. Sean duduk di samping bed Sonia. Menggenggam lembut tangan kanan Sonia yang terbebas dari jarum infus.


Sean menunggu Sonia seorang diri saat ini. Sean meminta Steven dan yang lainnya untuk pulang terlebih dahulu karena hari yang sudah sangat malam. Kondisi Sonia juga sudah membaik. Jadi Sean meminta mereka datang kembali ke rumah sakit esok hari saja.


Tidak lama kemudian, nampak Sonia yang sudah mulai sadar. Sean merasakan tangan Sonia yang berada dalam genggamannya mulai bergerak pelan. Sonia juga mulai membuka kedua matanya perlahan-lahan.


"Sayang," panggil Sean lembut.


Sean mencium tangan Sonia yang sedang digenggamnya kemudian mengusap lembut kepala Sonia.


"Kamu sudah sadar? Ada yang sakit?" tanya Sean.


"Mas," panggil Sonia lirih.


"Iya sayang. Mas disini," balas Sean.


"Maafkan aku Mas. Aku nggak bisa menjaga calon buah hati kita dengan baik," kata Sonia dengan air mata yang langsung mengalir di kedua pipinya.


Sean beranjak dari duduknya kemudian naik dan duduk di atas bed di samping Sonia. Sean mencium kening Sonia lembut.


"Sssttt. Jangan bicara seperti itu sayang. Ini bukan salah kamu. Ini semua sudah menjadi ketetapan takdir dari Allah SWT untuk kita," kata Sean di depan wajah Sonia, mencoba menenangkan istrinya yang terus menangis itu.


Sean menghapus air mata di wajah Sonia dengan ibu jarinya.


"Aku ngerasa nggak berguna banget Mas. Aku nggak bisa melindungi calon buah hati kita dengan baik. Aku bahkan belum menyadari kehadirannya, dan sekarang aku sudah harus kehilangan dia Mas. Ibu macam apa aku ini," rutuk Sonia pada dirinya sendiri.


"Sssttt, kamu nggak boleh berpikiran seperti itu sayang," kata Sean yang langsung merengkuh tubuh Sonia ke dalam pelukannya.


Semua yang dikatakan Bunda Sheila adalah benar. Bukan hanya Sean yang merasa terpuruk dan kehilangan, Sonia juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih dari apa yang Sean rasakan.


Beruntungnya Sean yang sudah mendapatkan begitu banyak nasehat dari Bunda Sheila. Sehingga Sean bisa merasa lebih tenang dan merasa lebih baik saat ini. Dan sekarang adalah giliran Sean yang harus bisa menenangkan dan menguatkan Sonia dari kesedihan karena kehilangan dan rasa bersalah pada dirinya sendiri, sama seperti yang Sean rasakan tadi.

__ADS_1


__ADS_2