
Steven sangat terkejut ketika mendapat telepon dari Mama-nya yang mengatakan bahwa Sheila sudah dijemput orang lain sebelum sopir kantor suruhan Steven datang ke rumah.
Merasa sudah tidak bisa fokus pada meeting, Steven pun pamit undur diri terlebih dahulu dan melimpahkan kelanjutan meeting dan semua keputusan kepada Ken dengan didampingi Santi.
Steven dan Danny segera masuk ke ruangan Steven. Steven mengecek CCTV rumah melalui laptopnya, sementara Danny berusaha mencari titik keberadaan Sheila melalui jam tangan Sheila yang sudah dimodifikasi sehingga bisa diaktifkan dari dua arah dan memancarkan sinyal GPS ketika disetting on melalui laptop Danny.
"Gue akan hubungi Bang Dika sekarang," kata Steven.
"Tapi ini sudah malam, kak Anita juga lagi hamil besar Steve," balas Danny.
"Bang Dika nggak harus pergi dari rumah, dia cukup mengarahkan anak-anak kayak biasanya. Lo tahu sendiri kan Bang Dika yang paling ahli strategi di antara kita," kata Steven menjelaskan.
"Duh," Danny menepuk keningnya sendiri. "Kalau lagi panik kenapa gue jadi bego sih."
Steven segera menghubungi Andika.
"Sheila diculik Bang," kata Steven setelah telepon tersambung.
"Apa? Kok bisa sih Steve?"
"Gue udah cek CCTV rumah. Tolong suruh anak-anak nyelidikin plat nomor mobilnya, gue kirim lewat email. Ini gue sama Danny lagi nyoba ngeretas GPS jam tangan Sheila."
"Oke. Secepatnya Abang kabarin."
Sambungan telepon pun ditutup.
"Gimana Dan?"
"Udah dapet. Mereka masih terus bergerak. Dari arahnya sepertinya mereka menuju kota B," kata Danny yang masih fokus pada macbook nya.
"Sial. Kita kejar sekarang juga."
Danny mengangguk. Keduanya lalu beranjak meninggalkan ruangan Steven hendak mengejar mobil yang membawa Sheila.
Sampai di parkiran ponsel Steven berdering. Andika yang menelepon.
"Gimana Bang?"
"Plat mobilnya palsu Steve. Nomor polisinya tidak terdaftar."
"Shit!!!" umpat Steven keras.
"Tapi tenang aja, Bima udah ngeretas GPS Sheila. Kamu juga udah dapetin posisinya kan? Segera berangkat, anak-anak juga udah Abang perintah untuk nyusulin ke lokasi. Tapi jangan gegabah dulu Steve, tahan diri kamu sampai bantuan datang. Abang akan hubungi Darius, kakaknya David, dia kebetulan Kapolda di daerah B."
"Oke Bang, gue sama Danny otewe sekarang."
Steven dan Danny masuk ke dalam mobil dan mobil pun mulai berjalan meninggalkan area parkir kantor.
"Sekali lagi ingat pesan Abang Steve, jangan gegabah, keselamatan Sheila dan bayi kalian lebih utama."
"Baik Bang."
Sambungan telepon pun terputus.
"Gimana?" tanya Danny.
"Plat mobilnya palsu. Tapi Bima udah ngeretas GPS Sheila juga, sekarang anak-anak udah bergerak nyusulin kita. Bang Dika juga mau ngubungin kak Darius buat minta bantuan."
__ADS_1
"Good. Posisi kita akan lebih kuat dengan adanya bantuan dari pihak kepolisian," kata Danny.
Setelah lumayan lama berkendara Steven dan Danny sampai di sebuah rumah di daerah pinggiran kota B. Waktu sudah hampir dini hari saat itu. Posisi rumah tersebut hampir mendekati hutan sehingga terpisah dari pemukiman warga sekitar.
Untuk sementara mereka berdua mengawasi terlebih dahulu situasi yang ada. Karena tadi saat dalam perjalanan Darius sudah menghubungi Steven dan menginstruksikan agar Steven tidak bertindak gegabah sebelum pihak berwajib datang. Selain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga agar para penjahat tidak kabur terlebih dahulu.
Suasana di rumah tersebut nampak lengang. Tapi ada lebih dari sepuluh orang yang nampak berjaga di sekitar rumah tersebut.
"Sial, ketat juga penjagaan mereka. Siapa sih dalang di balik semua ini?" gerutu Steven.
Sesaat kemudian sebuah mobil yang nampak familiar terlihat memasuki pekarangan rumah tersebut. Tidak lama kemudian keluar beberapa orang dari dalam mobil mewah tersebut.
"You want to know? Look that," kata Danny.
"Shit!!!" umpat Steven keras begitu melihat Raka dan Celine turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah tersebut.
"Kurang ajar. Mereka cari masalah dengan orang yang salah kali ini. Lihat saja kalau sampai Sheila kenapa-kenapa, habis mereka sama gue," geram Steven.
"Sabar Bro. Inget kata kak Darius dan Bang Dika, jangan gegabah. Keselamatan Sheila dan calon bayi kalian lebih penting," kata Danny mengingatkan.
"Dimana posisi anak-anak?" tanya Steven.
"Udah deket, sebentar lagi mereka pasti sampai disini."
"Posisi kak Darius dan tim-nya?" tanya Steven lagi.
"Udah deket juga. Nggak sampai setengah jam paling udah nyampe sini," jawab Danny sambil terus mengotak atik macbook-nya berkoordinasi dengan Darius dan Bima.
Steven membuka dashboard mobil dan mengambil sepucuk pistol yang dia sembunyikan di dalam kotak. Danny membulatkan kedua matanya karena terkejut.
"Lo serius Steve? Sabar dulu Bro, jangan gegabah ambil tindakan," nasehat Danny.
Tidak lama kemudian terdengar suara keributan yang berasal dari rumah tersebut. Sheila nampak sedang berusaha berlari keluar namun segera dihadang oleh beberapa anak buah Raka. Raka sendiri muncul kemudian berusaha menarik paksa Sheila untuk kembali masuk ke dalam.
"Oh shit," teriak Steven kemudian langsung meloncat keluar dari mobil.
"Steven tunggu," teriak Danny.
Terlambat, Steven sudah berlari menghampiri rumah tersebut. Mau tidak mau Danny pun akhirnya turun dan mengejar Steven.
Perkelahian segera saja terjadi karena anak buah Raka mencoba menghadang Steven dan Danny.
"Mas Steven," teriak Sheila yang terus memberontak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Raka.
"Sheila," balas Steven di tengah-tengah perkelahiannya dengan beberapa anak buah Raka.
Raka terus berusaha menarik Sheila untuk kembali masuk ke dalam tapi Sheila juga terus memberontak. Tidak lama kemudian anak buah Steven datang dan langsung turun membantu Steven dan Danny.
Steven segera memukul keras kepala salah satu anak buah Raka hingga tumbang. Setelah itu Steven segera berlari menghampiri Sheila dan Raka.
"Lepaskan istri gue b*jing*n," teriak Steven nyalang.
Bugh.
Satu pukulan keras mendarat di wajah Raka membuat Raka terhuyung ke belakang. Sheila yang berhasil lepas dari cengkeraman Raka langsung berlari memeluk Steven.
"Mas Steven," lirih Sheila di dalam pelukan Steven.
__ADS_1
"Kamu nggak pa-pa kan sayang?" tanya Steven melepaskan pelukan lalu menangkup wajah Sheila dengan kedua tangannya.
Sheila menggelengkan kepalanya. Air mata sudah membasahi wajah cantik Sheila sedari tadi. Steven mencium kening Sheila dan kembali memeluk istrinya itu dengan erat.
Bugh.
Salah satu anak buah Raka memukul Steven dengan balok kayu dari belakang.
"Aaarrghh," pekik Sheila kaget.
Steven terhuyung tapi masih bisa menguasai dirinya.
"Kamu menyingkir dulu sayang, cari tempat yang aman," perintah Steven.
Sheila hanya mampu mengangguk dalam tangisannya. Sheila kemudian mundur ke belakang, mencari tempat yang sekiranya lebih aman sambil terus memegangi perutnya. Memeluk untuk melindungi sang buah hati dari luar.
Steven kembali berkelahi dengan Raka dan dua anak buahnya. Jumlah lawan yang tidak seimbang dan juga kondisi yang sedikit lelah membuat Steven kewalahan. Sheila terus menangis sambil berdo'a dalam hati, memohon kepada Tuhan untuk keselamatan suaminya.
Celine tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
"Kak Steven," teriaknya terkejut. "Raka ingat janji kamu, jangan sakiti kak Steven."
Raka tidak menghiraukan teriakan Celine. Merasa geram Celine kemudian menghampiri Sheila dan menamparnya.
Plak.
"Aakht," Sheila yang tidak siap pun tidak mampu menghindar.
"Sheila," teriak Steven.
"Ini semua gara-gara kamu. Dasar wanita sialan," teriak Celine kemudian mendorong Sheila.
Sheila terhuyung ke belakang tapi tidak sampai terjatuh. Tiba-tiba saja Celine mengeluarkan pistol dari dalam tas-nya dan mengarahkannya kepada Sheila. Bertepatan dengan itu Darius dan tim-nya sampai di lokasi kejadian.
"Jangan bergerak! Hentikan semuanya," teriak Darius.
Polisi pun merangsek masuk dan mulai menahan anak buah Raka. Namun belum sempat Darius menghampiri Steven dan yang lainnya,
"Kau harus mati, kak Steven hanya milikku," kata Celine dengan menyeringai menakutkan.
"Tunggu mbak, tolong jangan lakukan itu," pinta Sheila.
Dorrr.
"MAS STEVEN,,," teriak Sheila sekencangnya.
"Oh tidak, kak Steven," Celine pun jatuh terduduk, syok melihat pemandangan di depan matanya.
Steven terjatuh di hadapan Sheila. Sheila segera meraih kepala Steven dan memangkunya. Air matanya luruh semakin deras melihat kondisi suaminya. Darah terus mengalir dari punggung Steven.
Darius dan beberapa anggotanya segera meringkus Celine dan Raka. Mereka juga mengamankan pistol yang digunakan Celine sebagai barang bukti.
"Mas," panggil Sheila lirih.
"M-mas nggak pa-pa sayang," jawab Steven terbata.
Perlahan-lahan kesadaran Steven mulai menghilang. Steven pun terkulai tak sadarkan diri di pangkuan Sheila.
__ADS_1
"Mas Steven, Mas," panggil Sheila panik.