
"Mau langsung pulang atau mau mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Ken yang sedang mengemudikan mobilnya hendak mengantar Santi pulang.
"Mas Ken mau ada acara ya?" Santi justru balik bertanya.
"Enggak kok. Justru karena nggak ada acara makanya Mas nanya kamu. Kali aja kamu mau mampir kemana dulu gitu. Mumpung belum sore-sore banget juga," jawab Ken.
"Mmm, kalau ke taman kota gimana?" tawar Santi.
"Wah, boleh juga tuh. Mas jarang banget pergi ke taman kota. Oke, kita mampir ke taman kota dulu ya," balas Ken antusias.
Santi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat antusias Ken tersebut. Tak lama kemudian mobil Ken sudah terparkir di parking area taman kota. Ken dan Santi pun turun dari mobil. Keduanya lalu berjalan beriringan.
Suasana taman saat ini lumayan ramai. Banyak pasangan muda mudi yang terlihat sedang menghabiskan waktu bersama. Banyak juga orang tua yang sedang menemani anak-anak mereka bermain. Suara anak-anak begitu riuh, bermain dan juga kejar-kejaran, nampak sangat bahagia.
"Waw, selalu seramai ini ya?" tanya Ken takjub.
"Mungkin karena hari libur Mas. Biasanya paling ramai malah kalau malam hari," jawab Santi.
"Kamu sering kesini San?"
"Enggak terlalu sering sih Mas. Paling kalau lagi jenuh dan suntuk aja, yah itung-itung nge-refresh pikiran."
"Sama siapa kalau kesini?" tanya Ken lagi.
"Sendiri. Emangnya mau sama siapa lagi," jawab Santi sambil terkekeh pelan.
Ken menangkap kesedihan dalam perkataan Santi, yang seolah-olah mengatakan kalau dia sendirian di dunia ini.
"Ada yang jual es krim, kita beli es krim yuk," ajak Ken mengalihkan perhatian.
Santi tersenyum sambil mengangguk. Keduanya lalu berjalan ke arah penjual es krim.
"Es krim-nya dua ya pak, satu stoberi satu vanilla," pesan Ken pada bapak penjual es krim.
"Silahkan mas," kata bapak penjual es krim dengan menyerahkan dua es krim cone kepada Ken.
Ken menerima es krim tersebut kemudian membayarnya dengan selembar uang berwarna merah.
"Kembaliannya buat bapak aja," kata Ken ikhlas.
"Alhamdulillaah, terima kasih banyak mas. Semoga lancar rejekinya dan langgeng sama mbak nya ya mas," do'a bapak penjual es krim.
"Aamiin. Sama-sama pak, makasih juga do'anya," kata Ken tersenyum sumringah.
Sementara Santi sedikit tersipu mendengar do'a bapak penjual es krim tadi. Ken kemudian pamit kepada bapak penjual es krim dan mengajak Santi untuk duduk di salah satu kursi taman yang kosong. Memberikan es krim rasa stroberi kepada Santi dan yang rasa vanilla untuk dirinya sendiri.
"Mas kok tahu kalau aku suka rasa stroberi? Jangan bilang cuma asal nebak?" tanya Santi sambil menikmati es krim-nya.
"Ya enggak lah, masak asal nebak doang," jawab Ken sambil terkekeh. "Mas tahu karena memang Mas mencari tahu semua tentang kamu. Apa yang kamu suka, apa yang kamu nggak suka. Mas pengen yang terbaik untuk kamu pokoknya."
Perkataan Ken lagi-lagi membuat Santi tersipu. Keduanya lalu menghabiskan es krim mereka dengan suasana hening berliput canggung. Dengan sengaja Ken meninggalkan bekas es krim di samping bibirnya.
Santi yang juga sudah selesai memakan es krim kemudian melihat sudut bibir Ken yang belepotan. Reflek Santi mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap bekas es krim di sudut bibir Ken.
"Mas ihh, masak makan es krim belepotan gini, kayak anak kecil aja deh," Santi berucap setengah menggerutu.
__ADS_1
"Sengaja biar dibersihin sama kamu," jawab Ken dengan entengnya.
"Apaan sih Mas," kata Santi lagi-lagi tersipu dengan wajah merona merah.
Santi hendak menjauhkan tangannya dari bibir Ken, namun Ken dengan sigap menggenggam tangan Santi terlebih dahulu.
"Masih belum bisakah Mas meyakinkan hati kamu San?" tanya Ken berubah serius.
Santi tiba-tiba saja merasa begitu gugup. Pandangan mata mereka terkunci satu sama lain.
"Mas mencintai kamu San. Rasa ini tulus untuk kamu. Tolong ijinkan Mas untuk bisa membahagiakan kamu," sekali lagi Ken mengungkapkan isi hatinya.
Melihat Santi yang gugup dan salah tingkah, Ken pun tersadar. Dia lalu tersenyum samar.
"Maaf, bukan maksud Mas untuk memaksamu segera menjawab. Sesuai janji Mas, Mas akan sabar menunggu kamu dan Mas akan buktikan keseriusan perasaan Mas sama kamu," kata Ken kemudian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Santi.
Namun di luar dugaan, ternyata Santi justru balik meraih tangan Ken kemudian menggenggamnya. Sekuat tenaga mengumpulkan keberanian untuk menjawab.
"Bersediakah Mas menemaniku, untuk mencoba memulai membuka hati ini lagi?" tanya Santi pelan, nampak ragu.
"Pasti," jawab Ken yakin dengan senyum di bibirnya.
"Jadi ???" tanya Ken belum berani menyimpulkan.
"Kita jalani pelan-pelan ya Mas. Aku harap Mas sabar menemaniku, untuk kembali mencoba membuka hati ini dengan hubungan kita yang baru," jawab Santi disertai permintaan.
Senyum sumringah langsung terlukis di wajah Ken.
"Tentu saja. Mas akan selalu sabar menemani kamu, dan Mas akan buktikan kalau Mas benar-benar mencintai kamu dan ingin selalu membuat kamu bahagia San."
Saking bahagianya Ken tanpa sadar langsung menarik Santi ke dalam pelukannya. Sesaat Santi sempat kaget, tapi kemudian membiarkan Ken memeluknya. Meresapi begitu banyak kasih sayang yang Ken berikan melalui pelukannya itu.
Santi tersenyum dalam dekapan Ken.
"Santi juga sayang sama Mas Ken."
Ken langsung melepas pelukannya dan melihat wajah Santi dengan raut kaget, mencoba mencari kebenaran atas apa yang di dengarnya barusan.
"Kamu bilang apa tadi San?" tanya Ken ingin memastikan.
Santi tersenyum lembut.
"Santi juga sayang sama Mas Ken," ulang Santi.
Ken tersenyum semakin lebar kemudian kembali menarik Santi ke dalam pelukannya. Ken bahkan mencium kepala Santi beberapa kali saking bahagianya. Sementara Santi, meski awalnya malu-malu, akhirnya membalas pelukan Ken juga.
Santi tersenyum dan bersyukur dalam hati, mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari Ken, bahkan dari keluarga Ken juga. Santi juga berdo'a di dalam hati, semoga keputusannya kali ini tidak salah, dan semoga Ken memang laki-laki yang tepat yang telah dipilihkan Tuhan untuk dirinya.
"Ekhem,,,"
Deheman keras seseorang menarik paksa Ken dan Santi untuk melepaskan pelukan mereka. Ken dan Santi sontak menoleh ke arah asal suara. Dan begitu terkejutnya mereka melihat Steven dan Sheila sedang berdiri di samping mereka.
"Steven? Sheila? Kalian kok bisa ada disini?" tanya Ken penasaran.
"Pak Steven, Bu Sheila," sapa Santi canggung dengan wajah memerah karena malu.
__ADS_1
"Hai Mbak Santi," balas Sheila sambil tersenyum.
"Hmh, kayaknya ada yang udah officially nih?" goda Steven membuat Ken dan Santi jadi semakin salah tingkah.
"Sialan Lo," kata Ken setelah berhasil mengatasi kegugupannya.
Ken kemudian berdiri dari duduknya.
"Duduk Shei, kasihan kalau Lo harus berdiri terlalu lama," kata Ken mempersilahkan Sheila untuk duduk.
"Makasih ya Ken," balas Sheila kemudian duduk di sebelah Santi.
"Ibu gimana kabarnya? Sehat kan Bu?" tanya Santi, berusaha mengalihkan rasa gugupnya.
"Alhamdulillaah sehat Mbak," jawab Sheila sambil menggenggam tangan Santi.
"Jadi? Beneran udah jadian nih kalian?" tanya Sheila dengan melihat ke arah Santi dan Ken secara bergantian.
Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara Santi hanya bisa menunduk karena malu.
"Ya, bisa dibilang begitu lah Shei," jawab Ken masih sedikit gugup.
"Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga hubungan kalian diridhoi Allah SWT sampai ke jenjang pernikahan nanti," do'a Sheila tulus.
"Aamiin," balas Steven dan Ken kompak, sementara Santi masih malu-malu.
"Congratulation Bro. Akhirnya perjuangan Lo berhasil juga untuk meyakinkan Santi," kata Steven sambil menepuk pundak Ken.
"Thanks Bro. Makasih juga do'anya ya Shei," balas Ken.
Sheila tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya Mbak Santi," kata Sheila sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Santi.
Santi mendongak dan menatap Sheila, masih sedikit malu.
"Terima kasih Bu," balas Santi pelan.
"Sama-sama Mbak," kata Sheila.
"By the way, kalian kok bisa ada disini juga sih?" tanya Ken masih penasaran.
"Biasa, ibu hamil pengen makan asinan langganannya disini. Ya udah sekalian aja kita jalan-jalan, mumpung cuaca juga lagi cerah. Dan kebetulan juga kita malah mergokin kalian lagi peluk-pelukan. Pake acara kecup-kecup segala lagi, modus Lo," cibir Steven.
Ken dan Santi kembali salah tingkah, merasa malu juga adegan mesra mereka tertangkap basah oleh Steven dan Sheila.
"Kayaknya gue emang beneran hoki deh, dulu mergokin Danny sama Lusia lagi kencan, dan sekarang, mergokin kalian berdua yang lagi kencan juga," kata Steven kemudian tergelak.
"Apaan sih Lo Steve. Jangan ngadi-ngadi deh," gerutu Ken.
"Beneran weh, gue nggak bohong," kata Steven lalu tergelak semakin kencang.
"Mas, udah dong. Lihat nih Mbak Santi udah merah banget wajahnya," tegur Sheila.
"Iya deh iya. Sorry gue kelepasan," kata Steven.
__ADS_1
"Tapi beneran, kita ikut seneng untuk kalian berdua. Semoga langgeng ya sampai ke pernikahan nanti," Steven pun mendo'akan Ken dan Santi.
"Aamiin," balas Ken, Sheila, dan juga Santi, meski suaranya kecil sekali.