
"Mas, bangun," panggil Sheila yang duduk di sebelah Steven sambil mengguncang pelan lengan suaminya itu.
Satu kali, dua kali, akhirnya Steven pun bereaksi.
"Hmm, kenapa sayang?" tanya Steven sambil mengerjabkan matanya.
"Temenin keluar yuk, pengen jagung bakar," ajak Sheila.
Steven melihat jam pada dinding kamarnya, pukul dua dini hari.
"Ini udah malem banget loh sayang," kata Steven sambil mendudukkan tubuhnya.
"Udah nyoba nahan dari tadi, besok aja belinya, tapi nggak bisa. Semakin ditahan malah semakin pengen," lirih Sheila merasa tidak enak telah membangunkan suaminya dini hari seperti ini.
Steven tersenyum lembut.
"Kenapa mesti ditahan?"
"Nggak enak bangunin Mas malem-malem gini. Mas juga pasti capek habis kerja seharian," jawab Sheila merasa tidak enak. "Tapi maaf, Sheila bangunin juga akhirnya."
Lagi-lagi Steven tersenyum kemudian menarik kepala Sheila dan mengecup keningnya sekilas.
"Nggak pa-pa kok sayang. Mas nggak keberatan kamu bangunin Mas jam berapa pun itu. Lain kali jangan pernah merasa nggak enak lagi, ya," pinta Steven.
"Iya Mas," jawab Sheila sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya udah, kamu tunggu di rumah ya, Mas beliin dulu jagung bakarnya," kata Steven lalu berbalik hendak turun dari ranjang.
"Mas," panggil Sheila lagi dengan menarik sedikit baju tidur Steven di bagian lengannya.
"Hmm, kenapa sayang?" tanya Steven kembali membalikkan badannya.
"Pengen ikut," lirih Sheila.
"Tapi ini udah malem banget loh sayang, udaranya pasti dingin."
"Please," mohon Sheila.
Melihat raut wajah Sheila yang begitu memohon, Steven pun tidak tega. Menghembuskan nafas gusar, dengan berat hati Steven terpaksa menyetujui keinginan istrinya itu.
"Oke, boleh. Tapi pake jaket ya, yang tebel," kata Steven akhirnya menyetujui.
Sheila tersenyum sumringah kemudian menganggukkan kepalanya berulang kali. Steven tertawa kecil melihat tingkah Sheila yang seperti anak kecil tersebut.
Steven dan Sheila kemudian bersiap dan turun ke bawah menuju garasi.
__ADS_1
"Mau kemana Den malem-malem begini?" tanya Pak Sapto, satpam di rumah Ricko, ketika mobil Steven berhenti di pos satpam.
"Sheila pengen jagung bakar Pak," jawab Steven.
"Oh, ngidam ya Non?" tanya Pak Sapto lagi.
"Nggak tahu Pak, tiba-tiba pengen banget," jawab Sheila.
"Biasa itu mah Non, hal yang wajar dialami ibu hamil."
"Ya sudah, kami duluan ya Pak," pamit Steven.
"Siap, hati-hati Den, Non," pesan Pak Sapto.
"Assalamu'alaikum," pamit Steven dan Sheila bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," balas Pak Sapto.
Steven mengemudikan mobilnya menuju ke daerah taman kota. Biasanya di sana banyak penjual makanan tenda maupun gerobak. Dan benar saja, suasana taman masih nampak sedikit ramai.
Penjual masih banyak yang menggelar lapak dagangan mereka. Dan pengunjung pun juga masih nampak terlihat meski hanya beberapa.
Steven memarkirkan mobilnya. Turun dari mobil kemudian berjalan beriringan dengan menggandeng tangan Sheila menuju ke arah seorang penjual jagung bakar.
"Ini sayang, buruan di makan, mumpung masih anget," kata Steven.
Sheila menerima jagung bakar dari Steven kemudian menghirup aromanya dalam-dalam. Tapi di luar dugaan Sheila justru mengarahkan jagung bakar tersebut ke depan mulut Steven.
"Mas Steven aaaaa...." Sheila hendak menyuapi Steven.
Steven yang baru saja mau menggigit jagung bakarnya pun menoleh dengan bingung. Namun dia tetap membuka mulutnya dan menggigit jagung bakar yang disodorkan oleh Sheila tersebut.
"Kok jadi nyuapin Mas? Kan yang pengen kamu sayang," tanya Steven kebingungan.
"Aku udah puas Mas nyium aroma jagung bakarnya tadi. Sekarang maunya Mas yang makan jagung bakar ini," jawab Sheila tanpa dosa sambil tersenyum manis.
Steven mengkerutkan keningnya mendengar jawaban istrinya itu.
"Aaak lagi, pokoknya harus dihabisin ya," kata Sheila kembali menyuapi Steven.
"Tapi sayang katanya kamu pengen banget tadi?"
Sheila menggelengkan kepalanya.
"Maunya Mas yang makan."
__ADS_1
Menghembuskan nafas akhirnya Steven pun menggigit lagi jagung bakar yang disodorkan oleh Sheila.
Dalam hati Steven mengingatkan dirinya sendiri untuk bersabar. Mencoba memahami kondisi Sheila yang sedang hamil, dengan hormon dan keinginannya yang terkadang tidak masuk akal dan cepat sekali berubah-ubah.
Steven sudah banyak membaca buku tentang kondisi wanita hamil beserta kebiasaan mereka. Steven bahkan sudah banyak menerima nasehat dan saran dari Mama-nya, Bunda Sarah, dan juga yang lainnya tentang menghadapi ibu hamil seperti Sheila.
Tapi jujur, Steven pun bersyukur di dalam hati, karena Sheila tidak terlalu merepotkan dalam kehamilannya saat ini. Morning sickness di tiga bulan awal kehamilan tidak terlalu parah. Sheila masih bisa tetap makan walaupun hanya sedikit-sedikit.
Steven memang sempat ikut merasakan pusing dan mual,tapi itupun masih bisa ditoleransi dan tidak merepotkan sama sekali. Pekerjaan Steven masih bisa dia kerjakan dengan baik meski kadang sedikit molor waktunya.
Sheila pun bisa dikatakan tidak pernah ngidam yang aneh-aneh. Bahkan lebih seringnya, Sheila menahan keinginannya terhadap sesuatu sampai besok pagi, tidak ingin menyusahkan suaminya di malam hari. Sheila menyadari kelelahan Steven yang sudah penat bekerja seharian di kantor.
Bisa dihitung dengan jari kondisi seperti malam ini terjadi. Dimana Sheila tidak dapat menahan keinginannya dan terpaksa membangunkan Steven dari tidurnya. Tapi itupun bukan suatu masalah bagi Steven. Steven tidak pernah menggerutu apalagi menolak permintaan Sheila.
"Kok cemberut?" tanya Steven setelah menggigit jagung bakar dari tangan Sheila lagi.
"Maaf ya Mas, waktu istirahat Mas jadi terganggu gara-gara aku," sesal Sheila.
"Enggak kok sayang," jawab Steven sambil tersenyum lembut. "Mas sama sekali nggak merasa terganggu waktu istirahatnya. Mas juga nggak keberatan kok memenuhi keinginan ngidam kamu."
"Makasih ya Mas udah mau ngertiin aku," kata Sheila tersenyum manis.
"Kamu tahu nggak sayang, justru Mas yang mau bilang terima kasih sama kamu. Kamu selalu menahan keinginan kamu sendiri karena nggak mau ngerepotin Mas."
"Awalnya Mas sempat merasa takut juga, ngebayangin kalau nanti kamu ngidam minta yang aneh-aneh. Soalnya kak Jery dan juga temen-temen Mas yang udah pada punya anak sering cerita ke Mas, gimana repot dan pusingnya mereka menghadapi istri-istri mereka yang sedang ngidam dan meminta hal yang aneh-aneh," lanjut Steven bercerita.
"Bahkan dulu pernah tuh kak Kania ngidam pas hamil Kiara, dia mau makan gudeg tapi yang asli langsung dari Jogja. Sampai akhirnya kak Jery minjem private jet Paman-nya dan langsung mengajak kak Kania terbang ke Jogja malam itu juga."
"Oh ya?" tanya Sheila tidak percaya.
"Iya bener. Pernah juga tuh, kak Kania tiba-tiba pengen makan kue klepon. Mana kak Jery lagi business trip ke luar negeri pula saat itu, sampai akhirnya Ken, Mas, dan Danny yang muter-muter nyariin kue klepon tersebut buat kak Kania. Kita sampai keluar masuk pasar tradisional waktu itu, cuma buat nyari kue itu doang."
"Bahkan ada juga tuh temen Mas yang istrinya ngidam pengen cubit pipi mantan pacarnya. Temen Mas sampai pusing sendiri waktu itu, antara menahan rasa cemburu dan memenuhi keinginan ngidam istrinya yang aneh."
Steven sampai tertawa ketika selesai bercerita, membuat Sheila pun ikut menyunggingkan senyumnya.
"Aku baru denger Mas ada orang ngidam seperti itu," kata Sheila.
"Yah, kondisi setiap wanita hamil kan emang beda-beda sayang. Dan Mas sangat bersyukur sekali karena ngidam kamu masih dalam batas wajar. Hmm, sepertinya anak Ayah ini nanti akan jadi orang hebat yang tidak pernah merepotkan orang lain. Masih di dalam kandungan aja dia sepengertian ini sama Ayah-nya dan tidak pernah merepotkan Ayah sama Bunda-nya yang macem-macem," kata Steven sambil mengelus lembut perut Sheila.
"Jadi anak yang Sholeh nanti ya nak, pemimpin yang hebat, yang tidak pernah menyusahkan orang lain, dan selalu rendah hati, bersikap baik dan menolong sesama yang sedang membutuhkan," do'a Steven untuk putranya.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," jawab Sheila meng-amin-kan do'a Steven.
Steven dan Sheila mendo'akan yang terbaik untuk putra mereka yang masih berada di dalam kandungan tersebut.
__ADS_1