
Siang ini Grizelle sengaja datang ke kantor Sean untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Sean ada? Bilang kalau Grizelle mau bertemu dengan dia sekarang," kata Grizelle begitu sampai di depan meja kerja Nadirga.
'Nih cewek songong amat sih, nggak ada sopan santunnya sama sekali,' gerutu Nadirga dalam hatinya.
"Maaf, apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Nadirga sengaja memanggil dengan sebutan 'ibu'.
'Sembarangan banget nih orang. Matanya rabun apa? Cewek secantik ini dipanggil ibu. Huft, sabar Elle, harus tetap tenang, jaga image, jangan kepancing emosi.'
Grizelle menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba meredam emosinya.
"Belum buat janji sih, tapi saya adalah teman spesial Sean," jawab Grizelle dengan menyunggingkan senyum manisnya.
Rasanya Nadirga mau muntah mendengar pengakuan kelewat PD dari gadis sombong di depannya.
"Udah, buruan bilangin ke Sean kalau Grizelle mau ketemu sama dia, pasti Sean langsung ngijinin masuk," desak Grizelle lagi.
Belum sempat Nadirga membuka mulutnya untuk menjawab tiba-tiba pintu ruangan Sean terbuka dan Sean melangkah keluar dari ruangannya.
"Dirga saya sholat Dzuhur di musholla dulu ya," pamit Sean begitu keluar dari ruangannya, dia belum menyadari kehadiran Grizelle disana.
"Sean," panggil Grizelle ceria.
Sean sempat terkejut melihat Grizelle yang tiba-tiba ada di kantornya saat ini.
"Grizelle?" Sean seakan tidak percaya.
"Hai Sean."
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Sean bingung.
"Kebetulan aku lewat daerah sini tadi, jadi sekalian aja aku mampir. Mau ngajakin kamu makan siang bareng. Kamu mau kan makan siang bareng aku?" tanya Grizelle dibuat semanis mungkin.
'Makan siang bareng? Nggak salah denger nih gue? Tapi kan ini hari kamis...'
Terjadi sedikit pertentangan di dalam hati Sean.
"Kamu mau kan Sean makan siang bareng aku?" tanya Grizelle lagi sedikit merengek.
Sean menghembuskan nafasnya pelan.
"Maaf Grizelle, tapi hari ini aku nggak bisa. Habis Dzuhur aku ada meeting penting yang nggak bisa aku tinggal," jawab Sean beralasan.
Nadirga mengerutkan keningnya. Tidak ada meeting siang ini. Kenapa Sean harus berbohong?
"Sebentar aja Sean. Kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah terlanjur sampai sini loh," bujuk Grizelle menampakkan wajah kecewanya.
"Maaf banget Elle, tapi aku bener-bener nggak bisa hari ini."
"Ya udah deh kalau gitu, aku pulang aja," rajuk Grizelle dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Grizelle membalikkan badannya kemudian melangkah perlahan meninggalkan Sean dan Nadirga.
'Ayo panggil Sean. Tahan gue supaya nggak pergi,' teriak batin Grizelle berharap.
Namun sayang, sampai Grizelle masuk ke dalam lift ternyata Sean sama sekali tidak memanggilnya apalagi mencegahnya pergi. Grizelle mengumpat ketika sudah berada di dalam lift, melampiaskan kekesalannya.
"Siang ini kan kita tidak ada meeting apapun Pak?" tanya Nadirga setelah Grizelle masuk ke dalam lift.
Pada saat jam kerja Nadirga memang selalu bersikap profesional kepada Sean yang merupakan atasannya.
"Sssttt, saya ke musholla dulu ya," pamit Sean dengan mengedipkan sebelah matanya jahil.
Sean kemudian berlalu pergi meninggalkan Nadirga yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuanku bos-nya itu. Nadirga tentu saja sudah mengetahui juga tentang kebiasaan Sean yang suka mendengarkan Ana mengaji setiap hari Senin dan Kamis.
Sementara Sean, dalam perjalanannya menuju ke musholla, dia memikirkan lagi kejadian yang baru saja terjadi. Mimpi apa dia semalam sampai tiba-tiba didatangi Grizelle seperti tadi.
Gadis cantik yang dulu sempat mencuri perhatian Sean semasa kuliah. Namun sayang Sean diabaikan, hanya karena seorang mahasiswa yang memiliki keluarga lebih kaya dan lebih terpandang daripada keluarga Sean. Grizelle meninggalkan Sean yang saat itu merupakan sahabat dekatnya dan lebih memilih menjalin hubungan dengan pemuda kaya itu.
Sean tersenyum hambar, merasa miris dengan perasaannya sendiri dulu. Sean yang tidak pernah berpacaran sebelumnya, tapi sekalinya dia merasa tertarik kepada seorang gadis, sayang sekali gadis itu justru mengabaikan perasaannya.
🌸🌸🌸
Malam ini seperti biasa Sean datang ke cafe tempat Sonia bekerja. Sean sedang asyik memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya datang ketika tiba-tiba saja Grizelle muncul di hadapannya.
"Sean?" kata Grizelle pura-pura terkejut.
Tentu saja hanya pura-pura, karena sebenarnya Grizelle sengaja mengikuti Sean sampai ke cafe ini, lalu berpura-pura seolah mereka bertemu tanpa sengaja.
Sean mengangkat wajahnya.
"Wah, tidak disangka ya kita bisa ketemu disini. Kalau gitu aku duduk disini aja ya sama kamu, biar ada temen ngobrol" kata Grizelle yang langsung duduk di hadapan Sean tanpa menunggu persetujuan dari Sean.
Melihat Grizelle yang sudah terlanjur duduk di depannya, tentu saja membuat Sean merasa tidak enak hati kalau harus menyampaikan rasa keberatannya. Entah kenapa, tapi jujur saja Sean merasa terganggu dengan kehadiran Grizelle saat ini.
Tidak lama kemudian Sonia datang membawa pesanan Sean. Sonia sempat terkejut ketika mendapati ada seorang wanita cantik yang duduk di hadapan Sean. Tiba-tiba ada perasaan tidak suka yang hinggap di hati Sonia.
"Permisi Pak, ini pesanan anda. Capuccino dan cake coklat. Silahkan dinikmati," kata Sonia sesopan mungkin, berusaha menenangkan mood-nya sendiri yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi kacau.
"Terima kasih banyak ya Ana," balas Sean dengan senyum yang begitu manis.
Sonia tersenyum. Hatinya yang panas seakan disiram air dingin ketika melihat Sean tersenyum manis kepadanya. Tapi tidak dengan Grizelle, jelas terlihat raut tidak suka di wajahnya melihat adegan saling senyum dua anak manusia di depannya saat ini.
'Bukankah dia pelayan yang kemarin itu? Jangan bilang Sean suka sama gadis rendahan seperti dia? Sial, gue nggak bisa biarin itu terjadi.'
"Ekhem," Grizelle sengaja berdehem sedikit keras dan sukses mengambil alih perhatian dua orang di depannya.
"Mbak saya pesan strawberry float sama red velvet cake ya," kata Grizelle kemudian.
"Oh, baik Mbak. Mohon ditunggu sebentar ya," balas Sonia yang kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sean, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Grizelle setelah kepergian Sonia.
__ADS_1
"Marah? Kenapa aku harus marah sama kamu Elle?" Sean balik bertanya karena bingung.
"Entahlah. Tapi aku merasa kalau kamu belum maafin aku karena udah ninggalin kamu dulu," jawab Grizelle dengan wajah sendunya.
"Masalah itu sudah berlalu, tidak perlu diingat-ingat lagi Elle. Dan kamu tidak perlu khawatir, karena aku sudah memaafkan kamu," kata Sean.
"Tapi aku yang merasa belum tenang Sean," sahut Grizelle.
Tiba-tiba saja Grizelle memegang tangan Sean yang berada di atas meja dan menggenggamnya erat sehingga Sean tidak bisa melepaskan tangannya.
"Tolong ijinkan aku memperbaiki semua kesalahanku dulu Sean. Beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita," pinta Grizelle dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Jujur Sean merasakan hatinya sedikit tersentuh mendengar kata-kata Grizelle. Tapi untuk memulai kembali hubungan dengan Grizelle? Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak Sean, apalagi mengharapkannya.
Sean melihat Sonia yang sedang berjalan ke arah mejanya, membawa pesanan Grizelle. Memanfaatkan Grizelle yang sedikit lengah, Sean segera menarik lepas tangannya dari genggaman Grizelle.
Tapi nampaknya Sonia terlanjur melihat semuanya. Sean bisa melihat ada raut kecewa di wajah cantiknya. Dan entah kenapa hati Sean pun ikut merasa sakit melihat kekecewaan itu.
"Maaf mengganggu. Ini pesanannya Mbak. Strawberry float dan red velvet cake," kata Sonia sopan.
"Ana, kenapa wajahmu sedikit pucat? Apa kamu sedang sakit?" tanya Sean penuh perhatian.
"Ah, tidak Pak. Saya baik-baik saja,' jawab Sonia.
Dan Grizelle semakin merasa tidak suka melihat Sean yang begitu perhatian kepada gadis pelayan tersebut.
"Saya permisi dulu. Silahkan dinikmati makanannya," pamit Sonia.
Dan ketika Sonia hendak melewatinya, Grizelle dengan sengaja menjulurkan salah satu kakinya sehingga membuat Sonia tersandung dan jatuh.
"Aaahhh," pekik Sonia kaget.
Bruk!
Sonia terjatuh cukup keras.
"Ana," pekik Sean tak kalah kagetnya.
Sean segera beranjak dari duduknya dan memburu Sonia yang sedang terjatuh di lantai. Sean membantu Sonia untuk bangun. Tapi nampaknya kaki kanan Sonia terkilir. Sonia meringis merasakan sakit dan dia tidak bisa berdiri dengan baik.
Sean membantu Sonia untuk duduk di sebuah kursi yang kosong. Grizelle semakin berang, karena ternyata rencananya untuk mengerjai gadis pelayan itu justru berbalik membuat Sean semakin memberikan perhatian kepada gadis pelayan itu.
"Grizelle kamu sengaja kan?" sentak Sean langsung.
"Apa maksud kamu Sean?" tanya balik Grizelle.
"Kamu sengaja kan menjulurkan kaki kamu sehingga membuat Ana terjatuh?" tanya Sean lagi to the point.
Grizelle menutup mulut dengan kedua tangannya, berpura-pura terkejut mendengar tuduhan dari Sean tersebut. Sesaat kemudian Grizelle menampakkan wajah sedih dan terlukanya. Tidak lupa dengan air mata yang tiba-tiba dipaksa untuk keluar.
"Kamu tega menuduh aku seperti itu? Kamu jahat Sean. Aku benar-benar kecewa sama kamu."
__ADS_1
Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, Grizelle kemudian berdiri, menutup mulut dengan tangan kanannya, Grizelle kemudian setengah berlari meninggalkan Sean dan Sonia.
Sean mengumpat di dalam hatinya. Di satu sisi ada Ana yang sedang terluka dan di sisi lain ada Grizelle yang menangis kecewa.