Cinta Sheila

Cinta Sheila
Milikku Seutuhnya


__ADS_3

Selesai acara rombongan kembali pulang ke rumah Jefri. Karena hari sudah cukup malam keluarga kakak Sarah pun langsung pamit juga.


"Sudah malam, kalian pasti capek, langsung istirahat saja ya semuanya," kata Jefri.


"Udah, jangan senyum-senyum terus. Kayak orang gak waras aja kak," goda Sheila pada Max.


"Eh, apa Lo bilang? Dasar Maemunah, sini Lo,"


Sheila langsung bersembunyi di balik punggung Steven ketika Max berusaha meraihnya.


"Udah jangan mulai lagi deh,udah malem ini. Ayo semuanya masuk kamar, istirahat," perintah Sarah mutlak dan tidak ingin dibantah.


"Iya Bun," jawab semuanya bersamaan.


Mereka semua lalu masuk ke kamar masing-masing.


"Mas duluan aja yang bersih-bersih, aku beresin tempat tidur dulu," kata Sheila setelah berada dalam kamar mereka.


Steven mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama kemudian Steven sudah berganti celana pendek dan kaos oblong putih untuk tidur. Dilihatnya Sheila yang berdiri di samping wastafel, nampak kesusahan membuka resleting dress batiknya.


"Sini Mas bantuin," kata Steven mendekati Sheila.


"Iya. Kayaknya nyangkut deh Mas, susah banget dari tadi."


Ternyata benar agak susah. Steven sampai harus mendekatkan wajahnya untuk melihat bagian yang tersangkut. Sheila dapat merasakan hangat nafas Steven mengenai tengkuk lehernya. Jantungnya langsung berdetak tak karuan. Diremasnya bagian depan dress-nya sambil memejamkan mata, berusaha mengurangi kegugupannya.

__ADS_1


Dalam jarak sedekat itu Steven bisa mencium dengan jelas wangi tubuh Sheila yang selama ini selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman. Tanpa bisa dicegah jantungnya juga sudah berdisko di dalam sana. Steven juga merasakan desiran-desiran halus yang membangkitkan sesuatu yang selama ini belum pernah dirasakannya.


Sedikit kesusahan tapi akhirnya resleting dress tersebut bisa dibukanya juga. Menampakkan punggung putih dan mulus Sheila. Entah dorongan dari mana tiba-tiba saja tangan kanan Steven sudah terangkat dan membelai lembut punggung Sheila dengan punggung tangannya.


Nafas Sheila tercekat. Kulit tubuhnya meremang seketika, merasakan lembut sentuhan Steven di punggungnya. Dan ketika Steven mendaratkan bibirnya di pundak terbukanya, Sheila mencengkeram pinggiran wastafel dengan kencang, mencari pegangan agar tidak terjatuh.


Steven membalik badan Sheila perlahan. Diangkatnya wajah Sheila yang tertunduk sedari tadi kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Dilum*tnya perlahan dan lembut bibir manis yang sekarang sudah menjadi candunya itu. Menyesap atas dan bawah bergantian. Kemudian melesakkan lidahnya ke dalam, mengabsen setiap inci bagian di dalam mulut Sheila.


Sheila hanya bisa memejamkan mata, menikmati setiap rayuan bibir Steven pada bibirnya. Membalas dan mengikuti setiap permainan bibir suaminya itu. Dicengkeramnya kaos Steven karena Sheila merasa kedua kakinya lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Steven menyadari hal tersebut. Tangan kanannya menarik tengkuk Sheila untuk memperdalam ciuman mereka, sementara tangan kirinya memegangi pinggang ramping Sheila dan menahannya.


Ciuman terlepas setelah keduanya merasa kehabisan nafas. Steven menyatukan keningnya dengan kening Sheila. Nafas keduanya tersengal dengan detak jantung yang menggila.


Steven kemudian menggendong Sheila ala bridal style membuat Sheila reflek mengalungkan tangannya di leher Steven. Steven kembali menyatukan bibir mereka sembari membawa Sheila keluar dari kamar mandi. Merebahkan Sheila perlahan di atas ranjang tanpa memutus pertautan bibir mereka.


Steven naik dan memposisikan dirinya di atas tubuh Sheila. Menopang berat badannya dengan lutut dan tangan agar tidak langsung menindih tubuh Sheila. Melepaskan ciumannya Steven kembali menempelkan kening mereka.


"Aku milikmu Mas," balas Sheila dengan nafas sama memburunya.


Steven mencium kening Sheila, dalam, membuat Sheila memejamkan matanya. Ciuman Steven turun ke kedua mata Sheila yang terpejam. Turun lagi ke hidung, pipi, dan berakhir di bibir Sheila yang setengah terbuka.Kembali mel*mat bibir manis itu lembut tapi lama kelamaan ciuman tersebut berubah menuntut.


Puas menciumi seluruh wajah Sheila, ciuman Steven beralih ke leher jenjang Sheila. Menyesap dan menggigit pelan, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana. Membuat Sheila mendesah merasakan sensasi rasa geli dan perih yang bercampur menjadi satu.


Entah sejak kapan dress Sheila telah tertarik ke bawah dan lepas, begitu juga dengan bra-nya, menyisakan kain tipis berenda yang menutupi area pribadinya. Tangan Steven tidak tinggal diam, meremat dan memainkan dua bagian menonjol di dada Sheila yang menjadi favoritnya itu.


Puas merajai leher Sheila ciuman Steven turun ke bawah. Mengulum dan menyesap puncak berwarna coklat kemerahan. Bergantian satu dan yang lainnya, bekerja sama dengan tangannya juga.

__ADS_1


Tanpa disadari tubuh keduanya telah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Steven mengangkat tubuhnya dan memandangi tubuh polos istrinya, membuat Sheila memalingkan wajahnya dan merona malu.


"Kamu benar-benar indah Shei," puji Steven semakin membuat wajah Sheila memerah.


Steven kembali menunduk dan menyatukan bibir mereka. Nafas Sheila tercekat merasakan bagian tubuh Steven yang sudah keras dan berada di pintu masuk area pribadinya.


"Bolehkah Shei?" tanya Steven dengan suara yang parau.


Tak mampu menjawab Sheila hanya menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan Steven mulai mendorong masuk. Meski beberapa kali tergelincir. Dan ketika berhasil masuk sebagian, Sheila meringis merasakan perih di intinya. Steven bisa merasakan penghalang di dalam sana.


"Kamu boleh menggigit pundak Mas atau mencakar punggung Mas saat merasa sakit, ya," bisik Steven pelan di telinga Sheila.


Sheila yang sedang melingkarkan kedua tangannya di punggung Steven kembali hanya bisa mengangguk pelan. Dan ketika Steven mendorong inti tubuhnya, melesak merobek penghalang di dalam sana, Sheila merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Tubuhnya seakan terbelah menjadi dua. Air mata mengalir di pipinya. Dan seperti perintah Steven tadi Sheila menggigit pundak Steven untuk meredam teriakannya sendiri. Bukan hanya merasa sakit di pundak, Steven juga merasakan sakit akibat kuku jari Sheila menancap di punggungnya.


Steven mendiamkan bagian inti tubuhnya tenggelam di dalam inti Sheila. Memberi waktu pada Sheila untuk bisa menerima dirinya di dalam sana. Sembari menikmati sensasi rasa dicengkeram pada intinya yang baru pertama kali dirasakannya. Steven menghapus air mata Sheila kemudian mencium keningnya lama.


"Terima kasih sudah menjaganya dan memberikannya kepada Mas," ucap Steven pelan di depan wajah Sheila.


Sheila lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan tersenyum lembut. Merasakan sensasi perih dan juga penuh sesak pada intinya.


Setelah dirasa Sheila cukup tenang, Steven mulai bergerak dan mengayun perlahan. Selanjutnya hanya desahan dan erangan tertahan dari keduanya yang memenuhi kamar tersebut. Bersama keduanya meniti mencoba meraih kenikmatan dunia yang sama-sama baru pertama kali ini mereka rasakan.


Dan ketika puncak itu mereka raih hampir bersamaan, Steven mengerang sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sheila. Sementara Sheila kembali menancapkan kukunya di punggung Steven.


Keduanya terdiam, masih meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih dengan nafas tersengal hebat. Steven mencium kening Sheila, dalam dan cukup lama.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, sudah bersedia menjadi milik Mas seutuhnya."


Malam panjang itu diakhiri dengan keduanya yang tertidur lelap dengan saling berpelukan erat. Senyum terukir di wajah keduanya, merasa bahagia akhirnya telah memiliki satu sama lain seutuhnya. Meski harus menunggu sekitar enam bulan setelah pernikahan mereka.


__ADS_2