
Sheila terbangun dengan merasakan pusing yang teramat sangat di kepalanya.
"Dimana aku?" tanya Sheila kepada dirinya sendiri ketika terbangun di tempat yang terasa asing baginya.
"Oh, akhirnya kau sadar juga cantik," kata Alex yang duduk di sofa.
Sheila terkejut melihat Alex ada di sana. Dia beringsut mundur sampai membentur headboard.
"Kak Alex? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sheila mulai ketakutan.
Sesaat akal pikirannya menangkap sinyal bahaya, maka tanpa sepengetahuan Alex Sheila segera menekan tombol pada jam tangannya.
"Jangan takut sayang, kita hanya akan bermain-main," jawab Alex seraya mendekat perlahan ke arah ranjang.
Sheila merasakan ketakutan menguasai dirinya. Dia lalu mencengkeram selimut dan menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
"A-apa maksud kakak? Bermain-main apa?"
"Permainan yang menyenangkan sayang," kata Alex mulai merangkak naik ke atas ranjang.
Sheila semakin ketakutan. Alex semakin dekat. Dia lalu mencengkeram dagu Sheila. Tubuh Sheila sudah mulai gemetar karena takut.
"Rileks sayang, nikmati saja permainan ini."
Setelah mengatakan itu Alex lalu memaksa untuk mencium bibir Sheila. Sheila berontak, dia memalingkan wajahnya dan berusaha sekuat tenaga lepas dari cengkeraman tangan Alex. Merasa usahanya sia-sia Sheila lalu menendang alat vital Alex sekuat tenaga.
"Aakhh..." pekik Alex sambil memegangi selangkangannya dan berguling di sebelah Sheila.
Cengkeraman di dagunya terlepas Sheila lalu turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu. Sayangnya pintu kamar itu terkunci dan kuncinya tidak ada di pintu tersebut.
__ADS_1
"Dasar gadis sialan," geram Alex seraya bangun dan berlari menghampiri Sheila.
Melihat Alex mendekat Sheila beralih ke jendela. Sayangnya jendela itupun terkunci.
'Mas Steven pasti sudah mendapatkan sinyal peringatan dari jam-ku. Aku hanya harus mengulur waktu sampai mas Steven datang. Kau harus bisa Sheila. Kau harus menjaga kehormatanmu untuk suamimu.'
Karena sedikit lengah akhirnya Alex berhasil meraih tangan Sheila. Sheila kembali meronta ingin melepaskan diri.
Plak!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Sheila.
"Aakhht," pekik Sheila kesakitan.
"Gadis tidak tahu diri. Kalau kau menurut aku tidak akan menyakitimu," kata Alex dengan nada tinggi sambil menggenggam tangan Sheila erat.
"Lepaskan aku kak. Aku sudah bersuami. Tidak seharusnya kakak berbuat seperti ini padaku," balas Sheila terus berusaha meronta melepaskan tangannya.
"Cukup kak."
Sheila mendorong Alex sekuat tenaga. Dia lalu berlari menghindari Alex. Namun naas, Sheila kalah cepat. Alex dengan mudahnya menarik tangan Sheila dan mendorongnya jatuh ke ranjang.
Sheila menjerit kaget. Tapi dia langsung berusaha bangun dan kembali mendorong Alex yang hendak naik ke atas ranjang. Begitu Alex terjatuh Sheila bergegas turun dari ranjang. Alex berhasil meraihnya lagi kemudian sekuat tenaga mendorong Sheila hingga menghantam meja rias. Dahi Sheila berdarah karena terbentur meja. Lengan kaosnya juga robek tersayat dan menimbulkan luka.
Tanpa menghiraukan dahi dan lengannya yang terluka Sheila berusaha bangkit. Tapi Alex langsung menariknya dan menjatuhkannya kembali ke ranjang.
"Kau yang membuat semuanya menjadi sulit, jangan salahkan aku yang berbuat kasar padamu," geram Alex lalu berusaha menarik lepas kaos yang dipakai Sheila.
Sekuat tenaga Sheila memberontak. Kakinya terus menendang-nendang. Alex yang merasa kesulitan karena Sheila yang tidak bisa diam, dia lalu menampar kembali pipi Sheila dengan kencang. Sudut bibir Sheila robek dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
Tidak putus asa Sheila kembali menendang k*malu*n Alex dengan lututnya. Memanfaatkan situasi Alex yang sedang kesakitan Sheila berusaha bangun dan turun dari ranjang.
Belum sampai di pintu Alex sudah kembali menyusulnya. Ditariknya rambut Sheila dari belakang. Alex lalu membenturkan kepala Sheila ke dinding. Sheila jatuh tersungkur di lantai. Alex mendekatinya, berjongkok di samping Sheila dan mencengkeram kembali rahangnya.
"Hentikan perlawananmu yang sia-sia ini. Bagaimanapun juga kau harus menjadi milikku," kata Alex dengan seringaian di bibirnya.
"Jangan pernah berharap, cuih," Sheila meludahi wajah Alex.
"Dasar gadis kurang ajar."
Alex tersulut kembali emosinya. Dia lalu menampar Sheila lagi. Pandangan Sheila mulai kabur. Alex kembali berusaha merobek kaos yang dipakainya.
'Mas Steven...'
Brakkk!!!
Pintu kamar didobrak dari luar.
"Jauhkan tanganmu dari istriku!" raung Steven.
Sheila tersenyum melihat kedatangan suaminya. Steven langsung berlari menghambur ke arah Alex. Dicengkeramnya kerah baju Alex lalu satu pukulan keras mendarat di wajah Alex.
Alex yang sedikit kelelahan tidak mampu membalas pukulan Steven yang membabi buta. Amarah yang begitu besar seakan membuat energi Steven meningkat berkali-kali lipat. Steven menendang perut Alex, memukul wajahnya, terus berulang-ulang seperti itu. Sampai Alex jatuh tersungkur tidak berdaya.
Danny masuk bersama beberapa orang anak buahnya. Mereka lalu meringkus Alex. Steven segera berlari menghampiri Sheila. Diraihnya tubuh Sheila yang tergeletak lemas di lantai.
"Kau tidak apa-apa Shei?" tanya Steven panik melihat keadaan istrinya yang mengenaskan.
Sheila tersenyum lembut. "Aku tau mas pasti akan datang."
__ADS_1
Sesaat kemudian Sheila jatuh pingsan.
"Sheila. Bangun Shei," teriak Steven.