Cinta Sheila

Cinta Sheila
First Anniversary Yang Gagal


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu tahun usia pernikahan Steven dan Sheila. Yah, meski awalnya pernikahan mereka didasari dengan sebuah kesepakatan, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain dengan menumbuhkan cinta di antara keduanya. Bahkan sekarang sudah ada calon buah hati mereka di dalam perut Sheila.


Pagi ini setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah Sheila tidak langsung melepas mukenanya. Selesai mencium tangan kanan Steven dan Steven mencium keningnya, Sheila justru menghambur masuk ke dalam pelukan Steven.


Menempelkan pipi kirinya di dada Steven sambil memejamkan kedua matanya, meresapi kasih sayang dari suaminya. Bersyukur kepada Allah SWT yang telah menghadirkan cinta di antara mereka sehingga pernikahan yang mereka jalani sekarang penuh dengan cinta dan kasih sayang.


"Kenapa sayang?" tanya Steven mengelus lembut kepala Sheila.


"Mas ingat ini hari apa?" Sheila justru balik bertanya.


Berpikir sejenak, Steven kemudian tersenyum.


"Ulang tahun pernikahan kita," jawab Steven mantap.


Sheila melepaskan pelukan dan mendongakkan kepalanya terkejut.


"Mas ingat?"


"Hmm. Mana mungkin Mas lupa," jawab Steven kembali menarik Sheila ke dalam pelukannya.


"Satu tahun yang lalu, di jam yang sama dengan saat ini, Mas masih merenung di atas ranjang itu. Antara bimbang tapi juga gugup. Karena sebentar lagi hidup Mas akan berubah. Mau mundur, jelas Mas tidak bisa lagi. Tapi untuk maju dan meneruskan, Mas tidak yakin apa Mas mampu, sementara hati Mas masih dimiliki Nila saat itu."


Sheila diam mendengarkan Steven bercerita.


"Bang Dika waktu itu yang meyakinkan Mas untuk terus maju, dia bilang 'hadapi dan jalani, biarkan semuanya mengalir seperti air, yakinlah akan ada hikmah di balik semua ini, niatkan demi membahagiakan Papa-mu', begitu nasehatnya waktu itu."


"Mas belum menyadari waktu itu kalau ternyata Bang Dika sudah menyelidiki semua informasi tentang kamu, makanya dia begitu bersemangat meyakinkan Mas untuk menerima perjodohan saat itu. "


"Bang Dika melakukan semua itu Mas?" tanya Sheila tidak percaya.


"Iya. Dan Mas juga baru tahu kalau Bang Dika melakukan semua itu satu bulan setelah kita menikah. Hebat banget kan Bang Dika menyembunyikan semuanya. Mas sempet marah, tapi kemudian Mas akhirnya sadar kalau Bang Dika ngelakuin semua itu demi kebaikan Mas juga, karena Bang Dika sayang sama Mas. Bang Dika udah nganggep Mas sebagai adiknya sendiri, makanya Bang Dika pengen yang terbaik untuk Mas, gitu katanya."


"Mas pasti marah banget ya saat itu?"


"Nggak juga. Sedikit kecewa, iya. Tapi entah kenapa, Mas sendiri juga tidak tahu, dari awal menerima perjodohan kita Mas tidak pernah merasa menyesal sama sekali. Apalagi ketika melafazkan ijab kabul, tidak ada keraguan di hati Mas. Dan ketika kamu mencium tangan Mas, ada perasaan asing yang membuat hati Mas deg-degan saat itu. Perasaan yang belum pernah Mas rasakan sebelumnya."


"Sungguh?"


"Hmm. Seperti yang Mas pernah bilang, hati sudah lebih dulu tahu mana pasangannya bahkan sebelum Mas menyadari semuanya. Dan ternyata benar kan, bersama kamu sekarang Mas merasakan semua kebahagiaan yang belum pernah Mas rasakan sebelumnya. Sekarang Mas sangat bersyukur karena memiliki kamu dalam hidup Mas. Apalagi sebentar lagi akan ada calon jagoan kita yang akan melengkapi kebahagiaan kita," kata Steven kemudian mengelus lembut perut Sheila dengan gerakan memutar.


"Sheila juga bersyukur memiliki Mas Steven dalam hidup Sheila. Terima kasih ya Mas, sudah hadir dan melengkapi kebahagiaan Sheila," kata Sheila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Justru Mas yang berterima kasih sama kamu sayang, terima kasih karena sudah membuat Mas merasakan semua kebahagiaan ini. Dan maaf untuk awal pernikahan kita yang tidak baik. Maaf karena Mas banyak menyakiti hati kamu sayang," pinta Steven menangkup kedua pipi Sheila dengan tangannya.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Mas. Semuanya adalah proses yang harus kita jalani untuk mendapatkan kebahagiaan kita bersama," balas Sheila.


"Mas beruntung karena memiliki kamu sebagai pendamping hidup Mas. Selamat ulang tahun pernikahan sayang. Semoga kedepannya hanya ada kebahagiaan untuk keluarga kecil kita. Dan semoga kita bisa terus saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. I love you Sheila. Mas mencintai kamu sayang," kata Steven kemudian mencium kening Sheila dalam.


Sheila memejamkan matanya, merasakan begitu banyak limpahan cinta dan kasih sayang dari Steven, suaminya.


"Sheila juga sangat mencintai Mas Steven," balas Sheila setelah ciuman Steven selesai.


Keduanya mengunci tatapan satu sama lain. Perlahan Steven menundukkan kepalanya dan meraup bibir mungil Sheila. M e l u m a t lembut menumpahkan segala bentuk rasa sayang satu sama lain. Keduanya bersyukur kepada Allah SWT yang telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang suci.


...


'Sayang bersiaplah,nanti malam Mas mau ngajak kamu makan malam diluar, merayakan hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Mas udah kirim gaun, kamu pakai ya untuk acara kita malam ini. Love you. Your Hubby.'


Sheila tersenyum membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Steven.


"Kenapa sayang, kok senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Amelia yang duduk di sebelah Sheila.


Saat ini Sheila dan Amelia sedang berada di ruang keluarga, menonton TV dan menghabiskan waktu bersama.


"Pesan dari Steven ya?" tebak Amelia.


"Iya Ma," jawab Sheila sambil mengangguk pelan.


"Mas Steven ngajak makan malam diluar Ma, untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama," jawab Sheila tersenyum.


"Oh astaga, Mama sampai lupa. Selamat ya sayang. Happy anniversary," kata Amelia kemudian memeluk Sheila penuh sayang.


"Terima kasih Ma."


"Bahagia selalu ya untuk kalian berdua. Mama do'akan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek nanti dan dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah," kata Amelia tulus setelah mengurai pelukannya.


"Aamiin, sekali lagi terima kasih banyak ya Ma," Sheila tersenyum bahagia mendengar do'a dari ibu mertuanya yang sekarang begitu menyayanginya itu.


Kurir sudah datang dan mengantarkan gaun pesanan Steven untuk Sheila. Selepas sholat Maghrib Sheila mulai bersiap. Steven tadi mengirim pesan kalau dia masih ada meeting penting.


'Sayang maaf Mas masih ada meeting penting dengan klien yang tidak bisa Mas tinggalkan. Tapi Mas udah kirim sopir kantor untuk menjemput kamu. Selesai meeting Mas langsung nyusul kamu kesana ya. Maaf ya sayang. Love you. Your Hubby.'


Lagi-lagi Sheila tersenyum membaca pesan dari suaminya. Selesai bersiap, terdengar ketukan dari pintu kamar Sheila. Sheila beranjak untuk membuka pintu dan ternyata Mbak Siti yang mengetuk pintu.


"Iya Mbak?"


"Maaf Non, di depan ada sopir yang mau menjemput Non, katanya disuruh Den Steven," kata Mbak Siti memberi tahu dengan sopan.

__ADS_1


"Oh, iya Mbak. Sebentar lagi saya turun."


"Baik Non, permisi."


Setelah mendapat persetujuan dari Sheila Mbak Siti kemudian pergi. Sheila masuk lagi ke dalam kamar dan mengambil clucth nya kemudian bergegas untuk turun ke bawah.


"Ma, Sheila berangkat dulu ya," pamit Sheila kepada Amelia.


"Iya sayang, hati-hati ya," pesan Amelia.


"Iya Ma," balas Sheila kemudian mencium tangan Amelia. "Assalamu'alaikum Ma."


"Wa'alaikumsalam sayang."


Sheila keluar dari rumah dan mendapati seorang sopir sedang menunggunya di samping mobil yang sudah terparkir.


"Selamat malam Nona, mari silahkan," kata sang sopir mempersilahkan Sheila masuk setelah membukakan pintu mobil bagian belakang.


Sheila merasa ada yang janggal. Semua karyawan di kantor Steven memanggilnya dengan sebutan 'Bu', tidak pernah sekalipun ada yang memanggilnya 'Nona'.


"Maaf, apa Bapak disuruh suami saya untuk menjemput saya?" tanya Sheila memastikan.


"Betul Nona. Tuan Steven menyuruh saya untuk menjemput Nona dan mengantarkan Nona ke restoran terlebih dahulu. Jadi, mari Nona silahkan masuk. Jangan sampai Tuan Steven menunggu terlalu lama," kata sopir tersebut.


Sebenarnya Sheila merasa sedikit ragu. Tapi dari tadi Sheila menghubungi Steven juga tidak bisa. Mungkin meeting nya belum selesai. Dengan berat hati akhirnya Sheila masuk juga ke dalam mobil.


Tidak lama setelah kepergian mobil yang membawa Sheila. Bel pintu utama berbunyi. Mbak Siti setengah berlari hendak membuka pintu.


"Iya, cari siapa?" tanya Mbak Siti.


"Maaf saya diutus Pak Steven untuk menjemput Bu Sheila," jawab pria paruh baya di hadapan Mbak Siti.


"Loh, tapi tadi sudah ada yang menjemput Non Sheila, katanya suruhan Den Steven," kata Mbak Siti bingung.


"Ada apa Siti?" tanya Amelia berjalan menghampiri.


"Ini Nyonya, bapak ini bilang mau menjemput Non Sheila disuruh Den Steven. Tapi kan Non Sheila sudah dijemput oleh suruhan Den Steven tadi," kata Mbak Siti menjelaskan.


Amelia pun merasa bingung.


"Kamu benar disuruh Steven untuk menjemput Sheila?" tanya Amelia meyakinkan.


"Benar Bu. Pak Steven memberi perintah kepada saya untuk menjemput Bu Sheila dan mengantarkan beliau ke restoran terlebih dahulu," jawab sopir tersebut.

__ADS_1


"Tapi tadi Sheila sudah dijemput, katanya suruhan Steven juga. Apa jangan-jangan... Oh astaga, Siti cepat ambilkan HP saya," perintah Amelia mulai terlihat panik. Berdo'a di dalam hati semoga apa yang dipikirkannya tidak menjadi kenyataan.


__ADS_2